Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Friday, August 19, 2016

Part 7 :Tawa Ibu (That's What Make You Beautiful)

Adik kakak itu memasang wajah ‘baik-baik’ saja saat tiba di rumah. Ibu dan ayah senang karena belakangan putri-putri mereka sudah semakin akur. Tetapi, saat-saat mereka sedang senang itulah, sebenarnya mereka sedang ditipu oleh anak-anak mereka sendiri.
Di kamar, Sayumi melempar sembarang tasnya. Ia memandang sengit kakaknya. Menghampiri, lalu menarik bahu pakaian kakaknya itu. Matanya melotot. Ia masih gergetan karena Nozomi tadi tidak menjawab pertanyaannya tadi di taiikukan kenapa kakaknya itu menangis. Jawaban yang tidak didapat, membuat Sayumi hilang akal. Mencubit dan melukai, malah itu yang membuat kakaknya keras kepala tidak berterus terang karena sebal di hati berbuah diam.
Memang begitu, Nozomi marah hanya bisa diam. Kalau bicara, biasanya akan menangis. Tetapi diamnya kini mengandung banyak alasan. Alasan sakit karena dicubit sampai berdarah dan dipukul hingga lebam adalah alasan ke dua. Alasan terutamanya, adalah tidak mungkin ia berterus terang dan tidak akan pernah berterus terang bahwa sebenarnya ia masih menyukai Yuto. Parahnya, Yuto malah melihat airmatanya tadi sebelum Nozomi ke taiikukan dan Yuto ‘mengadu’ ke Sayumi. Yuto tidak tau hubungan adik kakak itu.
“Sekali lagi gua bilang, lu kenapa? Jangan diam aja dong!” Sayumi gerget. “Pake sok-sok nangis. Mau cari perhatian?”
Nozomi memandang sengit adiknya. Semakin dipaksa, apalagi dengan cara kekerasan, membuat Nozomi semakin keras untuk tutup mulut. Masa bodoh, ia menepis tangan Sayumi yang masih bersarang di bahunya. Tetapi Sayumi tetap bergeming. Nozomi merasa aneh dengan tatapan itu. Tidak biasanya Sayumi sebegini memaksanya. Biasanya kalau sudah mencubit dan memukul, Sayumi akan berhenti sendiri setelah marah-marah.
Tetapi kini, ia melihat mata lain di mata Sayumi. Nozomi merasa seolah-olah tatapan adiknya itu bertanya apakah Nozomi masih menyukai Yuto atau tidak.
“Aku lapar! Aku tidak bisa berbicara kalau hati dongkol.”
“Dongkol? Yang dongkol itu gua!”  Sayumi menendang Nozomi.
Nozomi reflek berdiri, akan menantang adiknya berkelahi. Tetapi lama matanya dan mata adiknya bersitatap, Nozomi memilih menurunkan pandangannya. Berganti pakaian, lalu keluar menuju dapur, membantu ibu untuk menyiapkan makan malam. Tetapi ia lupa untuk menyingkirkan wajahnya yang ditekuk itu. Hingga ibu menegurnya.
“Kenapa? Abis berantem?”
“Adik kakak gak berantem gak afdol, bu!” Nozomi menjawab asal.
Ibu tersenyum bijak. Ia lalu diam, meneruskan memotong sayur-mayur, meminta Nozomi membantu pekerjaan dapur yang lain. Tiba-tiba terdengar suara bedebam dari kamar putri, kamar Nozomi dan Sayumi. Tidak lama, terdengar suara ayah marah-marah karena Sayumi mengeluarkan semua milik Nozomi di kamar.
“Kau tidak bisa menguasai kamar itu, Sayu! Kamar itu ayah buat untuk kalian berdua!”
Mendengar itu, Nozomi dan ibu saling berpandangan sebelum akhirnya mereka meninggalkan pekerjaan dapur, keluar. Mata mereka membulat melihat semua barang-barang Nozomi sudah dikeluarkan.
“Sayu!” ibu ikut marah. “Apa maksudmu!?”
“Ibu tanya sama anak kesayangan ibu itu!” teriak Sayumi di dalam kamar.
“Eh?” Ibu lalu memandang Nozomi. Pun ayah.
Sialan! Nozomi merutuk di dalam hati. Ayah ibu memandangnya seraya bertanya ada apa. Sialan, karena tidak mungkin Nozomi berterus terang. Masak karena urusan cowok, sampai sebegininya? Ini berlebihan!
“Nozomi gak tau, bu. Ini salah paham. Tadi itu Nozomi kelilipan, eh pacarnya Sayumi liat dan ngadu ke Sayumi. Sayumi nyamperin Nozomi. Nozomi gak bisa jawab kalau lagi lapar. Ibu tau sendiri Nozomi gak konsentrasi ngapa-ngapain kalau udah lapar. Tapi dia terus maksa Nozomi jawab. Nozomi udah pusing karena kelaparan tadi.” Nozomi terpaksa berbohong.
Ayah menganga, jawaban Nozomi konyol.
“Hanya itu?” Ibu tidak percaya. “Kalian ini! Bikin ibu pusing tau gak! Masalahnya apaan, marahnya udah kayak godzila ngamuk!” Ibu mendecis, lalu melenggang ke dapur. Tidak habis pikir bahwa permasalahannya sepele. “Kamu lebih baik bantu ibu. Biarin anak itu ngamuk!”
“Ok, bu.” Nozomi mengangguk, menyusul. Di dalam hati ia bersorak bisa meyakinkan ibu dan ayah.
Sementara ayah, memberitau Sayumi mengenai alasan diam Nozomi, tetapi tetap saja kamar tidak dibuka. Ayah lalu masa bodo karena Sayumi berteriak ‘diam’. Nozomi dan ibu yang mendengarnya hanya diam, fokus ke pekerjaan di dapur.
“Anak itu… siapa sih pacarnya? Kok ada yang mau?” Ibu membuka obrolan.
Nozomi tersenyum bijak mendengarnya. “Kok ibu bicara begitu sih? Dia anak ibu.”
“Tapi ibu marah gak kayak gitu. Coba ibu tanya, siapa pacarnya? Ibu takut, malah pacarnya yang buat dia begitu!”
“Pacarnya anak baik kok, bu. Teman Nozomi.”
“Kenapa mereka bisa jadian? Ibu mikir, anak itu gak akan ada banyak yang suka!”
“Tapi pacarnya suka,” Nozomi senang menggodai ibunya meski ia tidak suka topik ini.
“Ya, paling hanya karena cantik doang. Cantik doang, buat apa? Kalau benar katamu, kalau pacarnya itu anak baik, itu artinya pacarnya itu telah ketipu! Karena gak tau siapa Sayu sebenarnya! Mau secantik apa, kalau akhlaknya jelek, gak akan ada yang suka!”
Nozomi hanya menghela nafas. Ia tidak bisa berkomentar lebih jauh. Ibunya memang begitu, gerget dengan Sayumi yang hanya cantik fisik. Kecantikan itu turun dari ibu, tetapi Sayumi tidak mengikuti sifat ibu yang memiliki kepribadian dan karakter yang baik. Tidak bermuka dua.
“Memangnya bagaimana orangnya? Pacarnya Sayu itu?” Rupanya ibu penasaran.
Hampir Nozomi berdecak, tidak suka dengan pertanyaan itu. Tapi ia harus menahan supaya tidak terlihat bahwa sebenarnya ia menyukai pacar adiknya itu. “Dia baik, pintar. Orangnya tinggi. Banyak yang naksir karena gantengnya itu.”
“Iya? Keren dong Sayu bisa pacaran dengan anak kayak gitu?” ibu membayangkan menantu idaman. “Kamu sendiri, apa sudah ada yang punya?”
“Nozomi gak ngerti pacaran buat apaan, bu. Sudahlah, bu. Jangan bahas pacaran kalau itu tentang Nozomi.”
“Cie… cemburu… adiknya udah duluan punya…”
“Nozomi gak cemburu…”
“Tapi masak kamu mau kalah sih sama Sayu? Apa tidak ada yang kamu suka?”
Nozomi mendecis pelan. Ia mencari topik lain untuk membanting setir. “Bu, Nozomi takut kalau masih bahas pacaran tentang Nozomi, makanan ini tidak akan enak…”
“Hahaha… baper…” ibu tertawa.

Nozomi tidak bisa menyembunyikan senyumnya karena tawa ibu. Tawa ibu, hanya itu yang bisa membuat hatinya hangat. Perlahab, ibu tidak lagi membahas tentang pacaran. Ia mencoba menenggang perasaan putri pertamanya. Tetapi selama memasak, ibu terus berbicara bagaimana menjadi istri yang baik. Nozomi hanya diam, masa bodoh meski ia ingin berkomentar bahwa pikiran ibu tentang menantu terlalu cepat untuk saat ini.

No comments:

Post a Comment