Adik
kakak itu memasang wajah ‘baik-baik’ saja saat tiba di rumah. Ibu dan ayah
senang karena belakangan putri-putri mereka sudah semakin akur. Tetapi,
saat-saat mereka sedang senang itulah, sebenarnya mereka sedang ditipu oleh
anak-anak mereka sendiri.
Di
kamar, Sayumi melempar sembarang tasnya. Ia memandang sengit kakaknya.
Menghampiri, lalu menarik bahu pakaian kakaknya itu. Matanya melotot. Ia masih
gergetan karena Nozomi tadi tidak menjawab pertanyaannya tadi di taiikukan kenapa kakaknya itu menangis.
Jawaban yang tidak didapat, membuat Sayumi hilang akal. Mencubit dan melukai,
malah itu yang membuat kakaknya keras kepala tidak berterus terang karena sebal
di hati berbuah diam.
Memang
begitu, Nozomi marah hanya bisa diam. Kalau bicara, biasanya akan menangis.
Tetapi diamnya kini mengandung banyak alasan. Alasan sakit karena dicubit
sampai berdarah dan dipukul hingga lebam adalah alasan ke dua. Alasan
terutamanya, adalah tidak mungkin ia berterus terang dan tidak akan pernah
berterus terang bahwa sebenarnya ia masih menyukai Yuto. Parahnya, Yuto malah
melihat airmatanya tadi sebelum Nozomi ke taiikukan
dan Yuto ‘mengadu’ ke Sayumi. Yuto tidak tau hubungan adik kakak itu.
“Sekali
lagi gua bilang, lu kenapa? Jangan diam aja dong!” Sayumi gerget. “Pake sok-sok
nangis. Mau cari perhatian?”
Nozomi
memandang sengit adiknya. Semakin dipaksa, apalagi dengan cara kekerasan,
membuat Nozomi semakin keras untuk tutup mulut. Masa bodoh, ia menepis tangan
Sayumi yang masih bersarang di bahunya. Tetapi Sayumi tetap bergeming. Nozomi
merasa aneh dengan tatapan itu. Tidak biasanya Sayumi sebegini memaksanya.
Biasanya kalau sudah mencubit dan memukul, Sayumi akan berhenti sendiri setelah
marah-marah.
Tetapi
kini, ia melihat mata lain di mata Sayumi. Nozomi merasa seolah-olah tatapan
adiknya itu bertanya apakah Nozomi masih menyukai Yuto atau tidak.
“Aku
lapar! Aku tidak bisa berbicara kalau hati dongkol.”
“Dongkol?
Yang dongkol itu gua!” Sayumi menendang
Nozomi.
Nozomi
reflek berdiri, akan menantang adiknya berkelahi. Tetapi lama matanya dan mata
adiknya bersitatap, Nozomi memilih menurunkan pandangannya. Berganti pakaian,
lalu keluar menuju dapur, membantu ibu untuk menyiapkan makan malam. Tetapi ia
lupa untuk menyingkirkan wajahnya yang ditekuk itu. Hingga ibu menegurnya.
“Kenapa?
Abis berantem?”
“Adik
kakak gak berantem gak afdol, bu!” Nozomi menjawab asal.
Ibu
tersenyum bijak. Ia lalu diam, meneruskan memotong sayur-mayur, meminta Nozomi
membantu pekerjaan dapur yang lain. Tiba-tiba terdengar suara bedebam dari kamar
putri, kamar Nozomi dan Sayumi. Tidak lama, terdengar suara ayah marah-marah
karena Sayumi mengeluarkan semua milik Nozomi di kamar.
“Kau
tidak bisa menguasai kamar itu, Sayu! Kamar itu ayah buat untuk kalian berdua!”
Mendengar
itu, Nozomi dan ibu saling berpandangan sebelum akhirnya mereka meninggalkan
pekerjaan dapur, keluar. Mata mereka membulat melihat semua barang-barang
Nozomi sudah dikeluarkan.
“Sayu!”
ibu ikut marah. “Apa maksudmu!?”
“Ibu
tanya sama anak kesayangan ibu itu!” teriak Sayumi di dalam kamar.
“Eh?”
Ibu lalu memandang Nozomi. Pun ayah.
Sialan! Nozomi
merutuk di dalam hati. Ayah ibu memandangnya seraya bertanya ada apa. Sialan,
karena tidak mungkin Nozomi berterus terang. Masak karena urusan cowok, sampai sebegininya? Ini berlebihan!
“Nozomi
gak tau, bu. Ini salah paham. Tadi itu Nozomi kelilipan, eh pacarnya Sayumi
liat dan ngadu ke Sayumi. Sayumi nyamperin Nozomi. Nozomi gak bisa jawab kalau
lagi lapar. Ibu tau sendiri Nozomi gak konsentrasi ngapa-ngapain kalau udah
lapar. Tapi dia terus maksa Nozomi jawab. Nozomi udah pusing karena kelaparan
tadi.” Nozomi terpaksa berbohong.
Ayah
menganga, jawaban Nozomi konyol.
“Hanya
itu?” Ibu tidak percaya. “Kalian ini! Bikin ibu pusing tau gak! Masalahnya
apaan, marahnya udah kayak godzila ngamuk!” Ibu mendecis, lalu melenggang ke
dapur. Tidak habis pikir bahwa permasalahannya sepele. “Kamu lebih baik bantu
ibu. Biarin anak itu ngamuk!”
“Ok,
bu.” Nozomi mengangguk, menyusul. Di dalam hati ia bersorak bisa meyakinkan ibu
dan ayah.
Sementara
ayah, memberitau Sayumi mengenai alasan diam Nozomi, tetapi tetap saja kamar
tidak dibuka. Ayah lalu masa bodo karena Sayumi berteriak ‘diam’. Nozomi dan
ibu yang mendengarnya hanya diam, fokus ke pekerjaan di dapur.
“Anak
itu… siapa sih pacarnya? Kok ada yang mau?” Ibu membuka obrolan.
Nozomi
tersenyum bijak mendengarnya. “Kok ibu bicara begitu sih? Dia anak ibu.”
“Tapi
ibu marah gak kayak gitu. Coba ibu tanya, siapa pacarnya? Ibu takut, malah
pacarnya yang buat dia begitu!”
“Pacarnya
anak baik kok, bu. Teman Nozomi.”
“Kenapa
mereka bisa jadian? Ibu mikir, anak itu gak akan ada banyak yang suka!”
“Tapi
pacarnya suka,” Nozomi senang menggodai ibunya meski ia tidak suka topik ini.
“Ya,
paling hanya karena cantik doang. Cantik doang, buat apa? Kalau benar katamu,
kalau pacarnya itu anak baik, itu artinya pacarnya itu telah ketipu! Karena gak
tau siapa Sayu sebenarnya! Mau secantik apa, kalau akhlaknya jelek, gak akan
ada yang suka!”
Nozomi
hanya menghela nafas. Ia tidak bisa berkomentar lebih jauh. Ibunya memang
begitu, gerget dengan Sayumi yang hanya cantik fisik. Kecantikan itu turun dari
ibu, tetapi Sayumi tidak mengikuti sifat ibu yang memiliki kepribadian dan
karakter yang baik. Tidak bermuka dua.
“Memangnya
bagaimana orangnya? Pacarnya Sayu itu?” Rupanya ibu penasaran.
Hampir
Nozomi berdecak, tidak suka dengan pertanyaan itu. Tapi ia harus menahan supaya
tidak terlihat bahwa sebenarnya ia menyukai pacar adiknya itu. “Dia baik,
pintar. Orangnya tinggi. Banyak yang naksir karena gantengnya itu.”
“Iya?
Keren dong Sayu bisa pacaran dengan anak kayak gitu?” ibu membayangkan menantu
idaman. “Kamu sendiri, apa sudah ada yang punya?”
“Nozomi
gak ngerti pacaran buat apaan, bu. Sudahlah, bu. Jangan bahas pacaran kalau itu
tentang Nozomi.”
“Cie…
cemburu… adiknya udah duluan punya…”
“Nozomi
gak cemburu…”
“Tapi
masak kamu mau kalah sih sama Sayu?
Apa tidak ada yang kamu suka?”
Nozomi
mendecis pelan. Ia mencari topik lain untuk membanting setir. “Bu, Nozomi takut
kalau masih bahas pacaran tentang Nozomi, makanan ini tidak akan enak…”
“Hahaha…
baper…” ibu tertawa.
Nozomi
tidak bisa menyembunyikan senyumnya karena tawa ibu. Tawa ibu, hanya itu yang
bisa membuat hatinya hangat. Perlahab, ibu tidak lagi membahas tentang pacaran.
Ia mencoba menenggang perasaan putri pertamanya. Tetapi selama memasak, ibu
terus berbicara bagaimana menjadi istri yang baik. Nozomi hanya diam, masa
bodoh meski ia ingin berkomentar bahwa pikiran ibu tentang menantu terlalu
cepat untuk saat ini.
No comments:
Post a Comment