Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Friday, August 19, 2016

Part 4 : Menanti Itu Menyakitkan (That's What Make You Beautiful)

Yamada Ryosuke dan Okamoto Keito adalah dua nama sebelum Nakajima Yuto. Keduanya telah menjadi korban atas paras dan tampilan luar Sayumi.
Yamada Ryosuke, dia adalah dinta pertama Nozomi waktu SD. Dia anak baru di kelas 5. Sama seperti Nakajima Yuto, sebelumnya mereka merajut pertemanan yang dekat seperti Nozomi dengan Yuto. Tetapi tidak sedekat Yamada. Dan diantara yang lain, hanya Yamada yang menunjukkan sikap lain pada Nozomi. Nozomi tidak pernah menyadari itu. Seorang temannya yang mencurigai Yamada menyukai Nozomi. Nozomi tidak bisa langsung percaya, sebab ia belum pernah menemukan orang yang menyukainya. Belum lagi, Nozomi tidak pernah meras cantik, jadi berfikir apa yang Yamada sukai dari diri Nozomi.
Akan tetapi temannya itu terus menguatkan. Saat Nozomi melihat arah lain, Yamada sedang memandangi Nozomi. Namun saat Nozomi memandangnya, Yamada pura-pura melihat arah lain. Bahkan saat disengaja Nozomi melihatnya demi membuktikan ucapan temannya, Yamada ternyata meliriknya tetapi kembali melihat yang lain. Yamada telah tertangkap basah oleh pandangan Nozomi. Tetapi Nozomi tidak bisa percaya begitu saja bahwa benar cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Hingga saat kelas enam, Yamada datang memberinya bunga sebagai ucapan selamat ulangtahun. Nozomi polos menerima saja. Ia berterima kasih selayaknya teman. Ia masih belum mempercayai bahwa Yamada memang benar menaruh hti padanya.
Lalu Nozomi jatuh sakit. Yamada datang ke rumah bersama yang lain untuk menengok. Saat itulah teman-teman yang datang menengok, melihat Sayumi. Sayumi dan Nozomi tidak satu sekolah satu SD, jadi mereka baru tau kalau Nozomi memiliki adik. Bahkan adik yang cantik. Sejak itu, kecantikan Sayumi menjadi obrolan di kelas.
Bahkan Yamada, telah beralih obrolan mengenai Sayumi degan Nozomi. Sejak itu, teman dekat Nozomi tidak lagi melapor bahwaYamada sering memandang Nozomi diam-diam. Sampai saat pulang sekolah di suatu hari yang lain, Sayumi melapor bahwa ia baru saja menolak teman Nozomi.
Nozomi terkejut. Rupanya sejak melihat Sayumi, Yamada sering ke sekolah Sayumi. Melakukan pendekatan sampai Yamada menyatakan cintanya. Tetapi Sayumi menolaknya.
Bukan senang Nozomi mendengarnya, malah sedih. Ia sedih karena apa yang dikhawatirkannya menjadi nyata. Setiap orang yang melihat Sayumi, pasti akan jatuh hati bahkan melupakan diri Nozomi. Hal itu dialami sejak kecil. Saat ia jalan bertiga dengan ibu dan Sayumi, hanya Sayumi yang menjadi pujian oleh para orangtua dan anak-anak. Nozomi seolah tidak dianggap.
Itu pertama kalinya Nozomi mengenal patah hati. rasanya terlalu dini untuk mengatakan bahwa Nozomi telah patah hati. Tetapi memang itu kenyataannya.
Setelah Yamada, lalu Okamoto Keito. Kakak kelas yang menjadi ketua OSIS. Nozomi satu SMP dengan adiknya. Diam-diam, Nozomi mengkhawatirkan apa yang pernah terjadi sebelumnya. Sama seperti Yamada dan Yuto, Nozomi dan Okamoto menjalin hubungan pertemanan. Pertemanan atas dasar kesamaan hobi.
Nozomi menyukai karakter Okamoto, terlebih memiliki hobi yang sama yaitu komputer. Tetapi saat naik kelas, Nozomi dan Sayumi satu sekolah. Sama seperti yang sudah terjadi, kecantikan Sayumi tersebar hingga diketahui kakak kelas.
Okamoto menyukainya. Sayumi yang mengatakannya karena Okamoto berbicara dengan gugup. Kabar Okamoto menyuka Sayumi pun tersebar. Nozomi hanya bisa diam. Sejak mengetahui kabar itu, Nozomi menjaga jarak dengan Okamoto. Ia tidak mau terlihat cemburu. Dan Okamoto, tidak mempermasalahkan Nozomi yang tidak disadainya telah menjauh.
Namun sampai saat itu, Sayumi kembali menolak tawaran Okamoto untuk dijadikan pacar. Katanya, ia masih ingin belajar, padahal ia takut dimarahi ayah ibu yang melarang pacaran. Nozomi dan Sayumi sangat menuruti hal itu. Tetapi entah bagaimana, kini Sayumi melanggar itu.
Nozomi paham, bahwa memang jiwa pubernya begitu. Nozomi tidak bisa menyalahi. Tapi yang menjadi masalah, kenapa harus orang yang disuka Nozomi yang menjadi pacar pertama Sayumi? Pacar pertama tentu akan berkesan.
Sama sekali ia tidak merasa iri melihat adiknya lebih dulu pacaran. Tetapi sekali lagi, kenapa harus orang yang disuka Nozomi yang menjadi pacar Sayumi. Mengingat itu semua, rasa-rasanya Nozomi enggan jatuh cinta kalau nantinya orang yang dicinta malah kepincut oleh kecantikan lain, sementara orang yang memincut itu ternyata memiliki sifat yang tidak sama cantik dengan parasnya. Sayumi hanya menjaga kecantikan fisik semata.
“No-chan!” tiba-tiba sebuah rangkulan mendarat di bahunya.
Nozomi terkejut. Rupaya Morikawa. Morikawa tertawa melihat wajah terkejut itu.
“Hey, kau kenapa? Kasian deh jomblo. Mau kucarika, tidak?” Morikawa bertanya jahil.
“Kamu ngapain sih ikut-ikut panggil aku No-chan?” Nozomi melepas rangkulan itu. Meski tida dekat, tapi Nozomi tau bahwa Morikawa memiliki rasa perhatian yang baik pada temannya.
“Yuto-chan kan panggil kamu begitu.”
“Ng? Yuto-chan?”
“Ih, kamu gak tau? Mulai sekarang, aku akan memanggil kalian semua dengan menambahkan ‘chan’ di belakang. Biar berasa temen, gitu!” Morikawa lalu mencubit pipi Nozomi. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia lalu berlalu keluar kelas. Memang begitu, ia senang hinggap di teman satu ke teman yang lain. Maka tidak jarang pula banyak yang menyukainya karena ia mudah bergaul dengan siapa pun.
Nozomi mendesah setelah Morikawa pergi. Ia tidak menyangka kisah cinta akan seperti lagu-lagu patah hati. Hanya saja kini ia tidak serapuh waktu dengan Yamada. Meski sesak, tetapi airmata itu tidak lagi manja meminta keluar dari persembunyian. Ingat pesan ayah ibu, ia tidak akan menceritakan keburukan Sayumi apa pun yang terjadi, bahkan meski Sayumi telah mengumbar keburukan tentang Nozomi yang sebenarnya tidak dipahami Sayumi dan berakibat dipandang buruk oleh Sayumi.
>>>のぞみ<<<
Ini sudah hari ke sekian Nozomi dan Sayumi tidak lagi pulang bersama. Bahkan Nozomi demi supaya tidak ketahuan ayah ibu, ia sengaja menunggu Sayumi di tempat yang sudah dijanjikan supaya nanti bisa pulang bersama setelah Sayumi dan Yuto pacaran, untuk memberi kesan bahwa Sayumi dan Nozomi memang pulang bersama dari sekolah.
Namun, menunggu adalah perkara yang menyakitkan. Sebab menunggu bukan lagi perkara yang membosankan. Nozomi bukan lagi seperti kebanyakan orang yang bosan dan sebal karena menjadi orang yang akan menunggu apalagi menunggu orang yang menganut jam karet. Akan tetapi, pengertian menunggu yang dialaminya kini telah berubah dari kata membosankan menjadi kata menyakitkan. Betapa tidak? Nozomi menunggu sang adik yang berpacaran dengan orang yang disukainya.
Entah, Nozomi tidak bisa menyalahi diri karena tidak bisa berterus terang. Nozomi tidak pernah bisa bila yag satu akan merasa sakit. Nozomi mengira, bahwa lebih baik dirinya saja yang sakit. Apalagi kalau berterus terang pada Yuto. Nozomi tidak bisa membayangkan jawaban Yuto. Meski mungkin saja Yuto menyukainya, rasa suka itu akan beralih bila melihat Sayumi. Sayumi selalu terlihat anggun di luar rumah. Tetapi menyakitkan di dalam rumah. Membabukan seisi ruma, meng-hak-milik semua barang. Semula bertengkar, tetapi Nozomi memilih mengalah demi bisa berbicara baik-baik dengan adik kandung sendiri. Nozomi lelah bertengkar sejak kecil.
“Apakah aman membiarkan dia berduaan sementara dia tidak tau bagaimana karakter adikmu yang sebenarnya?” sebuah suara mengejutkan Nozomi dalam penantian Sayumi.
Nozomi tersentak. Ia yang semula menangkupkan wajah ke kedua telapak tangan segera mengangkat wajah. “Nakaken!”
Nakaken menyengir. “Mizutani-san ngapain di sini?” tanya Nakaken. Nakaken, ia memiliki nama panjang Nakajima Kento¾tapi tidak memiliki hubungan darah dengan Yuto. Ia sudah dikenal dengan sebutan Nakaken yang merupakan dingkatan dari nama lengkapnya. Sama seperti Yuto, Nakaken sempat mendekati Sayumi demi mengetahui bagaimana Sayumi. Tetapi Nozomi terus menghindar, tidak mau berterus terang mengenai Sayumi.
“Kamu sendiri? Kayaknya senang banget ngikutin orang!”
“Kok tau?”
Nozomi membuang muka, ia hanya asal bunyi.
“Hey, aku memang membuntuimu. Habis, aku heran mengenai hubunganmu dengan Sayu-chan. Kamu ini curang. Tidak mau berterus terang mengenai adikmu. Tau-tau dia sudah pacaran dengan Yuto. Apa ini rencanamu?”
Nozomi berdecak tidak suka. “Rencana apaan sih? Mereka saling suka, ya begitulah jadinya!”
“Apa kamu bilang mengenai diri Sayumi yang sebenarnya?”
“Eh? Maksud kamu?”
“Pasti sebenarnya hubungan kamu dengan Sayumi itu tidak baik kan?”
Nozomi tidak bisa menjawab. Ia hanya menurunkan pandangannya. Nakaken mengangguk-angguk melihat reaksi itu. Ia tidak akan menagih macam-macam. “Kau memang kakak yang baik. Menyembunyikan aib adikmu. Tapi jujur, aku tidak terima dia bersenang-senang sekarang, sementara kau menunggu dengan muka suram. Tapi kamu jangan salah sangka, aku tidak cemburu pada hubungan mereka, aku hanya kasian denganmu…”
“Aku gak butuh dikasihani!” Nozomi segera melenggang, ia tidak mau berlama-lama dekat dengan Nakaken, takut mulutnya terlepas berbicara mengenai siapa Sayumi.
Persis saat itu, Yuto dan Sayumi tiba. Bersamaan memanggil Nozomi. Keduanya lalu menghampiri Nozomi. melihat Nakaken, Yuto tersenyum-senyum jahil. Ia berbisik pada pacarnya, bahwa Nozomi sedang melakukan pendekatan dengan Nakaken.
“Kalian jangan sebar gossip. Aku ada di sini karena kasian liat dia di sini nunggu kalian. Kalian enak-enak pacaran, tapi Mizutani nunggu sampai lumutan!” Nakaken tidak terima bila ia digosipkan dengan Nozomi.
“Ah, awalnya kasian. Lalu perhatian, kemudian…?” Yuto menatap pacarnya, lalu tertawa bersama. Hanya Nakaken yang geram. Nozomi tetap diam dengan wajah lelah¾lelah hati.
“Ok. darling, aku pulang dulu ya,” kata Sayumi.
Yuto mengangguk. Ia lalu memberi kiss bye. Sayumi membalasnya segera bergerak mundur mendekati Nozomi. Tiba-tiba Yuto mendekat, mengecup kening Sayumi.
Nakaken dan Nozomi kaget dalam diam. Tetapi tidak seperti Nakaken yang ternyata masih memiliki rasa dengan Sayumi, Nozomi malah menarik kedua ujung bibirnya. PUra-pura tersenyum senang melihat kemesraan mereka. Airmata yang mulai terasa, segera dikendalikan untuk tidak keluar.
“Sudah, dilanjutkan besok saja!” Nozomi mengingatkan.
“Ok. Kalian hati-hati ya!” Yuto melambai-lambaikan tangannya.
Nozomi hanya tersenyum sewajarnya. Sementara Sayumi masih melambai-lambai tetapi kakinya tidak mau beranjak. Nozomi harus menariknya supaya pandangan Sayumi ke depan.
Nakaken yang masih kaget dengan tadi, memandang Yuto. Lalu menepuk bahu Yuto tanpa berkata apa-apa lagi. Yuto yang heran, menghampirinya. Tetapi Nakaken malah memasang wajah sebal. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Yuto mengenai kenapa dirinya. Malah mengusir pulang ke rumah.
Yuto melongo, diam tidak mengerti. Tetapi karena masih berbunga-bunga karena berpacaran dengan Sayumi tadi, ia kembali tersenyum.
Senyum yang sama dengan Sayumi saat satu bis dengan Nozomi. Kembali duduk berdua. Nozomi hanya diam, enggan melihat Sayumi yang tengah bermerah muda. Baru saat tiba di rumah dan masuk kamar, Sayumi bercerita mengenai apa yang telah dilakukannya dengan Yuto.

Sekali lagi, Nozomi hanya memasang wajah ‘penipu’. Ia tidak mau terlihat tidak senang di depan adiknya meski di dalam hati ia menangis. Hanya saat sendirian, airmata itu menetes.

No comments:

Post a Comment