Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Friday, August 19, 2016

Part 2 : Mizutani Sayumi (That's What Make You Beaitiful)

Mizutani Sayumi. Gadis itu adik kandung Nozomi. Masuk SMA tahun ini di SMA yang sama dengan saudara satu-satunya itu. Mizutani berbeda dengan Mizutani Sayumi. Ia anak yang tumbuh ceria, walau kadang-kadang ia menjadi kalem. Parasnya jauh lebih cantik dari Nozomi. Memiliki mata yang bulat, alismata yang tebal dan bulumata yang lentik. Bibirnya selalu merah. Rambutnya selalu tergerai panjang. Pandangan pertama orang melihatnya, maka pandangan itu akan sulit dilepaskan. Meski dinilai cantik, tidak sedikit mengatakanya imut. Wajah baby face.
Sayumi duduk di bangku SMA kelas 1A. Ia menjadi kebanggaan kelasnya karena paras indahnya itu. Senyumnya itu membuat orang tidak berhenti memandangnya. Anak-anak cowok di kelasnya sempat bersatu, mengadakan loma untuk merebut hatinya. Tapi sampai tiga bulan sejak hari pertama sekolah, Sayumi masih jalan sendiri. Tanpa ada gandengan saat pulang sekolah. Ia sama seperti kakaknya yang tidak mempermasalahkan diri sebagai seorang sendiri, meski ia teringin pula memiliki gandengan.
Akan tetapi siapa pun, hampir tidak percaya bahwa dia adalah adik kandung Nozomi. Wajah keduanya memang berbeda. Sayumi dan Nozomi berbeda seratus delapan puluh derajat¾ apalagi mereka jarang jalan bersama. Sayumi murah senyum dan ringan tangan membantu, sementara Nozomi pendiam akut kalau tidak ada yang perlu dibicarakan. Sorot mata Nozomi pun lebih terlihat seperti bicah polos. Sayumi sangat perempuan, Nozomi sangat misterius. Tidak jarang anak yang penasaran dengan Nozomi, bertanya pada Sayumi mengenai Nozomi. Tapi Sayumi mengatakan bahwa memang begitu kakaknya.
Jarang bersama dan terlihat biasa saja, banyak yang mengira bahwa adik kakak itu baik-baik saja. Tetapi sebenarnya, keduanya menyimpan sesuatu yang telah diminta orangtua mereka. Sebab bila tersebar maka akan menjadi aib. Nozomi, sangat memegang benar sesuatu yang disimpan itu, dan Sayumi selalu berusaha tampil dicintai banyak orang. Hingga kabar tentang dirinya tertangkap mata dan telinga oleh anak cowok yang menjadi incaran para gadis.
Nakajima Yuto, ia telah menaruh hati pada Sayumi.
>>>のぞみ<<<
 “Kakak sekelas sama dia?” Sayumi berbisik seraya membungkuk ke telinga kakaknya.
Nozomi mengangkat pandangannya sejenak, ia tengah memasang sepatu. Mulutnya masih penuh dengan makanan. Ia tidak bisa menjawab, takut bibir atau lidahnya tergigit tidak disengaja.
“Kakak!”
“Di bis saja!” seru Nozomi setelah sepatunya terpasang. Ia segera menenggak air minum di meja. Lalu mencari ayah ibu untuk pergi pamit.
Sayumi mengejar. Ia dan kakaknya selalu pergi ke sekolah bersama. Hanya pergi dan pulang, mereka bersama. Banyak yang mengagumi keakraban keduanya yang selalu bersama.
Sayumi dna Nozomi sudah smapai di halte persis bis tiba. Mereka duduk berdua. Kalau tidak ada keperluan, Sayumi tidak akan duduk dekat dengan kakaknya itu. Itu yang tidak diketahui banyak orang. Kembali lagi, Sayumi mengajukan pertama yang sama seperti tadi waktu usai sarapan.
“Iya. Ada apa?” Nozomi bertanya balik. Ia terlihat biasa saja.
“Hm, kakak masih suka dia?” Sayumi menanyakan sesuatu yang menyakitkan. Ia dan kakaknya itu memang sering cocok kalau sedang curhat, terutama tentang orang yang disuka. Dan Sayumi, adalah orang pertama yang menjadi teman curhat Nozomi. Selain membahas itu, biasanya mereka berkelahi, berkelahi hal apa pun.
Nozomi menghela nafas panjang mendengarnya. “Dulu.” Nozomi berbohong. Rupanya ia penasaran dengan reaksi Sayumi bilamana ia berbohong bahwa sebenarnya ia sudah tidak lagi memiliki hati untuk Nakajima.
Sayumi mengangguk-angguk, terlihat wajar. Tapi Nozomi bisa melihat kalau adiknya bersorak girang di dalam hati. Terlebih saat Nozomi terus memandangi adiknya, Sayumi senyum-senyum sendiri. Meski menyakitkan, Nozomi tetap berlaku bahwa ia sudah tidak lagi suka. “Cie…” Nozomi menggodai adik cantiknya itu.
“Menurut kakak kalau aku sama dia, apa kakak gak cemburu?”
Nozomi tersenyum bijak, dan sekali lagi senyum bijaknya itu sebenarnya adalah bohong. Ia melakukan itu karena tidak berterus terang bahwa ia sebenarnya ia memang cemburu. Bahkan teramat sangat. Tetapi demi melihat adiknya tersenyum dan demi hubungannya dengan sayumi membaik, Nozomi berbohong. Membelai rambut adiknya dengan sayang. Namun berat.
“Mau kakak suka apa enggak. Cinta tetap tidak bisa dipaksakan. Aku tidak mungkin meminta dan memaksa Nakajima-san mencintaiku. Kalau dia mencintaimu dan kau mencintainya? Kenapa tidak? Aku yakin, dia pasti juga akan mencintaimu. Kau itu cantik. Bukankah banyak testimonialnya bahwa kau memang banyak penggemar?”
Sayumi tergelak malu-malu, wajahnya bersemu merah. Sementara Nozomi menahan sesak dalam diam. Nozomi telah bermuka dua terhadap adiknya.
“Jadi kakak gak apa-apa kalau aku pacaran dengannya?”
“Sanalah. Aku bukan ibunya yang tidak akan merestui hubungan kalian.” Nozomi selalu pandai menyusun kata supaya adiknya tidak lagi bertanya mengenai perasaannya.
Dan Sayumi, percaya begitu saja oleh gurauan kakaknya itu. Tetapi ia bisa membaca wajah kosong kakaknya. “Kak, kakak beneran tidak apa-apa? Kakak kayak sedih gitu…”
Nozomi menelan air ludah. “Nanti ada Yabu-sensei. Tau sendiri, kalau dia kasih pr. Kakak wanti-wanti nih. Kakak tidak mau lengah!” Sekali lagi, Nozomi berbohong.
Sayumi tersenyum. “Emang sampai sebegitunya?”
“Emang kamu gak pernah diajarin?”
“Enggak.” Sayumi menggeleng.
Nozomi tersenyum masam. Ia lalu tertawa karena telah berhasil membawa obrolan tetap terjaga, Sayumi tidak lagi menanyakan mengenai perasaannya. Tetapi Nozomi tidak bisa membayangkan hal-hal tentang Sayumi. Ini sudah ke sekian ada orang yang disukanya menyukai Sayumi, begitu juga sebaliknya.
Ya, Nozomi sudah mengetahui bahwa Nakajima menaruh hati. Anak-anak cowok berandal yang duduk di sekitarnya memiliki mulut ember. Nozomi menangis pilu dalam hati.
Tidak lama, bis yang ditumpangi berhenti di jalan menuju sekolah. Nozomi dan Sayumi berjalan ke sana. Sempat Nozomi ingin merangkul adiknya, tetapi adiknya itu menepis kasar. Nozomi terkejut. Tidak, itu bukan kali pertama. Hanya saja, sampai saat ini ia tidak mengetahui kenapa sebegitu kasarnya adiknya bila bahunya dirangkul. Pegangan tangan saja enggan. Sudah lama Nozomi meragukan hati Sayumi terhadap dirinya. Apakah ia masih menganggapku kakak?
Saat Nozomi terpaku diam melihat adiknya berjalan lebih dulu, seseorang menegurnya. Nozomi menoleh. Rupanya Nakaken sang ketua OSIS, ternganga dengan Sayumi tadi.
“Itu Sayu-chan?”
Nozomi menggeleng samar, segera ia berlari, menghindar sebelum Nakaken akan bertanya lebih lanjut kenapa Sayumi berlaku demikian.




No comments:

Post a Comment