Mizutani
Sayumi. Gadis itu adik kandung Nozomi. Masuk SMA tahun ini di SMA yang sama
dengan saudara satu-satunya itu. Mizutani berbeda dengan Mizutani Sayumi. Ia
anak yang tumbuh ceria, walau kadang-kadang ia menjadi kalem. Parasnya jauh
lebih cantik dari Nozomi. Memiliki mata yang bulat, alismata yang tebal dan
bulumata yang lentik. Bibirnya selalu merah. Rambutnya selalu tergerai panjang.
Pandangan pertama orang melihatnya, maka pandangan itu akan sulit dilepaskan.
Meski dinilai cantik, tidak sedikit mengatakanya imut. Wajah baby face.
Sayumi
duduk di bangku SMA kelas 1A. Ia menjadi kebanggaan kelasnya karena paras
indahnya itu. Senyumnya itu membuat orang tidak berhenti memandangnya.
Anak-anak cowok di kelasnya sempat bersatu, mengadakan loma untuk merebut
hatinya. Tapi sampai tiga bulan sejak hari pertama sekolah, Sayumi masih jalan
sendiri. Tanpa ada gandengan saat pulang sekolah. Ia sama seperti kakaknya yang
tidak mempermasalahkan diri sebagai seorang sendiri,
meski ia teringin pula memiliki gandengan.
Akan
tetapi siapa pun, hampir tidak percaya bahwa dia adalah adik kandung Nozomi.
Wajah keduanya memang berbeda. Sayumi dan Nozomi berbeda seratus delapan puluh
derajat¾
apalagi mereka jarang jalan bersama. Sayumi murah senyum dan ringan tangan
membantu, sementara Nozomi pendiam akut kalau tidak ada yang perlu dibicarakan.
Sorot mata Nozomi pun lebih terlihat seperti bicah polos. Sayumi sangat
perempuan, Nozomi sangat misterius. Tidak jarang anak yang penasaran dengan
Nozomi, bertanya pada Sayumi mengenai Nozomi. Tapi Sayumi mengatakan bahwa
memang begitu kakaknya.
Jarang
bersama dan terlihat biasa saja, banyak yang mengira bahwa adik kakak itu
baik-baik saja. Tetapi sebenarnya, keduanya menyimpan sesuatu yang telah
diminta orangtua mereka. Sebab bila tersebar maka akan menjadi aib. Nozomi,
sangat memegang benar sesuatu yang disimpan itu, dan Sayumi selalu berusaha
tampil dicintai banyak orang. Hingga kabar tentang dirinya tertangkap mata dan
telinga oleh anak cowok yang menjadi incaran para gadis.
Nakajima
Yuto, ia telah menaruh hati pada Sayumi.
>>>のぞみ<<<
“Kakak sekelas sama dia?” Sayumi berbisik
seraya membungkuk ke telinga kakaknya.
Nozomi
mengangkat pandangannya sejenak, ia tengah memasang sepatu. Mulutnya masih
penuh dengan makanan. Ia tidak bisa menjawab, takut bibir atau lidahnya
tergigit tidak disengaja.
“Kakak!”
“Di
bis saja!” seru Nozomi setelah sepatunya terpasang. Ia segera menenggak air
minum di meja. Lalu mencari ayah ibu untuk pergi pamit.
Sayumi
mengejar. Ia dan kakaknya selalu pergi ke sekolah bersama. Hanya pergi dan
pulang, mereka bersama. Banyak yang mengagumi keakraban keduanya yang selalu
bersama.
Sayumi
dna Nozomi sudah smapai di halte persis bis tiba. Mereka duduk berdua. Kalau
tidak ada keperluan, Sayumi tidak akan duduk dekat dengan kakaknya itu. Itu
yang tidak diketahui banyak orang. Kembali lagi, Sayumi mengajukan pertama yang
sama seperti tadi waktu usai sarapan.
“Iya.
Ada apa?” Nozomi bertanya balik. Ia terlihat biasa saja.
“Hm,
kakak masih suka dia?” Sayumi menanyakan sesuatu yang menyakitkan. Ia dan
kakaknya itu memang sering cocok kalau sedang curhat, terutama tentang orang
yang disuka. Dan Sayumi, adalah orang pertama yang menjadi teman curhat Nozomi.
Selain membahas itu, biasanya mereka berkelahi, berkelahi hal apa pun.
Nozomi
menghela nafas panjang mendengarnya. “Dulu.” Nozomi berbohong. Rupanya ia
penasaran dengan reaksi Sayumi bilamana ia berbohong bahwa sebenarnya ia sudah
tidak lagi memiliki hati untuk Nakajima.
Sayumi
mengangguk-angguk, terlihat wajar. Tapi Nozomi bisa melihat kalau adiknya
bersorak girang di dalam hati. Terlebih saat Nozomi terus memandangi adiknya,
Sayumi senyum-senyum sendiri. Meski menyakitkan, Nozomi tetap berlaku bahwa ia
sudah tidak lagi suka. “Cie…” Nozomi menggodai adik cantiknya itu.
“Menurut
kakak kalau aku sama dia, apa kakak gak cemburu?”
Nozomi
tersenyum bijak, dan sekali lagi senyum bijaknya itu sebenarnya adalah bohong.
Ia melakukan itu karena tidak berterus terang bahwa ia sebenarnya ia memang
cemburu. Bahkan teramat sangat. Tetapi demi melihat adiknya tersenyum dan demi
hubungannya dengan sayumi membaik, Nozomi berbohong. Membelai rambut adiknya
dengan sayang. Namun berat.
“Mau
kakak suka apa enggak. Cinta tetap tidak bisa dipaksakan. Aku tidak mungkin
meminta dan memaksa Nakajima-san mencintaiku. Kalau dia mencintaimu dan kau
mencintainya? Kenapa tidak? Aku yakin, dia pasti juga akan mencintaimu. Kau itu
cantik. Bukankah banyak testimonialnya bahwa kau memang banyak penggemar?”
Sayumi
tergelak malu-malu, wajahnya bersemu merah. Sementara Nozomi menahan sesak
dalam diam. Nozomi telah bermuka dua terhadap adiknya.
“Jadi
kakak gak apa-apa kalau aku pacaran dengannya?”
“Sanalah.
Aku bukan ibunya yang tidak akan merestui hubungan kalian.” Nozomi selalu
pandai menyusun kata supaya adiknya tidak lagi bertanya mengenai perasaannya.
Dan
Sayumi, percaya begitu saja oleh gurauan kakaknya itu. Tetapi ia bisa membaca
wajah kosong kakaknya. “Kak, kakak beneran tidak apa-apa? Kakak kayak sedih
gitu…”
Nozomi
menelan air ludah. “Nanti ada Yabu-sensei. Tau sendiri, kalau dia kasih pr.
Kakak wanti-wanti nih. Kakak tidak mau lengah!” Sekali lagi, Nozomi berbohong.
Sayumi
tersenyum. “Emang sampai sebegitunya?”
“Emang
kamu gak pernah diajarin?”
“Enggak.”
Sayumi menggeleng.
Nozomi
tersenyum masam. Ia lalu tertawa karena telah berhasil membawa obrolan tetap
terjaga, Sayumi tidak lagi menanyakan mengenai perasaannya. Tetapi Nozomi tidak
bisa membayangkan hal-hal tentang Sayumi. Ini sudah ke sekian ada orang yang
disukanya menyukai Sayumi, begitu juga sebaliknya.
Ya,
Nozomi sudah mengetahui bahwa Nakajima menaruh hati. Anak-anak cowok berandal
yang duduk di sekitarnya memiliki mulut ember. Nozomi menangis pilu dalam hati.
Tidak
lama, bis yang ditumpangi berhenti di jalan menuju sekolah. Nozomi dan Sayumi
berjalan ke sana. Sempat Nozomi ingin merangkul adiknya, tetapi adiknya itu
menepis kasar. Nozomi terkejut. Tidak, itu bukan kali pertama. Hanya saja,
sampai saat ini ia tidak mengetahui kenapa sebegitu kasarnya adiknya bila
bahunya dirangkul. Pegangan tangan saja enggan. Sudah lama Nozomi meragukan
hati Sayumi terhadap dirinya. Apakah ia masih menganggapku kakak?
Saat
Nozomi terpaku diam melihat adiknya berjalan lebih dulu, seseorang menegurnya.
Nozomi menoleh. Rupanya Nakaken sang ketua OSIS, ternganga dengan Sayumi tadi.
“Itu
Sayu-chan?”
Nozomi
menggeleng samar, segera ia berlari, menghindar sebelum Nakaken akan bertanya
lebih lanjut kenapa Sayumi berlaku demikian.
No comments:
Post a Comment