Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />
Showing posts with label Novel Nadia. Show all posts
Showing posts with label Novel Nadia. Show all posts

Saturday, December 7, 2013

Katanya 'BestFriend is Power" (bab[1])_6

                Mereka pun berpisah dan ke kelas masing-masing. Saat masuk kelas, Mutia melihat sosok oriental yang jangkungnya melebihi Yudist. “Yuto…” tanpa sadar Mutia menyebut nama itu berupa bisikan. Seperti ada sesuatu yang menarik dari Yuto, segera Mutia mengingat hal – hal yang buruk saja tentang masa lalunya waktu SMP dan Ia mulai kembali menjadi cuek.
                Mutia pun duduk di bangkunya. Dan Yuto melangkah keluar kelas menuju kelasnya setelah berbincang serius dengan Azril. Detik – detik Yuto akan ke keluar kelas, Mutia terus melihat Yuto. Seperti ada yang janggal tiap melihat si kuning langsat itu. Ia seperti memandang Aida – teman sekelas Mutia yang menjadi pacar Azril. Aida ini memiliki ciri wajah yang unik tidak seperti wajah Indonesia pada umumnya. Dari pergaulannya, Ia terlihat nakal tapi setelah Mutia melakukan pendekatan, ternyata Aida lain dari yang lain. Ia tidak memilih – milih teman dan sangat ramah walau Ia sangat cantik. Tidak seperti Hana yang terkesan mengumbar dan glamor. Selain karena keramahannya, Aida ini keturunan jepang asli dari neneknya. Bahkan tiap mereka berdua, Aida selalu menceritakan tentang kehidupannya waktu di jepang.
                “Tunggu sebentar…” tiba –tiba Mutia tersadar. Ia tersadar kalau Aida itu jepang dan Yuto juga jepang. Lalu ekspresinya berganti lagi jadi bingung. “Trus kalau mereka jepang?kenapa?” Mutia bingung sendiri dengan pertanyaan yang Ia buat untuk dirinya sendiri.
                “Assalamualaikum,” Endah datangdan duduk di sebelah Mutia yang teman sebangkunya. Satu per satu penghuni XII IPS 3 mulai ngumpul di kelas dan lama – lama semuanya jadi hadir tanpa tersisa dan sambil menunggu bel, mereka bergosip-ria.  Sementara Mutia hanya mengulang – ulang lagu yang dikarangnya dengan suara yang rendah.  Tanpa disadari, Adi diam – diam mendekati Mutia dari belakang dan Ia teriak tepat di telinga Mutia. Biasa, cari sensasi. Mutia yang kaget jantungan, terbelalak dan spontan meninju perut Adi. Mutia menyesali kehadiran Adi yang amat menyebalkan dan suka mengganggu orang yang sedang tenang. Ia tidak peduli Adi kesakitan dan jatuh pingsan. Satu kelas melihat Adi yang terkapar. Mutia sudah mencium akal – akalan Adi yang pura – pura pingsan. Tiba –tiba Adi bangun dan menggerak – gerakkan kakii kiri Mutia sambil berteriak dengan sangat cemprengnya mengalahkan Hana. Sedangkan Mutia meneriaki nama Adi sambil menarik – narik rambutnya. Teman –teman yang lain malah menertawakan mereka. Karena kesal yang sudah membuncah, Mutia melepaskan gespernya dan segera mencambuk Adi. Buru – buru Adi bangun dan berlari mencari persembunyian. Fitri dan Nurumi segera melindungi Adi. Mutia yang sudah sesak nafas karena kesalnya hanya mencoba menghela nafas. Ia tidak mungkin ke area Fitri.
                “Gak ada yang boleh masuk ke area gua!” kata – kata itu Fitri lontarkan pada Mutia. Fitri memang tidak menyukai Mutia hanya karena Mutia sangat pendiam di kelas dan cenderung jarang bergaul. Dan Mutia memahami itu dan makanya Ia tidak ke area Fitri yang di pojok dekat jendela. Mutia sadar diri. Ia segera lupakan kekesalannya pada Adi.
                “Assalamualaikum, minna san…konnichiwa!” suara Niki sensei membuat satu kelas yang sibuk ‘menonton’ Mutia VS Adi menjadi bingung.
                “Sensei! Kan belum bel!” Adi baru berani menampakkan diri dengan melompat dari jongkoknya. Tingkahnya itu membuat beberapa teman yang lain hanya senyam – senyum.
                “Iya sekarang buka halaman tujuh di buku paket, “ Sensei seakan tidak mempedulikan kata –kata Adi dan hanya menampakkan tersenyum dengan ramahnya sekaligus menutup ritual tertawanya XII IPS 3.
                “Ih! Sensei! Belum bel!” rupanya Adi dongkol juga karena dicuekin.
                “Apa sih! Telinga lu tuh periksa!” sambar Adisya dengan senyum tipisnya.
                “Tau tuh!Periksa temen lu! Eh salah maksudnya telinga lu! Orang suara bel jelas gitu!” Azril ikut – ikutan.
                “Kalimat lu benerin! Telinga kok jadi temen!” Adi mulai kelihatan macho.
                Azril yang merasa tertantang, berdiri. “Lu berani sama gua?”
                “Eh…ampun…ampun..gua lupa…” Adi kembali jadi lekong lagi hingga yang lain jadi tertawa.
                “Udah..udah…emang kenapa sih kok gak pada ngedengerin semua?” tanya sensei.
                “Itu sensei. Tadi ada atraksi Adi sama Mutia,” Hana menjawab dengan cemprengnya.
                “Atraksi? Atraksi apaan?” tanya sensei lagi sambil menahan tawa.
                “Ada lah sensei…ini urusan anak muda!” gurau Adi dengan sangat kemayu.  Sensei hanya tersenyum. Sensei pun kembali mengajak siswa/siswinya kembali serius belajar dan memperhatikan pola kalimat baru dari bahasa jepang  di papan tulis.
                ***
                Pada jam isitirahat, Mutia terlihat agak berlari keluar kelas menuju taman sambil membawa lirik lagunya. Saat Eri menyapanya, Mutia hanya menoleh, senyum sesaat dan kembali berjalan cepat setengah berlari. Ia pun menuruni tangga untuk ke lantai dasar. Taman pun tampak. Saat Mutia melihat lapangan futsal, cahaya matahari menmancarkan cahanya ke anak – anak yang main bola. Rupanya cuaca hari ini lumayan panas. Tiba – tiba bolanya menggelinding ke arah Mutia. Spontan, Mutia mengangkat rok abu – abunya hingga tampak celana treningnya, bola itu pun ditendang. Beberapa anak yang melihat terkesima dibuatnya termasuk anak yang main bola. Mutia tidak mau mempedulikannya.
                Mutia memberikan senyumnya ada anak Interest band yang sedang ngumpul di taman. Langsung, Mutia duduk bareng mereka dan meletakkan lirik lagunya di tengah meja permanen. Kertas lirik lagu itu diambil langsung Joko. Sedangkan Mutia bersandar di bangku permanen. Nafasnya terdengar tersengal – sengal.

               



Sunday, December 1, 2013

Katanya "BesFriend is Power" (bab[1])_5

                Bel pulang sekolah berbunyi. Adisya, Reini, Endah dan Hari menunggu Tiwi. Mutia pun juga berkumpul dengan mereka. Hanya saja Ia lebih dekat dengan Adisya walau sering sinis-sinisan. Dengan Hari, Ia jarang bergaul karena Hari lebih suka bergaul dengan yang cantik dan pintar seperti Endah yang kecantikannya diketahui satu sekolah. Sedangkan Reini adalah siswi yang selalu jadi omongan sekolah karena pacarnya Yuto, siswa yang jadi dambaan para siswi. Reini ini kurang suka bergaul dengan Mutia yang rada tomboy.
                “Ohya, gimana paccar baru kamu, ndah?” tanya Mutia. Ia dan Endah duduk menjauh dari teman-temannya supaya pembicaraan mereka tidak didengar atau terdengar.
                “Hah?” endah terjaga dari lamunannya. “Emang aku cerita ya?”
                “Tadi, ndah. Endah endah….kamu cerita apa aja aku ingat!”
                “Oh…aku lupa. Hm..Mut, padahal aku gak mau pacaran lagi…”
                “Yaudah, putusin…” kata-kata Mutia yang singkat terdengar santai.
                “Tapi, kasian…”
                “Terserah…It’s your choice. Aku sih udah ngingetin.”
                “Yah..gimana dong…?”
                “Ya gimana…ya kamu lah…”
                “Yang tahu ini baru kamu loh…”
                “Tolani!!!” teriak Adisya. Endah terperanjat. Mutia kaget.
                “Kok?Kok lu tau???” kata Endah sambil mendekati Adisya.
                “Eh!lu yang nyebarin di facebook ya!” Adisya memaksakan matanya untuk sinisi Endah. Mutia garuk-garuk kepala. Ia rada jutek. Sabar menghadapi kecerobohan Endah.
                “Adisya!” sapa Tiwi, Adisya yang duduk di kursi kantin, langsung berdiri menyambut sang sahabat.
                “Eh…Yuto. Lu mau bareng kita, to?” ledek Adisya ke Reini.
                “Yuto!Yuto! Nama gua Reini!”
                Tak berapa lama kemudian, kantin dipenuhi anak-anak cowok termasuk anak-anak band di dalamnya. Reini langsung di ceng-cengin karena ada Yuto yang sedang berkumpul dengan teman-teman satu bandnya. Mutia, Endah dan kawan-kawanmemerhatikan mereka. Tiba-tiba Tiwi teriak bahwa mereka berpacaran. Mata Mutia tampak kosong. Ia tidak mengerti dan tidak peduli. Ia hanya peduli Endah. Ia ingin mendengar cerita Endah lagi. Tapi Endah ingin melihat Yuto dan Reini yang terlihat malu-malu kucing. Lagu cinta pun disenandungkan. Mutia bosan dengan lagu cinta. Tidak betah berlama-lama di kantin. Ia tidak mau mengerti segala hal tentang pacaran. Ini masalah prinsip.
                Beberapa menit di kantin, dari mereka ada yang mulai pulang. Saat Mutia akan pulang, Hambali memanggilnya. Hambali mengingatkan Mutia untuk membawa lirik lagu Mutia. Dengan senyum, Mutia mengiyakan. Di kejauhan, Ia melihat Intan menantinya. Ia tak sadar. Saat Ia mulai beranjak, Yuto memerhatikannya. Yuto hanya mendapati kejutekan yang amat sangat dari wajah Mutia. Penasaran.

                “JREENGG!!!!” suara motor mengagetkan seisi kantin. Endah terbelalak melihat si pengendara. Tanpa disadar Ia mangayunkan tangan Adisya. “Itu Taulani!” Endah mulai ditimpa cemas mendadak. Adisya hanya menggumam. Dengan gugup. Endah berpamitan dan manghampiri Taulani. Ia pun dibonceng Taulani dan langsung tancap gas.
                “Semua orang pada punya pacara, boy!” kata Hari pada Adisya dangan nada iri. “Tinggal kita yang belum…”
                “Ah…itu sih derita lu bukan derita gue!” Adisya tampak cuek bebek.
                Sementara itu Taulani mengajak Endah keliling di hari Ia berpacaran dengan Endah. Setelah lelah keliling, mereka mampir di KFC dan memesan krabby patty.
                “Kamu tau gak…aku tuh udah lama nyimpen perasaan ini. Aku bersyukur banget bisa pacaran sama kamu,” Taulani membuka gombalannya sambil menanti pesanan dating.
                Endah hanya senyum-senyum malu. “Gombal!”
                “Serius…”Taulani meyakinkan dan Endah hanya tersenyum.
                “Hm…Ini gak apa-apa kita makan di sini?Ntar mahal loh…” Endah melihat sekelilingnya.
                “Apa sih yang enggak buat calon istri…” Taulani nggombal lagi.
 Tapi Endah kaget mendengarnya. “Calon Istri?” gumam Endah di dalam hati.
Begitu pesanan datang, mereka langsung menyantap makanannya. Saat mereka sedang makan, mereka tidak menyadari kalau mereka diperhatikan terutama Endah. Yang memperhatikan Endah adalah komplotan laki-laki nakal. Saat akan pulang, komplotan itu mulai menggoda Endah walau ada Taulani. Endah yang menyadarinya langsung memegang lengan Taulani spontan. Taulani agak kaget tapi Ia segera sadar kalau ada komplotan yang terus menggoda Endah. Taulani hamper melayani meraka tapi endah melarang dan meminta pulang. Segera Taulani dan Endah ke tempat parker dan tancap gas. Dan para komplotan itu hanya mendapat kepulan asap dai motor Taulani. Taulani pun tertawa puas. Sementara endah menyayangnkan sikap Taulani. Ia hanya menggeleng-geleng.
***
Sore itu, Mutia mengobrak-abrik kamarnya mencari lirik lagu. Intan mengamuk dan memaki-maki Mutia bahkan menjewer telinga sampai merah karena kamarnya berantakan padahal mereka sekamar. Mutia hanya menahan sakit dan tidak memedulikannya sebab Ia tidak suka berkelahi dengan saudara sendiri.
                “Ya ampuuun!!!nih kamar apa perkedel sih???!!!” Mutia meremas rambutnya hingga menggunung.
                “Nanti kak Mut rapiin,” Mutia mulai pasang muka minta belas kasihan. Intan malah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kakaknya itu. Mutia hanya menghela nafas. Ia kembali mencari lirik lagunya. Dan Intan masih tertawa bahkan sambil memuul-mukul pintu. Si bungsu Lukman datang dengan alis mata yang menandakan marah.
                “Weh!!” berisik!” gertak Lukman. Intan tak peduli. Niat usil pun tersirat di pikiran Lukman. Ia mulai menampakan senyum jahat. Ia mendorong kakak keduanya itu yang terpaut empat tahun itu hingga jatuh. Tak terima, Intan pun membalasnya dengan mendoronga adik yang lebih tinggi lima belas senti darinya itu. Lukman pun dengan sigap menahan keseimbangan. Mereka mulai saling mendorong hingga terjadi jambak-jambakan yang dimulai dari Intan. Kertas yang dipegang Lukan pun jatuh. Mutia yang risih mendengar suara kegaduhan mereka pun keluar kamar. Mutia langsung menganga begitu melihat kedua adiknya saling melilit menggunakan tali rapia.
                “Luk, lepasin Kak Intan!” perintah Mutia.
                “Tapi kak…”
                “Luk…man!” mata Mutia mulai main.
                Lukman paling luluh kalau sudah Mutia yang bicara dan Ia pun melepas Intan. Tanpa diduga Intan menjambak rambut Lukman dari belakang hingga Lukman jatuh ke belakang. Dan Intan segera kabur. Saying, Ia terpeleset kertas….Ups!!! dia pun mengaduh karena terjatuh. Pandangan Mutia tertuju pada kertas itu yang tadi sempat dipegang Lukman. Segera Ia ambil kertas itu. Dan supaya tidak berkelahi lagi, Mutia meminta Lukman mengikuti langkahnya kemana Ia pergi. Mutia dan Lukman pun berkumpul bersama ayah dan Ibu yang sedang jaga warung.
                “Ah! Neechan…koko de nani o shimasu ka?” tanya Lukman sambil mengelus-elus kepalanya yang sakit.
                “nani o shimasu ka, nani o shimasuka!” ledek Mutia.
                “Ih biarin sih! Bosen pake bahasa Indonesia, sekali – kali bahasa asing, kek!”
                “Bosen…bosen…Gak usah jadi orang Indonesia!” gertak Mutia.
                “Siapa yang bosen jadi orang Indonesia?” tiba- tiba ayah ikut nimbrung dan suaranya terdengar lantang. Lukman mulai gemetaran. “Gak usah jadi anak ayah!”
                “Ya ampun…sampe segitunya…kan bercanda…” Lukman mulai ngeles.
                “Kamu mau jadi kayak si Intan?Dia udah maniak jepang!Dia lupa kalo dia orang Indonesia!” rupanya ayah belum selesai bicara.
                “Nggak salah kamu suka jepang atau pun barat,” Ibu menambahkan. “ Tapi harus sadar diri. Lihat kakakmu si Intan, dia sampe gak mau tau dengan kesusahan kita dan hanya mementingkan dirinya sendiri! mengumpulkan segala yang berbau jepang! Tidak peduli mahal atau pun murah!”
                “Asal kalian tau ya,” ayah sepertinya ingin bercerita lebih banyak lagi. “Ayah ini dulu fanatic dengan band SCORPION tapi gak sampe lupa diri. Ayah paling beli kasetnya kalo ada uang…ini nggak si Intan…uang laci pun disikat juga!” Ibu pun menggesek sikut ayah karena ayah sudah membicarakan keburukan Intan di depan anak-anaknya yang lain.
                “Ya…tapi kalian gak usah pikirin hal itu. Biar jadi urusan ayah dan Ibu. Ayah pengen kalian akur-akur aja!” dari nada suaranya ayah, jelas kalau topik diakhiri.
                Lukman dan Mutia hanya terdiam. Mereka tidak bertanya macam-macam mengenai Intan yang walaupun mereka sebenarnya sudah mengetahuinya. Dan jam dinding sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Perhatian ayah dan Ibu pun tercuri oleh berita pada jam itu. Mutia hanya menghela nafas sambil memandangi kertas yang dipegangnya. Lukamn juga ikut melihat seperti orang yang melihat contekan.
                “Cie…itu puisi ya kak?” Lukman mulai menggoda kakak sulungnya saat melihat butir-butir huruf yang ada di kertas itu.
                “Puisi?”
                “Itu yang kakak pegang…”
                “Ini lirik lagu, dik. Kakak tuh dari tadi nyariin!!!”
                “Lirik lagu?Kakak yang bikin?”
                “Iya, ini yang terakhir…”
                “Lah?”
                “Kakak lagi gak mood ngarang lagu. Dan ini lagu terakhir yang kakak karang.”
                Lukman masih terlihat belum mengerti.
                “Jadi gini loh, dik…” Mutia mulai merangkul si gantengnya itu. “Karena terlalu banyak lagu cinta yang beredar, makanya kakak ngarang lagu yang lain. Soalnya kakak gak suka lagu cinta karena itu malah melenakan remaja kebanyakan. Tapi kakak pengen keluar karena kakak perempuan sendiri.”
                “Bukannya kakak emang ngumpulnya sama anak cowok ya?Lukman gak pernah tuh liat kakak ketawa sama cewek.”
                “Kakak pengen tobat jadi perempuan feminine…”
                Lukman senyum-senyum mengangguk mengerti. Ia mulai menggoda kakaknya itu. Padahal sebenarnya Mutia berat sekali mengatakan ‘Kakak pengen tobat jadi perempuan feminin’. Tapi Ia  merasa harus membiasakannya.
                “Ngomong-ngomong lagu apa dong yang cocok buat remaja, kak?Kan pantes kali kak kalo lagu remaja itu lagu cinta. Emang masa remaja itu masa yang indah untuk jatuh cinta…”
                Mutia hanya tertawa kecil dan terlihat anggun saat adiknya mengatakan ‘jatuh cinta’. Ia berpikir Lukman sudah mulai mengenal cinta. Di gosoknya rambut adiknya itu dengan telapak tangannya karena saking gemasnya dan sambil berkata, “Ya, karena kita remaja, lagu yang cocok ya lagu semangat lah…karena kita ini penerus bangsa…” Lukman hanya mengangguk-angguk polos.
                “Ntar dulu…” Lukman seperti teringat sesuatu. “Kalau itu lagu yang kakak buat, berarti Lukman salah ding?eh maksudnya ‘dong’!”
                “Salah kenapa?”
                “Tadi kertasnya Lukman bawa ke sekolah. Soalnya ada tugas baca puisi.”
                Wajah Mutia berubah menjadi datar seperti yang di anime – anime jepang. “Oh jadi nih kertas dari tadi sama kamu?”
                “Iya…Tapi nilai Lukman jadi Sembilan. Kirain sepuluh. Tapi gak apa-apa deh, kan biasanya tujuh mulu. Makasih ya, kak!!!”
                “Lukmaaan!!!” Mutia mencekik saying adiknya itu. Lukman mengampun sambil tersenyum. Karena berisik, ayah menyuruh mereka diam. Lukman dan Mutia pun jadi patung yang hanya bisa menahan ketawa.
***
                Keesokan paginya…
                Mutia, Intan dan Lukman terlihat bergandeng tangan dengan seragam sekolah. Hanya Lukman yang lain sendiri karena Ia masih duduk di bangku kelas tujuh dan tentunya Ia masih bercelana biru atau lebih tepatnya baru bercelana biru. Mereka terlihat akur seakan kejadian menyebalkan kemarin tidak pernah ada. Di pertengahan jalan, Lukman mencium tangan Mutia dan Intan karena sekolahnya tidak jauh dari rumahnya. Sementara Mutia dan Intan harus menaiki angkot dulu.
                Setiba di sekolah, Mutia dan Intan disambut guru-guru yang berdiri di depan gerbang masuk sekolah. Kecuali Pak Surya. Guru satu ini hanya senyum pada Intan. Dan Ia lupa kalau Intan adalah adik Mutia.
                “Wah…Intan…Kamu makin imut aja. Jauh beda banget sama yang sebelah kamu,” goda Pak Surya.
                Ini guru?Oh…guru…guru kegatelan…hahahahaha, gumam Mutia di dalam hati sambil menunjukkan senyum tipisnya yang ingin Ia berikan pada Surya. Tapi karena rasa hormat, Ia hanya berikan senyum itu ke ubin.
                Sementara itu, Intan serasa ingin terbang saja saat mendapat pujian itu walau Ia kadang kasian pada kakaknya. Tapi Ia berpikir kalau ini adalah timbal balik karena memang Mutia cuek pada penampilannya sendiri. dan Ia hanya menatap kakaknya dengan tatapan sombong.       “Makanya jadi perempuan, yang feminin. Gak usah sok natural!”
                Mutia hanya merapatkan bibirnya hingga berkerut.
                “Liat tuh…muka ku cerah…bibirku merahmerona…”
                “Merah merona apa  meraha menorak?” suara Mutia terdengar datar didukung juga ekspresinya. Tapi kata-katanya membuat Intan jengkel.
                “Udah…bilang aja iri…dah mendingan versihin tuh muka!” Intan tidak kalah datarnya tapi nada suaranya terdengar ketus.
                “Ee, imoutokun…”
                “ ‘kun’ ?! ” Intan terbelalak tapi kemudian berpikir karena setaunya ‘kun’ hanya ditujukan pada anak laki-laki. Itu yang diajari dalam bahasa jepang di sekolah.
                “Mata lu pitak kali ya…” Intan pun meninggalkan Mutia dan enggan melanjutkan adu misca di sekolah.
                Mutia hanya tersenyum tipis. Jadi misca enak juga ya, gumam Mutia di dalam hati. Ya, misca adalah tokoh dari salah satu sinetron Indonesia yang antagonis tapi tetap tenang dan senang menusuk. Segera Mutia beristighfar. “Astaghfirulllahaladzim…pagi=pagi udah gak enak aja aromanya…” Mutia menghela nafas. Ia pun segera berbalik badan dan hamper saja menabrak Hambali yang juga tidak melihat ke depan saat berjalan.
                “Eh Mutia!Hampir aja!” Hambali terkaget.
                Mutia hanya tersenyum dan menunduk karena Ia tahu apa yang akan Hambali minta nantinya.
                “Bawa gak?” tanya Hambali. Benar dugaan Mutia.
                “Bawa?” Mutia pura-pura tidak tahu. “Oh..bawa kok…”
                “Oh..bagus deh..nanti istirahat ke taman ya.”
                “Iya. Masak ke rumah sakit sih!” Mutia bergurau, mengusir aroma yang tidak enak tadi.
                “Ya udah deh..”
                “OK..ditunggu ya…”



Katanya "BestFriend is Power" (bab][1])_4

Mutia dan Yudist hanya memandang Adi dengan tatapan jutek. Mereka memperhatikan Adi  yang berambut ikal dan kemayu tapi berbadan atletis. Mutia pun tidak mau ambil pusing. Dia gadis super cuek.
“Udah ah! Cuekin!” kata Yudist pada Mutia. “Eh, lirik lagunya mana?”
“Lirik lagu?” Mutia malah balik tanya.
“Lah…kemarin lu bilang lu punya lirik lagu?”
“Oh yang itu…Maaf ya…akhir-akhir ini aku lagi kebanyakan tugas. Sebenarnya sih lagunya udah selesai. Tiap kali diinget malah tiap kali itu pula aku lupa. Makanya sms dong…”
“Emang lu punya hp?” tanya Yudist dengan tatapan meledek.
“Belum sih. Lagi gak ada uang,” Mutia menyeringai.
“Ah lu mah gak ada uang mulu!”
“Makanya beliin dong…” gurau Mutia.
“Lu mau gua kasih yang mainan?”
“Yah...belinya hape-hapean dong?” Mutia manyun.
“Eh, hape-hapean aja pake uang asli!”
Mutia hanya manyun.
“Udah, pokoknya besok lu  musti bawa! Hambali tuh penasaran sama lagu elu!”

“Apa?!” teriak Hana tiba-tiba. “Siapa tadi yang menyebut nama ‘HAMBALI’?” lanjutnya dengan suara yang sangat cempreng. Beberapa anak IPS3 memutar pandangannya ke Hana dan dengan kompak, mereka melihat Meisi. Meisi yang wajahnya memerah hanya salah tingkah.
“Kok pada liat gua sih?” Meisi memasang tampang sok polos.
“Mei, Dia nyebut nama HAMBALI!”  kata Hana sambil menunjuk Yudist.
“Oh…Meisi ya...cie…” Yudist ikut menggoda.
“Dih…lu telat!” seru Adi sambil mengayunkan tangannya ala banci.
“Idih..bodo!” sahut Yudist sambil mengikut gaya Adi dan Adi pun tersinggung.
                “Ya udah, mut. Gua tunggu lirik elu!Bye!” Yudist pun pergi dengan gaya jalannya yang berlenggak-lenggok, menyindir Adi. Anak-anak cowok yang melihat tingkah Yudist pun ketawa dan ada yang meledek gaya jalannya. Anak-anak cewek hanya menggeleng-geleng termasuk Mutia.
               
Dua jam berlangsung, tidak ada guru yang masuk ke kelas XII IPS 3. Tapi di kelas sebelah yaitu XII IPS 2 ada guru yang sedang mengajar . Kelas XII IPS 3 pun harus benar-benar menjaga suara kalau tidak mau kena semprot. Di langit cerah saat ini, tiba-tiba hujan turun dan banyak yang mengeluhkannya. Sementara itu, Endah malah memanfaatkan waktu dengan curhat ke Mutia, mumpung guru tak ada.
                “Mut!” suara Endah terdengar manja sambil menarik-narik rok Mutia.
“Apaan?Jangan ditarik sih roknya!”
“Masak Endah pacaran sih…”
“Sama Dimas?Oh kamu udah balikan…” suara Mutia terdengar datar, sengaja. Karena dia suka membuat temannya itu gergetan.
“Ih…bukan…apaan sih…ini lain lagi…” Endah manyun manja.
“Oh…orangnya ganti?”
“Iya. Inget Taulani gak?”
“Oh…yang pelawak itu ya?” kali ini wajah Mutia yang tawar dan tiba-tiba Ia berakting kaget. “Hah?Demi apa???Aku bakal punya teman yang pacaranya selebriti dong???”
                “Apaan sih Mutia teriak-teriak!Jayus tau gak!” Adisya yang duduk di belakang Mutia ikut nimbrung karena terganggu dengan suara Mutia yang tinggi.
                “Iya sih emang jayus…” Mutia pun menoleh ke belakang menatap Adisya tanpa ekspresi.
                “Endah, sini deh!” panggil Oki, siswi berjilbab yang duduk berseberangan di kanan Endah. Di saat yang sama, Meisi memamnggil Mutia. Kebetulan di depan Mutia adalah Hari, cowok sok cool yang merasa ganteng. Ia terlihat tidak ada di bangkunya karena berkumpul dengan Azril dan Joko. Meisi pun duduk di bangku kosongnya Hari. Namun, di saat bersamaan, guru yang tidak diharapkan pun datang juga dengan ekspresi jutek yang dipaksakan. Spontan, satu kelas mikem tak ada yang berani bersuara.
                “Eh, mana gurunya?” tanya Bu Susi ketus, sang guru killer. Tatapannya tidak ada ramah sama sekali walau terkesan dipaksakan. Cirri khasnya adalah selalu memasukkan kedua tangan ke dalam saku bajunya.
                Tidak ada yang menjawab. Semua bungkam.
                “Kok diem?Mana ketua kelasnya?!” tanya lagi, Bu Susi.
                “Azril, bu. Vokalis Peterpan,”Adi menjawab sambil  menunjuk Azril dengna seluruh jemari kanannya.
                “Hah?Peterpan?” Bu Susi pura-pura bingung. Tak lama kemudian, Eri, siswi XII IPS 2 memanggil Bu Susi. Bu Susi pun hilang dari pandangan. Penghuni XII IPS 3 tersenyum merdeka.
                “Lu, apaan sih, to!Azril vokalis Peterpan…itu Ariel!” seru Fitri sambil melempari Azril dengan gumpalan kertas. Beberapa ada yang tertawa. Tapi azril segera menyuruh mereka diam.
                Sementara itu, Meisi kembali melanjutkan sesi curhatnya tentang Hambali. Mutia begitu memerhatikan Meisi. “Oh…jadi Meisi suka Hambali…” gumam Mutia di dalam hati.
                “Emang kamu diminta lagu ya sama Hambali?Lagu apa?” Meisi senyum-senyum.
                “Ya…lagu karanganku. Aku suka menulis lagu. Aku bingung mau diapain. Kan saying kalau didiemin…” jawab Mutia polos.
                “wah…kamu berbakat juga ya. Berarti bisa nyanyi dong…”
                “Bisa sih. Tapi kalau gak ada orang. Itu juga aku gak kuat napasnya.”
                “Bisalah diatur…”
                “Hem…jadi kamu suka ya sama Hambali…”
                “Ssst…jangan bilang-bilang ya…”

                Meisi kembali ke bangkunya. Kadang Mutia takut Meisi akan cemburu karena Ia lumayan dekat dengan Hambali walau Ia tahu Meisi sangat memercayainya tanpa ada rasa cemburu sama sekali.
                “Mut, nanti kalo ada berita tentang dia, kabari aku ya…” pinta Meisi. Mutia mengangguk ragu walau senyum Meisi begitu meyakinkan.
***

Katanya "BestFriend is Power" (bab[1])_3

          “Assalamualaikum,” siswa itu mengucap salam hingga perhatian seluruh murid XII IPS 3 tertuju padanya. Langsung, Reini yang duduk di pojok belakang. Ia langsung diceng-cengin hampir satu kelas. Rupanya siswa itu adalah Izumi Yuto yang katanya pacar Reini. Beberapa ada yang berbisik memuji kerupawanan Yuto.
                “Maaf, saya mau mengambil buku dan tas Pak Irwan,” kata Yuto pada Bu Farida.
                “Pak Irwan?Lu ngomonong apa sih, to???” suara Azril menggelegar hingga Mutia yang duduk di depannya kaget. Gambar indah yang dibuatnya di belakang buku jadi tercoret.
                Beberapa ada yang menatap Azril. “Aida!tuh laki lu tuh jangan konser di sini sih!” Hana ngejayus. Aida hanya tersenyum. 
                Bu Farida mulai mencoba bicara pada Yuto. “Nyari buku Pak Irwan?Gak ada.”
                “Eh?” Yuto bingung sendiri.
                “Eh, Iyut! Lu salah kelas kali!” Dari tadi Pak Irwan tuh gak masuk ke kelas ini!” seru Hana.
                Yuto terdiam. Tak senagaja, Ia melihat Mutia yang juga melihatnya. Mutia menatapnya tawar. Bahkan cenderung jutek.  Tapi memang sudah perawakannya. Menyadari ditatap Yuto, Mutia pun mengalihkan pandangannya.
                “Eh, ini ada apa sih?kok semuanya pada salah kelas??!” gurau Hana sambil nyengir.
                “Tapi Ibu nenggak dong!!” Bu Farida narsis.

                Sudah biasa, kelas XII IPS 3 selalu memulai dengan gurauan sebelum belajar.  Namun Mutia tidak ‘tersentuh’ dengan gurauan mereka. Mutia dikenal sangat pendiam di kelas. Terlebih Ia terlahir dengan paras yang jutek darinya, namuan walau demikian Ia pandai bergurau. Itulah  Mutia. Jilbab panjangnya seperti penghalang bagi mata yang memandang terutama laki-laki yang ingin berteman dengannya. Sebab Ia aslinya kurang bias bergaul dengan sesame jenis. Ia terkesan tomboy. Bahkan sama sekali Ia tidak merasa sebagai akhwat tapi Ia mencoba untuk belajar menjadi akhwat. Dua sifat ketomboyannya yang belum terlepas, bergaul dengan laki-laki dan cara jalannya yang seperti laki-laki. Bahkan teman-temannya dulu adalah laki-laki seperti anak silat. Di kelas pun dia hanya berteman dengan Joko, Jayabaya, Jaka dan Azril. Adapaun teman perempuannya adalah Endah. Endah, gadis berjilbab yang kecantikannya terkenal di satu sekolah. Antara Endah dan Mutia saling memanfaatkan. Endah ‘memanfaatkan’ Mutia sebagai bodyguard, karena di sepanjang jalan Endah melangkah, tiada mata adam yang menatap ke depan (prêt!). Begitu pula Mutia yang ‘memanfaatkan’ Endah untuk mengikuti cara berfeminin-ria walau sebenarnya Ia berat karena tidak menyukai dunia perempuan.

                Kleneng kleneng kleneng…
Suara lonceng.
                “Weh? Mati lampu ya?” kata Hana sambil meatap kipas.
                “Kayaknya belnya yang rusak itu kipasnya masih hidup,” Jono ikut komen sambil melihat kipas juga.
                Bu Farida segera merapikan buku-bukunya ke dalam tas dan pamit ke luar kelas. Satu kelas pun menjadi rame. Bu Farida masuk lagi sambil berkata, “Jangan berisik.” Wajahnya terlihat ramah tamah oleh senyumannya itu.
***
                Becermin. Dikeluarkannya sisa makanan di sela-sela giginya. Sementara, temannya ngoceh panjang lebar. Hingga kesal. “Lu denger gak sih, Yut??!! Seru Tracy sambil menyenggol Yuto. Yuto malah bersendawa. Johanes malah tertawa melihat Tracy yang dikacangin. Para pedagang kantin yang melihat hanya terseenyum mesem.
                “Kok kita nemplok di sini sih?” Yuto mulai ngejayus. “Hm…Pak Moses dinas lagi…”
                “To…to…enakan gini lah! Kita bebas!!! Makan di kantin. Sementara…” belum selesai Johanes bicara, Tracy memotongnya. “Lu pada denger gua gak sih?!!!”
                “Aduh neng…jangan marah-marah dong…” goda abang bakso.
                Ya, memang. Tiap pelajaran agama Islam, siswa-siswi non muslim diberi kebebasan untuk keluar atau tetap di kelas. Tapi ada juga yang keluar untuk menemui guru agama mereka untuk belajar juga. Kali ini, Yuto, Johanes dan Tracy hanya nongkrong di kantin. Pak Moses, guru agama mereka sedang dinas.
                Yuto dan Tracy adalah dua diantara anggota band di sekolah. Nama bandnya Pand Peace yang kualitasnya sudah diakui sekolah. Beberapa anggota selain Yuto yang drummer  dan Tracy yang vokalis adalah Julian, kembaran Johanes yang sebagai gitaris, lalu ada Jerry sebagai keyboard. Mereka berbeda kelas dengan Yuto dan Tracy. Sedang Johanes sendiri adalah anggota OSIS. Kendati Pand Peace menjadi dambaan sekolah, mereka punya saingan berat yaitu Interest band, bandnya Yudist dan Joko.
                “Jo, Yu! Denger gue ya! Bokap gua nawarin kita main band di…eh…apa namanya ya…buat pembukaan acara gitu…aduh…acaranya gua lupa, lagi!” kata Tracy sambil menggaruk kepala.
                “Tadi kan gua udah cerita panjang lebar!!!” Tracy mulai kesal dengan menarik rambut panjangnya yang tergerai hingga menutupi wajah Johanes yang tirus.
                “Ih!” Johanes terlihat risih dengan rambut Tracy. Ia pun bangkit dari bangku, mengambil karet di warung tanpa permisi.
                “Yu, pegangin Tracy!” seru Johanes.
                “Eh!lu mau ngapain gue?!” Tracy mulai wanti-wanti. Johanes tak memdulikan Tracy. Segera ditarik rambutnya dengan sekuat tenaga. Tracy terlihat pasrah. Membuat seisi kantin tertawa melihatnya.
                “Dah, kan cantik!” puji Johanes seperti bapak yang memuji anaknya.
                “Ouh…makasih…” Tracy memainkan mata genitnya. Johanes nek.
                “Nyesel gua muji elu!” umpat Johanes sambil mengelus perutnya. “Eh, gua mules beneran ya?” Johanes berubah ekspresi. Mukanya asem. Segera Ia ke kamar kecil.
                “Eh…kok belum bel-bel sih?” kata Tracy. Segera Ia berdiri sambil melepas ikat rambutnya.
                “Weh…mau kemana?!” tanya Yuto.
                “ntar!” Tracy segera menghilang dari pandangan Yuto.
                Yuto melihat beberapa rambut yang kusut dengan karet, karet Tracy. Pikirannya pun lain. Membayangkan seorang gadis berjilbab yang rambutnya tentu sudah diatur supaya tidak terlihat. Tanpa sadar, Ia senyum-senyum sendiri seperti membayangkan gadis idaman.

                Bel berbunyi. Siswa –siswi berhamburan keluar kelas untuk beristirahat. Ada juga yang tetap di kelas, membawa bekal sendiri. Ketika azan zuhur berkumandang, siwa-siwi muslim beramai-ramai ke masjid sekolah walau demikian ada juga yang malas. Saat itu hati Yuto bergetar mendengar azan sambil mendengar mereka yang ke masjid. Timbul rasa ingin seperti mereka. Terlihat olehnya sosok Mutia, misterius. Entah mengapa ada sesuatu yang menjanggal dari gadis itu di mata Yuto.
                “Yuto!” teriak Johanes. Lamunan Yuto buyar.
                “Ada Reini tuh! Cie…” Johanes meledeknya. Reini yang saat itu sedang beli bakso jadi bahan ledekan Johanes. Terlebih suara Johanes keras sekali. Hamper satu kantin menatapnya. Yuto hanya senyum basa basi. ia terus melihat Reini hingga Reini masuk kelas. Tiba-tiba dari kejauhan, seorang gadis berjilbab berlari kea rah Yuto, Najma namanya. Dia pecicilan orangnya.
                “Nakajima Yuuto!!!” teriak Najma. Yuto menunduk. Dia pasti bakal dicubit pipinya. Najma ini selalu geregetan dengan Yuto karena Yuto orang jepang asli. Dan Ia selalu memanggil Yuto dengan sebutan Nakajima Yuto, padahal namanya Izumi Yuto. Begitu mendekat, Najma langsung menabsen artis jepang hingga muncrat.
                “Nakajima Yuto! Yamada Ryosuke!Kota Yabu!Arioka Daiki! Vicky Zou!” Najma langsung berhenti mendadak dengan ekspresi bingung. “Kok Vicky Zou?” Ia bingung sendiri.
Saat Najma terlihat berfikir, kesempatan bagi Yuto untuk keluar dari bawah meja.  “Itai!” Yuto kejedot. “Udah gua bilang, nama gua bukan Nakajima Yuto!” Yuto langsung kabur. Najma mau mengejar, tapi tidak jadi. Beberapa siswa-siswi sinis melihat Najma. Seseorang menarik tangannya, Ismi – teman karibnya. Ia pun mengajak Najma bicara sambil menyuguhi mie ayam.
“Ma, inget kerudung!” bisik Ismi sambil memegang kerudung Najma. “Nantinya bukan elu yang disalahin tapi malah kerudungnya!”
Najma malah berbinar melihat mie ayam.

***
Mutia baru saja duduk. Nafasnya kurang stabil setelah menaiki tangga. Ia pun haus, tapi lupa bawa air minum. “Uh! Giliran dibawa aja gak abis-abis, giliran gank dibawa malah dibutuhin!” Mutia ngedumel.  Ia lirik kiri kanan dari atas meja teman-temannya. Lirikannya terhenti  saat Melihat Aida menenggak air minum yang dibawanya. Mutia pun berdiri, memulai aksinya. “Mutia!” seseorang memanggilnya. Suara cowok. Mutia tidak peduli.
“Mutia!!!” Joko dan Hana meneriaki Mutia. Spontan, Mutia menoleh kea rah mereka. Ada sosok jangkung berambut keriting di dekat pintu yakni Yudist – teman dekat Mutia. Niat Mutia mendapatkan air pun terurungkan. Ia pun menghampiri Yudist.
“Ada apa?” tanya Mutia.

“Alamak! Sejoli sedang mamadu kasih!” ledek Adi, salah satu siswa XII IPS 3 yang kemayu. “Cie…”