Genre : Dewasa, Thriller
Penulis : Andeke Parsi
Tokoh : Araki Chisato, Nakajima yuto, Ino Kei, Yabu Kouta.
Penulis : Andeke Parsi
Tokoh : Araki Chisato, Nakajima yuto, Ino Kei, Yabu Kouta.
Menderita penyakit modern, membuat Chisato mencari-cari dokter untuk mengetahui apa obat penyakit yang dideritanya. Ia tidak mengungkapkan hal itu pada Nakajima Yuto temannya semasa SMA, sebab Nakajima Yuto yang dipanggil Yuto adalah dokter anak, bukan dokter penyakit dalam yang diharapkan Chisato. Lalu, Chisato menemukan satu kontak, bernama Ino Kei yang merupakan seorang duda beranak satu. Namun, bukan kesembuhan yang didapat, Chisato malah menjadi korban malpraktik Ino Kei.
Mungkin sudah kejutan dari semesta
alam.
Berhari-hari
aku gelisah karena dompetku hilang. KTP, headset¾yang
dirusak Yui adik perempuanku, dan flashdisk
hilang. Ini peringatan. Jelas peringatan. Isi flashdisk itu yang lebih penting. Dia ibarat pacar keduaku setelah
laptop. Haha, aku memang sudah melamar laptopku menjadi istriku¾hey,
tapi aku perempuan. Ada isi-isi penting di dalam flashdisk itu. Bahkan lebih penting daripada KTP¾yang
bisa saja aku dicap warga Negara gelap karena tidak mempunya KTP. Baiklah,
supaya adil, maka aku menggelisahkan keduanya.
Aku
meninggalkan dompetku yang sebenarnya dompet kosmetikku di perpustakaan. Aku
gelisah karena hari libur berturut-turu membuat perpustakaan itu tutup. Karena
sebal, aku memutuskan menikmati ramen pedas usai bekerja pada sore hari. Ramen
miso pedas selalu membuat mood ku
lebih baik. Rasanya yang nimat membuatku bisa merasa nyaman dengan semua yang
menyebalkan, terutama menyebalkan pada diriku yang kadang mudah bosa. Tetapi
untuk pertama kalinya, aku tidak bisa melenyapkan kegelisahanku. Mana ada
cerita, kalau aku beli ramen, KTP dan flashdisk
ku kembali?
Maka,
usai itu, aku pergi ke bioskop. Sendirian. Karena aku memang butuh sendirian
dulu. Berkali-kali aku merutuk, menyumpah serapah di dalam hati atas kecerobohanku
karena lupa pada dompet sendiri. Dan
hanya dua jam saat aku lupa pada permasalan itu saat aku sudah duduk menonton
film genre laga di bioskop. Aku tidak pernah pergi ke bioskop sendirian,
setelah sebelumnya aku pergi bersama keluarga.
Kegelisahan
kembali muncul usai aku keluar dari bioskop. Aku kembali muram. Berjalan tidak
bersemangat. Langkahnya terhenti saat aku melihat jajanan. Tetapi tidak, aku
tidak berselera makan. Aku takut kurus kalau begini. Sebab aku sudah berusaha
menambah berat badanku supaya tidak terlalu kurus, tetapi kini aku akan
frustasi karena flashdiskku hilang.
Sampai saat aku kembali melanjutkan langkahku, aku berhenti karena ada yang
memanggilku. Tetapi aku tidak menoleh, kembali berjalan. Kupikir, ada banyak
orang yang memiliki nama seperti namaku. Namun nama itu disebut dua kali, aku
berhenti, dan menoleh ragu-ragu.
“Chisato-kun!!!”
seorang pria jangkung berlari kecil ke arahku. Terlihat senang sekali bisa
bertemu denganku. Mengamati dari atas sampai bawah. Lalu mencubit pipiku.
Tetapi aku tetap datar menatapnya. Dia teman lamaku di SMA, Nakajima Yuto.
“Oh,
Yutti. Apa kabar? Lama tidak jumpa,” kataku dengan muka dan suara datar. Aku
memanggilnya Yutti, dan dia memanggilku dengan tambahan –kun di belakang. Itu
panggilan akrab kami. Kami berteman lama dan dekat karena kami sama-sama gokil
dulunya. Namun aku tidak menyangka akan mendapat hiburan dari semesta alam,
yaitu dengan bertemu dengannya. Selama ini kami hanya berkomunikasi lewat media
sosial, itu pun sudah jarang karena aku minder dengan dirinya yang merupakan
mahasiswa kedokteran.
Aku
hanya mengamatinya. Memuji di dalam hati dirinya yang sudah semakin dewasa dan
tampan¾meski
kulihat wajahnya seperti selalu mirip denganku. Tetapi aku agak kecewa dia
memendekkan rambut, sebab dulu rambutnya menyentuh tengkuk, aku suka laki-laku
berambut panjang. Keren saja. Tetapi tetap, kami hanya berteman. Dan aku baru
merasakan rindu saat bertemu dengannya kini setelah lama tidak bertemu karena
kesibukan kami sejak lulus SMA.
“Wah…
kamu cantik sekali. Tumben. Biasanya ganteng.”
Yutti masih mengamati penampilanku, menepuk-nepuk bahuku. Tersenyum
lebar, terlihat begitu rindu padaku. Tetapi senyumnya memudar setelah melihat
raut wajahku. “Hey, kau tidak senang bertemu denganku?”
“Senanglah!”
Aku pura-pura senang, karena masih kepikir dompet hilangku. Aku menepuk
bahunya. “Kamu juga, ganteng. Beli dimana mukanya?”
“Apa
sih… hahaha… eh tapi, serius, ini kamu? Chisato-kun? Cantik loh! Kamu udah
berubah ya jadi perempuan beneran? Abis darimana? Kerja?”
“Ya,
kan kalau kerja, aku gak mungkin pakai jas. Pakaian laki-laki dan perempuan kan
beda. Udah kayak sekolah.”
“Ouh,
jangan-jangan, kalau di luar kerja, kamu tomboy lagi? Tapi, kamu masih make up-an… ???” Yutti secara tidak
sopan mengamati wajahku dari dekat. Hal itu membuatku mendorong wajahnya.
Beberapa
anak muda yang seusia kami mengamati. Memanggil Yutti, melambaikan tangan akan
pergi lebih dulu. Rupanya, Yutti telah pamit lebih dulu pergi sendiri sebelum
ia bertemu denganku secara tidak sengaja.
“Teman
kuliah?”
“Iya.
Kamu abis darimana? Dari kantor langsung ke sini? Abis nonton apa?”
“Biasa.
Berantem-berantem,” aku membalikkan badan, melanjutkan langkah. Yutti pun
menyejajari langkahku. Kami kembali bernostalgia masa SMA. Tetapi tetap aku
tidak bisa seperti Yutti yang ceria. Masih terbayang flashdisk sang kekasih.
“Hey,
kamu kenapa sih? Lapar? Makan yuk! Udah lama kita gak makan bareng loh! Aku
jadi kangen waktu kita lomba makan…”
“Hey!”
Aku menepuk keras-keras punggung Yutti. “Kok kamu yang ceria sih? Nih ya, dalam
sejarah, yang ada laki-laki yang dingin, bukan sebaliknya! Kamu kayak perempuan
tahu gak! Cerewet!”
Yutti
sebal, tetapi ia kemudia tersenyum penuh isyarat. “Kamu gak buka facebook ya?
Aku hubungin kamu susah banget!”
“Buat
apa? Ada hal penting? Reuni SMA?”
Yutti
tidak menjawab. Menarik tanganku, mengajak duduk di sebuah tempat makan.
Hubungan kami memang cenderung dekat, benar-benar seperti teman, kadang-kadang
seperti adik kakak, yaitu dia yang dingin dan aku yang cerewet. Sempat kena
gossip saat SMA, tetapi kami tetap berteman, sampai Yui adikku yang satu
sekolah denganku iri denganku, bahkan sempat mencuri-curi perhatian dengan
Yutti. Tetapi tetap, Yutti lebih senang denganku katanya, sebab aku apa adanya
dan memang bisa diajak untuk berteman.
“Kamu
kemarin ke perpustakaan Yoyogi ya?” tanyanya memancing penasaran.
Aku
mengangguk dengan jantung berdebar-debar. Aku harap-harap cemas akan apa yang
Yutti katakan. “Kenapa?”
Yutti
mengembuskan nafas, mengambil sesuatu dari tasnya. “Kemarin aku lihat kamu di
sana. Aku panggil, kamu udah masuk bis.” Ia menyerahkan sesuatu yang kunanti.
“Kamu teledor lagi…”
Mataku
membulat ceria. Di dalam hati bersorak kegirangan. Yutti mengembalikan
dompetku. “Bagaimana…???”
“Aku
sering lihat kamu di sana. Aku juga sering ke sana. Tapi aku gak sempat sapa
kamu, soalnya bareng-bareng teman. Hehehe, sombong ya. Tapi maaf, aku sibuk.
Asli, bukan sok sibuk. Nah, aku nemu dompet itu di rak. Kulihat isinya, itu
identitas kamu. Mau aku balikin ke orang perpus, bodoh. Soalnya aku kan kenal
kamu. Nah aku mau minta ketemu aja sama kamu buat balikin. Tapi kamu kayaknya
gak buka facebook ya?”
“Ya.
Ya ampun… jadi sama kamu…” aku menangis haru memeluk dompetku.
“Lebay.
Gitu aja pake nangis.”
“Ini
barang berhargaku, Yutti! Kamu kan tahu, aku saat ini masih menjalin cinta
dengan laptop, dan aku sedang berselingkuh dengan flashdisk…”
Yutti
memandangku datar, ia tahu akan diriku yang suka aneh-aneh. “Emang gak ada
pacar yang lebih hidup apa?”
“Udah.
Makasih ya. Kamu emang yang paling………”
“Lebay.
Ohya, bagaimana kabar orang-orang rumah? Aku udah lama ke rumahmu.”
“Penting
banget gitu kamu ke rumahku?”
“Kamu
gak ke rumahku mah ku maklumi. Ibu marah mulu ada kamu. Jahil sih!”
Tawa
kami berderai. Sore itu bersyukur, alam mempertemukan kami, lebih tepatnya aku
dan dompetku dengan isinya yang lengkap. Aku dan Yutti kembali bercerita.
Mengenai pertemanan kami yang seperti anak-anak yang masih suka menggila. Dan
aku tidak menyangka, Yutti yang kukenal masih Yutti yang dulu, tidak berubah
meski kami tidak bertemu, tidak berubah meski dia orang berada dan menjadi
mahasiswa kedokteran.
Namun
obrolan kami menjadi muram saat aku bercerita mengenai keluargaku. Aku dan dua
adikku, tidak lagi tinggal bersama ayah ibu. Setahun lalu ibu meninggal, kami
tinggal dengan ibu tiri dengan ayah yang tidak lagi kembali setelah menemukan
perempuan lain. Kami tinggal dengan ibu tiri yang tidak pernah berlembut-lembut
pada kami. Selalu menagih uang untuk kecantikannya demi memikat pria lain
sebagai balas dendam atas suaminya.
Yutti
tercenung mendengarnya. Dan ini menjadi awal pertemuan kami kembali.
No comments:
Post a Comment