Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Tuesday, October 18, 2016

Imouto_Part 1 (Pertemuan)

Genre : Dewasa, Thriller
Penulis : Andeke Parsi
Tokoh : Araki Chisato, Nakajima yuto, Ino Kei, Yabu Kouta.
Menderita penyakit modern, membuat Chisato mencari-cari dokter untuk mengetahui apa obat penyakit yang dideritanya. Ia tidak mengungkapkan hal itu pada Nakajima Yuto temannya semasa SMA, sebab Nakajima Yuto yang dipanggil Yuto adalah dokter anak, bukan dokter penyakit dalam yang diharapkan Chisato. Lalu, Chisato menemukan satu kontak, bernama Ino Kei yang merupakan seorang duda beranak satu. Namun, bukan kesembuhan yang didapat, Chisato malah menjadi korban malpraktik Ino Kei.


Mungkin sudah kejutan dari semesta alam.
Berhari-hari aku gelisah karena dompetku hilang. KTP, headset¾yang dirusak Yui adik perempuanku, dan flashdisk hilang. Ini peringatan. Jelas peringatan. Isi flashdisk itu yang lebih penting. Dia ibarat pacar keduaku setelah laptop. Haha, aku memang sudah melamar laptopku menjadi istriku¾hey, tapi aku perempuan. Ada isi-isi penting di dalam flashdisk itu. Bahkan lebih penting daripada KTP¾yang bisa saja aku dicap warga Negara gelap karena tidak mempunya KTP. Baiklah, supaya adil, maka aku menggelisahkan keduanya.
Aku meninggalkan dompetku yang sebenarnya dompet kosmetikku di perpustakaan. Aku gelisah karena hari libur berturut-turu membuat perpustakaan itu tutup. Karena sebal, aku memutuskan menikmati ramen pedas usai bekerja pada sore hari. Ramen miso pedas selalu membuat mood ku lebih baik. Rasanya yang nimat membuatku bisa merasa nyaman dengan semua yang menyebalkan, terutama menyebalkan pada diriku yang kadang mudah bosa. Tetapi untuk pertama kalinya, aku tidak bisa melenyapkan kegelisahanku. Mana ada cerita, kalau aku beli ramen, KTP dan flashdisk ku kembali?
Maka, usai itu, aku pergi ke bioskop. Sendirian. Karena aku memang butuh sendirian dulu. Berkali-kali aku merutuk, menyumpah serapah di dalam hati atas kecerobohanku karena  lupa pada dompet sendiri. Dan hanya dua jam saat aku lupa pada permasalan itu saat aku sudah duduk menonton film genre laga di bioskop. Aku tidak pernah pergi ke bioskop sendirian, setelah sebelumnya aku pergi bersama keluarga.
Kegelisahan kembali muncul usai aku keluar dari bioskop. Aku kembali muram. Berjalan tidak bersemangat. Langkahnya terhenti saat aku melihat jajanan. Tetapi tidak, aku tidak berselera makan. Aku takut kurus kalau begini. Sebab aku sudah berusaha menambah berat badanku supaya tidak terlalu kurus, tetapi kini aku akan frustasi karena flashdiskku hilang. Sampai saat aku kembali melanjutkan langkahku, aku berhenti karena ada yang memanggilku. Tetapi aku tidak menoleh, kembali berjalan. Kupikir, ada banyak orang yang memiliki nama seperti namaku. Namun nama itu disebut dua kali, aku berhenti, dan menoleh ragu-ragu.
“Chisato-kun!!!” seorang pria jangkung berlari kecil ke arahku. Terlihat senang sekali bisa bertemu denganku. Mengamati dari atas sampai bawah. Lalu mencubit pipiku. Tetapi aku tetap datar menatapnya. Dia teman lamaku di SMA, Nakajima Yuto.
“Oh, Yutti. Apa kabar? Lama tidak jumpa,” kataku dengan muka dan suara datar. Aku memanggilnya Yutti, dan dia memanggilku dengan tambahan –kun di belakang. Itu panggilan akrab kami. Kami berteman lama dan dekat karena kami sama-sama gokil dulunya. Namun aku tidak menyangka akan mendapat hiburan dari semesta alam, yaitu dengan bertemu dengannya. Selama ini kami hanya berkomunikasi lewat media sosial, itu pun sudah jarang karena aku minder dengan dirinya yang merupakan mahasiswa kedokteran.
Aku hanya mengamatinya. Memuji di dalam hati dirinya yang sudah semakin dewasa dan tampan¾meski kulihat wajahnya seperti selalu mirip denganku. Tetapi aku agak kecewa dia memendekkan rambut, sebab dulu rambutnya menyentuh tengkuk, aku suka laki-laku berambut panjang. Keren saja. Tetapi tetap, kami hanya berteman. Dan aku baru merasakan rindu saat bertemu dengannya kini setelah lama tidak bertemu karena kesibukan kami sejak lulus SMA.
“Wah… kamu cantik sekali. Tumben. Biasanya ganteng.”  Yutti masih mengamati penampilanku, menepuk-nepuk bahuku. Tersenyum lebar, terlihat begitu rindu padaku. Tetapi senyumnya memudar setelah melihat raut wajahku. “Hey, kau tidak senang bertemu denganku?”
“Senanglah!” Aku pura-pura senang, karena masih kepikir dompet hilangku. Aku menepuk bahunya. “Kamu juga, ganteng. Beli dimana mukanya?”
“Apa sih… hahaha… eh tapi, serius, ini kamu? Chisato-kun? Cantik loh! Kamu udah berubah ya jadi perempuan beneran? Abis darimana? Kerja?”
“Ya, kan kalau kerja, aku gak mungkin pakai jas. Pakaian laki-laki dan perempuan kan beda. Udah kayak sekolah.”
“Ouh, jangan-jangan, kalau di luar kerja, kamu tomboy lagi? Tapi, kamu masih make up-an… ???” Yutti secara tidak sopan mengamati wajahku dari dekat. Hal itu membuatku mendorong wajahnya.
Beberapa anak muda yang seusia kami mengamati. Memanggil Yutti, melambaikan tangan akan pergi lebih dulu. Rupanya, Yutti telah pamit lebih dulu pergi sendiri sebelum ia bertemu denganku secara tidak sengaja.
“Teman kuliah?”
“Iya. Kamu abis darimana? Dari kantor langsung ke sini? Abis nonton apa?”
“Biasa. Berantem-berantem,” aku membalikkan badan, melanjutkan langkah. Yutti pun menyejajari langkahku. Kami kembali bernostalgia masa SMA. Tetapi tetap aku tidak bisa seperti Yutti yang ceria. Masih terbayang flashdisk sang kekasih.
“Hey, kamu kenapa sih? Lapar? Makan yuk! Udah lama kita gak makan bareng loh! Aku jadi kangen waktu kita lomba makan…”
“Hey!” Aku menepuk keras-keras punggung Yutti. “Kok kamu yang ceria sih? Nih ya, dalam sejarah, yang ada laki-laki yang dingin, bukan sebaliknya! Kamu kayak perempuan tahu gak! Cerewet!”
Yutti sebal, tetapi ia kemudia tersenyum penuh isyarat. “Kamu gak buka facebook ya? Aku hubungin kamu susah banget!”
“Buat apa? Ada hal penting? Reuni SMA?”
Yutti tidak menjawab. Menarik tanganku, mengajak duduk di sebuah tempat makan. Hubungan kami memang cenderung dekat, benar-benar seperti teman, kadang-kadang seperti adik kakak, yaitu dia yang dingin dan aku yang cerewet. Sempat kena gossip saat SMA, tetapi kami tetap berteman, sampai Yui adikku yang satu sekolah denganku iri denganku, bahkan sempat mencuri-curi perhatian dengan Yutti. Tetapi tetap, Yutti lebih senang denganku katanya, sebab aku apa adanya dan memang bisa diajak untuk berteman.
“Kamu kemarin ke perpustakaan Yoyogi ya?” tanyanya memancing penasaran.
Aku mengangguk dengan jantung berdebar-debar. Aku harap-harap cemas akan apa yang Yutti katakan. “Kenapa?”
Yutti mengembuskan nafas, mengambil sesuatu dari tasnya. “Kemarin aku lihat kamu di sana. Aku panggil, kamu udah masuk bis.” Ia menyerahkan sesuatu yang kunanti. “Kamu teledor lagi…”
Mataku membulat ceria. Di dalam hati bersorak kegirangan. Yutti mengembalikan dompetku. “Bagaimana…???”
“Aku sering lihat kamu di sana. Aku juga sering ke sana. Tapi aku gak sempat sapa kamu, soalnya bareng-bareng teman. Hehehe, sombong ya. Tapi maaf, aku sibuk. Asli, bukan sok sibuk. Nah, aku nemu dompet itu di rak. Kulihat isinya, itu identitas kamu. Mau aku balikin ke orang perpus, bodoh. Soalnya aku kan kenal kamu. Nah aku mau minta ketemu aja sama kamu buat balikin. Tapi kamu kayaknya gak buka facebook ya?”
“Ya. Ya ampun… jadi sama kamu…” aku menangis haru memeluk dompetku.
“Lebay. Gitu aja pake nangis.”
“Ini barang berhargaku, Yutti! Kamu kan tahu, aku saat ini masih menjalin cinta dengan laptop, dan aku sedang berselingkuh dengan flashdisk…
Yutti memandangku datar, ia tahu akan diriku yang suka aneh-aneh. “Emang gak ada pacar yang lebih hidup apa?”
“Udah. Makasih ya. Kamu emang yang paling………”
“Lebay. Ohya, bagaimana kabar orang-orang rumah? Aku udah lama ke rumahmu.”
“Penting banget gitu kamu ke rumahku?”
“Kamu gak ke rumahku mah ku maklumi. Ibu marah mulu ada kamu. Jahil sih!”
Tawa kami berderai. Sore itu bersyukur, alam mempertemukan kami, lebih tepatnya aku dan dompetku dengan isinya yang lengkap. Aku dan Yutti kembali bercerita. Mengenai pertemanan kami yang seperti anak-anak yang masih suka menggila. Dan aku tidak menyangka, Yutti yang kukenal masih Yutti yang dulu, tidak berubah meski kami tidak bertemu, tidak berubah meski dia orang berada dan menjadi mahasiswa kedokteran.
Namun obrolan kami menjadi muram saat aku bercerita mengenai keluargaku. Aku dan dua adikku, tidak lagi tinggal bersama ayah ibu. Setahun lalu ibu meninggal, kami tinggal dengan ibu tiri dengan ayah yang tidak lagi kembali setelah menemukan perempuan lain. Kami tinggal dengan ibu tiri yang tidak pernah berlembut-lembut pada kami. Selalu menagih uang untuk kecantikannya demi memikat pria lain sebagai balas dendam atas suaminya.

Yutti tercenung mendengarnya. Dan ini menjadi awal pertemuan kami kembali.

No comments:

Post a Comment