Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Saturday, March 5, 2011

14th


Hari sudah semakin siang & mendekati sore. Kala itu aku berada di sekolah. Kalender sekolahku menunjukkan bahwa sekarang hari Rabu, tanggal 5 maret 2007. Aku pikir suatu yang kejadian yang kuharapkan akan terjadi besok, hari ulang tahunku.

Waktu itu aku tidak melihat pohon yang melambaikan daun-daunnya didekat lapangan sekolahku. Hari itu aku sedang istirahat di sekolah setelah 3 jam belajar dikelas. Tak beberapa kemudian bel masuk kelas berbunyi. Ketika itu Indah dan Syifa mengajakku shalat. Aku menyimpan buku pr yang berbentuk folio di tas dan aku segera mengikuti Syifa, Indah dan Samsidar ke mushalah. Kami pun turun karena mushalah berada dilantai dasar.

Ketika itu Syifa dan Aku jalan dibelakang Samsidar dan Indah. Saat berada di tangga yang paling akhir, aku melihat Samsidar dan Indah berbicara dengan Bu Masni, guru keterampilan jasa kami. Sebab kini adalah jam pelajarannya. Ketika aku dan Syifa melihat Bu Masni yang sedang berbicara dengan Samsidar dan Indah, aku mengajak Syifa kembali ke kelas. Aku pikir Bu Masni tidak mengizinkan kami untuk shalat ashar. Dan kami kembali ke tempat duduk.
Aku mengambil buku pr dari tas. Saat itu Bu Masni masuk kelas. Dan Didit sang ketua kelas memberi salam pada Bu Masni.
Gleggeek !
Aku menelan air ludah. Wajahku pucat, detak jantungku mulai cepat, aku cemas. Aku tidak menemukan buku pr didalam tas, tetapi aku berusaha tenang. Aku bertanya pada Agung, Herdiansyah, Yunisa dan Amel, “dimana bukuku? Apakah kalian meminjamnya?”. Mereka hanya menggeleng-geleng dan berkata “tidak!”. Aku terduduk lesu dibangkuku.

“Siapa yang tidak mengerjakan pr?”, tanya Bu Masni. Mendengar ucapan itu, aku kembali bersemangat mencari buku ku. Sementara yang lain sudah pasrah. Satu-persatu dari mereka maju untuk mendapat “permen”nya dari Bu Masni.

Permen yang dimaksud adalah cubitan Bu Masni adalah cubitannya yang membuat kulit yang dicubit menjadi berwarna. Sehingga aku tak mau merasakan permennya itu.

Aku terus mencari buku itu. Karena buku itu adalah bukti bahwa aku telah mengerjakan pr. Namun, buku itu tak juga dapat kutemukan. Akhirnya aku panik dan cemas. “bukuku mana?” kataku sambil berjalan bolak-balik. Lalu aku melangkahkan kaki ku ke meja Samsidar dan Indah. “PR-ku! Kalian melihat bukuku tidak?” tanyaku yang cemas sambil memukul meja mereka. Mereka menggelengkan kepala. Aku semakin panik. Badanku terus bolak-balik berjalan, berharap supaya bukunya ketemu. Namun, Bu Masni belum juga memulai ‘pertunjukan’ nya itu. “udah?udah?udah gak ada lagi?” kata Bu Masni pada aku dan teman-temanku yang duduk dibangkunya. “Buku saya hilang, bu!” kata ku pada Bu Masni. Namun rasanya keberuntungan tak berpihak padaku. Bu Masni tidak percaya atas kejujuranku. Bu Masni menyuruhku maju ke depan kelas untuk mendapat giliran. “Tapi saya mengerjakannya, bu. Tapi hilang!!” kata ku. “tidak ada alasan! Kamu maju!” seru Bu Masni.

Hufff!!!Hari ini benar-benar hari yang merugikan bagiku. Aku merasa ada yang memfitnahku. Terpaksa aku maju ke depan tanpa ada salah. “Hari sial apa ini?kenapa aku harus membuat kesalahan di jelang hari ulang tahunku? Aku yakin buku pr ku tadi kusimpan di tasku. Tapi kenapa tidak ada, mungkinkah keselip? Itu tidak mungkin. ‘kan itu buku yanmg paling besar. Sia-sia sudah aku mengerjakan pr, tetapi hasilnya, aku tetap dihukum,” kata ku didalam hati.Aku pun ditanya Bu Masni kenapa aku tidak mengerjakan pr. Aku berusaha untuk berkata apa adanya. Namun, aku berusaha sabar, karena Bu Masni tidak mempercayaiku. Lalu satu persatu teman-temanku yang maju didepan kelas, kena cubitannnya Bu Masni.

Cubitannya sungguh menggugah selera. Karena beraneka rasa. Rasa stoberi, anggur, coklat, & apel. Sampai-sampai aku tidak mau merasakan permennya itu, karena lebih manis dari permen yang biasa ku beli. Aku hanya melihat teman-temanku yang menahan sakit manisnya permen.

Setelah teman-temanku yang kebanyakan laki-laki itu dihukum, sekarang giliranku. Aku pasrah. Aku deg-degan. Rasanya ingin pingsan.“Ada apa Nadia?Pr mana yang belum selesai?” tanya Bu Masni dengan tegas.“ Saya sudah mengerjakannya Bu, Ta..tapi hilang”, ratapku.“ Tidak mungkin hilang, kamu bohong. Berarti kamu menuduh diantara teman-temanmu mencuri. Kamu yakin bukunya hilang?“, ucap Bu Masni.“Iya Bu, saya yakin.”

“ Nadia, Ibu mengenal kamu dari kelas satu sebagai orang yang rajin dan jujur. Tetapi mengapa sekarang kamu berbohong? Waktu kelas satu Ibu mengajar kamu kan?”
“ Iya Bu.”‘ Ibu tidak mau tau. Sekarang kamu jujur, ada apa dengan kamu? Kok kamu berbohong !”Aku telah meyakinkan Bu Masni untuk percaya padaku. Aku memilih untuk diam. Saat itu semua teman sekelas menatapku dengan tajam. Itu pertama kalinya aku ditatap tajam oleh mereka.“Tak ada yang mau membelaku? Semua hanya diam seperti menyaksikan sebuah pertunjukkan. Ternyata mereka sama. Mereka jahat ! Mereka penghianat!” Pikirku.

“Yunisa coba kamu cari buku pr nya di tasku!”, ucapku.Yunisa menggeleng-geleng dan mengatakan tidak ada. Saat itu tanpa kusadari air mata mengalir dipipiku. Aku mencoba menghapusnya dengan jilbab yang ku kenakan. Namun mereka semua melihat aku menangis. Malulah aku dibuatnya.
“Huh! Bukannya diperiksa dulu tas seluruh murid di kelas!!” kata ku didalam hati. Rasanya air mata tidak henti mengalir. Sementara waktu terus berjalan. Akankah aku kan berdiri disini selamanya didepan kelas?” kata ku lagi didalam hati. “Bagaimana, Nadia? “ tanya Bu Masni.“Cubit sajalah, bu!” jawab ku pada Bu Masni “Ibu tidak mau kalau untuk pembohong. Kalau tidak, kamu menangis saja, atau nyanyi, teriak atau gak, menangis sepuasmu!“

Aku pikir lebih baik aku teriak, ‘ bukuku hilang!’Tapi rasanya itu tak mungkin kulakukan karena itu akan mengganggu kegiatan belajar dikelas lain. “ Kok diam? Ayo! Nanti akan ibu siapkan ember untuk kamu menangis.” “ Udah, bu. Saya udah nangis.”“ Mana air matanya?”“ Saya hapus.”“ Ulangi lagi!”“ Saya sudah menangis, bu. Apa ibu tidak melihat saya yang cegukan ? ” kata ku di dalam hati. “ Kalau gak, teriak deh sepuasmu!”Rasa kesal pun timbul di hatiku saat teman-teman ku menyuruhku untuk berteriak. Rasanya mereka tidak iba padaku. Aku pasrah. Air mataku terus mengalir walaupun aku telah berusaha untuk jangan sampai menangis didepan teman- temanku.
Tiba-tiba Bu Masni memegang tanganku dengan halus. Perlahan-lahan aku mendekati Bu Masni. Bu Masni menyuruh teman-temanku untuk diam. Lalu Bu Masni hendak mengatakan sesuatu dengan lembut pada ku. “Nad, Ibu sengaja membuatmu menangis karena sekarang kamu ulang tahun...” belum Bu Masni melanjutkan ucapannya, aku langsung kaget. Aku tidak pernah mengira ternyata masih ada orang yang mau membuat kejutan di hari ulang tahunku. Dan ini terjadi sehari sabelum hari ulang tahunku. “…Selamat ulang tahun ya, Nad...“ kata Bu Masni pada ku. Lalu beliau menyuruh teman-temanku untuk menyanyikan lagu ulang tahun. Tangisku pun semakin menjadi-jadi. Aku dan Bu Masni pun berpelukan. Teman-temanku berhenti menyanyikan lagu ulang tahunnya.

“ Udah dong, Nad. Jangan nangis lagi.“ kata Bu Masni.

“Sekarang kamu ulang tahun yang ke berapa?“ lanjut Bu Masni.

“Besok, bu ulang tahunnya.”

“ Oh.. ya udah. Jangan nangis lagi, ya Nad.” Kata Bu Masni.

“Sekarang kamu duduk.”

Lalu Bu Masni mengucapkan salam pada murid-muridnya. Ia pun ke luar dari kelas ku. Karena jam pelajarannya di kelas sudah habis hanya untuk mengerjaiku. Ketika ku kembali ke bangkuku, teman-temanku segera menghampiriku untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Aku terus menangis terisak-isak. Aku berterima kasih pada mereka karena mereka ingat hari ulang tahunku. Tidak berapa lama kemudian, teman-temanku mengembalikan buku pr ku.

Ini merupakan pengalaman hidupku yang pertama di hari ulang tahunku yang ke 14 tahun.

No comments:

Post a Comment