Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Saturday, March 5, 2011

Sang Juli

Juli dan teman laki-laki yang menamakan 4A memperhatikan gerak-gerik Amel. Sesaat Amel menoleh ke belakang. Juli segera menampar pipi Amar seraya berkata, “Nyamuk!” Amar pun kaget. Wajahnya meringis kesakitan sambil mengelus pipinya yang ditampar. Sementara itu Juli meniup sesuatu di atas telapak tangannya. Dan si Agus tampak mencari sesuatu di rambut Alan, seperti mencari kutu. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, “Ini kutu terbesar yang pernah ku lihat.” Padahal tidak ada kutu di tangannya. Lain halnya si Agung. Ia berpura-pura mencari sesuatu di rerumputan. Lalu si Amar mendekati Agung. Kala itu, Juli masih tampak ‘mencari’ nyamuk di kulit Amar. Sehingga terlihat kalau Juli sedang mengikuti kemanapun langkah Amar.
“Cari apaan, gung?” tanya Alan.
“Anu, bibirku jatuh. Kira-kira di rerumputan ini jatuhnya,”Jawab Agung sembari terus mencari sesuatu di rerumputan.
“Aku tahu dimana bibirmu.”
“Dimana?”
Lagi-lagi Juli memukul Amar. Kali ini ia memukul betisnya seraya berkata, “ Nyamuk!” amar kaget lagi. Ia mengerutkan keningnya pada Juli. Dan memukul tangan Juli dengan canda. Juli hanya nyengir.
Melihat tingkah Juli dan 4A seperti itu, Amel mengerutkan keningnya. Menggelengkan kepala. Lalu ia pergi. Saat Amel berlalu, Juli dan 4A ngakak massal. Mereka juga tidak melakukan tindakan aneh tadi. Tiba-tiba Amar menampar Juli sambil berteriak, “Nyamuk!”
“Ha…”Mereka pun tertawa mangap.
Sore itu mereka memang tampak gokil. Mereka bahagia sekali. Karena tadi mereka baru saja mengerjai guru terkiller di sekolah mereka. Hingga pulang sekolah pun, mereka masih tampak ‘ceria’.
“Yuk pulang!”seru Juli.
“Yuk”respon Amar.
“Tapi, sebelum kita pulang, kita harus ke rumah kita masing-masing dulu,”gurau Alan.
“Emang begitu kale!”sorak yang lain ke telinga Alan.
“Udah lah pulang aja, yuk. Main gokil-gokilannya besok lagi aja,”kata Agung. “Emang belum puas ya?”
“Iya, pak guru” gurau Alan sambil nyengir.
Sepanjang perjalanan, mereka nyengir. Membayangkan nasib Bu Risa. Saat itu Bu Risa akan masuk ke kelas mereka. Bu Risa tidak menyadari bahwa bangku yang di dudukinya ada telur busuk. Mulutnya pun heboh. Bu Risa pun marah-marah pada murid-murid. Serentak, satu kelas menyanyikan lagu ulang tahun untuk Bu Risa. Memang, Hari ini Bu Risa sedang berulang tahun. Wajah Bu Risa masih panik melihat roknya yang telah dibubuhi telur busuk. Hampir menangis. Belum lagi saat akan keluar dari kelas, Bu Risa berhenti melangkah. Ia seperti merasa ada sesuatu yang jatuh di kepalanya. Saat dipegang ubun-ubunnya, ternyata permen karet. Bu Risa melihat ke atas. Sebuah kreatifitas membentuk hati dari koloni permen karet diantara poto presiden dan wakil presiden. Tiba-tiba beberapa koloni permen karet itu berguguran dan mendarat di wajah Bu Risa. Bu Risa berteriak. Lalu berlari keluar kelas. Satu kelas pun tertawa. Bel pulang sekolah pun berbunyi.
Tiba-tiba saja Juli ngakak bebas. 4A hanya menatapnya heran. Lalu mereka ikut tertawa sambil menunjuk Juli dengan tangan kanan mereka. Tawa mereka pun terhenti saat mereka akan melewati rumah Juli. “Yaudah aku udah nyampe, nih. Assalamualaikum,”kata Juli. Teman-temannya membalas salam Juli
Itulah ‘homepage’ dari kisah Sang Juli. Juli adalah gadis tomboy yang bersahabat dengan Agung, Agus, Alan, Amar atau biasa disebut 4A oleh-oleh teman-temannya. Seharusnya di kelas 1 SMP ini, mereka jaim. Tapi mereka malah mencari gara-gara atau lebih tepatnya membuat usil pada guru-guru mereka terutama pada guru killer. Tingkah mereka yang selalu unik, membuat satu kelas terkadang kompak kalau dalam hal mengerjai guru. Hanya kelas VII 3 yang tergokil dan teraneh diantara semua kelas di sekolah itu.
Pukul 04.30 WIB.
Suara azan subuh sedang berkumandang.
Cahaya matahari belum begitu tampak. Sementara itu ‘ocehan’ si jam weker mulai terdengar di luar kamar Juli. Ia merasa terganggu dengan suara yang itu. Ia memulai membuka matanya. Segera disipitkan matanya lalu menggosok matanya dengan telunjuk kanannya. Cahaya di kamarnya masih benderang. Rupanya ia lupa mematikan lampu saat tertidur semalam.
Ia pun melihat-lihat benda di sekitar kamarnya, seperti mencari sesuatu. Ia mengacak-acak kasurnya. Bibirnya miring ke kiri setelah melihat jam wekernya di bawah bantal. Lalu ia mengambil jam itu dan hendak meng-off-kan wekernya. Bibirnya menjadi manyun. Keningnya mengerut. Wekernya kan udah off, kok masih bunyi?pikir Juli.
Juli meletakkan jam wekernya di atas bantalnya. Lalu Ia menlangkah ke luar kamarnya dan menuju kamara Farid, kakak satu-satunya di rumah itu. Ia melangkah dengan mata yang masih sayu sambil membawa selimut dan bantal guling.
Di depan pintu kamar Farid, Ia meletakkan bantal guling dan selimutnya di lantai. Ia pun berbaring di atas selimut dan memeluk bantal gulingnya. Sambil berbaring, Ia mengetok pintu kamar Farid sambil berteriak tapi pelan, ‘matiin wekernya, woi…’ setelah berulang kali Ia melakaukan hal itu, namun tidak ada jawaban dari dalam kamar kakak laki-lakinya itu. Hanya selimut dan bantal guling yang menemaninya pada subuh itu. Akhirnya Ia lelah. Rasa kantuknya memaksanya untuk tidak membuka kelopak matanya dan kembali ke alam mimpi. Zzz…zzz…zzz…
Jam dinding menunjukkan pukul 06.45.
Juli merasa kalau tubuhnya gioyang-goyang sendiri. Ia pun membuka jendela matanya. ‘woi, bangun’ kedengaran seperti suara ibu. Ternyata sejak tadi Ibu terus membangunkannya. Sang Juli mengucek-kucek matanya. Ia berusaha untuk duduk. Saat ditanya kenapa ia tidur didepan kamar kakaknya, Juli hanya memasang wajah bingung pada Ibunya yang telah bertanya padanya. Lalu Sang Ibu menyuruhnya mandi. Namun Juli tampak malas. Ia pergi saja ke kamar. Tapi tidak untuk masuk ke kamar. Ia duduk di depan pintu kamarnya, memperhatikan kakaknya nanti yang akan keluar dari kamar.
Ibu terus mengetuk pinu kamar Farid. Namun tampak seperti tidak-ada tanda-tanda. Juli pun memeluk guling dan selimutnya sambil melihat aksi kakaknya.
Saat Ibu masuk ke kamar Farid, Farid masih tampak nyenyak tidur. Ibu menampakkan keterkejutannya. Pasalnya Ia sudah terlambat.Ibu segera membangunkannya. Tubuh Farid pun digoyang-goyangkan.
Terdengar suara mengigau dari Sang Farid. Akhir Farid benar-benar bangun. Ia segera duduk. Terdiam. Sambil menatap Ibunya dengan tajam tapi sayu. Ia bingung. “se…sekolah…?” asap kantuk masih menyelimuti matanya. “emang kamu gak sekolah sekarang ini?” Tanya Ibu. Dengan nada mengigau, “weker..”
Ibu bingung.”weker?”
“sekarang jam berapa sih, bu?” Tanya Farid sambil menggaruk-garuk bibirnya. Lalu Ibu bilang kalau sekarang sudah hamper jam 7. Farid tentu terperanjat dari tempat tidur. Ia segera masuk ke kamar mandi. Sementara Ibunya hanya menggeleng-geleng. Tempat tidur Farid pun dirapikan Ibu. Setelah itu, Ibu pergi ke dapur. Saat keluar dari kamar Farid, Ibu melihat wajah Juli yang yang tampak penasaran. “ngapain kamu duduk disitu?” Tanya Ibu. Juli hanya diam sambil menatap ibunya dengan tatapan penuh. Ibu hanya menggeleng-geleng.
Sementara itu, Farid sedang mandi. Tanpa disadarinya, Ia mandi dengan pakaian yang masih menempel di badannya. Ia kaget saat Ia akan mengguanakan sabun. Akhirnya Ia menyadarinya. Lalu Ia keluar dari kamara mandi dengan basah-basahan. Ia tidak peduli. Ia segera melepaskan pakaiannya. Ia tidak kembali ke kamar mandi. Langsung Ia kenakan pakaian putih abu-abunya. Tidak peduli walaupun badan sedang basah.
Lagi-lagi Ia tidak sadar. Bukannya sepatu yang diapakinya, Ia malah kembali ke kamar mandi dan segere mengambil gayung. Ia pun menjadi bingung. “eh?aku ngapain disini?”tanyanya sendiri. Ia pun melempar gayungnya ke dalam bak. Ia tidak peduli bajunya terciprat air baknya. Dengan segera Ia keluar dari kamar mandi.
Sementara itu, aroma masakan Ibu tercium di indera penciumannya.Juli melempar selimut dan bantal gulingnya ke kamarnya. ia tersenyum. Karena Ia tahu bahwa Ibu sedang memasak masakan kesukaannya. Saat keluar dari kamarnya, Juli melihat Sang Kakak yang baru keluar dari kamarnya. Aura kesal terpancar di wajah Farid. Pakaiannya bersimbah air bak. Juli agak senyum. Ia tidak berani berkata-kata. Ia hanya menatap kakaknya dengan wajah ketakutan plus ingin ketawa.
Farid segera enyah dari hadapan adiknya. Ia pun pamit dengan kedua orang tuanya. “Nak, kamu tidak sarapan dulu?” Tanya Ibu. “Di sekolah aja,”jawab Farid. Lalu dengan segera, Farid pergi ke sekolah dengan motornya. Farid pun berlalu. Sementara itu, mata Farid tidak berkedip saat melihat nasi goring diatas meja di ruang keluarga. Ayah dan Ibu masuk ke dalam rumah setelah melihat putra mereka tancap gas.
Ayah dan Ibu menggeleng saat melihat tingkah Juli yang tengah makan sendirian tanpa menunggu dan basa basi mengajak mereka. “Jul, kok makan sendirian?”sindir ayah. Mata Juli pun sipit karena nyengir. “Eh…ayah…ibu…”gumam Juli yang hamper memasukkan suapannya ke mulutnya. Ia pun menjadi agak malu.”Abis…ini nasi goring buatan Ibu, sih. Mana pernah Ibu mengalamai yang tidak enak terhadap nasi gorengnya?He…”gurau sang Juli. Ibu dan ayah hanya tersenyum sambil menggeleng-geleng lagi. Ayah dan Ibu pun ikut sarapan bersama Juli.
Jam tangan berwarna biru tampak melekat di tangan kanan Juli. Jarum pendek di jamnya menunjuk ke angka sebelas dan jarum panjangnya menunjuk ke angka sembilan.
Juli agak terkejut saat melihat aktifitas jarum jam tangnnya. Waktu tinggal menunggu bel masuk terdengar.
Rok biru span dan baju putih dengan bet kuningnya sedang dipakainya.
Dengan segera Ia mengambil tas sekolahnya yang duduk manis diatas tempat tidurnya. Sepasang sepatu bermerk NB yang diletakkannya sejak kemarin di depan pintu, menantinya untuk dipakai. Dengan segera, Juli mengeluarkan salah satu kaus kaki yang ada di dalam sepatu itu. Ia agak cemberut saat melihat ujung telunjuk kaus kakinya bolong. Gak ada waktu lagi buat ganti kaus kaki, udah terlambat, ujarnya di dalam hati.
Setelah itu, Ia pun berdiri dan segera menutup pintu kamarnya. Lalu Ia melangkahkan kakinya untuk berpamit dengan orang tuanya.
Saat Ia tiba di sekolah,(Bersambung ke postingan Juli yang ke-2...)

No comments:

Post a Comment