Tahun
ajaran baru. Mencari kelas, lalu mencari bangku. Jadwal pelajaran sudah
terpajang di mading. Tidak ada yang baru, semua masuk seperti biasa. Hanya naik
kelas 2. Melewati hari seperti pelajar pada umumnya. Telah ditetapkan dimana
akan duduk, tetapi bangkunya telah memiliki tuan. Sebuah tas telah tertaruh di
sana.
Gadis
itu memanyunkan bibirnya. Tidak ia pedulikan teman-teman perempuan sekelasnya
yang asyik bercuat-cuit dengan gossip mereka. Ia tidak begitu menyukai gossip.
Bahkan meski ia baru sadar bahwa apa yang ia keluhkan mengenai bangku yang
memiliki tuan itu adalah apa yang dibicarakan para gadis-gadis gatal itu.
“Nozomi,
kau tidak apa duduk di belakangnya?” salah seorang teman menegurnya saat bel
masuk sudah berbunyi dan semua sudah duduk di bangku masing-masing.
“Hey,
Nozomi, apa kau akan terus menjadi pendiam terus seperti itu? Naik kelas, naik
pamor juga dong! Bersuara! Hahahaa…” seorang teman lain yang merupakan teman
sekelas gadis yang bernama Nozomi dari kelas 1 itu memang senang memancing
Nozomi supaya mau berbicara. Ia lalu memanggil siswa yang duduk di depan bangku
Nozomi.. “Nakajima-kun, kau harus tukar posisi dengannya! Sadar diri kek! Tiang
juga!”
“Oh?”
siswa itu menoleh, lalu mengalihkan pandangan ke teman sekelas yang duduk di
belakangnya. “Maaf. Apa kau mau bertukar tempat duduk?”
Untuk
pertama kalinya, Nozomi baru sadar bahwa anak itu memang memiliki senyum yang
manis, dengan gingsul tersembul di kanan. Pangling, itu kata yang tepat untuk
Nozomi waktu itu. Tetapi tetap saja, wajah itu selalu terlihat polos.
>>>のぞみ<<<
Gadis
yang rambutnya selalu dikuncir itu menyahut saat Ninomiya-sensei mengabsen
namanya. Beberapa anak yang pernah sekelas dengannya bersorak tepuk tangan
karena Nozomi menyahut. Ninomiya-sensei tentu bingung, kenapa semua bertepuk
tangan seolah-olah Nozomi orang yang dibanggakan.
“Suaranya
langka, sensei!” seorang siswi bermata bulat menjawab. Namanya Morikawa Aoi. Ia
yang menjadi biang heboh di kelas bagi para putri di kelas itu. Ia pernah
sekelas dengan Nozomi.
Ninomiya-sensei
menggeleng-geleng dengan jawaban siswinya itu. Ia lalu kembali melanjutkan.
Saat akan mengajar, ia mengedarkan pandangan dulu ke sekitar, lalu pandangan
terlama adalah pada Nozomi. Ia mengerutkan kening seraya menahan senyum.
“Morikawa
benar, Mizutani-san. Kelas ini kelas heboh, terhebih dari yang lain, tapi
kenapa kamu yang menjadi pendiam? Apa kamu ingin berbeda?”
Kelas
digetarkan oleh suara tawa. Ketika suara tawa terhenti, Ninomiya-sensei kembali
berbicara seraya memperhatikan Nozomi yang sudah duduk di depan. “Ah, bagus kau
duduk di depan. Kan tadinya Nakajima duduk di sini. Sekarang dimana dia?”
“Saya
di sini?” anak yang bernama Nakajima mengangkat tangan, suaranya terdengar
jenaka. Ia langsung dilempar gumpalan kertas oleh anak-anak cowok. Kelas itu
memang selalu rusuh, dari laki-laki maupun perempuan.
“Nah,
iya. Kamu itu tiang. Jangan duduk di depan.” Ninomiya-sensei setuju dengan
Nakajima duduk di bangku paling belakang, tetapi di dekat dinding. Diam-diam
Ninomiya-sensei khawatir Nakajima yang merupakan salah satu siswa terpintar itu
akan tergerus berandal karena duduk bersama anak-anak berandal.
“Baiklah,
kita mulai pelajaran sekarang.” Ninomiya-sensei membalikkan badan menghadap
papan tulis. Ia mulai mengajar.
Semua
memperhatikan. Kecuali Nozomi. Sesuatu telah terjadi dengan hatinya yang sedang
bermerah muda. Ia tidak menyangka, bahwa ini kedua kalinya ia menyukai seorang
yang banyak disukai. Padahal sebelumnya ia tidak mau, setelah sebelumnya ia
pernah mengalaminya dan mengecup kepahitan karena cintanya tidak pernah bertemu
dengan cinta orang yang pernah disukainya pada beberapa waktu lalu.
Tidak,
Nozomi tidak sedang trauma. Ia hanya berusaha bersikap wajar dan terutama
hati-hati. Ia juga bahkan tidak seperti gadis lain yang resah bila tidak
memiliki pacar. Morikawa, ia pernah menawari pacar untuk Nozomi supaya Nozomi
‘gaul’, waktu kelas 1. Tetapi Nozomi selalu menolak, karena tidak mau
bermain-main. Sebab ia tidak bisa memandang pacaran itu sebagai bagian dari
masa muda. Pacaran adalah main-main.
Namun,
anak yang dijuluki tiang itu telah menggetarkan hatinya.
Tiga
bulan sedang berlangsung. Selama tiga bulan itu Nozomi duduk di bangku
pertamanya, tidak seperti kini yang sudah duduk di tempat Nakajima duduk. Tiga
bulan itu, Nozomi merasa terganggu karena anak jangkung bernama Nakajima Yuto
itu duduk di depannya. Nozomi jarang berbicara, ia hanya berbicara seperlunya.
Saat Nakajima mengganggu pandangannya, maka Nozomi memintanya supaya menunduk.
Wajah
Nozomi datar-datar saja saat berbicara itu. Membuat gadis-gadis lain yang
cemburu, tidak bisa memarahinya karena mengira mencari celah supaya bisa
berbicara dengan Nakajima yang dikenal tampan oleh banyak gadis di sekolah itu.
Morikawa Aoi, ialah yang memberitau bahwa tidak mungkin Nozomi gatal. Nozomi
itu gadis yang lugu. Ucapan itu dipercaya gadis-gadis gatal lain, sebab memang
Nozomi tidak gatal. Tetapi wajah datarnya itu selalu mengundang penasaran.
Termasuk Nakajima Yuto sendiri.
Nakajima
Yuto, salah satu siswa yang paling banyak disukai tidak hanya karena fisik yang
proporsional dengan tinggi menjulang dan memiliki garis wajah yang tegas,
tetapi juga karena kepintarannya. Ia peraih peringkat kelima di sekolah. Nozomi
yang ketiga.
Nakajima
dan Nozomi hanya mengenal wajah saat kelas 1. Awal-awal bahwa ternyata Nozomi
tidak gatal, Nakajima menyimpan ketertarikannya. Memancing Nozomi berbicara,
mengatakan bahwa menjadi pintar tidak harus berwajah datar. Nozomi berhasil
tersenyum karenanya. Mengingat Nakajima sering mengganggu pandangan Nozomi selama
tiga bulan, maka selama tiga bulan itu, Nakajima membantu Nozomi belajar. Wajah
datar itu dipancing Nakajima menjadi senyum, Nakajima memanggilnya
‘Nozomi-chan’, tidak lagi ‘Mizutani-san’.
Kedekatan
mereka membuat semua cemburu. Tetapi tidak ada yang berani mendatangi Nozomi,
karena wajah yang tidak terbaca itu. Namun wajah itu selalu mengesalkan
bilamana berbicara dengan Nakajima, karena Nakajima selalu berhasil memancing
senyum dan tawa.
Diawali
karena sering belajar dan pancingan untuk senyum dan tawa itulah, ia sadar.
Sebuah
rasa yang muram di hati. Ia tidak bisa lagi memandang Nakajima setelah Nozomi
selalu protes karena tinggi badannya itu. Sudah seminggu berlangsung sejak tiga
bulan itu, Nakajima bertukar duduk dengan Nozomi, lalu pindah ke belakang karena
tukar tempat duduk lagi dengan tempat yang lain.
Ada
yang hilang saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Ia sudah tidak lagi
belajar bersama, tidak ada lagi yang memancing tawa dan senyumnya. Nakajima
asyik dengan teman yang lain meski panggilan ‘Nozomi-chan’ tidak pernah lepas.
Namun, ternyata tidak hanya itu saja. Seseorang telah menarik perhatiannya di
luar jendela, itu sebabnya ia duduk di dekat tembok.
Nakajima
telah jatuh cinta dengan seorang yang lain. Orang kedua yang pernah tinggal di
rahim yang sama tempat Nozomi sebelumnya. Satu tingkat lebih muda.
Namun
sekali lagi, Nozomi tetap bersikap biasa saja. Siapa pun tidak bisa menebak apa
ia sedang jatuh cinta atau patah hati. Nozomi pandai menipu semua orang dengan
wajah datarnya, meski hatinya tersedu-sedu dalam isak tangis.
No comments:
Post a Comment