Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Friday, August 19, 2016

Part 1: Bangku Incaran (That's What Make You Beautiful)

Tahun ajaran baru. Mencari kelas, lalu mencari bangku. Jadwal pelajaran sudah terpajang di mading. Tidak ada yang baru, semua masuk seperti biasa. Hanya naik kelas 2. Melewati hari seperti pelajar pada umumnya. Telah ditetapkan dimana akan duduk, tetapi bangkunya telah memiliki tuan. Sebuah tas telah tertaruh di sana.
Gadis itu memanyunkan bibirnya. Tidak ia pedulikan teman-teman perempuan sekelasnya yang asyik bercuat-cuit dengan gossip mereka. Ia tidak begitu menyukai gossip. Bahkan meski ia baru sadar bahwa apa yang ia keluhkan mengenai bangku yang memiliki tuan itu adalah apa yang dibicarakan para gadis-gadis gatal itu.
“Nozomi, kau tidak apa duduk di belakangnya?” salah seorang teman menegurnya saat bel masuk sudah berbunyi dan semua sudah duduk di bangku masing-masing.
“Hey, Nozomi, apa kau akan terus menjadi pendiam terus seperti itu? Naik kelas, naik pamor juga dong! Bersuara! Hahahaa…” seorang teman lain yang merupakan teman sekelas gadis yang bernama Nozomi dari kelas 1 itu memang senang memancing Nozomi supaya mau berbicara. Ia lalu memanggil siswa yang duduk di depan bangku Nozomi.. “Nakajima-kun, kau harus tukar posisi dengannya! Sadar diri kek! Tiang juga!”
“Oh?” siswa itu menoleh, lalu mengalihkan pandangan ke teman sekelas yang duduk di belakangnya. “Maaf. Apa kau mau bertukar tempat duduk?”
Untuk pertama kalinya, Nozomi baru sadar bahwa anak itu memang memiliki senyum yang manis, dengan gingsul tersembul di kanan. Pangling, itu kata yang tepat untuk Nozomi waktu itu. Tetapi tetap saja, wajah itu selalu terlihat polos.
>>>のぞみ<<<
Gadis yang rambutnya selalu dikuncir itu menyahut saat Ninomiya-sensei mengabsen namanya. Beberapa anak yang pernah sekelas dengannya bersorak tepuk tangan karena Nozomi menyahut. Ninomiya-sensei tentu bingung, kenapa semua bertepuk tangan seolah-olah Nozomi orang yang dibanggakan.
“Suaranya langka, sensei!” seorang siswi bermata bulat menjawab. Namanya Morikawa Aoi. Ia yang menjadi biang heboh di kelas bagi para putri di kelas itu. Ia pernah sekelas dengan Nozomi.
Ninomiya-sensei menggeleng-geleng dengan jawaban siswinya itu. Ia lalu kembali melanjutkan. Saat akan mengajar, ia mengedarkan pandangan dulu ke sekitar, lalu pandangan terlama adalah pada Nozomi. Ia mengerutkan kening seraya menahan senyum.
“Morikawa benar, Mizutani-san. Kelas ini kelas heboh, terhebih dari yang lain, tapi kenapa kamu yang menjadi pendiam? Apa kamu ingin berbeda?”
Kelas digetarkan oleh suara tawa. Ketika suara tawa terhenti, Ninomiya-sensei kembali berbicara seraya memperhatikan Nozomi yang sudah duduk di depan. “Ah, bagus kau duduk di depan. Kan tadinya Nakajima duduk di sini. Sekarang dimana dia?”
“Saya di sini?” anak yang bernama Nakajima mengangkat tangan, suaranya terdengar jenaka. Ia langsung dilempar gumpalan kertas oleh anak-anak cowok. Kelas itu memang selalu rusuh, dari laki-laki maupun perempuan.
“Nah, iya. Kamu itu tiang. Jangan duduk di depan.” Ninomiya-sensei setuju dengan Nakajima duduk di bangku paling belakang, tetapi di dekat dinding. Diam-diam Ninomiya-sensei khawatir Nakajima yang merupakan salah satu siswa terpintar itu akan tergerus berandal karena duduk bersama anak-anak berandal.
“Baiklah, kita mulai pelajaran sekarang.” Ninomiya-sensei membalikkan badan menghadap papan tulis. Ia mulai mengajar.
Semua memperhatikan. Kecuali Nozomi. Sesuatu telah terjadi dengan hatinya yang sedang bermerah muda. Ia tidak menyangka, bahwa ini kedua kalinya ia menyukai seorang yang banyak disukai. Padahal sebelumnya ia tidak mau, setelah sebelumnya ia pernah mengalaminya dan mengecup kepahitan karena cintanya tidak pernah bertemu dengan cinta orang yang pernah disukainya pada beberapa waktu lalu.
Tidak, Nozomi tidak sedang trauma. Ia hanya berusaha bersikap wajar dan terutama hati-hati. Ia juga bahkan tidak seperti gadis lain yang resah bila tidak memiliki pacar. Morikawa, ia pernah menawari pacar untuk Nozomi supaya Nozomi ‘gaul’, waktu kelas 1. Tetapi Nozomi selalu menolak, karena tidak mau bermain-main. Sebab ia tidak bisa memandang pacaran itu sebagai bagian dari masa muda. Pacaran adalah main-main.
Namun, anak yang dijuluki tiang itu telah menggetarkan hatinya.
Tiga bulan sedang berlangsung. Selama tiga bulan itu Nozomi duduk di bangku pertamanya, tidak seperti kini yang sudah duduk di tempat Nakajima duduk. Tiga bulan itu, Nozomi merasa terganggu karena anak jangkung bernama Nakajima Yuto itu duduk di depannya. Nozomi jarang berbicara, ia hanya berbicara seperlunya. Saat Nakajima mengganggu pandangannya, maka Nozomi memintanya supaya menunduk.
Wajah Nozomi datar-datar saja saat berbicara itu. Membuat gadis-gadis lain yang cemburu, tidak bisa memarahinya karena mengira mencari celah supaya bisa berbicara dengan Nakajima yang dikenal tampan oleh banyak gadis di sekolah itu. Morikawa Aoi, ialah yang memberitau bahwa tidak mungkin Nozomi gatal. Nozomi itu gadis yang lugu. Ucapan itu dipercaya gadis-gadis gatal lain, sebab memang Nozomi tidak gatal. Tetapi wajah datarnya itu selalu mengundang penasaran. Termasuk Nakajima Yuto sendiri.
Nakajima Yuto, salah satu siswa yang paling banyak disukai tidak hanya karena fisik yang proporsional dengan tinggi menjulang dan memiliki garis wajah yang tegas, tetapi juga karena kepintarannya. Ia peraih peringkat kelima di sekolah. Nozomi yang ketiga.
Nakajima dan Nozomi hanya mengenal wajah saat kelas 1. Awal-awal bahwa ternyata Nozomi tidak gatal, Nakajima menyimpan ketertarikannya. Memancing Nozomi berbicara, mengatakan bahwa menjadi pintar tidak harus berwajah datar. Nozomi berhasil tersenyum karenanya. Mengingat Nakajima sering mengganggu pandangan Nozomi selama tiga bulan, maka selama tiga bulan itu, Nakajima membantu Nozomi belajar. Wajah datar itu dipancing Nakajima menjadi senyum, Nakajima memanggilnya ‘Nozomi-chan’, tidak lagi ‘Mizutani-san’.
Kedekatan mereka membuat semua cemburu. Tetapi tidak ada yang berani mendatangi Nozomi, karena wajah yang tidak terbaca itu. Namun wajah itu selalu mengesalkan bilamana berbicara dengan Nakajima, karena Nakajima selalu berhasil memancing senyum dan tawa.
Diawali karena sering belajar dan pancingan untuk senyum dan tawa itulah, ia sadar.
Sebuah rasa yang muram di hati. Ia tidak bisa lagi memandang Nakajima setelah Nozomi selalu protes karena tinggi badannya itu. Sudah seminggu berlangsung sejak tiga bulan itu, Nakajima bertukar duduk dengan Nozomi, lalu pindah ke belakang karena tukar tempat duduk lagi dengan tempat yang lain.
Ada yang hilang saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Ia sudah tidak lagi belajar bersama, tidak ada lagi yang memancing tawa dan senyumnya. Nakajima asyik dengan teman yang lain meski panggilan ‘Nozomi-chan’ tidak pernah lepas. Namun, ternyata tidak hanya itu saja. Seseorang telah menarik perhatiannya di luar jendela, itu sebabnya ia duduk di dekat tembok.
Nakajima telah jatuh cinta dengan seorang yang lain. Orang kedua yang pernah tinggal di rahim yang sama tempat Nozomi sebelumnya. Satu tingkat lebih muda.

Namun sekali lagi, Nozomi tetap bersikap biasa saja. Siapa pun tidak bisa menebak apa ia sedang jatuh cinta atau patah hati. Nozomi pandai menipu semua orang dengan wajah datarnya, meski hatinya tersedu-sedu dalam isak tangis.

No comments:

Post a Comment