Rasa
kecewa teramat dalam terhadap sang pacar bahwa ternyata sang pacar bermuka dua.
Sayumi, ia pandai memoles diri dan menampilkan diri terlihat sempurna di mata
umum. Tetapi hal itu telah luput oleh pengamatan Nakaken sebagai penggemar
misterius, yang kini telah menanggalkan statusnya sebagai penggemar misterius.
Keterkejutannya akan wajah lain Sayumi membuat Nakaken mencari tau bagaimana
sebenarnya hubungan beradik kakak Nozomi dan Sayumi. Pengamatan demi pengamatan
tidak pernah ketahuan, baru di taiikukan ia
ketahuan.
Yuto
terkejut bukan main mendengarnya. Nafanya terlihat naik turun karena saking
tidak menyangkanya. Wajah itu menunjukkan ekspresi tidak menyangka. Baru pertama kali ini ia bertemu seorang gadis
cantik, tetapi menyimpan bau busuk di belakangnya. Tetapi anehnya, mengapa
Nozomi hanya diam saja diperlakukan buruk?
Rasa
kecewa yang bercampur aduk dengan ketekejutan. Yuto berusaha mengendalikan
diri. Mengingat Nozomi menangis sebelum Yuto menemui Sayumi tadi, membuat Yuto
urung sejenak menghampiri Nozomi. Ia mengira, pasti ada yang tidak beres antara
Nozomi dengan Sayumi. Tapi sekali lagi, kenapa Nozomi diam saja? Dia itu kakak.
Seharusnya bisa lebih tegas!
Yuto
berdecak sebal memikirkannya. Hanya saat jam belajar mengajar berlangsung,
perhatiannya teralihkan. Sesekali memandang Nozomi yang duduk jauh di depannya.
Jam pulang sekolah, ia akan menemui Nozomi.
Bermaksud
ingin berbicara berdua saat anak-anak sekelas telah keluar, tetapi Nozomi malah
masuk ke kerumunan anak-anak sekelas untuk keluar kelas. Mau tidak mau, Yuto
harus mengikutinya hingga ia berhasil meraih pergelangan tangan Nozomi sebelum
Nozomi benr-benar melangkah jauh dari kelas.
“Aku
mau bicara.” Singkat dan padat, Yuto berkata demikian dengan raut wajah serius.
Itu ekspresi yang menyeramkan bagi Nozomi karena Nozomi tidak pernah melihat
wajah seserius itu, ekspresi wajah yang lebih pada menyimpan amarah.
Nozomi
menundukkan wajah, tidak berani melihat ekspresi wajah itu. Ia juga tidak mau
mata bekas menangisnya masih bisa terlihat. Ia tidak memiliki luang untuk
berbohong demi memanipulasi apa yang dirasakannya.
“No-chan!”
Yuto mengangkat dagu itu, meminta supaya Nozomi menatapnya.
Kedua
mata mereka bertemu. Nozomi menatap takut-takut, berusaha mengendalikan diri
supaya tidak terlihat memang takut-takut. Tetapi jemari Yuto lama bersarang di
dagunya. Tiba-tiba, Yuto merasakan debar jantungnya yang meningkat saat
melakukan itu pada Nozomi. Wajah seriusnya berubah menjadi gugup.
“Maaf!”
Yuto segera menurunkan tangannya, membuang muka.
“Maaf
juga.” Nozomi akan membalikkan badan, ia tidak mau berbicara banyak dengan
Yuto. Tetapi sekali lagi, pergelangan tangannya diraih Yuto.
“Maaf
untuk apa? Aku memanggil No-chan karena aku ingin nanya kenapa kamu nangis.”
Yuto telah melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Nozomi.
“Eh?
Untuk apa? Aku tidak bisa cerita. Meski kau orangtuaku, aku tidak akan
bercerita.”
“Hah?
Apa hubungannya dengan orangtuamu?”
“Hubungannya
karena biasanya seorang anak akan butuh orangtua saat bermasalah. Maka, aku tidak
melakukan itu. Kekhawatiran mereka malah membuatku tidak tenang.”
Yuto
tertegun mendengarnya. Tetapi kembali lagi, ia berkata, “Baiklah. Aku tidak
akan ikut campur. Tapi masalahnya, tadi aku liat kamu dan Sayu-chan. Kenapa dia
melukaimu? Kenapa kamu diam saja? Ada apa dengan kalian?”
“Seperti
yang kubilang. Aku tidak akan bercerita, meski orang itu memaksa. Sakit fisik
tidak apa-apanya dengan sakit hati!” Nozomi menahan hati saat mengatakannya.
Tidak mau ia berdua dengan Yuto, ia kembali membalikkan badan. Tetapi lagi-lagi
pergelangan tangan itu kembali diraih si tiang.
“Kamu
belum menjelaskan semuanya.” Yuto menghela nafas saat mengatakannya.
“Maksud
kamu?”
“Tentang
Sayu-chan. Selama ini aku tanya-tanya kamu, kamu menceritakan yang
baik-baiknya. Kenapa kamu gak cerita dia punya sisi buruk kayak tadi?”
“Setiap
orang punya keburukan. Masak iya aku
menceritakan sisi buruk saudaraku? Aku ini kakaknya. Dia akan mencontohku. Aku
harus melindunginya.”
“Apa?
Melindungi? Kau bahkan dilukainya!”
“Kau
tidak tau apa-apa, Yuto-kun.”
“Maka
dari itu karena aku tidak tau apa-apa, beritau aku! Kenapa kamu sembunyika hal
lain tentang Sayumi? Aku tau tiap orang punya keburukan. Tetapi keburukan yang
seperti apa dulu? Keburukan bila memang namanya keburukan, bukan untuk dipelihara,
tetapi untuk dikurangi. Kecuali kalau orang bersangkutan memang berhati batu
karena tidak mau mendengar nasihat orang lain!”
Nozomi
menelan air ludah mendengarnya. Ia memandang Yuto dengan wajah ke bawah tetapi
pandangan ke atas. Ia tidak bisa membalas ucapab Yuto karena memang apa yang
diucapkan Yuto adalah Sayumi yang sebenarnya, gadis berhati batu.
Nozomi
tertunduk.
“Kenapa
kamu diam saja?” Yuto menunggu Nozomi menyahut.
“Sudah
kubilang, aku ini kakaknya! Kamu gak tau apa-apa!” Nozomi mengangkat wajahnya,
hampir memaki saat mengatakan itu. Airmatanya meluap.
“No-chan…???”
Yuto terkejut dengan Nozomi yang marah tetapi terlihat seperti menahan sesuatu
dari dalam hati. Sesuatu yang menyesakkan.
“Maaf,
sekali lagi aku minta maaf! Aku mau pulang!” Nozomi mendesis. Ia tidak bisa
lagi menahan, dan membalikkan badan menuju jalan pulang.
Yuto
terpaku diam di tempat. Memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan Nozomi.
Padahal ia ingin mengonfirmasi apa yang diucapkan Nakaken, tetapi yang didapatnya
malah Nozomi yang menangis, kembali.
Dugaan-dugaan
buruk muncul di kepalanya. Mengingat kejadian Sayumi yang memukul Nozomi tadi,
ia harus mengusutnya besok. Sebab Sayumi sudah terlihat pulang lebih dulu
setelah memandang Yuto dengan wajah takut. Takut karena sisi lainnya
terbongkar.
No comments:
Post a Comment