Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Friday, August 19, 2016

Part 6 : Wajah memendam Amarah (That's What Make You Beautiful)

Rasa kecewa teramat dalam terhadap sang pacar bahwa ternyata sang pacar bermuka dua. Sayumi, ia pandai memoles diri dan menampilkan diri terlihat sempurna di mata umum. Tetapi hal itu telah luput oleh pengamatan Nakaken sebagai penggemar misterius, yang kini telah menanggalkan statusnya sebagai penggemar misterius. Keterkejutannya akan wajah lain Sayumi membuat Nakaken mencari tau bagaimana sebenarnya hubungan beradik kakak Nozomi dan Sayumi. Pengamatan demi pengamatan tidak pernah ketahuan, baru di taiikukan ia ketahuan.
Yuto terkejut bukan main mendengarnya. Nafanya terlihat naik turun karena saking tidak menyangkanya. Wajah itu menunjukkan ekspresi tidak menyangka. Baru pertama kali ini ia bertemu seorang gadis cantik, tetapi menyimpan bau busuk di belakangnya. Tetapi anehnya, mengapa Nozomi hanya diam saja diperlakukan buruk?
Rasa kecewa yang bercampur aduk dengan ketekejutan. Yuto berusaha mengendalikan diri. Mengingat Nozomi menangis sebelum Yuto menemui Sayumi tadi, membuat Yuto urung sejenak menghampiri Nozomi. Ia mengira, pasti ada yang tidak beres antara Nozomi dengan Sayumi. Tapi sekali lagi, kenapa Nozomi diam saja? Dia itu kakak. Seharusnya bisa lebih tegas!
Yuto berdecak sebal memikirkannya. Hanya saat jam belajar mengajar berlangsung, perhatiannya teralihkan. Sesekali memandang Nozomi yang duduk jauh di depannya. Jam pulang sekolah, ia akan menemui Nozomi.
Bermaksud ingin berbicara berdua saat anak-anak sekelas telah keluar, tetapi Nozomi malah masuk ke kerumunan anak-anak sekelas untuk keluar kelas. Mau tidak mau, Yuto harus mengikutinya hingga ia berhasil meraih pergelangan tangan Nozomi sebelum Nozomi benr-benar melangkah jauh dari kelas.
“Aku mau bicara.” Singkat dan padat, Yuto berkata demikian dengan raut wajah serius. Itu ekspresi yang menyeramkan bagi Nozomi karena Nozomi tidak pernah melihat wajah seserius itu, ekspresi wajah yang lebih pada menyimpan amarah.
Nozomi menundukkan wajah, tidak berani melihat ekspresi wajah itu. Ia juga tidak mau mata bekas menangisnya masih bisa terlihat. Ia tidak memiliki luang untuk berbohong demi memanipulasi apa yang dirasakannya.
“No-chan!” Yuto mengangkat dagu itu, meminta supaya Nozomi menatapnya.
Kedua mata mereka bertemu. Nozomi menatap takut-takut, berusaha mengendalikan diri supaya tidak terlihat memang takut-takut. Tetapi jemari Yuto lama bersarang di dagunya. Tiba-tiba, Yuto merasakan debar jantungnya yang meningkat saat melakukan itu pada Nozomi. Wajah seriusnya berubah menjadi gugup.
“Maaf!” Yuto segera menurunkan tangannya, membuang muka.
“Maaf juga.” Nozomi akan membalikkan badan, ia tidak mau berbicara banyak dengan Yuto. Tetapi sekali lagi, pergelangan tangannya diraih Yuto.
“Maaf untuk apa? Aku memanggil No-chan karena aku ingin nanya kenapa kamu nangis.” Yuto telah melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Nozomi.
“Eh? Untuk apa? Aku tidak bisa cerita. Meski kau orangtuaku, aku tidak akan bercerita.”
“Hah? Apa hubungannya dengan orangtuamu?”
“Hubungannya karena biasanya seorang anak akan butuh orangtua saat bermasalah. Maka, aku tidak melakukan itu. Kekhawatiran mereka malah membuatku tidak tenang.”
Yuto tertegun mendengarnya. Tetapi kembali lagi, ia berkata, “Baiklah. Aku tidak akan ikut campur. Tapi masalahnya, tadi aku liat kamu dan Sayu-chan. Kenapa dia melukaimu? Kenapa kamu diam saja? Ada apa dengan kalian?”
“Seperti yang kubilang. Aku tidak akan bercerita, meski orang itu memaksa. Sakit fisik tidak apa-apanya dengan sakit hati!” Nozomi menahan hati saat mengatakannya. Tidak mau ia berdua dengan Yuto, ia kembali membalikkan badan. Tetapi lagi-lagi pergelangan tangan itu kembali diraih si tiang.
“Kamu belum menjelaskan semuanya.” Yuto menghela nafas saat mengatakannya.
“Maksud kamu?”
“Tentang Sayu-chan. Selama ini aku tanya-tanya kamu, kamu menceritakan yang baik-baiknya. Kenapa kamu gak cerita dia punya sisi buruk kayak tadi?”
“Setiap orang punya keburukan. Masak iya aku menceritakan sisi buruk saudaraku? Aku ini kakaknya. Dia akan mencontohku. Aku harus melindunginya.”
“Apa? Melindungi? Kau bahkan dilukainya!”
“Kau tidak tau apa-apa, Yuto-kun.”
“Maka dari itu karena aku tidak tau apa-apa, beritau aku! Kenapa kamu sembunyika hal lain tentang Sayumi? Aku tau tiap orang punya keburukan. Tetapi keburukan yang seperti apa dulu? Keburukan bila memang namanya keburukan, bukan untuk dipelihara, tetapi untuk dikurangi. Kecuali kalau orang bersangkutan memang berhati batu karena tidak mau mendengar nasihat orang lain!”
Nozomi menelan air ludah mendengarnya. Ia memandang Yuto dengan wajah ke bawah tetapi pandangan ke atas. Ia tidak bisa membalas ucapab Yuto karena memang apa yang diucapkan Yuto adalah Sayumi yang sebenarnya, gadis berhati batu.
Nozomi tertunduk.
“Kenapa kamu diam saja?” Yuto menunggu Nozomi menyahut.
“Sudah kubilang, aku ini kakaknya! Kamu gak tau apa-apa!” Nozomi mengangkat wajahnya, hampir memaki saat mengatakan itu. Airmatanya meluap.
“No-chan…???” Yuto terkejut dengan Nozomi yang marah tetapi terlihat seperti menahan sesuatu dari dalam hati. Sesuatu yang menyesakkan.
“Maaf, sekali lagi aku minta maaf! Aku mau pulang!” Nozomi mendesis. Ia tidak bisa lagi menahan, dan membalikkan badan menuju jalan pulang.
Yuto terpaku diam di tempat. Memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan Nozomi. Padahal ia ingin mengonfirmasi apa yang diucapkan Nakaken, tetapi yang didapatnya malah Nozomi yang menangis, kembali.

Dugaan-dugaan buruk muncul di kepalanya. Mengingat kejadian Sayumi yang memukul Nozomi tadi, ia harus mengusutnya besok. Sebab Sayumi sudah terlihat pulang lebih dulu setelah memandang Yuto dengan wajah takut. Takut karena sisi lainnya terbongkar.

No comments:

Post a Comment