Ayah
ibu mengetahui putri keduanya pacaran. Saat di mall saat sedang melihat diskon
besar-besaran hingga masuk mall dan melihat Sayumi sedang bergandengan tangan
dengan seorang pemuda jangkung. Keduanya terlihat mesra, saling memegangi
pinggang sembari melihat-lihat sekitar. Sesekali si pemuda mengusap wajah
Sayumi, memainkan bibir Sayumi seperti memanyunkan lalu tersenyum masam, begitu
seterusnya. Dua anak muda itu terlihat sedang dimabuk asmara. Satu kali, si
jangkung itu mengecup rambut Sayumi.
Ayah
tidak bisa menghampirinya, hanya bisa membuntuti dan lalu memilih pulang. Hatinya
kecewa telah ditipu, karena Sayumi mengatakan bahwa hari itu ia akan belajar di
rumah teman. Tetapi apa yang dikatakan tidak sesuai apa yang dilihat. Sepulang
ke rumah, ayah menghampiri Nozomi dan meminta pertanggungjawaban sebagai kakak.
Nozomi
terkejut mendengarnya. Jantungnya seperti disambar petir. Tetapi ia berusaha
‘memaklumi’, karena Sayumi dan Yuto memang sedang berbunga-bunganya. Namun rasa
cemburu membuatnya tidak bisa berfikir jernih untuk mencari kebohongan demi
melindungi sang adik. Terpaksa, ia berterus terang. Nozomi menjadi makian ayah
karena tidak bisa menjaga adiknya. Mendengar makian ayah, ditambah rasa sakit
karena mendengar apa yang telah dilihat ayah, Nozomi tidak bisa lagi menahan
tangis. Segera ibu melerai, merengkuh Nozomi.
Di dalam kamar, ibu meminta penjelasan Nozomi
secara baik-baik mengenai Sayumi. Dengan bersikap seolah-olah masih membela
Sayumi¾padahal
airmatanya adalah karena Yuto dan Sayumi¾Nozomi meminta
supaya ibu jangan mengekangnya dan adiknya.
“Mungkin
memang sudah waktunya, bu. Sayumi sudah besar…”
Ibu
tersenyum bijak. “Sudah besar? Apa itu tandanya kau juga sudah ada yang punya?”
tanyanya seraya tersenyum jahil.
Nozomi
menurunkan pandangannya. “Nozomi tidak memikirkan hal itu dulu…”
“Ayo,
nak. Tidak apa. Jujur saja. Ibu janji tidak akan cerita pada ayah. Ayahmu itu
berlebihan. Ibumu ini juga pernah pacaran. Maklum, ayahmu itu belum pernah
pacaran kecuali dijodohin ibu untuk menikah oleh orangtua kamu.”
“Oh?
Jadi ibu…” Nozomi tertarik dengan kisah cinta ibunya.
“Iya,
nak. Kalau memang kamu memiliki seseorang yang spesial, tidak apa kau menjalin
hubungan dengannya. Asal, kau jaga diri. Jangan pernah mencoba seks bebas.”
Nozomi
tersenyum mendengarnya karena ibunya bisa diajak berbicara, tetapi juga membenci
mendengarnya karena setiap orang yang disuka selalu direbut Sayumi. Ingin ia utarakan itu, tetapi itu terlalu
kekanak-kanakkan. Ia pun memilih pertanyaan lain demi mengalihkan apa yang
dirasakannya. “Lalu bagaimana dengan apa yang dilihat ayah?”
“Baik
kamu bicara dengan Sayumi. Ibu khawatir Sayumi akan melewati batas. Kamu bisa
kan bicara padanya? Kau tua dia susah diatur. Kalian lagi gak bermasalah kan?”
“Nozomi
akan bicara pada Sayumi.”
Ibu
mengangguk, ia mengecup sayang kening putri pertamanya.
Saat
Sayumi pulang, ayah marah-marah tentang apa yang dilihatnya. Dan ibu segera
melerai, meminta supaya mengizinkan saja Sayumi pacaran asal tidak mengenal
seks bebas. Ayah pun terdiam, mencoba memahami darah anak muda dari
anak-anaknya. Kalau sudah ibu yang bicara, maka ayah akan menurut. Hanya ibu yang bisa meredam amarah ayah.
>>>のぞみ<<<
Esoknya,
Sayumi menceritakan hal itu pada Yuto. Mengatakan amarah ayah, sampai ayah
akhirnya memberi izin untuk pacaran. Mendengar itu, Yuto tidak bisa menahan
diri untuk memeluk pacaranya itu dengan gembira. Saat itu di jalan menuju sekolah.
Nozomi dan Sayumi yang jalan berdua, bertemu Yuto di tengah jalan. Nozomi
menurunkan pandangannya saat Sayumi dan Yuto berpelukan.
Melihat
Nozomi terlihat murung, Yuto bertanya, “ No-chan? Kau tidak apa-apa?”
“Eh?”
Sayumi melepas pelukannya. Ia memandang kakaknya dan pacarnya bergantian. Ia
lalu kembali menceriakan wajahnya dan mengatakan bahwa kata izin dari ayah
tidak akan keluar dari mulut ayah kalau Nozomi tidak berbicara pada ibu.
“Oh?
Iya?” Yuto kembali memasang wajah senangnya. “Terima kasih, No-chan!”
Nozomi
mengangguk senyum. Senyum itu terlihat hambar. Mata itu juga terus menunduk.
Dengan suara datar, ia mengajak sepasang kekasih itu kembai jalan ke sekolah.
Selama jalan bertiga itu, diam-diam Yuto curiga kenapa Nozomi terus terlihat
muram.
Kemuraman
yang terus terlihat meski sudah di kelas. Meski Ninomiya-sensei sudah bekerja
sama menjahilinya supaya tertawa, bahkan meski Yabu-sensei memelototinya karena
ia tertarik juga memancing tawa Nozomi. Tetapi Nozomi hanya tersenyum demi
menghargai guru-guru itu. Hatinya, tetap berderai tidak terbentuk. Ia tidak
berselera belajar. Diam-diam di sela-sela tugasnya telah selesai ia menulis
sesuatu di secarik kertas yang dirobeknya. Menulis sesuatu yang juga sama
muramnya dengan dirinya kini.
Kemuraman
itu tidak bisa dilihat Yuto karena ia duduk di belakang sekali. Malah, saat jam
istirahat akan melewati Nozomi untuk keluar kelas, ia menegur dengan senyum,
meminta supaya Nozomi jangan memasang wajah muram. Tetapi langkah Yuto terhenti
karena ia melihat airmata Nozomi.
“No-chan?”
Rasa khawatir Yuto tidak palsu.
Nozomi
yang sudah ketahuan menangis, segera keluar kelas. Ia tidak mau Yuto melihat
airmatanya yang akan menderas. Dicarinya tempat sepi, ia akan menangis di sana.
Lepas.
>>>のぞみ<<<
Itu
airmata pertama yang Yuto lihat dari Nozomi. Ia merasa bahwa memang ada yang
tidak beres dengan temannya itu. Khawatir, ia lalu menceritakanya pada Sayumi.
Meminta supaya Sayumi berbicara pada Nozomi.
Kecurigaan
muncul dari diri Sayumi setelah sang pacar mengutarakan itu. Ia bukan tipikal
yang perhatian dengan kesedihan kakaknya. Tetapi ia tidak bisa menolak. Demi
sang pacar, ia memenuhi permintaan itu. Jam istirahat itu, Sayumi diminta
mencari Nozomi dan makan bersama Nozomi. Sementara Yuto, ia akan diam-diam
mengikuti. Tanpa disadarinya, Nakaken juga mengikuti.
Nozomi
berada di taiikukan. Yuto seharusnya
sudah menduga demikian. Ia mengamati dari jauh, mengintip. Sayumi mendekati
Nozomi. Duduk berdua berhadapan. Terlihat Nozomi sedang makan denga wajah
murung seorang diri.
Sayumi
mulai bertanya kenapa kakaknya itu. Tetapi tidak terlihat bahwa Nozomi menjawab
selain menunduk. Sayumi pun ikut diam, mengikuti sang kakak. Lama-lama, Sayumi
berkacak pinggang, mendekati kakaknya, menepuk pelan kepala kakaknya dengan
songong. Nozomi tetap diam. Sampai Sayumi sebal, ia mendekati kakaknya sekali
lagi, mengambil kotak makanan dan minuman kakaknya, menagih jawaban seperti
preman menagih hutang. Nozomi yang semakin sebal, mencubit lengan kakaknya
kuat-kuat sampai wajah kakaknya berekspresi kesakitan.
Yuto
terkejut bukan main. Ia membelalakkan mata. Inilah sisi sebenarnya kehidupan
Nozomi dan Sayumi yang sebenarnya? pikirnya.
Tidak
hanya sampai di situ, Sayumi lalu menampar kakaknya. Kakaknya hanya memandang
sengit Sayumi. Sampai Sayumi berdiri, membawa bekal yang tidak jadi dibukanya.
Ketika itulah, Nozomi yang bermaksud ingin meraih tangan Sayumi, malah kena
kotak bekal makanan Sayumi sampai jatuh dan isinya jatuh berserakan. Reflek,
Sayumi memukul kepala kakaknya dengan kotak makanan. Keras-keras.
Pemandangan
itu tidak bisa ditolerir, Yuto segera masuk. Kata pertama yang keluar dari
mulutnya adalah nama sang pacar.
Sayumi
menoleh, kaget. Tidak sengaja ia melihat Nakaken yang juga akan masuk, tetapi
kembali keluar lagi setelah melihat Sayumi melihatnya.
“Apa
yang kamu lakukan ke kakak kamu?!” Yuto menarik tangan Sayumi, menatap kecewa.
Yang ditatap, menghindar dari pandangan.
Melihat
dua sejoli itu bertengkar, Nozomi segera bergegas mengemas bekalnya. Ia berlari
keluar taiikukan. Ia tidak mau ikut
campur. Ia berbuat masa bodoh saat Yuto memanggilnya. Ia tidak mau menjadi
pemecah belah hubungan Yuto dan Sayumi.
Nozomi
hilang dari pandangan, Yuto heran. Tidak sengaja, ia melihat seseorang yang
diduga sedang mengintip. Dengan tangan yang masih memegang lengan Sayumi, Yuto
berjalan mendekati si pengintip. Dengan sebuah ide jahil, ia kejutkan si
pengintip yang ternyata Nakaken itu. Yuto dan Sayumi tergelaj melihat reaksi
kaget Nakaken.
“Ngapaian
lu di sini?” tanya Yuto dengan galak-galak jenaka.
Nakaken
terlihat gelagapan, karena ia tertangkap basah. Saat itulah, perlahan Yuto
memandag Sayumi. Tatapan Yuto menagih jawaban Sayumi atas apa yang dilihatnya
tadi. Kenapa Sayumi memukul Nozomi.
Yuto
melontarkan pertanyaan yang sama. Menunggu. Bahkan Nakaken pun. Tetapi Sayumi
meminta supaya tangannya dilepas dulu. Namun saat dilepas itulah, ia kabur.
Yuto mengejar, Nakaken mencegah. Sebuah isyarat mata dari Nakaken pada Yuto.
“Lu
udah ketipu sama cewek itu!”
“Apa
lu bilang?”
Nakaken
tidak segera menjawab. Ia menarik nafas panjang. Ia lalu mengaku bahwa ia
sempat menyukai Sayumi. Tapi semuanya berubah sejak Nakaken memutuskan menjadi
penggemar misterius bagi Sayumi, dan mendapat sesuatu yang mengejutkan dari
hasil mata-matanya sebagai penggemar misterius, bukan kini ia sudah menjadi
mantan penggemar.
Dengan
perasaan dirundung kekecewaan teramat sangat, Nakaken menceritakan hasil
pengamatannya terhadap Sayumi, bahkan hubungan Sayumi dengan Nozomi sebagai
kakak beradik. Topeng mereka terutama topeng Sayumi segera dibongkar.
No comments:
Post a Comment