Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Friday, August 19, 2016

Part 5 : Izin Pacaran (That's What Make You Beautiful)

Ayah ibu mengetahui putri keduanya pacaran. Saat di mall saat sedang melihat diskon besar-besaran hingga masuk mall dan melihat Sayumi sedang bergandengan tangan dengan seorang pemuda jangkung. Keduanya terlihat mesra, saling memegangi pinggang sembari melihat-lihat sekitar. Sesekali si pemuda mengusap wajah Sayumi, memainkan bibir Sayumi seperti memanyunkan lalu tersenyum masam, begitu seterusnya. Dua anak muda itu terlihat sedang dimabuk asmara. Satu kali, si jangkung itu mengecup rambut Sayumi.
Ayah tidak bisa menghampirinya, hanya bisa membuntuti dan lalu memilih pulang. Hatinya kecewa telah ditipu, karena Sayumi mengatakan bahwa hari itu ia akan belajar di rumah teman. Tetapi apa yang dikatakan tidak sesuai apa yang dilihat. Sepulang ke rumah, ayah menghampiri Nozomi dan meminta pertanggungjawaban sebagai kakak.
Nozomi terkejut mendengarnya. Jantungnya seperti disambar petir. Tetapi ia berusaha ‘memaklumi’, karena Sayumi dan Yuto memang sedang berbunga-bunganya. Namun rasa cemburu membuatnya tidak bisa berfikir jernih untuk mencari kebohongan demi melindungi sang adik. Terpaksa, ia berterus terang. Nozomi menjadi makian ayah karena tidak bisa menjaga adiknya. Mendengar makian ayah, ditambah rasa sakit karena mendengar apa yang telah dilihat ayah, Nozomi tidak bisa lagi menahan tangis. Segera ibu melerai, merengkuh Nozomi.
 Di dalam kamar, ibu meminta penjelasan Nozomi secara baik-baik mengenai Sayumi. Dengan bersikap seolah-olah masih membela Sayumi¾padahal airmatanya adalah karena Yuto dan Sayumi¾Nozomi meminta supaya ibu jangan mengekangnya dan adiknya.
“Mungkin memang sudah waktunya, bu. Sayumi sudah besar…”
Ibu tersenyum bijak. “Sudah besar? Apa itu tandanya kau juga sudah ada yang punya?” tanyanya seraya tersenyum jahil.
Nozomi menurunkan pandangannya. “Nozomi tidak memikirkan hal itu dulu…”
“Ayo, nak. Tidak apa. Jujur saja. Ibu janji tidak akan cerita pada ayah. Ayahmu itu berlebihan. Ibumu ini juga pernah pacaran. Maklum, ayahmu itu belum pernah pacaran kecuali dijodohin ibu untuk menikah oleh orangtua kamu.”
“Oh? Jadi ibu…” Nozomi tertarik dengan kisah cinta ibunya.
“Iya, nak. Kalau memang kamu memiliki seseorang yang spesial, tidak apa kau menjalin hubungan dengannya. Asal, kau jaga diri. Jangan pernah mencoba seks bebas.”
Nozomi tersenyum mendengarnya karena ibunya bisa diajak berbicara, tetapi juga membenci mendengarnya karena setiap orang yang disuka selalu direbut Sayumi. Ingin ia utarakan itu, tetapi itu terlalu kekanak-kanakkan. Ia pun memilih pertanyaan lain demi mengalihkan apa yang dirasakannya. “Lalu bagaimana dengan apa yang dilihat ayah?”
“Baik kamu bicara dengan Sayumi. Ibu khawatir Sayumi akan melewati batas. Kamu bisa kan bicara padanya? Kau tua dia susah diatur. Kalian lagi gak bermasalah kan?”
“Nozomi akan bicara pada Sayumi.”
Ibu mengangguk, ia mengecup sayang kening putri pertamanya.
Saat Sayumi pulang, ayah marah-marah tentang apa yang dilihatnya. Dan ibu segera melerai, meminta supaya mengizinkan saja Sayumi pacaran asal tidak mengenal seks bebas. Ayah pun terdiam, mencoba memahami darah anak muda dari anak-anaknya. Kalau sudah ibu yang bicara, maka ayah akan menurut. Hanya ibu yang bisa meredam amarah ayah.
>>>のぞみ<<<
Esoknya, Sayumi menceritakan hal itu pada Yuto. Mengatakan amarah ayah, sampai ayah akhirnya memberi izin untuk pacaran. Mendengar itu, Yuto tidak bisa menahan diri untuk memeluk pacaranya itu dengan gembira. Saat itu di jalan menuju sekolah. Nozomi dan Sayumi yang jalan berdua, bertemu Yuto di tengah jalan. Nozomi menurunkan pandangannya saat Sayumi dan Yuto berpelukan.
Melihat Nozomi terlihat murung, Yuto bertanya, “ No-chan? Kau tidak apa-apa?”
“Eh?” Sayumi melepas pelukannya. Ia memandang kakaknya dan pacarnya bergantian. Ia lalu kembali menceriakan wajahnya dan mengatakan bahwa kata izin dari ayah tidak akan keluar dari mulut ayah kalau Nozomi tidak berbicara pada ibu.
“Oh? Iya?” Yuto kembali memasang wajah senangnya. “Terima kasih, No-chan!”
Nozomi mengangguk senyum. Senyum itu terlihat hambar. Mata itu juga terus menunduk. Dengan suara datar, ia mengajak sepasang kekasih itu kembai jalan ke sekolah. Selama jalan bertiga itu, diam-diam Yuto curiga kenapa Nozomi terus terlihat muram.
Kemuraman yang terus terlihat meski sudah di kelas. Meski Ninomiya-sensei sudah bekerja sama menjahilinya supaya tertawa, bahkan meski Yabu-sensei memelototinya karena ia tertarik juga memancing tawa Nozomi. Tetapi Nozomi hanya tersenyum demi menghargai guru-guru itu. Hatinya, tetap berderai tidak terbentuk. Ia tidak berselera belajar. Diam-diam di sela-sela tugasnya telah selesai ia menulis sesuatu di secarik kertas yang dirobeknya. Menulis sesuatu yang juga sama muramnya dengan dirinya kini.
Kemuraman itu tidak bisa dilihat Yuto karena ia duduk di belakang sekali. Malah, saat jam istirahat akan melewati Nozomi untuk keluar kelas, ia menegur dengan senyum, meminta supaya Nozomi jangan memasang wajah muram. Tetapi langkah Yuto terhenti karena ia melihat airmata Nozomi.
“No-chan?” Rasa khawatir Yuto tidak palsu.
Nozomi yang sudah ketahuan menangis, segera keluar kelas. Ia tidak mau Yuto melihat airmatanya yang akan menderas. Dicarinya tempat sepi, ia akan menangis di sana. Lepas.
>>>のぞみ<<<
Itu airmata pertama yang Yuto lihat dari Nozomi. Ia merasa bahwa memang ada yang tidak beres dengan temannya itu. Khawatir, ia lalu menceritakanya pada Sayumi. Meminta supaya Sayumi berbicara pada Nozomi.
Kecurigaan muncul dari diri Sayumi setelah sang pacar mengutarakan itu. Ia bukan tipikal yang perhatian dengan kesedihan kakaknya. Tetapi ia tidak bisa menolak. Demi sang pacar, ia memenuhi permintaan itu. Jam istirahat itu, Sayumi diminta mencari Nozomi dan makan bersama Nozomi. Sementara Yuto, ia akan diam-diam mengikuti. Tanpa disadarinya, Nakaken juga mengikuti.

Nozomi berada di taiikukan. Yuto seharusnya sudah menduga demikian. Ia mengamati dari jauh, mengintip. Sayumi mendekati Nozomi. Duduk berdua berhadapan. Terlihat Nozomi sedang makan denga wajah murung seorang diri.
Sayumi mulai bertanya kenapa kakaknya itu. Tetapi tidak terlihat bahwa Nozomi menjawab selain menunduk. Sayumi pun ikut diam, mengikuti sang kakak. Lama-lama, Sayumi berkacak pinggang, mendekati kakaknya, menepuk pelan kepala kakaknya dengan songong. Nozomi tetap diam. Sampai Sayumi sebal, ia mendekati kakaknya sekali lagi, mengambil kotak makanan dan minuman kakaknya, menagih jawaban seperti preman menagih hutang. Nozomi yang semakin sebal, mencubit lengan kakaknya kuat-kuat sampai wajah kakaknya berekspresi kesakitan.
Yuto terkejut bukan main. Ia membelalakkan mata. Inilah sisi sebenarnya kehidupan Nozomi dan Sayumi yang sebenarnya? pikirnya.
Tidak hanya sampai di situ, Sayumi lalu menampar kakaknya. Kakaknya hanya memandang sengit Sayumi. Sampai Sayumi berdiri, membawa bekal yang tidak jadi dibukanya. Ketika itulah, Nozomi yang bermaksud ingin meraih tangan Sayumi, malah kena kotak bekal makanan Sayumi sampai jatuh dan isinya jatuh berserakan. Reflek, Sayumi memukul kepala kakaknya dengan kotak makanan. Keras-keras.
Pemandangan itu tidak bisa ditolerir, Yuto segera masuk. Kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah nama sang pacar.
Sayumi menoleh, kaget. Tidak sengaja ia melihat Nakaken yang juga akan masuk, tetapi kembali keluar lagi setelah melihat Sayumi melihatnya.
“Apa yang kamu lakukan ke kakak kamu?!” Yuto menarik tangan Sayumi, menatap kecewa. Yang ditatap, menghindar dari pandangan.
Melihat dua sejoli itu bertengkar, Nozomi segera bergegas mengemas bekalnya. Ia berlari keluar taiikukan. Ia tidak mau ikut campur. Ia berbuat masa bodoh saat Yuto memanggilnya. Ia tidak mau menjadi pemecah belah hubungan Yuto dan Sayumi.
Nozomi hilang dari pandangan, Yuto heran. Tidak sengaja, ia melihat seseorang yang diduga sedang mengintip. Dengan tangan yang masih memegang lengan Sayumi, Yuto berjalan mendekati si pengintip. Dengan sebuah ide jahil, ia kejutkan si pengintip yang ternyata Nakaken itu. Yuto dan Sayumi tergelaj melihat reaksi kaget Nakaken.
“Ngapaian lu di sini?” tanya Yuto dengan galak-galak jenaka.
Nakaken terlihat gelagapan, karena ia tertangkap basah. Saat itulah, perlahan Yuto memandag Sayumi. Tatapan Yuto menagih jawaban Sayumi atas apa yang dilihatnya tadi. Kenapa Sayumi memukul Nozomi.
Yuto melontarkan pertanyaan yang sama. Menunggu. Bahkan Nakaken pun. Tetapi Sayumi meminta supaya tangannya dilepas dulu. Namun saat dilepas itulah, ia kabur. Yuto mengejar, Nakaken mencegah. Sebuah isyarat mata dari Nakaken pada Yuto.
“Lu udah ketipu sama cewek itu!”
“Apa lu bilang?”
Nakaken tidak segera menjawab. Ia menarik nafas panjang. Ia lalu mengaku bahwa ia sempat menyukai Sayumi. Tapi semuanya berubah sejak Nakaken memutuskan menjadi penggemar misterius bagi Sayumi, dan mendapat sesuatu yang mengejutkan dari hasil mata-matanya sebagai penggemar misterius, bukan kini ia sudah menjadi mantan penggemar.

Dengan perasaan dirundung kekecewaan teramat sangat, Nakaken menceritakan hasil pengamatannya terhadap Sayumi, bahkan hubungan Sayumi dengan Nozomi sebagai kakak beradik. Topeng mereka terutama topeng Sayumi segera dibongkar.

No comments:

Post a Comment