Bel
istirahat berbunyi. Semua anak-anak di kelas berhamburan keluar kelas. Beberapa
ada yang tetap di kelas karena membawa bekal. Termasuk Nozomi. Ia mengeluarkan
kotak makanannya, dan menaruh botol minum di sampingnya. Tetapi saat akan
membuka, si tiang di kelasnya menghampirinya.
“Nozomi-chan?
Lagi makan? Sendiri?”
“Iya.
Ada apa?” Nozomi menjawab sewajarnya. Sejak mengetahui bahwa Nakajima dan
Sayumi saling menyukai, perasaan Nozomi selalu tersayat setiap berbicara dengan
Nakajima. Tetapi perasaan itu tidak pernah ditampilkan karena termanipulasi
oleh wajah datar itu.
“Bisa
makan berdua? Aku mau bicara. Di taiikukan.
Bisa?” Nakajima memohon. Ini permohoannya yang ke sekian.
Nozomi
menarik sebelah bibirnya. Ia ingin menolak, sebab ia sudah apa mau Nakajima
darinya. Seperti kisah di buku atau film yang bergenre romans, bahwa ada sebuah
kisah romans tentang seseorang yang apabila menyukai seorang yang disukai, maka
seseorang itu akan mendekati orang terdekat orang yang disukai demi ingin tau
seputar orang yang disukai. Nakajima tengah melakukan itu pada Nozomi. Tidak
kali ini, tetapi juga kali sebelumnya, sejak kabar dirinya yang menyukai Sayumi
menyebar.
Ingin
Nozomi menolak karena ia sudah berulang kali berbohong mengenai Sayumi yang
dikenal berhati emas itu. Aka tetapi, ia tidak akan membiarkan Nakajima dan
Sayumi pacaran tanpa melibatkan dirinya. Nozomi penasaran, maka ia menjawab
‘iya’ seraya mengangguk.
Nakajima
terlihat lega. Kemudian ia berkata, “Ohya mulai sekarang jangan panggil aku
Nakajima-san. Panggillah Yuto. Kita sudah teman kan?”
“Ah,
baik.” Nozomi mengangguk sewajarnya. Teman?
Tidak
ada waktu lagi untuk berdiskusi dengan diri, Nozomi segera berkemas membawa
bekalnya. Ke taiikukan dengan Yuto
yang juga membawa bekal. Gadis-gadis di kelasnya menatap cemburu berupa
mulut-mulut yang manyun. Nozomi tidak pernah memusingkan itu.
Di
taiikukan.
Memang
hanya ada mereka berdua. Sengaja dipilih Yuto supaya tidak ada yang melihat
aneh-aneh karena ia berbicara dengan Nozomi. Begitu katanya. Tetapi menurut Nozomi,
justru pure hanya berdua inilah yang
menimbulkan masalah. Namun hal itu tidak pernah diungkapkan Nozomi. Ia hanya
mengikuti. Makan berdua dengan perasaan khawatir.
“Sayumi
itu benar adikmu ya?” tanyanya setelah mencicipi bekal Nozomi, begitu juga sebaliknya.
Itu bukan lagi pertanyaan pertama.
“Iya.”
Nozomi sebal di dalam hati. Sebab semua orang mempertanyakan itu. Wajah yang
tidak mirip membuat orang tidak percaya bahwa ia dan Sayumi beradikkakak.
“Kandung?
Ayah ibu sama?”
Nozomi
berdecak. “Yuto-san gak percaya? Ayo tes DNA!”
Yuto
tertawa melihat Nozomi yang sebal. Memang itu yang diinginkannya, melihat
ekspresi lain Nozomi. Nozomi hanya diam, tidak mengerti kenapa Yuto tertawa
terlihat sebegitu bahagianya. Tetapi ia memilih tidak ambil pusing.
“Hey,
jangan ada kata ‘san’ di belakang namaku. Kan sudah kubilang, kita teman.”
“Baik.
Yuto-kun. Bagaimana?”
“Kamu
ini…” Yuto semakin tertawa melihat
“Apa
ada yang lucu?” Nozomi tersenyum, menahan tawa.
“Coba
kau lihat adikmu, dia mudah tersenyum. Seharusnya adik mengikuti kakak!”
Senyum
Nozomi yang semula tulus menjadi palsu. Ia hanya bisa mengalihkan perasaan
ibanya itu dengan merasakan makanannya yang masih tersisa. Melihat Nozomi asyik
dengan makanan, Yuto ikut menikmati bekalnya. Sampai bekal itu selesai, baru
mereka mengobrol lagi.
“Mengenai
Sayumi, apakah dia sudah ada yang memiliki?”
“Tidak.
Dia sedang kosong.”
“Bisa
saja kau, No-chan!”
“Memangnya
kenapa sih kamu tanya-tanya mulu ke aku? Kan kita udah sering bahas begini.
Kenapa tidak langsung temui, tembak dia!” Nozomi gerget, ia lepas begitu saja
lidahnya.
“Eh?
Benar? Tidak apa?” Yuto terlihat terkejut, tetapi senang.
“Apa
yang ‘tidak apa’?”
“Aku
tidak enak denganmu. Kamu masih sendiri. Apa aku bantu carikan untukmu?” Yuto
menatap jahil.
Nozomi
hanya tersenyum. Di dalam hati ia miris, dan ingin menangis.
“Baiklah
kalau begitu. Aku sudah mendapat restu kakaknya, maka aku akan tancap gas!”
Nozomi
membuka matanya lebar-lebar, kaget. Tidak, ia segera menyembunyikan kagetnya.
“Lalu kapan kamu menembaknya?” tagih Nozomi, pura-pura menggoda jahil.
“Pulang
sekolah. Aku sudah menetapkan ini.”
Nozomi
ingin menggigit bibir bawahnya untuk menenangkan dirinya. Tetapi ia tidak mampu
melakukannya, takut bahas tubuhnya itu bisa dibaca Yuto. “Semoga berhasil.”
“No-chan
tenang saja, aku akan carikan juga untuk No-chan. No-chan mau yang seperti apa?
Tampan? Kaya?”
“Apa
sih… aku sedang tidak mencari jodoh…”
Yuto
tertawa kecil. “Jadi, seperti apa tipe No-chan? Ayo cerita. Aku tidak berduaan,
sementara kamu sendiri…”
“Sudahlah.
Aku tidak memiliki waktu untuk pacaran…” Nozomi terlepas membawa raut wajah
yang muram. Yuto bisa melihat bahasa wajah itu.
“No-chan
kau tidak apa? Kau tidak sedang patah hati kan? Apa kau punya trauma
percintaan?”
Nozomi
tersenyum getir. “Kau menuduhku seolah-olah aku ini baru saja dicerai…”
Yuto
tergelak mendengar tuturan Nozomi.
“Kalau
mau nembak, nembak sana! Aku mau pergi!” Nozomi memasang wajah pura-pura
ngambek. Yuto segera menyusul, tangannya jahil menekan pipi Nozomi yang
menggembung.
Gadis-gadis
penggemar Yuto yang melihat itu hanya bisa meredam api cemburu melihat mereka.
Kalau tidak ingat ucapan Morikawa, Nozomi sudah diinterogasi. Sempat
berpikir-pikir, sebenarnya Yuto menyukai Nozomi atau Sayumi. Hingga Sayumi yang
melihat keakraban mereka juga berfikir demikian. Cemburu itu mengepalkan
tangannya.
Beberapa
anak cowok yang jahil di kelas, mengatai Yuto playboy. Diikuti anak-anak perempuan. Tetapi mereka akan bungkam
pada kejadian pulang sekolah.
Di
belakang sekolah.
Nozomi
diam-diam mengikuti Yuto. Siswa tiang itu menemui Sayumi lebih dulu ke kelas.
Terlihat berbicara sebentar, lalu keduanya turun, berjalan menuju belakang
sekolah. Siswi-siswi penggemar Yuto tang bersorak cemburu, tidak lagi menjadi
perhatian Nozomi. Itu sudah menjadi pemandagan biasa di sekolah. Sekarang, ia
harus memastikan mengenai Yuto dan Sayumi. Ia telah menyingkirkan segala
pikiran dan perasaannya demi melihat Yuto dan Sayumi.
Nozomi
mengamatinya diantara pepohonan. Ia tidak menyadari bahwa ada pasang mata yang
juga tengah mengamati. Laki-laki, perempuan, semua harap-harap cemas dengan apa
yang akan diutarakan Yuto. Namun karena jarak yang tidak memungkinkan, Nozomi
tidak bisa mendengar apa yang Yuto katakan. Yang bisa ia tangkap, Yuto
mengatakan sesuatu dengan senyum-senyum. Ekspresi itu tidak jauh berbeda dengan
ekspresi Sayum yang juga tengah bersemu merah. Keduanya tengah dirundung
bunga-bunga cinta.
Entah
apa yang dikatakan, Yuto lalu membunyikan siulan. Seorang temannya yang juga
sekelas dengan Nozomi kini, datang membawa setangkai bunga. Dengan pandangan
mata yang tetap pada Sayumi, Yuto lalu meraih setangkai bunga itu.
Nozomi
sudah bisa merasakan hati yang rapuh melihat itu. Yuto menyerahkan bunga itu
pada Sayumi seraya mengatakan sesuatu lagi. Dengan malu-malu, Sayumi menerima
bunga itu. Sayumi mengangguk, Yuto membulatkan mata senang, memeluk temannya
yang membawa bunga tadi. Temannya itu sempat memarahi karena pelukan Yuto yang
erat. Yuto tertawa, lalu mengajak pulang bersama. Berpegangan tangan, keduanya
jala pergi.
Nozomi
tertunduk. Ia berusaha mengendalikan dirinya supaya tidak begitu saja
membulirkan airmata untuk kedua ketiga kalinya. Mungkin hatinya sesak, tetapi
ia tidak akan biarkan airmatanya jatuh sia-sia.
Saat
mencoba menarik nafas panjang untuk merasakan rileks, para mata-mata yang
melihat Yuto dan Sayumi tadi langsung keluar mengerubungi temannya Yuto untuk
diinterogasi. Para mata-mata itu menunjukkan wajah kecewa setelah mendengar
cerita temannya Yuto itu.
Seharusnya
itu hal yang lucu. Tetapi Nozomi tidak bisa tersenyum. Dengan perasaan kelabu,
ia berbalik menuju jalan pulang.
No comments:
Post a Comment