Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Friday, August 19, 2016

Part 3 : Di Belakang Sekolah (That's What Make You Beautiful)

                Bel istirahat berbunyi. Semua anak-anak di kelas berhamburan keluar kelas. Beberapa ada yang tetap di kelas karena membawa bekal. Termasuk Nozomi. Ia mengeluarkan kotak makanannya, dan menaruh botol minum di sampingnya. Tetapi saat akan membuka, si tiang di kelasnya menghampirinya.
“Nozomi-chan? Lagi makan? Sendiri?”
“Iya. Ada apa?” Nozomi menjawab sewajarnya. Sejak mengetahui bahwa Nakajima dan Sayumi saling menyukai, perasaan Nozomi selalu tersayat setiap berbicara dengan Nakajima. Tetapi perasaan itu tidak pernah ditampilkan karena termanipulasi oleh wajah datar itu.
“Bisa makan berdua? Aku mau bicara. Di taiikukan. Bisa?” Nakajima memohon. Ini permohoannya yang ke sekian.
Nozomi menarik sebelah bibirnya. Ia ingin menolak, sebab ia sudah apa mau Nakajima darinya. Seperti kisah di buku atau film yang bergenre romans, bahwa ada sebuah kisah romans tentang seseorang yang apabila menyukai seorang yang disukai, maka seseorang itu akan mendekati orang terdekat orang yang disukai demi ingin tau seputar orang yang disukai. Nakajima tengah melakukan itu pada Nozomi. Tidak kali ini, tetapi juga kali sebelumnya, sejak kabar dirinya yang menyukai Sayumi menyebar.
Ingin Nozomi menolak karena ia sudah berulang kali berbohong mengenai Sayumi yang dikenal berhati emas itu. Aka tetapi, ia tidak akan membiarkan Nakajima dan Sayumi pacaran tanpa melibatkan dirinya. Nozomi penasaran, maka ia menjawab ‘iya’ seraya mengangguk.
Nakajima terlihat lega. Kemudian ia berkata, “Ohya mulai sekarang jangan panggil aku Nakajima-san. Panggillah Yuto. Kita sudah teman kan?”
“Ah, baik.” Nozomi mengangguk sewajarnya. Teman?
Tidak ada waktu lagi untuk berdiskusi dengan diri, Nozomi segera berkemas membawa bekalnya. Ke taiikukan dengan Yuto yang juga membawa bekal. Gadis-gadis di kelasnya menatap cemburu berupa mulut-mulut yang manyun. Nozomi tidak pernah memusingkan itu.
Di taiikukan.
Memang hanya ada mereka berdua. Sengaja dipilih Yuto supaya tidak ada yang melihat aneh-aneh karena ia berbicara dengan Nozomi. Begitu katanya. Tetapi menurut Nozomi, justru pure hanya berdua inilah yang menimbulkan masalah. Namun hal itu tidak pernah diungkapkan Nozomi. Ia hanya mengikuti. Makan berdua dengan perasaan khawatir.
“Sayumi itu benar adikmu ya?” tanyanya setelah mencicipi bekal Nozomi, begitu juga sebaliknya. Itu bukan lagi pertanyaan pertama.
“Iya.” Nozomi sebal di dalam hati. Sebab semua orang mempertanyakan itu. Wajah yang tidak mirip membuat orang tidak percaya bahwa ia dan Sayumi beradikkakak.
“Kandung? Ayah ibu sama?”
Nozomi berdecak. “Yuto-san gak percaya? Ayo tes DNA!”
Yuto tertawa melihat Nozomi yang sebal. Memang itu yang diinginkannya, melihat ekspresi lain Nozomi. Nozomi hanya diam, tidak mengerti kenapa Yuto tertawa terlihat sebegitu bahagianya. Tetapi ia memilih tidak ambil pusing.
“Hey, jangan ada kata ‘san’ di belakang namaku. Kan sudah kubilang, kita teman.”
“Baik. Yuto-kun. Bagaimana?”
“Kamu ini…” Yuto semakin tertawa melihat
“Apa ada yang lucu?” Nozomi tersenyum, menahan tawa.
“Coba kau lihat adikmu, dia mudah tersenyum. Seharusnya adik mengikuti kakak!”
Senyum Nozomi yang semula tulus menjadi palsu. Ia hanya bisa mengalihkan perasaan ibanya itu dengan merasakan makanannya yang masih tersisa. Melihat Nozomi asyik dengan makanan, Yuto ikut menikmati bekalnya. Sampai bekal itu selesai, baru mereka mengobrol lagi.
“Mengenai Sayumi, apakah dia sudah ada yang memiliki?”
“Tidak. Dia sedang kosong.”
“Bisa saja kau, No-chan!”
“Memangnya kenapa sih kamu tanya-tanya mulu ke aku? Kan kita udah sering bahas begini. Kenapa tidak langsung temui, tembak dia!” Nozomi gerget, ia lepas begitu saja lidahnya.
“Eh? Benar? Tidak apa?” Yuto terlihat terkejut, tetapi senang.
“Apa yang ‘tidak apa’?”
“Aku tidak enak denganmu. Kamu masih sendiri. Apa aku bantu carikan untukmu?” Yuto menatap jahil.
Nozomi hanya tersenyum. Di dalam hati ia miris, dan ingin menangis.
“Baiklah kalau begitu. Aku sudah mendapat restu kakaknya, maka aku akan tancap gas!”
Nozomi membuka matanya lebar-lebar, kaget. Tidak, ia segera menyembunyikan kagetnya. “Lalu kapan kamu menembaknya?” tagih Nozomi, pura-pura menggoda jahil.
“Pulang sekolah. Aku sudah menetapkan ini.”
Nozomi ingin menggigit bibir bawahnya untuk menenangkan dirinya. Tetapi ia tidak mampu melakukannya, takut bahas tubuhnya itu bisa dibaca Yuto. “Semoga berhasil.”
“No-chan tenang saja, aku akan carikan juga untuk No-chan. No-chan mau yang seperti apa? Tampan? Kaya?”
“Apa sih… aku sedang tidak mencari jodoh…”
Yuto tertawa kecil. “Jadi, seperti apa tipe No-chan? Ayo cerita. Aku tidak berduaan, sementara kamu sendiri…”
“Sudahlah. Aku tidak memiliki waktu untuk pacaran…” Nozomi terlepas membawa raut wajah yang muram. Yuto bisa melihat bahasa wajah itu.
“No-chan kau tidak apa? Kau tidak sedang patah hati kan? Apa kau punya trauma percintaan?”
Nozomi tersenyum getir. “Kau menuduhku seolah-olah aku ini baru saja dicerai…”
Yuto tergelak mendengar tuturan Nozomi.
“Kalau mau nembak, nembak sana! Aku mau pergi!” Nozomi memasang wajah pura-pura ngambek. Yuto segera menyusul, tangannya jahil menekan pipi Nozomi yang menggembung.
Gadis-gadis penggemar Yuto yang melihat itu hanya bisa meredam api cemburu melihat mereka. Kalau tidak ingat ucapan Morikawa, Nozomi sudah diinterogasi. Sempat berpikir-pikir, sebenarnya Yuto menyukai Nozomi atau Sayumi. Hingga Sayumi yang melihat keakraban mereka juga berfikir demikian. Cemburu itu mengepalkan tangannya.
Beberapa anak cowok yang jahil di kelas, mengatai Yuto playboy. Diikuti anak-anak perempuan. Tetapi mereka akan bungkam pada kejadian pulang sekolah.
Di belakang sekolah.
Nozomi diam-diam mengikuti Yuto. Siswa tiang itu menemui Sayumi lebih dulu ke kelas. Terlihat berbicara sebentar, lalu keduanya turun, berjalan menuju belakang sekolah. Siswi-siswi penggemar Yuto tang bersorak cemburu, tidak lagi menjadi perhatian Nozomi. Itu sudah menjadi pemandagan biasa di sekolah. Sekarang, ia harus memastikan mengenai Yuto dan Sayumi. Ia telah menyingkirkan segala pikiran dan perasaannya demi melihat Yuto dan Sayumi.
Nozomi mengamatinya diantara pepohonan. Ia tidak menyadari bahwa ada pasang mata yang juga tengah mengamati. Laki-laki, perempuan, semua harap-harap cemas dengan apa yang akan diutarakan Yuto. Namun karena jarak yang tidak memungkinkan, Nozomi tidak bisa mendengar apa yang Yuto katakan. Yang bisa ia tangkap, Yuto mengatakan sesuatu dengan senyum-senyum. Ekspresi itu tidak jauh berbeda dengan ekspresi Sayum yang juga tengah bersemu merah. Keduanya tengah dirundung bunga-bunga cinta.
Entah apa yang dikatakan, Yuto lalu membunyikan siulan. Seorang temannya yang juga sekelas dengan Nozomi kini, datang membawa setangkai bunga. Dengan pandangan mata yang tetap pada Sayumi, Yuto lalu meraih setangkai bunga itu.
Nozomi sudah bisa merasakan hati yang rapuh melihat itu. Yuto menyerahkan bunga itu pada Sayumi seraya mengatakan sesuatu lagi. Dengan malu-malu, Sayumi menerima bunga itu. Sayumi mengangguk, Yuto membulatkan mata senang, memeluk temannya yang membawa bunga tadi. Temannya itu sempat memarahi karena pelukan Yuto yang erat. Yuto tertawa, lalu mengajak pulang bersama. Berpegangan tangan, keduanya jala pergi.
Nozomi tertunduk. Ia berusaha mengendalikan dirinya supaya tidak begitu saja membulirkan airmata untuk kedua ketiga kalinya. Mungkin hatinya sesak, tetapi ia tidak akan biarkan airmatanya jatuh sia-sia.
Saat mencoba menarik nafas panjang untuk merasakan rileks, para mata-mata yang melihat Yuto dan Sayumi tadi langsung keluar mengerubungi temannya Yuto untuk diinterogasi. Para mata-mata itu menunjukkan wajah kecewa setelah mendengar cerita temannya Yuto itu.

Seharusnya itu hal yang lucu. Tetapi Nozomi tidak bisa tersenyum. Dengan perasaan kelabu, ia berbalik menuju jalan pulang.

No comments:

Post a Comment