Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Sunday, December 1, 2013

Katanya "BesFriend is Power" (bab[1])_5

                Bel pulang sekolah berbunyi. Adisya, Reini, Endah dan Hari menunggu Tiwi. Mutia pun juga berkumpul dengan mereka. Hanya saja Ia lebih dekat dengan Adisya walau sering sinis-sinisan. Dengan Hari, Ia jarang bergaul karena Hari lebih suka bergaul dengan yang cantik dan pintar seperti Endah yang kecantikannya diketahui satu sekolah. Sedangkan Reini adalah siswi yang selalu jadi omongan sekolah karena pacarnya Yuto, siswa yang jadi dambaan para siswi. Reini ini kurang suka bergaul dengan Mutia yang rada tomboy.
                “Ohya, gimana paccar baru kamu, ndah?” tanya Mutia. Ia dan Endah duduk menjauh dari teman-temannya supaya pembicaraan mereka tidak didengar atau terdengar.
                “Hah?” endah terjaga dari lamunannya. “Emang aku cerita ya?”
                “Tadi, ndah. Endah endah….kamu cerita apa aja aku ingat!”
                “Oh…aku lupa. Hm..Mut, padahal aku gak mau pacaran lagi…”
                “Yaudah, putusin…” kata-kata Mutia yang singkat terdengar santai.
                “Tapi, kasian…”
                “Terserah…It’s your choice. Aku sih udah ngingetin.”
                “Yah..gimana dong…?”
                “Ya gimana…ya kamu lah…”
                “Yang tahu ini baru kamu loh…”
                “Tolani!!!” teriak Adisya. Endah terperanjat. Mutia kaget.
                “Kok?Kok lu tau???” kata Endah sambil mendekati Adisya.
                “Eh!lu yang nyebarin di facebook ya!” Adisya memaksakan matanya untuk sinisi Endah. Mutia garuk-garuk kepala. Ia rada jutek. Sabar menghadapi kecerobohan Endah.
                “Adisya!” sapa Tiwi, Adisya yang duduk di kursi kantin, langsung berdiri menyambut sang sahabat.
                “Eh…Yuto. Lu mau bareng kita, to?” ledek Adisya ke Reini.
                “Yuto!Yuto! Nama gua Reini!”
                Tak berapa lama kemudian, kantin dipenuhi anak-anak cowok termasuk anak-anak band di dalamnya. Reini langsung di ceng-cengin karena ada Yuto yang sedang berkumpul dengan teman-teman satu bandnya. Mutia, Endah dan kawan-kawanmemerhatikan mereka. Tiba-tiba Tiwi teriak bahwa mereka berpacaran. Mata Mutia tampak kosong. Ia tidak mengerti dan tidak peduli. Ia hanya peduli Endah. Ia ingin mendengar cerita Endah lagi. Tapi Endah ingin melihat Yuto dan Reini yang terlihat malu-malu kucing. Lagu cinta pun disenandungkan. Mutia bosan dengan lagu cinta. Tidak betah berlama-lama di kantin. Ia tidak mau mengerti segala hal tentang pacaran. Ini masalah prinsip.
                Beberapa menit di kantin, dari mereka ada yang mulai pulang. Saat Mutia akan pulang, Hambali memanggilnya. Hambali mengingatkan Mutia untuk membawa lirik lagu Mutia. Dengan senyum, Mutia mengiyakan. Di kejauhan, Ia melihat Intan menantinya. Ia tak sadar. Saat Ia mulai beranjak, Yuto memerhatikannya. Yuto hanya mendapati kejutekan yang amat sangat dari wajah Mutia. Penasaran.

                “JREENGG!!!!” suara motor mengagetkan seisi kantin. Endah terbelalak melihat si pengendara. Tanpa disadar Ia mangayunkan tangan Adisya. “Itu Taulani!” Endah mulai ditimpa cemas mendadak. Adisya hanya menggumam. Dengan gugup. Endah berpamitan dan manghampiri Taulani. Ia pun dibonceng Taulani dan langsung tancap gas.
                “Semua orang pada punya pacara, boy!” kata Hari pada Adisya dangan nada iri. “Tinggal kita yang belum…”
                “Ah…itu sih derita lu bukan derita gue!” Adisya tampak cuek bebek.
                Sementara itu Taulani mengajak Endah keliling di hari Ia berpacaran dengan Endah. Setelah lelah keliling, mereka mampir di KFC dan memesan krabby patty.
                “Kamu tau gak…aku tuh udah lama nyimpen perasaan ini. Aku bersyukur banget bisa pacaran sama kamu,” Taulani membuka gombalannya sambil menanti pesanan dating.
                Endah hanya senyum-senyum malu. “Gombal!”
                “Serius…”Taulani meyakinkan dan Endah hanya tersenyum.
                “Hm…Ini gak apa-apa kita makan di sini?Ntar mahal loh…” Endah melihat sekelilingnya.
                “Apa sih yang enggak buat calon istri…” Taulani nggombal lagi.
 Tapi Endah kaget mendengarnya. “Calon Istri?” gumam Endah di dalam hati.
Begitu pesanan datang, mereka langsung menyantap makanannya. Saat mereka sedang makan, mereka tidak menyadari kalau mereka diperhatikan terutama Endah. Yang memperhatikan Endah adalah komplotan laki-laki nakal. Saat akan pulang, komplotan itu mulai menggoda Endah walau ada Taulani. Endah yang menyadarinya langsung memegang lengan Taulani spontan. Taulani agak kaget tapi Ia segera sadar kalau ada komplotan yang terus menggoda Endah. Taulani hamper melayani meraka tapi endah melarang dan meminta pulang. Segera Taulani dan Endah ke tempat parker dan tancap gas. Dan para komplotan itu hanya mendapat kepulan asap dai motor Taulani. Taulani pun tertawa puas. Sementara endah menyayangnkan sikap Taulani. Ia hanya menggeleng-geleng.
***
Sore itu, Mutia mengobrak-abrik kamarnya mencari lirik lagu. Intan mengamuk dan memaki-maki Mutia bahkan menjewer telinga sampai merah karena kamarnya berantakan padahal mereka sekamar. Mutia hanya menahan sakit dan tidak memedulikannya sebab Ia tidak suka berkelahi dengan saudara sendiri.
                “Ya ampuuun!!!nih kamar apa perkedel sih???!!!” Mutia meremas rambutnya hingga menggunung.
                “Nanti kak Mut rapiin,” Mutia mulai pasang muka minta belas kasihan. Intan malah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kakaknya itu. Mutia hanya menghela nafas. Ia kembali mencari lirik lagunya. Dan Intan masih tertawa bahkan sambil memuul-mukul pintu. Si bungsu Lukman datang dengan alis mata yang menandakan marah.
                “Weh!!” berisik!” gertak Lukman. Intan tak peduli. Niat usil pun tersirat di pikiran Lukman. Ia mulai menampakan senyum jahat. Ia mendorong kakak keduanya itu yang terpaut empat tahun itu hingga jatuh. Tak terima, Intan pun membalasnya dengan mendoronga adik yang lebih tinggi lima belas senti darinya itu. Lukman pun dengan sigap menahan keseimbangan. Mereka mulai saling mendorong hingga terjadi jambak-jambakan yang dimulai dari Intan. Kertas yang dipegang Lukan pun jatuh. Mutia yang risih mendengar suara kegaduhan mereka pun keluar kamar. Mutia langsung menganga begitu melihat kedua adiknya saling melilit menggunakan tali rapia.
                “Luk, lepasin Kak Intan!” perintah Mutia.
                “Tapi kak…”
                “Luk…man!” mata Mutia mulai main.
                Lukman paling luluh kalau sudah Mutia yang bicara dan Ia pun melepas Intan. Tanpa diduga Intan menjambak rambut Lukman dari belakang hingga Lukman jatuh ke belakang. Dan Intan segera kabur. Saying, Ia terpeleset kertas….Ups!!! dia pun mengaduh karena terjatuh. Pandangan Mutia tertuju pada kertas itu yang tadi sempat dipegang Lukman. Segera Ia ambil kertas itu. Dan supaya tidak berkelahi lagi, Mutia meminta Lukman mengikuti langkahnya kemana Ia pergi. Mutia dan Lukman pun berkumpul bersama ayah dan Ibu yang sedang jaga warung.
                “Ah! Neechan…koko de nani o shimasu ka?” tanya Lukman sambil mengelus-elus kepalanya yang sakit.
                “nani o shimasu ka, nani o shimasuka!” ledek Mutia.
                “Ih biarin sih! Bosen pake bahasa Indonesia, sekali – kali bahasa asing, kek!”
                “Bosen…bosen…Gak usah jadi orang Indonesia!” gertak Mutia.
                “Siapa yang bosen jadi orang Indonesia?” tiba- tiba ayah ikut nimbrung dan suaranya terdengar lantang. Lukman mulai gemetaran. “Gak usah jadi anak ayah!”
                “Ya ampun…sampe segitunya…kan bercanda…” Lukman mulai ngeles.
                “Kamu mau jadi kayak si Intan?Dia udah maniak jepang!Dia lupa kalo dia orang Indonesia!” rupanya ayah belum selesai bicara.
                “Nggak salah kamu suka jepang atau pun barat,” Ibu menambahkan. “ Tapi harus sadar diri. Lihat kakakmu si Intan, dia sampe gak mau tau dengan kesusahan kita dan hanya mementingkan dirinya sendiri! mengumpulkan segala yang berbau jepang! Tidak peduli mahal atau pun murah!”
                “Asal kalian tau ya,” ayah sepertinya ingin bercerita lebih banyak lagi. “Ayah ini dulu fanatic dengan band SCORPION tapi gak sampe lupa diri. Ayah paling beli kasetnya kalo ada uang…ini nggak si Intan…uang laci pun disikat juga!” Ibu pun menggesek sikut ayah karena ayah sudah membicarakan keburukan Intan di depan anak-anaknya yang lain.
                “Ya…tapi kalian gak usah pikirin hal itu. Biar jadi urusan ayah dan Ibu. Ayah pengen kalian akur-akur aja!” dari nada suaranya ayah, jelas kalau topik diakhiri.
                Lukman dan Mutia hanya terdiam. Mereka tidak bertanya macam-macam mengenai Intan yang walaupun mereka sebenarnya sudah mengetahuinya. Dan jam dinding sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Perhatian ayah dan Ibu pun tercuri oleh berita pada jam itu. Mutia hanya menghela nafas sambil memandangi kertas yang dipegangnya. Lukamn juga ikut melihat seperti orang yang melihat contekan.
                “Cie…itu puisi ya kak?” Lukman mulai menggoda kakak sulungnya saat melihat butir-butir huruf yang ada di kertas itu.
                “Puisi?”
                “Itu yang kakak pegang…”
                “Ini lirik lagu, dik. Kakak tuh dari tadi nyariin!!!”
                “Lirik lagu?Kakak yang bikin?”
                “Iya, ini yang terakhir…”
                “Lah?”
                “Kakak lagi gak mood ngarang lagu. Dan ini lagu terakhir yang kakak karang.”
                Lukman masih terlihat belum mengerti.
                “Jadi gini loh, dik…” Mutia mulai merangkul si gantengnya itu. “Karena terlalu banyak lagu cinta yang beredar, makanya kakak ngarang lagu yang lain. Soalnya kakak gak suka lagu cinta karena itu malah melenakan remaja kebanyakan. Tapi kakak pengen keluar karena kakak perempuan sendiri.”
                “Bukannya kakak emang ngumpulnya sama anak cowok ya?Lukman gak pernah tuh liat kakak ketawa sama cewek.”
                “Kakak pengen tobat jadi perempuan feminine…”
                Lukman senyum-senyum mengangguk mengerti. Ia mulai menggoda kakaknya itu. Padahal sebenarnya Mutia berat sekali mengatakan ‘Kakak pengen tobat jadi perempuan feminin’. Tapi Ia  merasa harus membiasakannya.
                “Ngomong-ngomong lagu apa dong yang cocok buat remaja, kak?Kan pantes kali kak kalo lagu remaja itu lagu cinta. Emang masa remaja itu masa yang indah untuk jatuh cinta…”
                Mutia hanya tertawa kecil dan terlihat anggun saat adiknya mengatakan ‘jatuh cinta’. Ia berpikir Lukman sudah mulai mengenal cinta. Di gosoknya rambut adiknya itu dengan telapak tangannya karena saking gemasnya dan sambil berkata, “Ya, karena kita remaja, lagu yang cocok ya lagu semangat lah…karena kita ini penerus bangsa…” Lukman hanya mengangguk-angguk polos.
                “Ntar dulu…” Lukman seperti teringat sesuatu. “Kalau itu lagu yang kakak buat, berarti Lukman salah ding?eh maksudnya ‘dong’!”
                “Salah kenapa?”
                “Tadi kertasnya Lukman bawa ke sekolah. Soalnya ada tugas baca puisi.”
                Wajah Mutia berubah menjadi datar seperti yang di anime – anime jepang. “Oh jadi nih kertas dari tadi sama kamu?”
                “Iya…Tapi nilai Lukman jadi Sembilan. Kirain sepuluh. Tapi gak apa-apa deh, kan biasanya tujuh mulu. Makasih ya, kak!!!”
                “Lukmaaan!!!” Mutia mencekik saying adiknya itu. Lukman mengampun sambil tersenyum. Karena berisik, ayah menyuruh mereka diam. Lukman dan Mutia pun jadi patung yang hanya bisa menahan ketawa.
***
                Keesokan paginya…
                Mutia, Intan dan Lukman terlihat bergandeng tangan dengan seragam sekolah. Hanya Lukman yang lain sendiri karena Ia masih duduk di bangku kelas tujuh dan tentunya Ia masih bercelana biru atau lebih tepatnya baru bercelana biru. Mereka terlihat akur seakan kejadian menyebalkan kemarin tidak pernah ada. Di pertengahan jalan, Lukman mencium tangan Mutia dan Intan karena sekolahnya tidak jauh dari rumahnya. Sementara Mutia dan Intan harus menaiki angkot dulu.
                Setiba di sekolah, Mutia dan Intan disambut guru-guru yang berdiri di depan gerbang masuk sekolah. Kecuali Pak Surya. Guru satu ini hanya senyum pada Intan. Dan Ia lupa kalau Intan adalah adik Mutia.
                “Wah…Intan…Kamu makin imut aja. Jauh beda banget sama yang sebelah kamu,” goda Pak Surya.
                Ini guru?Oh…guru…guru kegatelan…hahahahaha, gumam Mutia di dalam hati sambil menunjukkan senyum tipisnya yang ingin Ia berikan pada Surya. Tapi karena rasa hormat, Ia hanya berikan senyum itu ke ubin.
                Sementara itu, Intan serasa ingin terbang saja saat mendapat pujian itu walau Ia kadang kasian pada kakaknya. Tapi Ia berpikir kalau ini adalah timbal balik karena memang Mutia cuek pada penampilannya sendiri. dan Ia hanya menatap kakaknya dengan tatapan sombong.       “Makanya jadi perempuan, yang feminin. Gak usah sok natural!”
                Mutia hanya merapatkan bibirnya hingga berkerut.
                “Liat tuh…muka ku cerah…bibirku merahmerona…”
                “Merah merona apa  meraha menorak?” suara Mutia terdengar datar didukung juga ekspresinya. Tapi kata-katanya membuat Intan jengkel.
                “Udah…bilang aja iri…dah mendingan versihin tuh muka!” Intan tidak kalah datarnya tapi nada suaranya terdengar ketus.
                “Ee, imoutokun…”
                “ ‘kun’ ?! ” Intan terbelalak tapi kemudian berpikir karena setaunya ‘kun’ hanya ditujukan pada anak laki-laki. Itu yang diajari dalam bahasa jepang di sekolah.
                “Mata lu pitak kali ya…” Intan pun meninggalkan Mutia dan enggan melanjutkan adu misca di sekolah.
                Mutia hanya tersenyum tipis. Jadi misca enak juga ya, gumam Mutia di dalam hati. Ya, misca adalah tokoh dari salah satu sinetron Indonesia yang antagonis tapi tetap tenang dan senang menusuk. Segera Mutia beristighfar. “Astaghfirulllahaladzim…pagi=pagi udah gak enak aja aromanya…” Mutia menghela nafas. Ia pun segera berbalik badan dan hamper saja menabrak Hambali yang juga tidak melihat ke depan saat berjalan.
                “Eh Mutia!Hampir aja!” Hambali terkaget.
                Mutia hanya tersenyum dan menunduk karena Ia tahu apa yang akan Hambali minta nantinya.
                “Bawa gak?” tanya Hambali. Benar dugaan Mutia.
                “Bawa?” Mutia pura-pura tidak tahu. “Oh..bawa kok…”
                “Oh..bagus deh..nanti istirahat ke taman ya.”
                “Iya. Masak ke rumah sakit sih!” Mutia bergurau, mengusir aroma yang tidak enak tadi.
                “Ya udah deh..”
                “OK..ditunggu ya…”



No comments:

Post a Comment