Mereka
pun berpisah dan ke kelas masing-masing. Saat masuk kelas, Mutia melihat sosok
oriental yang jangkungnya melebihi Yudist. “Yuto…” tanpa sadar Mutia menyebut
nama itu berupa bisikan. Seperti ada sesuatu yang menarik dari Yuto, segera
Mutia mengingat hal – hal yang buruk saja tentang masa lalunya waktu SMP dan Ia
mulai kembali menjadi cuek.
Mutia
pun duduk di bangkunya. Dan Yuto melangkah keluar kelas menuju kelasnya setelah
berbincang serius dengan Azril. Detik – detik Yuto akan ke keluar kelas, Mutia
terus melihat Yuto. Seperti ada yang janggal tiap melihat si kuning langsat
itu. Ia seperti memandang Aida – teman sekelas Mutia yang menjadi pacar Azril.
Aida ini memiliki ciri wajah yang unik tidak seperti wajah Indonesia pada
umumnya. Dari pergaulannya, Ia terlihat nakal tapi setelah Mutia melakukan
pendekatan, ternyata Aida lain dari yang lain. Ia tidak memilih – milih teman
dan sangat ramah walau Ia sangat cantik. Tidak seperti Hana yang terkesan
mengumbar dan glamor. Selain karena keramahannya, Aida ini keturunan jepang
asli dari neneknya. Bahkan tiap mereka berdua, Aida selalu menceritakan tentang
kehidupannya waktu di jepang.
“Tunggu
sebentar…” tiba –tiba Mutia tersadar. Ia tersadar kalau Aida itu jepang dan
Yuto juga jepang. Lalu ekspresinya berganti lagi jadi bingung. “Trus kalau
mereka jepang?kenapa?” Mutia bingung sendiri dengan pertanyaan yang Ia buat
untuk dirinya sendiri.
“Assalamualaikum,”
Endah datangdan duduk di sebelah Mutia yang teman sebangkunya. Satu per satu
penghuni XII IPS 3 mulai ngumpul di
kelas dan lama – lama semuanya jadi hadir tanpa tersisa dan sambil menunggu
bel, mereka bergosip-ria. Sementara
Mutia hanya mengulang – ulang lagu yang dikarangnya dengan suara yang rendah. Tanpa disadari, Adi diam – diam mendekati Mutia
dari belakang dan Ia teriak tepat di telinga Mutia. Biasa, cari sensasi. Mutia
yang kaget jantungan, terbelalak dan spontan meninju perut Adi. Mutia menyesali
kehadiran Adi yang amat menyebalkan dan suka mengganggu orang yang sedang
tenang. Ia tidak peduli Adi kesakitan dan jatuh pingsan. Satu kelas melihat Adi
yang terkapar. Mutia sudah mencium akal – akalan Adi yang pura – pura pingsan.
Tiba –tiba Adi bangun dan menggerak – gerakkan kakii kiri Mutia sambil
berteriak dengan sangat cemprengnya mengalahkan Hana. Sedangkan Mutia meneriaki
nama Adi sambil menarik – narik rambutnya. Teman –teman yang lain malah
menertawakan mereka. Karena kesal yang sudah membuncah, Mutia melepaskan
gespernya dan segera mencambuk Adi. Buru – buru Adi bangun dan berlari mencari
persembunyian. Fitri dan Nurumi segera melindungi Adi. Mutia yang sudah sesak
nafas karena kesalnya hanya mencoba menghela nafas. Ia tidak mungkin ke area
Fitri.
“Gak
ada yang boleh masuk ke area gua!” kata – kata itu Fitri lontarkan pada Mutia.
Fitri memang tidak menyukai Mutia hanya karena Mutia sangat pendiam di kelas
dan cenderung jarang bergaul. Dan Mutia memahami itu dan makanya Ia tidak ke
area Fitri yang di pojok dekat jendela. Mutia sadar diri. Ia segera lupakan
kekesalannya pada Adi.
“Assalamualaikum,
minna san…konnichiwa!” suara Niki sensei membuat satu kelas yang sibuk
‘menonton’ Mutia VS Adi menjadi bingung.
“Sensei!
Kan belum bel!” Adi baru berani menampakkan diri dengan melompat dari
jongkoknya. Tingkahnya itu membuat beberapa teman yang lain hanya senyam –
senyum.
“Iya
sekarang buka halaman tujuh di buku paket, “ Sensei seakan tidak mempedulikan
kata –kata Adi dan hanya menampakkan tersenyum dengan ramahnya sekaligus
menutup ritual tertawanya XII IPS 3.
“Ih!
Sensei! Belum bel!” rupanya Adi dongkol juga karena dicuekin.
“Apa
sih! Telinga lu tuh periksa!” sambar Adisya dengan senyum tipisnya.
“Tau
tuh!Periksa temen lu! Eh salah maksudnya telinga lu! Orang suara bel jelas
gitu!” Azril ikut – ikutan.
“Kalimat
lu benerin! Telinga kok jadi temen!” Adi mulai kelihatan macho.
Azril
yang merasa tertantang, berdiri. “Lu berani sama gua?”
“Eh…ampun…ampun..gua
lupa…” Adi kembali jadi lekong lagi hingga yang lain jadi tertawa.
“Udah..udah…emang
kenapa sih kok gak pada ngedengerin semua?” tanya sensei.
“Itu
sensei. Tadi ada atraksi Adi sama Mutia,” Hana menjawab dengan cemprengnya.
“Atraksi?
Atraksi apaan?” tanya sensei lagi sambil menahan tawa.
“Ada
lah sensei…ini urusan anak muda!” gurau Adi dengan sangat kemayu. Sensei hanya tersenyum. Sensei pun kembali
mengajak siswa/siswinya kembali serius belajar dan memperhatikan pola kalimat
baru dari bahasa jepang di papan tulis.
***
Pada
jam isitirahat, Mutia terlihat agak berlari keluar kelas menuju taman sambil
membawa lirik lagunya. Saat Eri menyapanya, Mutia hanya menoleh, senyum sesaat
dan kembali berjalan cepat setengah berlari. Ia pun menuruni tangga untuk ke
lantai dasar. Taman pun tampak. Saat Mutia melihat lapangan futsal, cahaya
matahari menmancarkan cahanya ke anak – anak yang main bola. Rupanya cuaca hari
ini lumayan panas. Tiba – tiba bolanya menggelinding ke arah Mutia. Spontan,
Mutia mengangkat rok abu – abunya hingga tampak celana treningnya, bola itu pun
ditendang. Beberapa anak yang melihat terkesima dibuatnya termasuk anak yang
main bola. Mutia tidak mau mempedulikannya.
Mutia
memberikan senyumnya ada anak Interest band yang sedang ngumpul di taman. Langsung, Mutia duduk bareng mereka dan
meletakkan lirik lagunya di tengah meja permanen. Kertas lirik lagu itu diambil
langsung Joko. Sedangkan Mutia bersandar di bangku permanen. Nafasnya terdengar
tersengal – sengal.
No comments:
Post a Comment