Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Saturday, December 7, 2013

Katanya 'BestFriend is Power" (bab[1])_6

                Mereka pun berpisah dan ke kelas masing-masing. Saat masuk kelas, Mutia melihat sosok oriental yang jangkungnya melebihi Yudist. “Yuto…” tanpa sadar Mutia menyebut nama itu berupa bisikan. Seperti ada sesuatu yang menarik dari Yuto, segera Mutia mengingat hal – hal yang buruk saja tentang masa lalunya waktu SMP dan Ia mulai kembali menjadi cuek.
                Mutia pun duduk di bangkunya. Dan Yuto melangkah keluar kelas menuju kelasnya setelah berbincang serius dengan Azril. Detik – detik Yuto akan ke keluar kelas, Mutia terus melihat Yuto. Seperti ada yang janggal tiap melihat si kuning langsat itu. Ia seperti memandang Aida – teman sekelas Mutia yang menjadi pacar Azril. Aida ini memiliki ciri wajah yang unik tidak seperti wajah Indonesia pada umumnya. Dari pergaulannya, Ia terlihat nakal tapi setelah Mutia melakukan pendekatan, ternyata Aida lain dari yang lain. Ia tidak memilih – milih teman dan sangat ramah walau Ia sangat cantik. Tidak seperti Hana yang terkesan mengumbar dan glamor. Selain karena keramahannya, Aida ini keturunan jepang asli dari neneknya. Bahkan tiap mereka berdua, Aida selalu menceritakan tentang kehidupannya waktu di jepang.
                “Tunggu sebentar…” tiba –tiba Mutia tersadar. Ia tersadar kalau Aida itu jepang dan Yuto juga jepang. Lalu ekspresinya berganti lagi jadi bingung. “Trus kalau mereka jepang?kenapa?” Mutia bingung sendiri dengan pertanyaan yang Ia buat untuk dirinya sendiri.
                “Assalamualaikum,” Endah datangdan duduk di sebelah Mutia yang teman sebangkunya. Satu per satu penghuni XII IPS 3 mulai ngumpul di kelas dan lama – lama semuanya jadi hadir tanpa tersisa dan sambil menunggu bel, mereka bergosip-ria.  Sementara Mutia hanya mengulang – ulang lagu yang dikarangnya dengan suara yang rendah.  Tanpa disadari, Adi diam – diam mendekati Mutia dari belakang dan Ia teriak tepat di telinga Mutia. Biasa, cari sensasi. Mutia yang kaget jantungan, terbelalak dan spontan meninju perut Adi. Mutia menyesali kehadiran Adi yang amat menyebalkan dan suka mengganggu orang yang sedang tenang. Ia tidak peduli Adi kesakitan dan jatuh pingsan. Satu kelas melihat Adi yang terkapar. Mutia sudah mencium akal – akalan Adi yang pura – pura pingsan. Tiba –tiba Adi bangun dan menggerak – gerakkan kakii kiri Mutia sambil berteriak dengan sangat cemprengnya mengalahkan Hana. Sedangkan Mutia meneriaki nama Adi sambil menarik – narik rambutnya. Teman –teman yang lain malah menertawakan mereka. Karena kesal yang sudah membuncah, Mutia melepaskan gespernya dan segera mencambuk Adi. Buru – buru Adi bangun dan berlari mencari persembunyian. Fitri dan Nurumi segera melindungi Adi. Mutia yang sudah sesak nafas karena kesalnya hanya mencoba menghela nafas. Ia tidak mungkin ke area Fitri.
                “Gak ada yang boleh masuk ke area gua!” kata – kata itu Fitri lontarkan pada Mutia. Fitri memang tidak menyukai Mutia hanya karena Mutia sangat pendiam di kelas dan cenderung jarang bergaul. Dan Mutia memahami itu dan makanya Ia tidak ke area Fitri yang di pojok dekat jendela. Mutia sadar diri. Ia segera lupakan kekesalannya pada Adi.
                “Assalamualaikum, minna san…konnichiwa!” suara Niki sensei membuat satu kelas yang sibuk ‘menonton’ Mutia VS Adi menjadi bingung.
                “Sensei! Kan belum bel!” Adi baru berani menampakkan diri dengan melompat dari jongkoknya. Tingkahnya itu membuat beberapa teman yang lain hanya senyam – senyum.
                “Iya sekarang buka halaman tujuh di buku paket, “ Sensei seakan tidak mempedulikan kata –kata Adi dan hanya menampakkan tersenyum dengan ramahnya sekaligus menutup ritual tertawanya XII IPS 3.
                “Ih! Sensei! Belum bel!” rupanya Adi dongkol juga karena dicuekin.
                “Apa sih! Telinga lu tuh periksa!” sambar Adisya dengan senyum tipisnya.
                “Tau tuh!Periksa temen lu! Eh salah maksudnya telinga lu! Orang suara bel jelas gitu!” Azril ikut – ikutan.
                “Kalimat lu benerin! Telinga kok jadi temen!” Adi mulai kelihatan macho.
                Azril yang merasa tertantang, berdiri. “Lu berani sama gua?”
                “Eh…ampun…ampun..gua lupa…” Adi kembali jadi lekong lagi hingga yang lain jadi tertawa.
                “Udah..udah…emang kenapa sih kok gak pada ngedengerin semua?” tanya sensei.
                “Itu sensei. Tadi ada atraksi Adi sama Mutia,” Hana menjawab dengan cemprengnya.
                “Atraksi? Atraksi apaan?” tanya sensei lagi sambil menahan tawa.
                “Ada lah sensei…ini urusan anak muda!” gurau Adi dengan sangat kemayu.  Sensei hanya tersenyum. Sensei pun kembali mengajak siswa/siswinya kembali serius belajar dan memperhatikan pola kalimat baru dari bahasa jepang  di papan tulis.
                ***
                Pada jam isitirahat, Mutia terlihat agak berlari keluar kelas menuju taman sambil membawa lirik lagunya. Saat Eri menyapanya, Mutia hanya menoleh, senyum sesaat dan kembali berjalan cepat setengah berlari. Ia pun menuruni tangga untuk ke lantai dasar. Taman pun tampak. Saat Mutia melihat lapangan futsal, cahaya matahari menmancarkan cahanya ke anak – anak yang main bola. Rupanya cuaca hari ini lumayan panas. Tiba – tiba bolanya menggelinding ke arah Mutia. Spontan, Mutia mengangkat rok abu – abunya hingga tampak celana treningnya, bola itu pun ditendang. Beberapa anak yang melihat terkesima dibuatnya termasuk anak yang main bola. Mutia tidak mau mempedulikannya.
                Mutia memberikan senyumnya ada anak Interest band yang sedang ngumpul di taman. Langsung, Mutia duduk bareng mereka dan meletakkan lirik lagunya di tengah meja permanen. Kertas lirik lagu itu diambil langsung Joko. Sedangkan Mutia bersandar di bangku permanen. Nafasnya terdengar tersengal – sengal.

               



No comments:

Post a Comment