Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Sunday, December 1, 2013

Katanya "Bestfriend is Power" (bab[1])_1


       "Ih...si Mutia betah ya sendiri mulu!" gerutu Fitri. Memandang Mutia dari atas bersama teman-teman segengnya. "Ih!" Fitri pun masuk ke kelas. Entah apa yang dikesalkannya. Teman-teman yang lain ada yang menatap kasian pada Mutia. Namun ada pula yang menatapnya heran.
       Panas-panas di pagi hari. Mutia malah melangkah tak peduli menuju masjid sekolah. Sendiri. Beberapa orang menyapanya untuk tersenyum. Mutia hanya memakluminya. Mereka tidak tahu bahwa memang wajahnya sudah seperti itu. Terlahir dengan wajah yang jutek. Sambil mengerutkan keningnya, Ia menggeleng. Apakah Ia harus tersenyum terus?Pegel bo, bibirnya !
       "Mutia!" suara yang dikenal Mutia. Ia menoleh. Dengan senyum yang dipaksakan pada Eri. Eri yang nama aslinya Juwairiyah, dipanggil Airi, lama-lama menjadi Airi.
       "Maksa amat!" gurau Eri mengomentari senyum Mutia. Mutia hanya senyum jutek. Eri sudah memahami sifat Mutia sehingga tidak ada kejanggalan berarti pada temannya itu. Sesudah itu suasana menjadi hening. Hanya suara angin. Mutia dan Eri berjalan bersama menuju masjid sekolah untuk solat Duha. Begitu menginjakkan kaki di batas suci, angin langsung membelai mereka. Ada anak-anak IPA di masjid yang tengah melipat mukenah. Dengan ramah, Eri menyapa mereka. Melihat Eri yang disambut baik, Mutia ikut-ikut menyapa dengan senyuman lebar. Barulah terlihat keceriaan hatinya. Keceriaan itu terus terasa hingga Ia solat Duha. Keceriaan yang belum pernah Ia rasakan di kelasnya sendiri. 
       Bel berbunyi. Tanda sudah waktunya masuk ke kelas. Di pertengahan jalan, Eri dan Mutia melambaikan tangan tanda berpisah dan masuk ke kelas masing-masing. Ketika Mutia masuk ke kelas, serpihan kertas jatuh dari ventilasi atas pintu. Beserta ember yang jatuh hingga menutup pandangan. Seperti helm yang hitam pekat dan tidak tembus pandang. Suara yang membahak terdengar. Tanpa ekspresi, Mutia melepas embernya dan menjatuhkannya ke lantai. Hanya tersenyum kecil begitu Mutia melihat teman-temannya tertawa sambil menunjuk-nunjuk. Ia merasa telah berpahala karena membuat orang tertidur. Dengan cuek, Ia duduk di bangkunya. Yang lebih bahagia adalah Fitri. Endah, teman sebangkunya, hanya memendam kasihan pada gadis berjilbab yang duduk disampingnya. Dibersihkannya sisa-sisa serpuhan kertas tadi di kerudung sahabatnya itu. Mutia semakin ditertawakan karena tidak ada ekspresi. "Eh...udah sih!" mohon Endah. Mutia hanya menganggap tertawaan mereka sebagai angin lalu. "Eh, ada Pak Ijo!"seru Jono yang terburu-buru masuk kelas hingga terpeleset sisa-sisa serpihan kertas di lantai. Satu kelas menertawainya. Mutia hanya miris.

       Pak Ijo datang. Suasana kelas hening. Ketika masuk ke kelas, Pak Ijo melihat serpihan kertas yang berserakan. Wajahnya tampak diam. Beberapa anak ada yang salah tingkah. "Eh! Itu sampahnya..." terdengar salah seorang. Itulah Pak Ijo. Nama lengkapnya Sanjoyo. Entah darimana datangnya nama 'Ijo' hingga Ia dipanggil dengan sebutan itu. Tatapan matanya sulit ditebak. Antara jutek, sinis, atau memang sudah matanya begitu sejak lahir. 
      "Iya, anak-anak..." Pak Ijo membuka suara di depan kelas. Beberapa anak, tepatnya lima orang anak, masuk kelas. Disusul dua orang lagi. Wajah-wajah orang sibuk. "Iya..ini..." Pak Ijo mulai memberitahukan bahwa lima anak yang berdiri di depan kelas adalah para calon ketua OSIS yang datang untuk memungut suara siswa-siswi. Sementara dua orang yang merupakan bakal pensiunan OSIS, mengarahkan siswa-siswi cara untuk memilih yang baik dan benar. Dibagikannya kertas-kertas kecil yang sudah disiapkan untuk pemilihan. "Kalian cukup menulis nomor urutan..." kata Febri, ketua OSIS sambil meneneteng sebuah kotak yang seperti amal yang isinya adalah kumpulan kertas-kertas kecil. Sebuah angka telah ditulis dulu oleh Fitri sebelum calon-calon ketua diizinkan untuk berkampanye. Ia terlihat setengah melamun. "Eh?" Fitri terkejut. Ia baru tersadar dari lamunannya. "Eh...itu...Ketua OSIS!" panggilan dari Fitri sambil menunjuk-nunjuk Febri. "Siapa sih itu namanya?!" gerget Fitri dangan suara yang lantang. Satu kelas menoleh ke arah Fitri. Ada yang mengerutkan dahi. Mutia hanya menatap kosong.
       "Lu kenapa, pit?" tanya Jaka. Fitri hanya menggaruk kepalanya. "Febri!" barulah tersebut nama orang yang dimaksudkan. Febri pun menghampiri Fitri. Fitri meminta kertas lagi. Sayangnya persediaan kertas Febri sudah habis. Mulut Fitri menjadi mancung karena kecewa. Febri pun menghampiri rekan OSIS nya, Johanes, untuk meminta kertas kecil yang ada di kotaknya Johanes. Mereka terlihat berbisik. Tiba-tiba ekspresi wajah Febri berubah. Seperti teringat sesuatu. Ia lupa, seharusnya Ia biarkan para calon ketua OSIS untuk mempromosikan diri saru per satu. Barulah Febri mengisayaratkan Johanes untuk memberikan kertasnya pada Fitri. 
       "Jak, Fitri dapet suara cinta..." bisik Joko pada Jaka. Jaka ikut bergurau. "Cie...Fitri dapat surat cinta!" teriak Joko yang ngeceng-cengin Fitri. Johanes hanya menggeleng. Nah, saat-saat itulah calon ketua OSIS nomor urut tiga dang mencari kesempatan. Mangambil secarik kertas di kantong celananya. Lalu Ia baca. Rupanya Ia lupa demo 'caketos' nya. Caketos=> Calon Ketua Osis. He...
       "weh...weh...weh...! baca tes, weh!" Jaka menunjuk-nunjuk. Satu kelas menertawai si nomor urut tiga. Segera disembunyikan kertas itu di belakang tubuhnya. Senyum-senyum. Kelas menjadi hening saat demonya dilanjutkan oleh kandidat nomor empat hingga diteruskan ke nomor terakhir. Setelah itu, barulah pemilihan dimulai. Beberapa diantara mereka ada yang memilih demi teman. "Eh, lu pilih mana?" tanya Hana pada Meisi.
       "Gua pilih Musa," jawab Meisi. 
       "Ih...bagusan Harun tau..." tegas Hana. 
       Heru, caketos nomor urut satu, mendengar mereka. "Sekalian aja Zulkifli! Kalau perlu Yahya sekalian!" 
Satu kelas menatapnya heran. Bingung. Lola, Loading lama. Meraka mulai tertawa. Barulah meraka mengerti yang dimaksud Heru. Heru hanya menggaruk kepala. 
       "Iya...teman-teman," Febri memberi tahu bahwa waktu pemilihan sudah habis. "Terima kasih teman-teman atas partisipasinya. Selamat Belajar," lanjut Febri sambil mengelilingi kelas untuk memungut kertas suaranya. Johanes juga melakukan yang dilakukan Febri. Barulah mereka keluar kelas bersama lima caketos, Pak Ijo pun menyusul. Beberapa detik setelah mereka berlalu, Bu Melati, Guru Bahasa Indonesia masuk ke kelas. Azril sang ketua kelas, memukul meja tanda seluruh muris di kelas itu untuk berdiri. Memimpin Doa. Beberapa diantara mereka memasang wajah bingung. Ada yang saling menatap. "Lah?kok Ibu?" kata salah seorang murid yang bernama Jayabaya. 
       "Bukannya ini jam Ibu?" Bu Melati malah ikut bingung.
       "Bukannya Ini jam jam Bu Farida ya?" terdengar bisik-bisik diantara mereka.
       Tanpa sadar mulut Bu Farida membentuk huruf 'O'. Bu Farida dan Bu Melati mulia terlibat percakapan kecil. Mereka saling tersenyum. Bu Melati pun meminta maaf karena sudah salah masuk kelas. Seiring berlalunya Bu Melati, Yuto datang sambil mengetuk pintu.
    

No comments:

Post a Comment