Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Sunday, December 1, 2013

Katanya "BestFriend is Power" (bab][1])_4

Mutia dan Yudist hanya memandang Adi dengan tatapan jutek. Mereka memperhatikan Adi  yang berambut ikal dan kemayu tapi berbadan atletis. Mutia pun tidak mau ambil pusing. Dia gadis super cuek.
“Udah ah! Cuekin!” kata Yudist pada Mutia. “Eh, lirik lagunya mana?”
“Lirik lagu?” Mutia malah balik tanya.
“Lah…kemarin lu bilang lu punya lirik lagu?”
“Oh yang itu…Maaf ya…akhir-akhir ini aku lagi kebanyakan tugas. Sebenarnya sih lagunya udah selesai. Tiap kali diinget malah tiap kali itu pula aku lupa. Makanya sms dong…”
“Emang lu punya hp?” tanya Yudist dengan tatapan meledek.
“Belum sih. Lagi gak ada uang,” Mutia menyeringai.
“Ah lu mah gak ada uang mulu!”
“Makanya beliin dong…” gurau Mutia.
“Lu mau gua kasih yang mainan?”
“Yah...belinya hape-hapean dong?” Mutia manyun.
“Eh, hape-hapean aja pake uang asli!”
Mutia hanya manyun.
“Udah, pokoknya besok lu  musti bawa! Hambali tuh penasaran sama lagu elu!”

“Apa?!” teriak Hana tiba-tiba. “Siapa tadi yang menyebut nama ‘HAMBALI’?” lanjutnya dengan suara yang sangat cempreng. Beberapa anak IPS3 memutar pandangannya ke Hana dan dengan kompak, mereka melihat Meisi. Meisi yang wajahnya memerah hanya salah tingkah.
“Kok pada liat gua sih?” Meisi memasang tampang sok polos.
“Mei, Dia nyebut nama HAMBALI!”  kata Hana sambil menunjuk Yudist.
“Oh…Meisi ya...cie…” Yudist ikut menggoda.
“Dih…lu telat!” seru Adi sambil mengayunkan tangannya ala banci.
“Idih..bodo!” sahut Yudist sambil mengikut gaya Adi dan Adi pun tersinggung.
                “Ya udah, mut. Gua tunggu lirik elu!Bye!” Yudist pun pergi dengan gaya jalannya yang berlenggak-lenggok, menyindir Adi. Anak-anak cowok yang melihat tingkah Yudist pun ketawa dan ada yang meledek gaya jalannya. Anak-anak cewek hanya menggeleng-geleng termasuk Mutia.
               
Dua jam berlangsung, tidak ada guru yang masuk ke kelas XII IPS 3. Tapi di kelas sebelah yaitu XII IPS 2 ada guru yang sedang mengajar . Kelas XII IPS 3 pun harus benar-benar menjaga suara kalau tidak mau kena semprot. Di langit cerah saat ini, tiba-tiba hujan turun dan banyak yang mengeluhkannya. Sementara itu, Endah malah memanfaatkan waktu dengan curhat ke Mutia, mumpung guru tak ada.
                “Mut!” suara Endah terdengar manja sambil menarik-narik rok Mutia.
“Apaan?Jangan ditarik sih roknya!”
“Masak Endah pacaran sih…”
“Sama Dimas?Oh kamu udah balikan…” suara Mutia terdengar datar, sengaja. Karena dia suka membuat temannya itu gergetan.
“Ih…bukan…apaan sih…ini lain lagi…” Endah manyun manja.
“Oh…orangnya ganti?”
“Iya. Inget Taulani gak?”
“Oh…yang pelawak itu ya?” kali ini wajah Mutia yang tawar dan tiba-tiba Ia berakting kaget. “Hah?Demi apa???Aku bakal punya teman yang pacaranya selebriti dong???”
                “Apaan sih Mutia teriak-teriak!Jayus tau gak!” Adisya yang duduk di belakang Mutia ikut nimbrung karena terganggu dengan suara Mutia yang tinggi.
                “Iya sih emang jayus…” Mutia pun menoleh ke belakang menatap Adisya tanpa ekspresi.
                “Endah, sini deh!” panggil Oki, siswi berjilbab yang duduk berseberangan di kanan Endah. Di saat yang sama, Meisi memamnggil Mutia. Kebetulan di depan Mutia adalah Hari, cowok sok cool yang merasa ganteng. Ia terlihat tidak ada di bangkunya karena berkumpul dengan Azril dan Joko. Meisi pun duduk di bangku kosongnya Hari. Namun, di saat bersamaan, guru yang tidak diharapkan pun datang juga dengan ekspresi jutek yang dipaksakan. Spontan, satu kelas mikem tak ada yang berani bersuara.
                “Eh, mana gurunya?” tanya Bu Susi ketus, sang guru killer. Tatapannya tidak ada ramah sama sekali walau terkesan dipaksakan. Cirri khasnya adalah selalu memasukkan kedua tangan ke dalam saku bajunya.
                Tidak ada yang menjawab. Semua bungkam.
                “Kok diem?Mana ketua kelasnya?!” tanya lagi, Bu Susi.
                “Azril, bu. Vokalis Peterpan,”Adi menjawab sambil  menunjuk Azril dengna seluruh jemari kanannya.
                “Hah?Peterpan?” Bu Susi pura-pura bingung. Tak lama kemudian, Eri, siswi XII IPS 2 memanggil Bu Susi. Bu Susi pun hilang dari pandangan. Penghuni XII IPS 3 tersenyum merdeka.
                “Lu, apaan sih, to!Azril vokalis Peterpan…itu Ariel!” seru Fitri sambil melempari Azril dengan gumpalan kertas. Beberapa ada yang tertawa. Tapi azril segera menyuruh mereka diam.
                Sementara itu, Meisi kembali melanjutkan sesi curhatnya tentang Hambali. Mutia begitu memerhatikan Meisi. “Oh…jadi Meisi suka Hambali…” gumam Mutia di dalam hati.
                “Emang kamu diminta lagu ya sama Hambali?Lagu apa?” Meisi senyum-senyum.
                “Ya…lagu karanganku. Aku suka menulis lagu. Aku bingung mau diapain. Kan saying kalau didiemin…” jawab Mutia polos.
                “wah…kamu berbakat juga ya. Berarti bisa nyanyi dong…”
                “Bisa sih. Tapi kalau gak ada orang. Itu juga aku gak kuat napasnya.”
                “Bisalah diatur…”
                “Hem…jadi kamu suka ya sama Hambali…”
                “Ssst…jangan bilang-bilang ya…”

                Meisi kembali ke bangkunya. Kadang Mutia takut Meisi akan cemburu karena Ia lumayan dekat dengan Hambali walau Ia tahu Meisi sangat memercayainya tanpa ada rasa cemburu sama sekali.
                “Mut, nanti kalo ada berita tentang dia, kabari aku ya…” pinta Meisi. Mutia mengangguk ragu walau senyum Meisi begitu meyakinkan.
***

No comments:

Post a Comment