“Assalamualaikum,” siswa itu mengucap salam hingga perhatian seluruh murid XII IPS 3 tertuju padanya. Langsung, Reini yang duduk di pojok belakang. Ia langsung diceng-cengin hampir satu kelas. Rupanya siswa itu adalah Izumi Yuto yang katanya pacar Reini. Beberapa ada yang berbisik memuji kerupawanan Yuto.
“Maaf, saya mau mengambil buku dan tas Pak Irwan,” kata Yuto pada Bu Farida.
“Pak Irwan?Lu ngomonong apa sih, to???” suara Azril menggelegar hingga Mutia yang duduk di depannya kaget. Gambar indah yang dibuatnya di belakang buku jadi tercoret.
Beberapa ada yang menatap Azril. “Aida!tuh laki lu tuh jangan konser di sini sih!” Hana ngejayus. Aida hanya tersenyum.
Bu Farida mulai mencoba bicara pada Yuto. “Nyari buku Pak Irwan?Gak ada.”
“Eh?” Yuto bingung sendiri.
“Eh, Iyut! Lu salah kelas kali!” Dari tadi Pak Irwan tuh gak masuk ke kelas ini!” seru Hana.
Yuto terdiam. Tak senagaja, Ia melihat Mutia yang juga melihatnya. Mutia menatapnya tawar. Bahkan cenderung jutek. Tapi memang sudah perawakannya. Menyadari ditatap Yuto, Mutia pun mengalihkan pandangannya.
“Eh, ini ada apa sih?kok semuanya pada salah kelas??!” gurau Hana sambil nyengir.
“Tapi Ibu nenggak dong!!” Bu Farida narsis.
Sudah biasa, kelas XII IPS 3 selalu memulai dengan gurauan sebelum belajar. Namun Mutia tidak ‘tersentuh’ dengan gurauan mereka. Mutia dikenal sangat pendiam di kelas. Terlebih Ia terlahir dengan paras yang jutek darinya, namuan walau demikian Ia pandai bergurau. Itulah Mutia. Jilbab panjangnya seperti penghalang bagi mata yang memandang terutama laki-laki yang ingin berteman dengannya. Sebab Ia aslinya kurang bias bergaul dengan sesame jenis. Ia terkesan tomboy. Bahkan sama sekali Ia tidak merasa sebagai akhwat tapi Ia mencoba untuk belajar menjadi akhwat. Dua sifat ketomboyannya yang belum terlepas, bergaul dengan laki-laki dan cara jalannya yang seperti laki-laki. Bahkan teman-temannya dulu adalah laki-laki seperti anak silat. Di kelas pun dia hanya berteman dengan Joko, Jayabaya, Jaka dan Azril. Adapaun teman perempuannya adalah Endah. Endah, gadis berjilbab yang kecantikannya terkenal di satu sekolah. Antara Endah dan Mutia saling memanfaatkan. Endah ‘memanfaatkan’ Mutia sebagai bodyguard, karena di sepanjang jalan Endah melangkah, tiada mata adam yang menatap ke depan (prêt!). Begitu pula Mutia yang ‘memanfaatkan’ Endah untuk mengikuti cara berfeminin-ria walau sebenarnya Ia berat karena tidak menyukai dunia perempuan.
Kleneng kleneng kleneng…
Suara lonceng.
“Weh? Mati lampu ya?” kata Hana sambil meatap kipas.
“Kayaknya belnya yang rusak itu kipasnya masih hidup,” Jono ikut komen sambil melihat kipas juga.
Bu Farida segera merapikan buku-bukunya ke dalam tas dan pamit ke luar kelas. Satu kelas pun menjadi rame. Bu Farida masuk lagi sambil berkata, “Jangan berisik.” Wajahnya terlihat ramah tamah oleh senyumannya itu.
***
Becermin. Dikeluarkannya sisa makanan di sela-sela giginya. Sementara, temannya ngoceh panjang lebar. Hingga kesal. “Lu denger gak sih, Yut??!! Seru Tracy sambil menyenggol Yuto. Yuto malah bersendawa. Johanes malah tertawa melihat Tracy yang dikacangin. Para pedagang kantin yang melihat hanya terseenyum mesem.
“Kok kita nemplok di sini sih?” Yuto mulai ngejayus. “Hm…Pak Moses dinas lagi…”
“To…to…enakan gini lah! Kita bebas!!! Makan di kantin. Sementara…” belum selesai Johanes bicara, Tracy memotongnya. “Lu pada denger gua gak sih?!!!”
“Aduh neng…jangan marah-marah dong…” goda abang bakso.
Ya, memang. Tiap pelajaran agama Islam, siswa-siswi non muslim diberi kebebasan untuk keluar atau tetap di kelas. Tapi ada juga yang keluar untuk menemui guru agama mereka untuk belajar juga. Kali ini, Yuto, Johanes dan Tracy hanya nongkrong di kantin. Pak Moses, guru agama mereka sedang dinas.
Yuto dan Tracy adalah dua diantara anggota band di sekolah. Nama bandnya Pand Peace yang kualitasnya sudah diakui sekolah. Beberapa anggota selain Yuto yang drummer dan Tracy yang vokalis adalah Julian, kembaran Johanes yang sebagai gitaris, lalu ada Jerry sebagai keyboard. Mereka berbeda kelas dengan Yuto dan Tracy. Sedang Johanes sendiri adalah anggota OSIS. Kendati Pand Peace menjadi dambaan sekolah, mereka punya saingan berat yaitu Interest band, bandnya Yudist dan Joko.
“Jo, Yu! Denger gue ya! Bokap gua nawarin kita main band di…eh…apa namanya ya…buat pembukaan acara gitu…aduh…acaranya gua lupa, lagi!” kata Tracy sambil menggaruk kepala.
“Tadi kan gua udah cerita panjang lebar!!!” Tracy mulai kesal dengan menarik rambut panjangnya yang tergerai hingga menutupi wajah Johanes yang tirus.
“Ih!” Johanes terlihat risih dengan rambut Tracy. Ia pun bangkit dari bangku, mengambil karet di warung tanpa permisi.
“Yu, pegangin Tracy!” seru Johanes.
“Eh!lu mau ngapain gue?!” Tracy mulai wanti-wanti. Johanes tak memdulikan Tracy. Segera ditarik rambutnya dengan sekuat tenaga. Tracy terlihat pasrah. Membuat seisi kantin tertawa melihatnya.
“Dah, kan cantik!” puji Johanes seperti bapak yang memuji anaknya.
“Ouh…makasih…” Tracy memainkan mata genitnya. Johanes nek.
“Nyesel gua muji elu!” umpat Johanes sambil mengelus perutnya. “Eh, gua mules beneran ya?” Johanes berubah ekspresi. Mukanya asem. Segera Ia ke kamar kecil.
“Eh…kok belum bel-bel sih?” kata Tracy. Segera Ia berdiri sambil melepas ikat rambutnya.
“Weh…mau kemana?!” tanya Yuto.
“ntar!” Tracy segera menghilang dari pandangan Yuto.
Yuto melihat beberapa rambut yang kusut dengan karet, karet Tracy. Pikirannya pun lain. Membayangkan seorang gadis berjilbab yang rambutnya tentu sudah diatur supaya tidak terlihat. Tanpa sadar, Ia senyum-senyum sendiri seperti membayangkan gadis idaman.
Bel berbunyi. Siswa –siswi berhamburan keluar kelas untuk beristirahat. Ada juga yang tetap di kelas, membawa bekal sendiri. Ketika azan zuhur berkumandang, siwa-siwi muslim beramai-ramai ke masjid sekolah walau demikian ada juga yang malas. Saat itu hati Yuto bergetar mendengar azan sambil mendengar mereka yang ke masjid. Timbul rasa ingin seperti mereka. Terlihat olehnya sosok Mutia, misterius. Entah mengapa ada sesuatu yang menjanggal dari gadis itu di mata Yuto.
“Yuto!” teriak Johanes. Lamunan Yuto buyar.
“Ada Reini tuh! Cie…” Johanes meledeknya. Reini yang saat itu sedang beli bakso jadi bahan ledekan Johanes. Terlebih suara Johanes keras sekali. Hamper satu kantin menatapnya. Yuto hanya senyum basa basi. ia terus melihat Reini hingga Reini masuk kelas. Tiba-tiba dari kejauhan, seorang gadis berjilbab berlari kea rah Yuto, Najma namanya. Dia pecicilan orangnya.
“Nakajima Yuuto!!!” teriak Najma. Yuto menunduk. Dia pasti bakal dicubit pipinya. Najma ini selalu geregetan dengan Yuto karena Yuto orang jepang asli. Dan Ia selalu memanggil Yuto dengan sebutan Nakajima Yuto, padahal namanya Izumi Yuto. Begitu mendekat, Najma langsung menabsen artis jepang hingga muncrat.
“Nakajima Yuto! Yamada Ryosuke!Kota Yabu!Arioka Daiki! Vicky Zou!” Najma langsung berhenti mendadak dengan ekspresi bingung. “Kok Vicky Zou?” Ia bingung sendiri.
Saat Najma terlihat berfikir, kesempatan bagi Yuto untuk keluar dari bawah meja. “Itai!” Yuto kejedot. “Udah gua bilang, nama gua bukan Nakajima Yuto!” Yuto langsung kabur. Najma mau mengejar, tapi tidak jadi. Beberapa siswa-siswi sinis melihat Najma. Seseorang menarik tangannya, Ismi – teman karibnya. Ia pun mengajak Najma bicara sambil menyuguhi mie ayam.
“Ma, inget kerudung!” bisik Ismi sambil memegang kerudung Najma. “Nantinya bukan elu yang disalahin tapi malah kerudungnya!”
Najma malah berbinar melihat mie ayam.
***
Mutia baru saja duduk. Nafasnya kurang stabil setelah menaiki tangga. Ia pun haus, tapi lupa bawa air minum. “Uh! Giliran dibawa aja gak abis-abis, giliran gank dibawa malah dibutuhin!” Mutia ngedumel. Ia lirik kiri kanan dari atas meja teman-temannya. Lirikannya terhenti saat Melihat Aida menenggak air minum yang dibawanya. Mutia pun berdiri, memulai aksinya. “Mutia!” seseorang memanggilnya. Suara cowok. Mutia tidak peduli.
“Mutia!!!” Joko dan Hana meneriaki Mutia. Spontan, Mutia menoleh kea rah mereka. Ada sosok jangkung berambut keriting di dekat pintu yakni Yudist – teman dekat Mutia. Niat Mutia mendapatkan air pun terurungkan. Ia pun menghampiri Yudist.
“Ada apa?” tanya Mutia.
“Alamak! Sejoli sedang mamadu kasih!” ledek Adi, salah satu siswa XII IPS 3 yang kemayu. “Cie…”
Mutia dan Yudist hanya memandang Adi dengan tatapan jutek. Mereka memperhatikan Yudist yang berambut ikal dan kemayu tapi berbadan atletis. Mutia pun tidak mau ambil pusing. Dia gadis super cuek.
“Udah ah! Cuekin!” kata Yudist pada Mutia. “Eh, lirik lagunya mana?”
“Lirik lagu?” Mutia malah balik tanya.
“Lah…kemarin lu bilang lu punya lirik lagu?”
“Oh yang itu…Maaf ya…akhir-akhir ini aku lagi kebanyakan tugas. Sebenarnya sih lagunya udah selesai. Tiap kali diinget malah tiap kali itu pula aku lupa. Makanya sms dong…”
“Emang lu punya hp?” tanya Yudist dengan tatapan meledek.
“Belum sih. Lagi gak ada uang,” Mutia menyeringai.
“Ah lu mah gak ada uang mulu!”
“Makanya beliin dong…” gurau Mutia.
“Lu mau gua kasih yang mainan?”
“Yah...belinya hape-hapean dong?” Mutia manyun.
“Eh, hape-hapean aja pake uang asli!”
Mutia hanya manyun.
“Udah, pokoknya besok lu musti bawa! Hambali tuh penasaran sama lagu elu!”
“Apa?!” teriak Hana tiba-tiba. “Siapa tadi yang menyebut nama ‘HAMBALI’?” lanjutnya dengan suara yang sangat cempreng. Beberapa anak IPS3 memutar pandangannya ke Hana dan dengan kompak, mereka melihat Meisi. Meisi yang wajahnya memerah hanya salah tingkah.
“Kok pada liat gua sih?” Meisi memasang tampang sok polos.
“Mei, Dia nyebut nama HAMBALI!” kata Hana sambil menunjuk Yudist.
“Oh…Meisi ya...cie…” Yudist ikut menggoda.
“Dih…lu telat!” seru Adi sambil mengayunkan tangannya ala banci.
“Idih..bodo!” sahut Yudist sambil mengikut gaya Adi dan Adi pun tersinggung.
“Ya udah, mut. Gua tunggu lirik elu!Bye!” Yudist pun pergi dengan gaya jalannya yang berlenggak-lenggok, menyindir Adi. Anak-anak cowok yang melihat tingkah Yudist pun ketawa dan ada yang meledek gaya jalannya. Anak-anak cewek hanya menggeleng-geleng termasuk Mutia.
Dua jam berlangsung, tidak ada guru yang masuk ke kelas XII IPS 3. Tapi di kelas sebelah yaitu XII IPS 2 ada guru yang sedang mengajar . Kelas XII IPS 3 pun harus benar-benar menjaga suara kalau tidak mau kena semprot. Di langit cerah saat ini, tiba-tiba hujan turun dan banyak yang mengeluhkannya. Sementara itu, Endah malah memanfaatkan waktu dengan curhat ke Mutia, mumpung guru tak ada.
“Mut!” suara Endah terdengar manja sambil menarik-narik rok Mutia.
“Apaan?Jangan ditarik sih roknya!”
“Masak Endah pacaran sih…”
“Sama Dimas?Oh kamu udah balikan…” suara Mutia terdengar datar, sengaja. Karena dia suka membuat temannya itu gergetan.
“Ih…bukan…apaan sih…ini lain lagi…” Endah manyun manja.
“Oh…orangnya ganti?”
“Iya. Inget Taulani gak?”
“Oh…yang pelawak itu ya?” kali ini wajah Mutia yang tawar dan tiba-tiba Ia berakting kaget. “Hah?Demi apa???Aku bakal punya teman yang pacaranya selebriti dong???”
“Apaan sih Mutia teriak-teriak!Jayus tau gak!” Adisya yang duduk di belakang Mutia ikut nimbrung karena terganggu dengan suara Mutia yang tinggi.
“Iya sih emang jayus…” Mutia pun menoleh ke belakang menatap Adisya tanpa ekspresi.
“Endah, sini deh!” panggil Oki, siswi berjilbab yang duduk berseberangan di kanan Endah. Di saat yang sama, Meisi memamnggil Mutia. Kebetulan di depan Mutia adalah Hari, cowok sok cool yang merasa ganteng. Ia terlihat tidak ada di bangkunya karena berkumpul dengan Azril dan Joko. Meisi pun duduk di bangku kosongnya Hari. Namun, di saat bersamaan, guru yang tidak diharapkan pun datang juga dengan ekspresi jutek yang dipaksakan. Spontan, satu kelas mikem tak ada yang berani bersuara.
No comments:
Post a Comment