Yamada
Ryosuke dan Okamoto Keito adalah dua nama sebelum Nakajima Yuto. Keduanya telah
menjadi korban atas paras dan tampilan luar Sayumi.
Yamada
Ryosuke, dia adalah dinta pertama Nozomi waktu SD. Dia anak baru di kelas 5.
Sama seperti Nakajima Yuto, sebelumnya mereka merajut pertemanan yang dekat
seperti Nozomi dengan Yuto. Tetapi tidak sedekat Yamada. Dan diantara yang
lain, hanya Yamada yang menunjukkan sikap lain pada Nozomi. Nozomi tidak pernah
menyadari itu. Seorang temannya yang mencurigai Yamada menyukai Nozomi. Nozomi
tidak bisa langsung percaya, sebab ia belum pernah menemukan orang yang
menyukainya. Belum lagi, Nozomi tidak pernah meras cantik, jadi berfikir apa
yang Yamada sukai dari diri Nozomi.
Akan
tetapi temannya itu terus menguatkan. Saat Nozomi melihat arah lain, Yamada
sedang memandangi Nozomi. Namun saat Nozomi memandangnya, Yamada pura-pura
melihat arah lain. Bahkan saat disengaja Nozomi melihatnya demi membuktikan
ucapan temannya, Yamada ternyata meliriknya tetapi kembali melihat yang lain.
Yamada telah tertangkap basah oleh pandangan Nozomi. Tetapi Nozomi tidak bisa
percaya begitu saja bahwa benar cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Hingga
saat kelas enam, Yamada datang memberinya bunga sebagai ucapan selamat
ulangtahun. Nozomi polos menerima saja. Ia berterima kasih selayaknya teman. Ia
masih belum mempercayai bahwa Yamada memang benar menaruh hti padanya.
Lalu
Nozomi jatuh sakit. Yamada datang ke rumah bersama yang lain untuk menengok.
Saat itulah teman-teman yang datang menengok, melihat Sayumi. Sayumi dan Nozomi
tidak satu sekolah satu SD, jadi mereka baru tau kalau Nozomi memiliki adik.
Bahkan adik yang cantik. Sejak itu, kecantikan Sayumi menjadi obrolan di kelas.
Bahkan
Yamada, telah beralih obrolan mengenai Sayumi degan Nozomi. Sejak itu, teman
dekat Nozomi tidak lagi melapor bahwaYamada sering memandang Nozomi diam-diam.
Sampai saat pulang sekolah di suatu hari yang lain, Sayumi melapor bahwa ia
baru saja menolak teman Nozomi.
Nozomi
terkejut. Rupanya sejak melihat Sayumi, Yamada sering ke sekolah Sayumi.
Melakukan pendekatan sampai Yamada menyatakan cintanya. Tetapi Sayumi
menolaknya.
Bukan
senang Nozomi mendengarnya, malah sedih. Ia sedih karena apa yang
dikhawatirkannya menjadi nyata. Setiap orang yang melihat Sayumi, pasti akan
jatuh hati bahkan melupakan diri Nozomi. Hal itu dialami sejak kecil. Saat ia
jalan bertiga dengan ibu dan Sayumi, hanya Sayumi yang menjadi pujian oleh para
orangtua dan anak-anak. Nozomi seolah tidak dianggap.
Itu
pertama kalinya Nozomi mengenal patah hati. rasanya terlalu dini untuk
mengatakan bahwa Nozomi telah patah hati. Tetapi memang itu kenyataannya.
Setelah
Yamada, lalu Okamoto Keito. Kakak kelas yang menjadi ketua OSIS. Nozomi satu
SMP dengan adiknya. Diam-diam, Nozomi mengkhawatirkan apa yang pernah terjadi
sebelumnya. Sama seperti Yamada dan Yuto, Nozomi dan Okamoto menjalin hubungan
pertemanan. Pertemanan atas dasar kesamaan hobi.
Nozomi
menyukai karakter Okamoto, terlebih memiliki hobi yang sama yaitu komputer.
Tetapi saat naik kelas, Nozomi dan Sayumi satu sekolah. Sama seperti yang sudah
terjadi, kecantikan Sayumi tersebar hingga diketahui kakak kelas.
Okamoto
menyukainya. Sayumi yang mengatakannya karena Okamoto berbicara dengan gugup.
Kabar Okamoto menyuka Sayumi pun tersebar. Nozomi hanya bisa diam. Sejak
mengetahui kabar itu, Nozomi menjaga jarak dengan Okamoto. Ia tidak mau
terlihat cemburu. Dan Okamoto, tidak mempermasalahkan Nozomi yang tidak
disadainya telah menjauh.
Namun
sampai saat itu, Sayumi kembali menolak tawaran Okamoto untuk dijadikan pacar.
Katanya, ia masih ingin belajar, padahal ia takut dimarahi ayah ibu yang
melarang pacaran. Nozomi dan Sayumi sangat menuruti hal itu. Tetapi entah
bagaimana, kini Sayumi melanggar itu.
Nozomi
paham, bahwa memang jiwa pubernya begitu. Nozomi tidak bisa menyalahi. Tapi
yang menjadi masalah, kenapa harus orang yang disuka Nozomi yang menjadi pacar
pertama Sayumi? Pacar pertama tentu akan berkesan.
Sama
sekali ia tidak merasa iri melihat adiknya lebih dulu pacaran. Tetapi sekali
lagi, kenapa harus orang yang disuka Nozomi yang menjadi pacar Sayumi.
Mengingat itu semua, rasa-rasanya Nozomi enggan jatuh cinta kalau nantinya
orang yang dicinta malah kepincut oleh kecantikan lain, sementara orang yang
memincut itu ternyata memiliki sifat yang tidak sama cantik dengan parasnya.
Sayumi hanya menjaga kecantikan fisik semata.
“No-chan!”
tiba-tiba sebuah rangkulan mendarat di bahunya.
Nozomi
terkejut. Rupaya Morikawa. Morikawa tertawa melihat wajah terkejut itu.
“Hey,
kau kenapa? Kasian deh jomblo. Mau kucarika, tidak?” Morikawa bertanya jahil.
“Kamu
ngapain sih ikut-ikut panggil aku No-chan?” Nozomi melepas rangkulan itu. Meski
tida dekat, tapi Nozomi tau bahwa Morikawa memiliki rasa perhatian yang baik
pada temannya.
“Yuto-chan
kan panggil kamu begitu.”
“Ng?
Yuto-chan?”
“Ih,
kamu gak tau? Mulai sekarang, aku akan memanggil kalian semua dengan
menambahkan ‘chan’ di belakang. Biar berasa temen, gitu!” Morikawa lalu
mencubit pipi Nozomi. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia lalu berlalu keluar kelas.
Memang begitu, ia senang hinggap di teman satu ke teman yang lain. Maka tidak
jarang pula banyak yang menyukainya karena ia mudah bergaul dengan siapa pun.
Nozomi
mendesah setelah Morikawa pergi. Ia tidak menyangka kisah cinta akan seperti
lagu-lagu patah hati. Hanya saja kini ia tidak serapuh waktu dengan Yamada.
Meski sesak, tetapi airmata itu tidak lagi manja meminta keluar dari
persembunyian. Ingat pesan ayah ibu, ia tidak akan menceritakan keburukan
Sayumi apa pun yang terjadi, bahkan meski Sayumi telah mengumbar keburukan
tentang Nozomi yang sebenarnya tidak dipahami Sayumi dan berakibat dipandang
buruk oleh Sayumi.
>>>のぞみ<<<
Ini
sudah hari ke sekian Nozomi dan Sayumi tidak lagi pulang bersama. Bahkan Nozomi
demi supaya tidak ketahuan ayah ibu, ia sengaja menunggu Sayumi di tempat yang
sudah dijanjikan supaya nanti bisa pulang bersama setelah Sayumi dan Yuto
pacaran, untuk memberi kesan bahwa Sayumi dan Nozomi memang pulang bersama dari
sekolah.
Namun,
menunggu adalah perkara yang menyakitkan. Sebab menunggu bukan lagi perkara
yang membosankan. Nozomi bukan lagi seperti kebanyakan orang yang bosan dan
sebal karena menjadi orang yang akan menunggu apalagi menunggu orang yang
menganut jam karet. Akan tetapi, pengertian menunggu yang dialaminya kini telah
berubah dari kata membosankan menjadi kata menyakitkan. Betapa tidak? Nozomi
menunggu sang adik yang berpacaran dengan orang yang disukainya.
Entah,
Nozomi tidak bisa menyalahi diri karena tidak bisa berterus terang. Nozomi
tidak pernah bisa bila yag satu akan merasa sakit. Nozomi mengira, bahwa lebih
baik dirinya saja yang sakit. Apalagi kalau berterus terang pada Yuto. Nozomi
tidak bisa membayangkan jawaban Yuto. Meski mungkin saja Yuto menyukainya, rasa
suka itu akan beralih bila melihat Sayumi. Sayumi selalu terlihat anggun di
luar rumah. Tetapi menyakitkan di dalam rumah. Membabukan seisi ruma,
meng-hak-milik semua barang. Semula bertengkar, tetapi Nozomi memilih mengalah
demi bisa berbicara baik-baik dengan adik kandung sendiri. Nozomi lelah
bertengkar sejak kecil.
“Apakah
aman membiarkan dia berduaan sementara dia tidak tau bagaimana karakter adikmu
yang sebenarnya?” sebuah suara mengejutkan Nozomi dalam penantian Sayumi.
Nozomi
tersentak. Ia yang semula menangkupkan wajah ke kedua telapak tangan segera mengangkat
wajah. “Nakaken!”
Nakaken
menyengir. “Mizutani-san ngapain di sini?” tanya Nakaken. Nakaken, ia memiliki
nama panjang Nakajima Kento¾tapi tidak memiliki hubungan darah
dengan Yuto. Ia sudah dikenal dengan sebutan Nakaken yang merupakan dingkatan
dari nama lengkapnya. Sama seperti Yuto, Nakaken sempat mendekati Sayumi demi
mengetahui bagaimana Sayumi. Tetapi Nozomi terus menghindar, tidak mau berterus
terang mengenai Sayumi.
“Kamu
sendiri? Kayaknya senang banget ngikutin orang!”
“Kok
tau?”
Nozomi
membuang muka, ia hanya asal bunyi.
“Hey,
aku memang membuntuimu. Habis, aku heran mengenai hubunganmu dengan Sayu-chan.
Kamu ini curang. Tidak mau berterus terang mengenai adikmu. Tau-tau dia sudah
pacaran dengan Yuto. Apa ini rencanamu?”
Nozomi
berdecak tidak suka. “Rencana apaan sih? Mereka saling suka, ya begitulah
jadinya!”
“Apa
kamu bilang mengenai diri Sayumi yang sebenarnya?”
“Eh?
Maksud kamu?”
“Pasti
sebenarnya hubungan kamu dengan Sayumi itu tidak baik kan?”
Nozomi
tidak bisa menjawab. Ia hanya menurunkan pandangannya. Nakaken
mengangguk-angguk melihat reaksi itu. Ia tidak akan menagih macam-macam. “Kau
memang kakak yang baik. Menyembunyikan aib adikmu. Tapi jujur, aku tidak terima
dia bersenang-senang sekarang, sementara kau menunggu dengan muka suram. Tapi
kamu jangan salah sangka, aku tidak cemburu pada hubungan mereka, aku hanya
kasian denganmu…”
“Aku
gak butuh dikasihani!” Nozomi segera melenggang, ia tidak mau berlama-lama
dekat dengan Nakaken, takut mulutnya terlepas berbicara mengenai siapa Sayumi.
Persis
saat itu, Yuto dan Sayumi tiba. Bersamaan memanggil Nozomi. Keduanya lalu
menghampiri Nozomi. melihat Nakaken, Yuto tersenyum-senyum jahil. Ia berbisik
pada pacarnya, bahwa Nozomi sedang melakukan pendekatan dengan Nakaken.
“Kalian
jangan sebar gossip. Aku ada di sini karena kasian liat dia di sini nunggu
kalian. Kalian enak-enak pacaran, tapi Mizutani nunggu sampai lumutan!” Nakaken
tidak terima bila ia digosipkan dengan Nozomi.
“Ah,
awalnya kasian. Lalu perhatian, kemudian…?” Yuto menatap pacarnya, lalu tertawa
bersama. Hanya Nakaken yang geram. Nozomi tetap diam dengan wajah lelah¾lelah
hati.
“Ok.
darling, aku pulang dulu ya,” kata
Sayumi.
Yuto
mengangguk. Ia lalu memberi kiss bye. Sayumi
membalasnya segera bergerak mundur mendekati Nozomi. Tiba-tiba Yuto mendekat,
mengecup kening Sayumi.
Nakaken
dan Nozomi kaget dalam diam. Tetapi tidak seperti Nakaken yang ternyata masih
memiliki rasa dengan Sayumi, Nozomi malah menarik kedua ujung bibirnya.
PUra-pura tersenyum senang melihat kemesraan mereka. Airmata yang mulai terasa,
segera dikendalikan untuk tidak keluar.
“Sudah,
dilanjutkan besok saja!” Nozomi mengingatkan.
“Ok.
Kalian hati-hati ya!” Yuto melambai-lambaikan tangannya.
Nozomi
hanya tersenyum sewajarnya. Sementara Sayumi masih melambai-lambai tetapi
kakinya tidak mau beranjak. Nozomi harus menariknya supaya pandangan Sayumi ke
depan.
Nakaken
yang masih kaget dengan tadi, memandang Yuto. Lalu menepuk bahu Yuto tanpa
berkata apa-apa lagi. Yuto yang heran, menghampirinya. Tetapi Nakaken malah
memasang wajah sebal. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Yuto mengenai kenapa
dirinya. Malah mengusir pulang ke rumah.
Yuto
melongo, diam tidak mengerti. Tetapi karena masih berbunga-bunga karena
berpacaran dengan Sayumi tadi, ia kembali tersenyum.
Senyum
yang sama dengan Sayumi saat satu bis dengan Nozomi. Kembali duduk berdua.
Nozomi hanya diam, enggan melihat Sayumi yang tengah bermerah muda. Baru saat
tiba di rumah dan masuk kamar, Sayumi bercerita mengenai apa yang telah
dilakukannya dengan Yuto.
Sekali
lagi, Nozomi hanya memasang wajah ‘penipu’. Ia tidak mau terlihat tidak senang
di depan adiknya meski di dalam hati ia menangis. Hanya saat sendirian, airmata
itu menetes.