Cast : Kurosaki Chizuru, Kurosaki Mistuko, Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Chinen Yuri, Nakajima Yumiko, Ohgo Suzuka, Shida Mirai.
Genre : IDK
Rating : T
Author: Nadia Rahmandani
"Kurochan..."Nakajima senpai menyebut nama itu yang sudah menjadi nama panggilan kesayangannya padaku. Tapi aku risih mendengar nama itu. "Namaku Chizuru! Bukan Kurochan!"
"Kurosaki Chizuru, bisa dong ku panggil Kurochan!"
"Dasar bakajima!" bisikku. Aku jadi ketular Chinen senpai yang iseng menyebut bakajima pada Nakajima senpai.
"Apa kamu bilang?"Ah, ternyata dia mendengarku!
"Iie, nan de mo nai!"
Nakajima senpai terus menatapku seram hingga aku merasa takut. "Senpai, jangan melihatku seperti itu sih!"
"Hahahaha...makanya jangan songong jadi kouhai!" Aku hanya cemberut.
"Ohya, kaachan pengen ketemu kamu."
"Untuk apa?"
"Shiranai. Ikut yuk ke rumahku. Udah lama gak ke rumahku kan???" goda Nakajima senpai.
Aku hanya tersenyum dan berbisik di dalam hati, "Dasar bakajima, mana pernah aku ke rumahnya. Dasar kakek-kakek pikun!"
Setelah Nakajima senpai pamit dengan teman-temannya, kami segera pergi ke rumahnya yang terkenal megahnya itu. Namun, aku belum izin dengan orangtuaku. Mungkin lebih baik aku tidak membicarakannya pada Nakajima senpai.
"Ohya, maaf ya. Kita belum izin orangtuamu. Abis kaachanku kebelet banget pengen ketemu kamu,"kata Nakajima senpai seakan mengetahui apa yang ada di pikiranku. Tapi aku agak kaget plus heran juga, emang sampai segitunya ya kaachannya pengen ketemu aku?Emang aku mau diapain???Tapi kenapa aku melihat kalau ini adalah serius ya...Hm...pikir positif saja.
Di rumah keluarga Nakajima, aku disambut oleh Raiya. Ini pertama kalinya aku menginjakkan rumah yang sungguh waw. Serasa di istana, pikirku. Tapi aku tidak menunjukkan kekagumanku akan rumah besar ini. Aku terus mengikuti kemana Raiya melangkah, sementara aku jalan beriringan dengan Nakajima senpai
![]() |
"Chizuru desu,"Aku berojigi saat Nakajima senpai memperkenalkan sang kaachan. Yumiko okaasan yang tadinya tersenyum ramah tiba-tiba ekpresi wajahnya berubah. Tatapannya fokus pada pundakku.
"Ini...tanda lahirmu?" tanya Yumiko okaasan sambil menunjuk tanda lahirku yang mengintip di balik kerah seifuku ku.
"eh?I...iya.." jawabku terbata-bata.
"doushita no, kaachan?" tanya Nakajima senpai. Yuniko okaasan hanya menatap putra sulungnya itu dalam diam. Lalu Ia berusaha kembali seperti semula, berwajah ramah. Namun, ramah yang terlihat adalah ramah yang dipaksakan. Tiba-tiba beberapa orang berseragam datang melayani dan membawa kami makanan. Mungkin mereka pelayan di rumah ini. Saat mereka sibuk dengan tugas mereka, aku melihat Raiya yang senang dengan kedatanganku ini, begitu pula Nakajima senpai. Hanya Okaasan saja yang terlihat menyembunyikan sesuatu di balik senyum yang dipaksakannya itu.
"Itadakimasu!" Kami pun makan bersama. Selesai makan, Nakajima senpai memulai guyonanya.Aku merasa aku bagian dari keluarga Nakajima. Apa jadinya ya kalau namaku menjadi Nakajima Chizuru?He....aku mulai berandai-andai.
"Kurosaki chan,"Yumiko okaasan membuatku tersadar plus gugup. Tiba-tiba aku membayangkan kalau dialah ibu kandungku. Andai kehidupanku seperti yang ada di TV, tentang kisah anak yang diasuh oleh bukan orangtua kandungnya yang entah sejak bayi tertukar atau apapun caranya. Kisah anak hilang. Dan akulah anak hilang itu, keluarga Nakajima adalah keluarga kandungku. He....
"Kamu berapa bersaudara?"
"Aku?Dua. Aku anak pertama."
"Perempuan dua-duanya?"
"Ya."
"Chizuru chan..." Tiba-tiba Yumiko okaasan menganti sebutannya untukku. Wajahnya penuh mengiba, lalu memegang tanganku. "Kalau kau tidak keberatan, panggilah aku kaachan..."
Tidak hanya aku, Duo Nakajima pun kaget. Seharusnya aku sudah menduga hal ini. Dari awal kejadian tanda lahirku tadi. Yumiko okaasan menunjukka keanehannya. Aku deg-degan dan agak bingung.
"Kaachan..doushita no?" tanya Nakajima senpai.
Seakan tersadar dari lamunannya, Yumiko okaasan terlihat gelagapan namun Ia cepat-cepat pandai mengontrol emosinya. "Iie, betsu ni." Lalu Ia menanyakan keluargaku dengan ramah.
Setelah melewati percakapan ringan disertai guyonan sulung Nakajima, aku pun pamit pulang.
* * * * * * *
"Masuklah, Yuto!" Yuto ketahuan mengintip kaachannya yang sedang duduk di kamarnya. Begitu Chizuru pergi, Yuto membuntuti kaachannya dan mengintip kaachannya yang sedang menangis di kamar.
"Kaachan...sebenarnya ada apa?Dari tadi memperhatikan tanda lahirnya Chizu chan terus sejak dia datang...Kaachan jadi aneh..."
"Chizuru tiu adikmu!"
"Adik?"
"Sebenarnya kamu punya adik selain Raiya."
Yuto terlihat mengeritkan keningnya dan Ia semakin tidak mengerti.
"Perlu kau ketahui. Bahwa selama ini aku sering keluar rumah karena aku masih penasaran dengan kehilangan putriku yang hilang di rumah sakit setelah aku melahirkannya. Waktu itu umurmu masih satu tahun. Jadi kamu belum mengenal adikmu."
Yuto semakin bingung. Ia membiarkan ibunya bercerita dengan tangisnya. Lalu, muncul pertanyaan di kepalanya. "A...aku punya adik?perempuan?" Sang kaachan hanya mengangguk.
"Aku yakin, dia adalah adikmu. Adik kandungmu. Aku belum sempat menamainya."lanjut kaachannya itu. Tapi Yuto malah teringat oleh kata-kata kaachannya bahwa Ia ingin memiliki anak perempuan. Saat mengatakan itu, wajahnya terlihat sedih. Yuto mengira itu hanya harapan atau canda biasa. Sebab Ia biasa bercanda dengan kaachannya. Tapi ternyata tidak. Justru, Ia memang beradik perempaun tanpa Ia sadari. Tapi kenapa orangtuanya tidak pernah memberi tahu?
"Yuto...kenapa kau diam saja????"
"A...aku punya imouto?"
"Iya. Aku tidak sedang berbohong!"
"Tapi, bukannya kaachan emang pengen punya anak perempaun ya?"
"Aku memang pernah bilang begitu. Hal itu sengaja ku katakan agar kau dan Raiya tidak perlu ikut pusing seperti kami, orangtuamu. Biar kami yang mencarinya..."
"Kaachan..."
"Maaf, Yuto..." Buru-buru Yuto memeluk kaachannya dari belakang.
"Lalu, apa yang harus ku lakukan???Apa..."
"...yang jelas, aku harus melakukan tes DNA, kalau-kalau orangtua angkatnya tidak merelakan Chizuru untuk kita. Aku harus mengabari ini pada otousanmu."
Yuto hanya diam dan masih belum percaya apa yang kaachannya lakukan kalau Ia mempunyai adik perempuan sebelum Raiya, yang lebih parahnya lagi ternyata adik yang dicari kaachannya ternyata dekat dengannya. Ia pun membayangkan keluarga Nakajima ini yang akan kedatangan orang baru yang sebenarnya adalah keluarga lama. Kembali lagi, Ia memeluk kaachannya dengan erat dan membiarkan sang kaachan menangis.
* * * * * * *
Keesokan harinya, Yuto akan melancarkan aksinya. Ia terlihat serius. Namun, Ia berusaha seramah mungkin bila ditegur teman-temannya. Pernyataan kaachan semalam masih terngiang-ngiang di telinganya. Entah kenapa tiba-tiba Ia ingin menangis, tapi segera Ia tahan. Terbayang olehnya adik kandungnya yang perempuan, Chizuru. Sebuah Tepukan di punggung membuyarkan lamunanya hingga Ia agak kaget dan segera menoleh. Ternyata Ryosuke, dengan Chinen. Chinen heran melihat sahabat 177 cm nya itu yang rupanya melamun.
"Hey, Nakayan!Kau kenapa?Sakit?" tanya Ryo perhatian.
"Tidak," Yuto segera menyembunyikan apa yang tersirat di wajahnya.
"Heh, selama ini kamu yang selalu kepo ya. Kamu yang selalu pengen tau aja apa yang kami alami. Sampe si Chizuru masih aja kamu kepoin sampe kalian digosipin!" gurau Ryo. "Sekarang, giliran kami yang kepoin kamu! Itu risiko!"
"Un! Sudah hukum alam!" Chinen mengiyakan. "Curang kamu kalau tidak mau berbagi dengan kami!"
Yuto hanya tersenyum melihat keperhatiannya kedua sahabatnya itu. Tiba-tiba sauar Chizuru menarik perhatian mereka bertiga. "Nakajima senpai!" Tapi yang ada di dalam bayangan Yuto adalah Chizuru memanggilnya, "niichan!"
"Ryo menghela nafas saat Chizuru melangkah cepat ke arah mereka. "Yayangnya udah datang tuh. Yuk, Chii. Kita come on!"
"Yuk, biarkan mereka memadu kasih. Biarkan mereka pacaran!"
Yuto membelalak mendengar ucapan Chinen, "pacaran????"
Ryo dan Chii pun segera melesat ke kelas.
"Ohayou, senpai!"
"niichan?" Lagi-lagi yang terdengar oleh Yuto adalah 'niichan'.
Chizuru tentu mengerutkan keningnya karena senpai kesayangannya yang aneh. "Hah?niichan?"
"Eh, Chizuru. Ohayou. Kayaknya happy aja," segera Ia bersikap normla yang dipaksakan.
"Iya?Ah, enggak kok. Aku kayak gini pengen nghibur diri aja."
Menghibur diri?bisik Yuto di dalam hati. Ia yakin Chizuru sedang dalam masalah terutama dengan mitsuko. Dan Ia tahu, Chizuru tidak akan jujur padanya. Padahal, Ia berharap Chizuru curhat dengannya, terlebih mereka bersaudara.
"Ohya, Yamada senpai dan Chinen senpai mau kemana tuh?kok kabur liat aku???" tanya Chizuru. Tapi Ia tidak mendapat jawaban sama sekali. Yang ada, adalah Yuto sedang memandangnya tidak fokus. "Senpai ngelamun?"
"Hah?" Seakan sebuah air baru saja disemburkan ke wajah Yuto hingga Ia tersadar.
"Ya udah yuk. Sebentar lagi bel. Ayo masuk!" ajak Chizuru dan tidak mau mencampuri urusan Nakajima senpainya itu.
Tiba-tiba saja Yuto mencabut sehelai rambut Chizuru. Dan, "Au!"
"Senpai kok cabut rambutku sih?" Yuto hanya menggeleng dengan tatapan kosong, lalu pergi begitu saja. Menyebalkan!batin Chizuru.
Pada jam isitirahat, Chizuru sengaja mengikuti Yuto ke doujou. Ia masih penasaran kenapa Yuto tega mencabut sehelai rambutnya ya walaupun Ia thu itu sepele. Seperti biasa, Yuto menjadikan doujou sebagai kantinnya. Karena ketauan mengintip, Yuto pun memanggil Chizuru. Tentu, Chizuru agak ketakutan, sebab sikapnya yang dingin dan aneh.
"Ada apa kamu ke sini?" Chizuru tidak menyahut karena saking takutnya. Lalu, Yuto menoleh. Mula-mula senyum ramahnya muncul. "Maaf ya yang tadi...." Yuto kembali menyuruh Chizuru masuk dan akhirnya Chizuru mau.
"Senpai...kok senpai cabut rambutku sih?Itai yo!" Yuto hanya
menambah senyumnya lagi melihat Chizuru yang agak cemberut, dan Ia
membelai rambut Chizuru. Tentu, Yuto yang tidak pernah melakukannya
sebelumnya, merasa aneh dengan sikap Yuto itu. Tersadar oleh tatapan
Chizuru yang curiga, Ia menghentikan belaiannnya itu.
"Ohya, senpai ikut lomba apa?" tanya Chizuru. Ia memang tidak mau menanyakan kenapa Ia dibelai.
"Aku?Aku kan tournament karate. Jadi gak bisa ikut kompetesei olahraga."
"Sokaa na...Hufff...aku kesal. Aku ditunjuk buat ikut lomba voli sama sensei...mana gak ada yang ngedukung aku lagi!"
"Tenang, Aku yang akan jadi pendukungmu."
"Udah telat. Lombanya tadi. "
"Trus?"
"LOSE!"
Yuto hanya ternganga.
"Lah?"
"Aku tuh nungguin senpai dari tadi tapi senpai gak muncul-muncul!"
"Eh?Trus?"
"Kan udah ku bilang, aku kalah. LOSE!!!"
"Chizu..." Yuto mulai tampak menyesal.
"Aku pengen banget senpai ngeliat aku lomba..."
"Maafin aku ya..."
"Hya....Gak apa-apa kok. Gak seharusnya aku berharap kayak gini."
"Chizu, kalau kamu butuh aku, bilang aja..."
Chizuru hanya diam beberapa detik setelah menghela nafas. "Senpai, aku boleh jujur gak?"
"Ya?"
"Aku...aku pengen banget senpai jadi niichanku. Aku..." Chizuru
mulai menahan emosi airmatanya. "Aku tertekan di rumah. Gak ada yang
ngertiin aku selain senpai. Aku sayang banget sama senpai. Aku mau
senpai jadi niichanku!" Airmatanya pun sudah tak tertahan lagi. Ia pun
terisak sejadinya di depan Yuto. Yuto iba tapi bingung apa yang harus
dilakukannya.
"Aku tertekan, niichan...aku ini
dianggap apa sih?! Sama mistuko aja aku udah kayak budak pribadinya dia!
Otousan juga gitu. Aku gak boleh diizinin keluar rumah selain sekolah,
sekolah dan sekolah. Belum lagi dia bilang aku gak becus jadi kakak. Aku
selalu dituntut! Padahal Mitsuko....Ah!Aku capek! Aku kan bukan robot
yang bisanya diperintah, senpai....Aku juga butuh kasih sayang....Mereka
bilang, bilang mereka sayang aku, tapi...."
"Chizu....kan demi kebaikanmu juga..."
"Tapi aku tertekan!!! Aku selalu salah di mata mereka! Mereka
ngelarang tapi mereka malah ngelakuin apa yang mereka larang. Tadi aja,
aku dibentak. Lebih tepatnya diusir karena aku dianggap gak ngerti
orangtua. Padahal aku cuma pengen ngasih kekuatan ke otousan biar sabar
soalnya otousan lagi ada masalah. Dikiranya aku taunya cuma
senang-senang...Gak pernah mau tau masalah orangtua...Aku....gak
kuat...." Chizuru tidak mampu melanjtkan kata-katanya. Ia tidak tahu
harus cerita apa lagi. Hatinya terlalu sakit mengingat kekerasan yang Ia
terima selama di rumah. Baik kekerasan fisik maupun psikis. Tapi,
seakan belum plong hatinya itu, Ia terus bercerita tak peduli walau aib.
Namun, Yuto yang tidak tahan mendengarnya, melarang Chizuru
melanjutkan.
"Sudahlah....sudah...jangan
dilanjutkan..." Yuto pun memeluk Chizunya itu. "Akan semakin sakit
hatimu itu bila kau teruskan..."
Yuto membiarkan
jas seragamnya dibasahi airmata Chizuru yang teggelam dalam pelukannya.
Chizuru seakan lupa diri dalam tangisnya. Tapi, satu yang Ia sadar, Ia
seakan mendapatkan sebuah kasih sayang yang telah lama hilang. Pelukan
Yuto begitu hangat baginya. Tidak ada yang pernah memeluknya sejak Ia
remaja. Ia tahu Ia bukan anak-anak lagi. Tapi setidaknya, Ia bisa
merasakan pelukan orangtuanya. Hanya Yuto yang saat ini yang juga ikut
tenggelam dalam tangis, memeluk dengan erat bahkan rambutnya pun diciumi
oleh senpai yang sangat disayanginya itu.
"Menangislah sepuasmu jika itu membuatmu tenang...jika itu membuatmu
lebih baik...Dan mulai sekarang, panggilah aku niichan jika kau
menginginkan seorang kakak..."
Semakin terisaklah Chizuru mendengarnya. "Aku sayang niichan..."
"Aku juga, Aku sayang imoutochanku...."
* * * * * * *
"Chizuchan, ayo kamu aku antar pulang!" orang-orang mengira pasti kami pacaran.
"Un!" Aku mengangguk.
Para gadis mulai terlihat cemburu saat kami berpegangan tangan melangkah keluar sekolah. Ah, tidak ada yang perlu mereka cemburukan sebenarnya. Lagipula kan masih ada Yamada senpai dan Chinen senpai, bisikku dalam hati dan mungkin juga tertawa di dalam hati karena melihat kepolosan mereka. Tapi, bicara Yamada senpai, aku tidak rela bila...ah...mungkin aku harus curhat ke Yuto nii.
"Chizu chan?Daijoubu ka?" Yuto nii menyadari kebisuanku.
"Ee."
"Yokatta!"
"Ohya, niichan, okaasan wa genki ka?" kata ku basa-basi mengusir lamunan.
"Genki da yo!"
Tiba-tiba aku teringat malan malam bersama keluarga Nakajima. "Yuto nii..."
"Ya?"
"Okaasan kok ngeliat aku kayak gitu ya?"
Tak ada jawaban. Yuto nii malah membisu. Tapi matanya seakan mencari sesuatu di dalam otaknya.
"Tau gak apa yang ada dalam pikiranku?" Aku mulai agak gila.
"Enggak."
"Aku ngebayangin kalau tanda lahirku ini sebagai bukti!"
"Bukti?"
"Ya. Kayak di TV-TV, Yuto nii. Kisah anak hilang. Anak yang ketukar."
"Maksudmu kita ketukar?"
"Gak tau juga sih. Tapi lewat tanda lahir ini, aku bisa menemukan kelaurga kandungku. Ya, pikiran gilaku sih gitu..."
Yuto nii hanya tertawa kecil "Emang yang sekarang itu keluarga tiri ya?"
"Ih bukan gitu!"
"Yaudah, mengenai hasilnya nanti, kita liat aja ntar ya..."
"Hasil?"
"Eh?Emang aku ngomong apa ya?"
"Yuto nii udah ada ubannya ya?Masak baru diucapin aja lupa?!"
"He...kamu lucu deh kalo mukanya gitu."
Yuto nii terlihat menyembunyikan sesuatu. Aku tidak mau bertanya lagi dan lebih baik ku telusuri sendiri.
Tidak terasa sudah sampai di rumah. Obrolan antara aku dan Yuto nii membuat jarak antara rumah dan sekolah terasa dekat.
"Yaudah ya. Aku pamit dulu. Mata Raishu!"
"Mata Raishu?"
"Ohya lupa! Kamu belum ku kasih tau ya. Besok aku akan ke Okinawa. Tournament karatenya di sana. Doakan aku ya. Dan jaga dirimu baik-baik."
Aku agak sedih karena tentu selama beberapa hari, aku tidak akan bertemu Yuto nii. Tapi, aku senang karena memang ini sudah jadi impiannya dan aku harus mendukung. "Un. Ganbatte!"
"Ja!"
Masih ada satu lomba lagi yang harus ku ikuti. Aku sempat bingung kenapa sensei menunjukku lagi. Hh...aku berharap Yuto nii bisa melihatku sedang lomba. Kira-kira dia akan datang tidak ya...
* * * * * * *
Hari ini hari libur. Kaachan membawaku ke dokter kandungan. Emang aku hamil apa?!kata ku membatin. Ini semua karena aku belum juga mendapati haidku. Hingga kaachan dan otousan mulai mencemaskanku, takut aku terlahir tidak normal. Tapi, lain Mitsuko. Tiada hari tanpa meledekku. Biarlah, yang penting otousan akhirnya menunjukkan keperhatiannya pada gadis sulungnya ini.
Aku harap-harap cemas saat di rumah sakit. Tanganku menjadi dingin karena takut dan gugup menjadi satu. Segala macam penyakit yang timbul menghantu pikiranku. Aku berusaha rileks dan bersandar di kursi bersama kaachan hingga namaku terpanggil.
"Kurosaki Chizuru!" Spontan, aku memegang erat tangan kaachan. Kaachan berusaha membuatku tenang dan kami pun masuk ke ruang dokter. Dokternya laki-laki. Aku malu bila ditanya'apa keluhannya' Tapi, ya sudahlah.
"Apa keluhannya?" Tepat. Pertanyaan yang sudah ku duga sebelumnya. Dan karena malu, aku tidak menjawab. Malah melirik kaachan.
"Anak saya, dok. Dia belum haid sampai sekarang." Rupanya kaachan mengerti maksudku.
Dokter berkacamata itu hanya mengerutkan keningnya dan menatapku setelah Ia memperhatikan kaachan yang sedang menjawab.
"Umurmu, tujuh belas tahun ya..." Dokter itu mulai membaca kertas-kertas yang berisi riwayat penyakitku. "Mungkin kamu telat saja mendapatkan haidnya."
"Tapi, apa tidak ada obat atau..."
"Sebaiknya dia di rotgen saja." kata dokter, mantap. Sambil menyerahkan beberapa lembar surat kepada kaachan. "Kita akan tahu hasilnya dari rontgen. Tapi saya yakin, Chizuru chan ini hanya telat saja." Dokter ini pun memberikan senyuman yang ramah kepadaku.
Kaachan mengangguk-angguk sembail melihat surat-suratyang sudah di tangannya. "Baiklah. Terima kasih, dok." Aku dan kaachan pun pamit ke lantai atas.
Begitu di lantai atas, kaachan langsung menunjukkan surat-surat dari dokter pada seseorang yang juga pegawai rumah rumah sakit. Barulah, kaachan terlihat cemas saat kami menunggu namaku dipanggil untuk kedua kalinya. Aku berusaha untuk berpikir positif.
"Ohya, kaachan membelikan hp baru loh untuk kamu. Hp kamu hilang di sungai kan?" kata kaachan mencairkan suasana. "Tapi kamu jangan bilang-bilang Mitsuko ya."
Aku merasa ini kejutan. Tapi aku harus merahasiakan hal ini dari Mitsuko.
"Jahat sekali dia. Maksudnya apa coba nyeburin hp kamu ke sungai?!"
"Kok kaachan tahu?"
"Aku melihatnya. Tapi kamu tidak pernah cerita, Kamu terlihat tertekan. Kamu diancam ya sama dia?"


No comments:
Post a Comment