Title : XY (Finish)
Cast : Kurosaki Chizuru, Kurosaki Mistuko, Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Chinen Yuri, Nakajima Yumiko, Ohgo Suzuka, Shida Mirai.
Genre : IDK
Rating : T
Author: Nadia Rahmandani
"Ia tidak memiliki rahim layaknya perempuan..."
"He?nani?"
"Sebenarnya Ia ingin mengatakan hal ini ke senpai tapi Ia sudah takut duluan."
"Kowai?Nande?"
Yoshimi diam sebentar. "Ia malu. Ia takut senpai tidak mau mengakuinya sebagai adik. Ia takut senpai malu punya adik sepertinya..." Yuto tidak bisa berkata apa-apa selain hampit tidak percaya apa yang diucapkan Yoshimi. Ia hanya benar-benar mendengarkan apa yang akan dikatakan Yoshimi. "Bahkan, Ia ingin kembali saja kepada keluarga Kurosaki, tapi Ibu yang telah merawatnya telah melarangnya. Ia sempat berpikir kalau Ia telah diusir secara halus oleh keluarga Kurosaki...Ia mengira kalau keluraga Kurosaki malu punya anak sepertinya..." Yoshimi terlihat terbawa oleh suasana. Suaranya mulai seperti suara orang menangis.
"Ya ampun..." Yuto mendesah.
"Aku harap senpai mau menerima Chizuru apa adanya. Dia butuh senpai."
"Sekarang, dimana dia?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku khwatair Ia akan bunuh diri karena berkali-kali Ia bilang padaku kalau Ia ingin mengakhiri hidupnya di aokigahara..."
"Dame!" kata Yuto spontan. "Baiklah, aku akan mencarinya. Arigatou infonya!" Yuto segera meninggalkan Yoshimi. Tempat pertma ayang menjadi sasaran pencariannya adalah doujou.
Dari luar, terdengar seperti ada orang yang sedang latihan. Saat Yuto mengintip, Ia melihat dua teman sekelasnya, Shida dan Suzuka. Mareka terlihat sedang mengajari Chizuru cara menggunakan shinai yang baik. Syukurlah Chizuru baik-baik saja, batin Yuto. Tapi wajah Chizuru keliahatan tanpa ekspreesi bahkan cenderung murung. Berkali-kali Ia dimarahi Shida karena teknik Chizuru memainkan shinai salah. Karena bosan dengan amarah Shida, Chizuru pun mengumpulkan emosinya dan tanpa ada perintah apa-apa, Ia menyerang Suzuka hingga darah mulai mengucur di kepalanya. Tidak ada reaksi apa-apa dari Chizuru. Ia seakan mati perasaan. Walau sebenarnya di hati kecilnya Ia bersalah, Chizuru tetap tidak mau menunjukkan empatinya. Malah Ia membelankangi Shida yang semakin marah padanya.
Ia mendengar suara laki-laki yang jelas bukan suara Shida atau Suzuka. Suara itu menyebut namanya. Walau Ia tahu siapa si pemilik suara, Ia tidak menoleh. Yuto yang saat itu sedang mengintip, langsung menghampiri Suzuka yang masih mengaduh. Sekali lagi, Yuto memanggil Chizuchannya itu. Barulah, Ia melihat adiknya itu menoleh. Tapi, Ia kembali membelakangi dan melanjutkan langkahnya seperti langkah orang yang terhipnotis. Lalu, sosok Yoshimi muncul di belakang Yuto.
"Chizu!! Sudahlah! ceritakan saja semuanya pada niichanmu ini!" seru Yoshimi.
"Chizu..." Pelan-pelan Yuto mendeekati Chizuru. Tapi langkahnya tertahan saat Chizuru bersuara.
"untuk apa?kamu pasti udah menceritakannya kan?apalagi yang harus ku ceritakan?"Semua sudah jelas. Aku gak normal!" lirih Chizuru.
"Tidak!!!" Yuto berusaha mengeluarkan suara.
"Sudahlah, Yuto nii. Sudah kenyataannya kalau organ tubuhku tidak lengkap! Aku cacat!"
Pelan-pelan Yuto kembali mendekatinya dan memeluknya dari belakang. "Kita bisa cek lagi kan?" Chizuru hanya menangis.
"Aku gak punya rahim...aku cacat..."
"Sudah, kamu tenang dulu. Seharusnya kamu ceritakan dulu dari awal biar bisa diperiksa lebih cepat. Nanti, katakan hal ini ke kaachan...."
"Kaasan?"
Yuto menggeleng. "Kaachan."
Yuto pun mengusap airmata Chizuru sambil menyugesti supaya dia mau tersenyum. Lalu, Ia mengajak Chizuru untuk meminta maaf pada Suzuka. Suzuka hanya tersenyum. Ia mengerti Chizuru sedang dalam masalah besar.
Malamnya, Yuto menemani Chizuru ke kamar kaachan dengan membawa amplop berisi hasil rontgen. Akhir-akhir ini Raiya lebih banyak mengalah pada Chizuru sebab kakak perempuannya itu sedang membutuhkan Yuto nii nya itu.
"Masuk!" Suara kaachan setelah Yuto mengetuk pintu kamarnya. Pelan-pelan, Yuto dan Chizuru mendekati kaachan yang duduk memandang ke luar jendela. Sang kaachan mulai memperhatikan gerak-gerik dua buah hatinya yang sudah remaja itu. Tampak mencurigakan.
"Ada apa ini?Kok kalian aneh?" tanya kaachan. Mula-mula Chizuru menyatakan permohonan maafnya yang jelas tidak dimengerti sang kaachan. Barulah, Chizuru menceritakan hal yang sebenarnya, dibantu Yuto. Yuto selalu membantunya saat Chizuru kesulitan menemukan kata-kata yang tepat untuk mengutarakan pada kaachan. Ekspresi kaget mulai tampak di wajah kaachan. Antara percaya tidak percaya, kaachan pun menerima amplop hasil rontgen Chizuru. Lama Ia terdiam. Dikeluarkannya isi amplop itu. Ia hanya mengerutkan kening tanda tidak mengerti sambil melihat poto hasil rontgennya. Ia mencoba memejamkan matanya untuk menraik nafas dalam-dalam. Lalu mengeluarkan nafas. Disentuhlah pundak Yuto dan Chizuru. Ia melihat, ada kemiripan yang sangat kental antara Chizuru dan Yuto.
"Tidak, nak. Kau normal. Aku yakin itu!" Chizuru dan Yuto hanya diam memperhatikan kaachan.
"Kita coba periksa lagi!" lanjut kaachan. Chizuru hanya mendesah. Dan Yuto hanya mengelus-elus punggung adiknya itu.
* * * * * * *
Hasilnya sama. Kedua kalinya aku ke rumah sakit bersama kaasan, maksudku kaachan, tetap saja aku mendapat poto dengan hasil yang sama dengan yang pertama. Aku tidak mempunyai rahim. Tapi, kata dokter, aku bukan memiliki kelainan. San dokter hanya menyarankanku ke laboratorium untuk diperiksa keadaan genetikku. Lagi, aku berpikiran positif.
Ditemani kaachan, aku pergi ke tempat yang dijanjikan. Di sebuah laboratorium sarangnya para ilmuwan. Di sana aku diperiksa, diminta sampel darahnya dan sampel lain-lain. Yang jelas, pemeriksaan yang dilakukan orang-orang di laboratorium sungguh berbeda dengan yang di rumah sakit. Setelah menjalani seegala 'ritual'nya, aku dan kaachan diperbolehkan pulang. dan akan kembali minggu depan.
Selama seminggu ini, Yuto nii dan Raiya selalu menghibur dan menyemangatiku. Raiya memang tidak mengertti apa-apa. Tapi, Ia juga ikut Yuto nii menghiburku. Di sekolah pun aku merasa terhibur. Sebab, Yuto nii selalu menjadi teman setiaku. Bahkan Ia mengajakku berkumpul bersama dengan Yamada sepai dan Chiinen senpai. Ah...Yamada senpai...terpikir olehku, apakah Yuto nii telah menceritakan keadaanku padanya?Entahlah, tapi aku yakin, Yuto nii tetaplah kakakku yang terbaik.
Hingga tibalah pada hari yang dijanjikan, deg-degan itu muncul kembali. Tidak hanya aku dan kaachan, tiga laki-laki di rumah juga harap-harap cemas menanti hasil. Berkali-kali, Yuto nii memberi pesan semangat melalui ponsel baruku dari kaachanku yang dulu. Ah, aku kangen beliau. Tapi, aku harus bersyukur dan menerima keluargaku yang sekarang. Mereka benar-benar meenghibur dan mendukungku. Walau demikian, keluarga Kurosaki tak akan ku lupakan.
"Ini hasil labolatoriumnya," kata seorang wanita yang berpakaian seperti pakaian dokter. Ia menyerahkan berkas-berkas hasil pemeriksaanku pada kaachan.
"Apa ini?Jadi, bagaimana hasilnya?"
"Di situ tertulis kalau Nakajima Chizuru memiliki gen XY." Sang wanita berpakaian dokter itu menunduk. Dan kembali menjelaskan. Sepertinya akan ada berita buruk.
"Normalnya, perempuan itu gennya XX. Nah, Nakajima Chizuru justru gennya XY, yang jelas gen yang dimilki laki-laki.Itulah sebabnya Ia tidak memilki rahim dan ovarium. Otomatis, Ia tidak akan mengalami menstruasi,"lanjutnya.
Aku dan kaachan diam sejanak. Agaknya, kami masih belum mengerti.
"Jadi?" Kaachan mulai bertanya.
"Jadi, secara genetik, gennya Chizuru itu XY dan secara genetik pula, Chizuru adalah laki-laki. Bisa dibilang, seharusnya Ia lahir sebagai laki-laki. Tapi, terjadi kesalahan pada kandungan dan jabang bayi, dan berakibat demikian..."
Jantungku mulai berdetak lebih kencang. Ternyata ini lebih parah dari yang ku duga. Aku benar-benar tidak normal!
"Maaf, hanya ini yang bisa kami katakan..."
Kaachan hanya diam menatap ke bawah. Brusaha bertanya dengan pertanyaan yang sebenranya sudah dijawab wanita berpakaian dokter ini. Masih belum yakin dan belum percaya. Tapi, rupanya kaachan harus sabar. Aku hanya menatapnya serba salah. Aku sebanrnya juga memilki perasaan yang dimilki kaachan. Tapi, aku tidak bisa menunjukkan kesedihanku di depan orang kecuali pada orang yang munskin sudah mengenalku dan aku mau jujur padanya. Aku hanya bisa mendesah. Berusaha tegar.
Pelan-pelan setelah kami mendengar ocehan si wanita berpakaian doketr ini, aku mengajak kaachan untuk pulang. Sepanjang perjalanan, kami tidak berkomunikasi. Aku hanya mendesah dengan semua ini. Bukannya kabar baik, malah kabar buruk yang kami terima. Dan yang lebih menyakitkan, kaachan terus menerus diam hingga sampai di rumah. Mungkin kaachan masih shock. Tanpa senyum, Ia langsung masuk ke kamar. Sementara Yuto nii yang sejak tadi duduk di ruang tamu terus membuntutui kami dengan penasaran. Aku tidak melihat Raiya dan otousan. Sambil menghela nafas, aku pun memberikan berkas-berkas yang tadi diterima kaachan. Aku juga menjelaskan dengan mengulang apa yang dikatakan wanita di labolatorium tadi. Tanpa peduli dengan reaksinya, aku segera masuk kamar dengan perasaan yang entahlah aku tidak tahu. Aku merasa hidupku semakin suram. Tanpa sadar, aku menangis. Bagaimana mungkin aku yang terlahir sebagai perempuan tulen, tiba-tiba divonis kalau secara genetika bahwa aku adalah laki-laki??? Ini tidak masuk akal. Tapi, ya itulah keadaanku. Hanya secuil dari segelintir umat manusia yang mengalami hal seperti ini di dunia. Ah, seterusnya aku tidak akan menjadi lebih baik! kata ku membatin. Aku kesal. entah kesal pada siapa. Kesal pada takdir???Ah...wakarimasen!!!!
* * * * * * *
Hampir terhitung satu bulan aku terus berbraing di tempat tidur. Tidak ada semangat hidup. Terkadang aku kesal pada Yuto nii yang selalu menggagalkankan ku untuk kabur. Ia juga menggagalkanku untuk bunuh diri. Aku bingung, kenapa orang itu masih saja menyayangiku. Ya, sepulang dari labolatorium itu, aku langsung jatuh sakit. Tidak mau makan. Ku pikir untuk apa hidup?Hidupku saja tidak jelas, laki-laki apa perempuan! Tapi, orang-orang rumah terus menghiburku. Ya, mereka menghiburku. Bahkan keluarga Kurosaki juga menengokiku. Aku tidak tahu harus menunjukkan ekspresi apa pada mereka. Aku terlalu kalut. Mungkin galau. Aku sempat berharap, kaachan kurosaki mau mengelus rambutku, tapi Ia hanya menatapku iba. Semakin yakinlah aku kalau mereka membuangku karena aku ini aib! Ah!
Ah! ah! ah! Bagaimana sih aku ini????Kenapa hidupku begini???Aku benar-benar tidak mengenal siapa diriku! Tadinya aku ini adalah Kurosaki, lalu sekarang Nakajima. Tadinya aku perempuan. Lalu sekarang???Aku tidak tahu!!! Tapi....bagaimana mungkin???!!!
Satu per satu dari mereka mulai sibuk dengan urusannya masing-masing. Tapi, masih menyempatkan diri untuk memberiku senyuman. Hanya kaachan. Jangankan tersenyum, menatapku saja enggan. Kaachan sudah kelihatan malu dengan kehadiranku ini. Aku benar-benar aib. Hanya Yuto nii yang menerimaku apa adanya. Hiburan darinya tidak berhenti. Bahkan demi melihatku tersenyum, Ia sampai ketiduran di kamarku. Dan itu sering. Pernah suatu malam, aku bermimpi buruk Sangat buruk Yuto nii selalu ada untukku. Bahkan saat aku mengigau sambil berjalan pun, Yuto nii seakan tidak pernah lelah. Lalu Ia menggendongku ketika mendapati aku berhenti berjalan dalam igauan di dapur, tidur di sana.
Suatu hari, aku pernah melihatnya menangis sambil mengelus-elus rambutku. Aku tidak tahan melihat airmatanya itu. Melihat airmatanya itu, aku pun langsung bangkit. Hari demi hari kesehatanku mulai membaik walau masih belum diizinkan untuk sekolah. Aku juga sudah bisa tersenyum tanpa dipancing Yuto nii. Dan Yuto nii terlihat senang dan bersemangat. Pada saat keadaanku membaik,teman-teman Yuto nii mulai menengokiku. Ada Yamada senpai. Aku melihat, Yamada senpai sudah tidak berarti lagi bagiku. Dia tidak akan pernah mencintaiku. Aku tahu itu. Namun, perasaan itu masih ada walau sedikit. Mungkin, sudah saatnya Yuto nii tahu. Begitu aku melihat Yamada senpai dan teman-temannya sudah pergi, aku mulai mengutarakan perasaanku ini. Yuto nii hanya tersenyum. Ia justru mendukungku dan akan membantu. Tapi aku tidak yakin, Aku ini tidak normal. Yamada senpai tidak mungkin mencintaiku. Aku sudah meyakininya. Melihat Yuto nii yang sangat bersemangat, aku hanya diam dan tidak bisa mencegahnya.
Hari pertama sekolah setelah aku aku sakit, pertama yang ku cari adalah Yamada senpai. Entah mengapa aku ingin melihatnya. Hanya melihatnya. Saja. Hari ini juga, Yuto nii mulai melancarkan aksinya sebagai mak comblang. Tapi, sebelum teerjadi yang tidak-tidak, aku harus menemui Yamada senpai dulu dan mengatakan bahwa Yuto nii akan mengerjainya. Namun, gejolak hati ini memaksaku untuk menyatakan perasaan ini. Ah. Hingga pulang sekolah, tidak ada usaha yang berarti yang ku lakukan untuk mendekati Yamada senpai. Rasa malu ini terlalu menguasaiku. Ah!
Sebuah surat ku temukan di lemari sepatuku. Dari Yuto nii? Mengajak ketemuan di tepi sungai. Kenapa musti melalui surat? Bukankah Ia bisa mengajakku langsung?Ah biarlah. Ku ikuti saja. Tapi, perasaanku kok gak enak ya?Apa jangan-jangan Yuto nii mau mengerjaiku?Aku hanya menggeleng-geleng sendiri.
Begitu aku sampai di tepi sungai, yang tampak olehku hanya Yamada senpai. Waduh?Jadi ini rencananya?batinku. Benar kan dia memang mengerjaiku....tapi kok tega sekali Ia mempertemukan aku dengan Yamada senpai???Sudah tahu, aku sangat gugup kalau bertemu dengannya! Hah!!!! Yuto nii!!!
Pelan-pelan, aku menyapanya. Agak kaget saat Yamada senpai menyambut salamku dengan senyumannya itu. Aku sampai bingung harus berkata apa. Tapi, tiba-tiba aku jadi ingat siapa aku. Ya, aku harus mengutarakannya. Aku hanya mengatakan perasaan ini saja. Menyimpan perasaan ini terlalu lama kadang membuatku tersiksa. Tanpa basa-basi, aku langsung mengatakan, "Suki desu!!!!" Dan aku mendengar suaraku yang cempreng ini. Antara malu, gugup dan sedih menjadi satu. Rupanya, Yamada senpai masih tidak mengerti. Baiklah. "Gomen. Aku terlihat buru-buru.Aku juga minta maaf sebelumnya. Tapi aku hanya ingin mengatakan kalau aku....aku suka senpai...Aku yang menderita kelainan ini hanya ingin bilang kalau aku suka senpai!!!" Barulah aku bisa melihat kekagetannya. Ah, merah pasi pasti wajahku ini. Tapi, rasa sedih dan malu lebih menguasai. Ah, senpai...aku benar-benar hanya ingin mengutarakan perasaanku ini saja. Karena aku ingin senpai tahu, aku yang tidak normal ini menyukai senpai. Kalimat itu ingin ku katakan padanya. Tapi yang ada hanya tangisan. Aku tidak tahan dan menangis. Aku sudah tidak tahan lagi berada di dekatnya dan segera berlari menjauh darinya. Menjauh, hingga saat ku menoleh ke belakang, Yamada senpai benar-benar tidak tampak olehku.
Ku dapati, Yuto nii sedang mengintip di balik pohon. Seharusnya aku memarahinya, karena Ia sudah mempertemukanku dengan Yamada senpai. Tapi, aku tidak bisa marah. Airmataku meluap. Aku pun memeluknya dengan isakan yang sangat kuat. Aku merasa tidak punya siapa-siapa lagi selain Yuto nii. Aku akan tetap hidup untuk Yuto nii yang telah berkorban untukku. Yang telah menyayangi sepenuh hatinya. Dan cintaku hanya untuk Yuto nii, kakak ku yang paling baik sedunia....Niichan ni Aishiteimasu!!!!
Cast : Kurosaki Chizuru, Kurosaki Mistuko, Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Chinen Yuri, Nakajima Yumiko, Ohgo Suzuka, Shida Mirai.
Genre : IDK
Rating : T
Author: Nadia Rahmandani
"Ia tidak memiliki rahim layaknya perempuan..."
"He?nani?"
"Sebenarnya Ia ingin mengatakan hal ini ke senpai tapi Ia sudah takut duluan."
"Kowai?Nande?"
Yoshimi diam sebentar. "Ia malu. Ia takut senpai tidak mau mengakuinya sebagai adik. Ia takut senpai malu punya adik sepertinya..." Yuto tidak bisa berkata apa-apa selain hampit tidak percaya apa yang diucapkan Yoshimi. Ia hanya benar-benar mendengarkan apa yang akan dikatakan Yoshimi. "Bahkan, Ia ingin kembali saja kepada keluarga Kurosaki, tapi Ibu yang telah merawatnya telah melarangnya. Ia sempat berpikir kalau Ia telah diusir secara halus oleh keluarga Kurosaki...Ia mengira kalau keluraga Kurosaki malu punya anak sepertinya..." Yoshimi terlihat terbawa oleh suasana. Suaranya mulai seperti suara orang menangis.
"Ya ampun..." Yuto mendesah.
"Aku harap senpai mau menerima Chizuru apa adanya. Dia butuh senpai."
"Sekarang, dimana dia?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku khwatair Ia akan bunuh diri karena berkali-kali Ia bilang padaku kalau Ia ingin mengakhiri hidupnya di aokigahara..."
"Dame!" kata Yuto spontan. "Baiklah, aku akan mencarinya. Arigatou infonya!" Yuto segera meninggalkan Yoshimi. Tempat pertma ayang menjadi sasaran pencariannya adalah doujou.
Dari luar, terdengar seperti ada orang yang sedang latihan. Saat Yuto mengintip, Ia melihat dua teman sekelasnya, Shida dan Suzuka. Mareka terlihat sedang mengajari Chizuru cara menggunakan shinai yang baik. Syukurlah Chizuru baik-baik saja, batin Yuto. Tapi wajah Chizuru keliahatan tanpa ekspreesi bahkan cenderung murung. Berkali-kali Ia dimarahi Shida karena teknik Chizuru memainkan shinai salah. Karena bosan dengan amarah Shida, Chizuru pun mengumpulkan emosinya dan tanpa ada perintah apa-apa, Ia menyerang Suzuka hingga darah mulai mengucur di kepalanya. Tidak ada reaksi apa-apa dari Chizuru. Ia seakan mati perasaan. Walau sebenarnya di hati kecilnya Ia bersalah, Chizuru tetap tidak mau menunjukkan empatinya. Malah Ia membelankangi Shida yang semakin marah padanya.
Ia mendengar suara laki-laki yang jelas bukan suara Shida atau Suzuka. Suara itu menyebut namanya. Walau Ia tahu siapa si pemilik suara, Ia tidak menoleh. Yuto yang saat itu sedang mengintip, langsung menghampiri Suzuka yang masih mengaduh. Sekali lagi, Yuto memanggil Chizuchannya itu. Barulah, Ia melihat adiknya itu menoleh. Tapi, Ia kembali membelakangi dan melanjutkan langkahnya seperti langkah orang yang terhipnotis. Lalu, sosok Yoshimi muncul di belakang Yuto.
"Chizu!! Sudahlah! ceritakan saja semuanya pada niichanmu ini!" seru Yoshimi.
"Chizu..." Pelan-pelan Yuto mendeekati Chizuru. Tapi langkahnya tertahan saat Chizuru bersuara.
"untuk apa?kamu pasti udah menceritakannya kan?apalagi yang harus ku ceritakan?"Semua sudah jelas. Aku gak normal!" lirih Chizuru.
"Tidak!!!" Yuto berusaha mengeluarkan suara.
"Sudahlah, Yuto nii. Sudah kenyataannya kalau organ tubuhku tidak lengkap! Aku cacat!"
Pelan-pelan Yuto kembali mendekatinya dan memeluknya dari belakang. "Kita bisa cek lagi kan?" Chizuru hanya menangis.
"Aku gak punya rahim...aku cacat..."
"Sudah, kamu tenang dulu. Seharusnya kamu ceritakan dulu dari awal biar bisa diperiksa lebih cepat. Nanti, katakan hal ini ke kaachan...."
"Kaasan?"
Yuto menggeleng. "Kaachan."
Yuto pun mengusap airmata Chizuru sambil menyugesti supaya dia mau tersenyum. Lalu, Ia mengajak Chizuru untuk meminta maaf pada Suzuka. Suzuka hanya tersenyum. Ia mengerti Chizuru sedang dalam masalah besar.
Malamnya, Yuto menemani Chizuru ke kamar kaachan dengan membawa amplop berisi hasil rontgen. Akhir-akhir ini Raiya lebih banyak mengalah pada Chizuru sebab kakak perempuannya itu sedang membutuhkan Yuto nii nya itu.
"Masuk!" Suara kaachan setelah Yuto mengetuk pintu kamarnya. Pelan-pelan, Yuto dan Chizuru mendekati kaachan yang duduk memandang ke luar jendela. Sang kaachan mulai memperhatikan gerak-gerik dua buah hatinya yang sudah remaja itu. Tampak mencurigakan.
"Ada apa ini?Kok kalian aneh?" tanya kaachan. Mula-mula Chizuru menyatakan permohonan maafnya yang jelas tidak dimengerti sang kaachan. Barulah, Chizuru menceritakan hal yang sebenarnya, dibantu Yuto. Yuto selalu membantunya saat Chizuru kesulitan menemukan kata-kata yang tepat untuk mengutarakan pada kaachan. Ekspresi kaget mulai tampak di wajah kaachan. Antara percaya tidak percaya, kaachan pun menerima amplop hasil rontgen Chizuru. Lama Ia terdiam. Dikeluarkannya isi amplop itu. Ia hanya mengerutkan kening tanda tidak mengerti sambil melihat poto hasil rontgennya. Ia mencoba memejamkan matanya untuk menraik nafas dalam-dalam. Lalu mengeluarkan nafas. Disentuhlah pundak Yuto dan Chizuru. Ia melihat, ada kemiripan yang sangat kental antara Chizuru dan Yuto.
"Tidak, nak. Kau normal. Aku yakin itu!" Chizuru dan Yuto hanya diam memperhatikan kaachan.
"Kita coba periksa lagi!" lanjut kaachan. Chizuru hanya mendesah. Dan Yuto hanya mengelus-elus punggung adiknya itu.
* * * * * * *
Hasilnya sama. Kedua kalinya aku ke rumah sakit bersama kaasan, maksudku kaachan, tetap saja aku mendapat poto dengan hasil yang sama dengan yang pertama. Aku tidak mempunyai rahim. Tapi, kata dokter, aku bukan memiliki kelainan. San dokter hanya menyarankanku ke laboratorium untuk diperiksa keadaan genetikku. Lagi, aku berpikiran positif.
Ditemani kaachan, aku pergi ke tempat yang dijanjikan. Di sebuah laboratorium sarangnya para ilmuwan. Di sana aku diperiksa, diminta sampel darahnya dan sampel lain-lain. Yang jelas, pemeriksaan yang dilakukan orang-orang di laboratorium sungguh berbeda dengan yang di rumah sakit. Setelah menjalani seegala 'ritual'nya, aku dan kaachan diperbolehkan pulang. dan akan kembali minggu depan.
Selama seminggu ini, Yuto nii dan Raiya selalu menghibur dan menyemangatiku. Raiya memang tidak mengertti apa-apa. Tapi, Ia juga ikut Yuto nii menghiburku. Di sekolah pun aku merasa terhibur. Sebab, Yuto nii selalu menjadi teman setiaku. Bahkan Ia mengajakku berkumpul bersama dengan Yamada sepai dan Chiinen senpai. Ah...Yamada senpai...terpikir olehku, apakah Yuto nii telah menceritakan keadaanku padanya?Entahlah, tapi aku yakin, Yuto nii tetaplah kakakku yang terbaik.
Hingga tibalah pada hari yang dijanjikan, deg-degan itu muncul kembali. Tidak hanya aku dan kaachan, tiga laki-laki di rumah juga harap-harap cemas menanti hasil. Berkali-kali, Yuto nii memberi pesan semangat melalui ponsel baruku dari kaachanku yang dulu. Ah, aku kangen beliau. Tapi, aku harus bersyukur dan menerima keluargaku yang sekarang. Mereka benar-benar meenghibur dan mendukungku. Walau demikian, keluarga Kurosaki tak akan ku lupakan.
"Ini hasil labolatoriumnya," kata seorang wanita yang berpakaian seperti pakaian dokter. Ia menyerahkan berkas-berkas hasil pemeriksaanku pada kaachan.
"Apa ini?Jadi, bagaimana hasilnya?"
"Di situ tertulis kalau Nakajima Chizuru memiliki gen XY." Sang wanita berpakaian dokter itu menunduk. Dan kembali menjelaskan. Sepertinya akan ada berita buruk.
"Normalnya, perempuan itu gennya XX. Nah, Nakajima Chizuru justru gennya XY, yang jelas gen yang dimilki laki-laki.Itulah sebabnya Ia tidak memilki rahim dan ovarium. Otomatis, Ia tidak akan mengalami menstruasi,"lanjutnya.
Aku dan kaachan diam sejanak. Agaknya, kami masih belum mengerti.
"Jadi?" Kaachan mulai bertanya.
"Jadi, secara genetik, gennya Chizuru itu XY dan secara genetik pula, Chizuru adalah laki-laki. Bisa dibilang, seharusnya Ia lahir sebagai laki-laki. Tapi, terjadi kesalahan pada kandungan dan jabang bayi, dan berakibat demikian..."
Jantungku mulai berdetak lebih kencang. Ternyata ini lebih parah dari yang ku duga. Aku benar-benar tidak normal!
"Maaf, hanya ini yang bisa kami katakan..."
Kaachan hanya diam menatap ke bawah. Brusaha bertanya dengan pertanyaan yang sebenranya sudah dijawab wanita berpakaian dokter ini. Masih belum yakin dan belum percaya. Tapi, rupanya kaachan harus sabar. Aku hanya menatapnya serba salah. Aku sebanrnya juga memilki perasaan yang dimilki kaachan. Tapi, aku tidak bisa menunjukkan kesedihanku di depan orang kecuali pada orang yang munskin sudah mengenalku dan aku mau jujur padanya. Aku hanya bisa mendesah. Berusaha tegar.
Pelan-pelan setelah kami mendengar ocehan si wanita berpakaian doketr ini, aku mengajak kaachan untuk pulang. Sepanjang perjalanan, kami tidak berkomunikasi. Aku hanya mendesah dengan semua ini. Bukannya kabar baik, malah kabar buruk yang kami terima. Dan yang lebih menyakitkan, kaachan terus menerus diam hingga sampai di rumah. Mungkin kaachan masih shock. Tanpa senyum, Ia langsung masuk ke kamar. Sementara Yuto nii yang sejak tadi duduk di ruang tamu terus membuntutui kami dengan penasaran. Aku tidak melihat Raiya dan otousan. Sambil menghela nafas, aku pun memberikan berkas-berkas yang tadi diterima kaachan. Aku juga menjelaskan dengan mengulang apa yang dikatakan wanita di labolatorium tadi. Tanpa peduli dengan reaksinya, aku segera masuk kamar dengan perasaan yang entahlah aku tidak tahu. Aku merasa hidupku semakin suram. Tanpa sadar, aku menangis. Bagaimana mungkin aku yang terlahir sebagai perempuan tulen, tiba-tiba divonis kalau secara genetika bahwa aku adalah laki-laki??? Ini tidak masuk akal. Tapi, ya itulah keadaanku. Hanya secuil dari segelintir umat manusia yang mengalami hal seperti ini di dunia. Ah, seterusnya aku tidak akan menjadi lebih baik! kata ku membatin. Aku kesal. entah kesal pada siapa. Kesal pada takdir???Ah...wakarimasen!!!!
* * * * * * *
Hampir terhitung satu bulan aku terus berbraing di tempat tidur. Tidak ada semangat hidup. Terkadang aku kesal pada Yuto nii yang selalu menggagalkankan ku untuk kabur. Ia juga menggagalkanku untuk bunuh diri. Aku bingung, kenapa orang itu masih saja menyayangiku. Ya, sepulang dari labolatorium itu, aku langsung jatuh sakit. Tidak mau makan. Ku pikir untuk apa hidup?Hidupku saja tidak jelas, laki-laki apa perempuan! Tapi, orang-orang rumah terus menghiburku. Ya, mereka menghiburku. Bahkan keluarga Kurosaki juga menengokiku. Aku tidak tahu harus menunjukkan ekspresi apa pada mereka. Aku terlalu kalut. Mungkin galau. Aku sempat berharap, kaachan kurosaki mau mengelus rambutku, tapi Ia hanya menatapku iba. Semakin yakinlah aku kalau mereka membuangku karena aku ini aib! Ah!
Ah! ah! ah! Bagaimana sih aku ini????Kenapa hidupku begini???Aku benar-benar tidak mengenal siapa diriku! Tadinya aku ini adalah Kurosaki, lalu sekarang Nakajima. Tadinya aku perempuan. Lalu sekarang???Aku tidak tahu!!! Tapi....bagaimana mungkin???!!!
Satu per satu dari mereka mulai sibuk dengan urusannya masing-masing. Tapi, masih menyempatkan diri untuk memberiku senyuman. Hanya kaachan. Jangankan tersenyum, menatapku saja enggan. Kaachan sudah kelihatan malu dengan kehadiranku ini. Aku benar-benar aib. Hanya Yuto nii yang menerimaku apa adanya. Hiburan darinya tidak berhenti. Bahkan demi melihatku tersenyum, Ia sampai ketiduran di kamarku. Dan itu sering. Pernah suatu malam, aku bermimpi buruk Sangat buruk Yuto nii selalu ada untukku. Bahkan saat aku mengigau sambil berjalan pun, Yuto nii seakan tidak pernah lelah. Lalu Ia menggendongku ketika mendapati aku berhenti berjalan dalam igauan di dapur, tidur di sana.
Suatu hari, aku pernah melihatnya menangis sambil mengelus-elus rambutku. Aku tidak tahan melihat airmatanya itu. Melihat airmatanya itu, aku pun langsung bangkit. Hari demi hari kesehatanku mulai membaik walau masih belum diizinkan untuk sekolah. Aku juga sudah bisa tersenyum tanpa dipancing Yuto nii. Dan Yuto nii terlihat senang dan bersemangat. Pada saat keadaanku membaik,teman-teman Yuto nii mulai menengokiku. Ada Yamada senpai. Aku melihat, Yamada senpai sudah tidak berarti lagi bagiku. Dia tidak akan pernah mencintaiku. Aku tahu itu. Namun, perasaan itu masih ada walau sedikit. Mungkin, sudah saatnya Yuto nii tahu. Begitu aku melihat Yamada senpai dan teman-temannya sudah pergi, aku mulai mengutarakan perasaanku ini. Yuto nii hanya tersenyum. Ia justru mendukungku dan akan membantu. Tapi aku tidak yakin, Aku ini tidak normal. Yamada senpai tidak mungkin mencintaiku. Aku sudah meyakininya. Melihat Yuto nii yang sangat bersemangat, aku hanya diam dan tidak bisa mencegahnya.
Hari pertama sekolah setelah aku aku sakit, pertama yang ku cari adalah Yamada senpai. Entah mengapa aku ingin melihatnya. Hanya melihatnya. Saja. Hari ini juga, Yuto nii mulai melancarkan aksinya sebagai mak comblang. Tapi, sebelum teerjadi yang tidak-tidak, aku harus menemui Yamada senpai dulu dan mengatakan bahwa Yuto nii akan mengerjainya. Namun, gejolak hati ini memaksaku untuk menyatakan perasaan ini. Ah. Hingga pulang sekolah, tidak ada usaha yang berarti yang ku lakukan untuk mendekati Yamada senpai. Rasa malu ini terlalu menguasaiku. Ah!
Sebuah surat ku temukan di lemari sepatuku. Dari Yuto nii? Mengajak ketemuan di tepi sungai. Kenapa musti melalui surat? Bukankah Ia bisa mengajakku langsung?Ah biarlah. Ku ikuti saja. Tapi, perasaanku kok gak enak ya?Apa jangan-jangan Yuto nii mau mengerjaiku?Aku hanya menggeleng-geleng sendiri.
Begitu aku sampai di tepi sungai, yang tampak olehku hanya Yamada senpai. Waduh?Jadi ini rencananya?batinku. Benar kan dia memang mengerjaiku....tapi kok tega sekali Ia mempertemukan aku dengan Yamada senpai???Sudah tahu, aku sangat gugup kalau bertemu dengannya! Hah!!!! Yuto nii!!!
Pelan-pelan, aku menyapanya. Agak kaget saat Yamada senpai menyambut salamku dengan senyumannya itu. Aku sampai bingung harus berkata apa. Tapi, tiba-tiba aku jadi ingat siapa aku. Ya, aku harus mengutarakannya. Aku hanya mengatakan perasaan ini saja. Menyimpan perasaan ini terlalu lama kadang membuatku tersiksa. Tanpa basa-basi, aku langsung mengatakan, "Suki desu!!!!" Dan aku mendengar suaraku yang cempreng ini. Antara malu, gugup dan sedih menjadi satu. Rupanya, Yamada senpai masih tidak mengerti. Baiklah. "Gomen. Aku terlihat buru-buru.Aku juga minta maaf sebelumnya. Tapi aku hanya ingin mengatakan kalau aku....aku suka senpai...Aku yang menderita kelainan ini hanya ingin bilang kalau aku suka senpai!!!" Barulah aku bisa melihat kekagetannya. Ah, merah pasi pasti wajahku ini. Tapi, rasa sedih dan malu lebih menguasai. Ah, senpai...aku benar-benar hanya ingin mengutarakan perasaanku ini saja. Karena aku ingin senpai tahu, aku yang tidak normal ini menyukai senpai. Kalimat itu ingin ku katakan padanya. Tapi yang ada hanya tangisan. Aku tidak tahan dan menangis. Aku sudah tidak tahan lagi berada di dekatnya dan segera berlari menjauh darinya. Menjauh, hingga saat ku menoleh ke belakang, Yamada senpai benar-benar tidak tampak olehku.
Ku dapati, Yuto nii sedang mengintip di balik pohon. Seharusnya aku memarahinya, karena Ia sudah mempertemukanku dengan Yamada senpai. Tapi, aku tidak bisa marah. Airmataku meluap. Aku pun memeluknya dengan isakan yang sangat kuat. Aku merasa tidak punya siapa-siapa lagi selain Yuto nii. Aku akan tetap hidup untuk Yuto nii yang telah berkorban untukku. Yang telah menyayangi sepenuh hatinya. Dan cintaku hanya untuk Yuto nii, kakak ku yang paling baik sedunia....Niichan ni Aishiteimasu!!!!

No comments:
Post a Comment