Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Friday, August 2, 2013

XY

Title   : XY
Cast   : Kurosaki Chizuru, Kurosaki Mistuko, Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Chinen Yuri, Nakajima Yumiko, Ohgo Suzuka dan Shida Mirai.
Genre : IDK
Rating : T

Author: Nadia Rahmandani


       Sudah hampir satu jam aku menahannya di atasa bangku ini. Kaki ku pun tidak juga ku lilitkan. Yoshimi, teman sebangku ku hanya menatapku aneh. Dan kaki kun semakin lama semakin berpelukan. Lidahku sudah mendesisi. Ah aku sudah tidak tahan lagi.
      " Sensei! Saya izin ke toilet!" tanpa memedulikan sekitar, aku langsungmelesat ke toilet. Aku tahu mereka sedang menertawaiku di kelas. Sama sekali aku tidak menggubrisnya.
      Di depan toilet, aku berebut dengan adik kelas yang juga adikku, mistuko. Karena kebelet, aku tidak bisa mengalah. Aku hanya pasrah dengan apa yang akan mistuko lakukan kepadaku nanti.  Begitu aku buka pintu setelah pipis, sebuah ember mememuntahkan isinya ke wajahku hingga menjalar ke pakaianku. Ingin marah, tapi mistuko menarik tanganku keluar dan mendorogku dan kepalaku hampir terhantam tembok. Dia benar-benar tidak memedulikanku dan langsung membanting pintu toiletnya dari dalam untutk bereksresi.
       Sama sekali aku tidak mau membalasnya. Aku malas menghadapinya walau badanku sudah sakit-sakit olehnya.  Bisa memar badan ini kalau aku melawannya. Aku tidak pernah menyangka akan memiliki adik sepertinya. Memang kami dari kecil sering berkelahi. Tapi semakin aku bertambah umur, aku mencoba untuk mengerti. Sementara dia terus menjadi-jadi dan semena-mena terhadapku. Lagipula Ia pasti akan berkata, "neechan juga begitu. Ya pasti aku juga lah!" Hal itu Ia katakan kalau aku menegurnya. Ah!
Sejujurnya, aku bosan hisup dengannya. Tiada hari tanpa bertengkar!Masalah sepele pun menjadi besar. Aku malu. Malu karena merasa gagal menjadi kakak!
       "Hah?haid?"neechan!!!beliin aku..." Aku langsung ngacir sebelum mendengar perintahnya. Aku hanya n nyengir-nyengir sendiri karena mitsuko ngomel-ngomel sendiri. Sementara itu, aku tidak sadar orang-orang sedang melihatku yang basah kuyup. Waduh!
       "Chizuru! nani yattenda?" deg! Yamada senpai!!!
       "udah bel?" aku berusaha mengalihkan topik. Aku terlalu gugup bicara dengannya. Jujur, dia ini orang yang ku suka. Dia juga yang menjadi incaran para gadis di sekolah. Tanpa basa-basi, aku langsung melesat ke kelas. Aku tidak mampu menatapnya terlalu lama. Aku khawatir wajahku akan memerah.
       "Chizuru!kok basah?"
       "Chizuru! kamu mandi pake baju ya?"
       Ah, masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang dilontarkan teman-teman saat aku masuk ke kelas. Baru aku akan menjawabnya, salah seorang temanku malah meledekku. Agak kesal sih, tapi seharusnya aku sudah biasa menghadapi ini. Sebab sejak aku dekat dengan Nakajima senpai, ketua karate di sekolah, banyak teman-teman perempuanku yang menunjukkan ketidaksenangannya padaku. Padahal aku dan Nakajima senapi tidak ada hunbungan apa-apa selain hubungan antar anggota karate.
       Tiba-tiba Yoshimi memintaku untuk menemainya ke UKS. Ia terlihat kesakitan dengan tangan yang terus menekan perutnya. Pasti dia sedang haid, pikirku. Ah aku iri. Aku sudah lebih tujuh belas tahun, tapi belum juga mengetahui seperti apa rasanya haid itu. Akibatnya orang tua dan adikku sering meledekku bahkan menjadikanku bahan guyonan mereka hingga aku enggan bergaul karena merasa tidak normal. Tapi walaupun demikian, aku berusaha menjadi teman Yoshimi.
           Di UKS, aku hanya mengantarkan Yohimi saja dan membiarkannya istirahat. Tomomi Sensei, perawat yang bekerja di UKS, melihatku aneh dan menyuruhku mengganti pakaianku. Karena aku tidak membawa pakaian ganti, Ia pun meminjamkan seragam punya seorang siswi yang tertinggal di UKS. Aku pun diizinkan keluar dan melangkah ke shokudou.

          "Kurosaki!" terdengar suara orang yang memanggilku. Seperti suara Chinen senpai. Aku pun menoleh. "He?senpai?"
       "Darimana saja kamu?Nakayan sudah mencarimu dari tadi!"
       "Nakayan?"
       "Eh, maksudku Nakajima!"
       "Sudah, kamu samperin dia! Dia ada di doujou!"
      "Un!" Aku mengangguk den segera ke doujou karate. Sekolahku bisa terbilang cukup besar hingga ada doujou di dalamnya.
      Ku lihat, Nakajima senpai sedang latihan. Aku hanya mengintipnya. Tapi Nakajima senpai mengetahui keberadaanku. "Chizuru! Haire!"
      Aku dan Nakajima senpai duduk berhadapan. Hanya berdua di doujou ini. Kata para gadis di sekolahku, Nakajima senpai itu kakkoi sugite. Dia terkenal tanggung jawabnya dan dia juga sangat menyayangi adiknya, Raiya. Mungkin diantara para gadis, hanya aku yang malah menginginkannya menjadi kakak ku. Kemesraan antara dirinya dan si Raiya sudah merebak di lingkungan sekolah kami. Dan aku iri pada Raiya yang memiliki kakak yang penyayang.
       "Ada apa kamu melihatku sperti itu?" kata Nakajima senpai yang mengetahui kalau aku tidak berkedip memandangnya. Aku gugup dan mendadak mengalihkan pandangan.
      "Hey! Aku bicara denganmu!" suara Nakajima senpai terdengar tegas dan serius hingga membuatku harus melihatnya lagi. Ih, kalau dia sedang serius, serem banget! andai para gadis itu tahu kalau Nakajima senpai itu menyeramkan. Eh, tapi kalau dilihat-lihat Nakajima senpai itu mirip aku ya?pikirku yang mulai tidak karuan. Tapi itu kata temanku loh. Hehehehe
       "kenapa nyengir-nyengir?"
       "Gomen," aku menunduk.
       "Baiklah, kalau tidak ada yang mau dibicarakan, " suaranya pun mulai merendah.

       "Chizuru, kemarin kami mengadakan rapat. Kemamana saja kamu?"
       "Hah?Aku tidak tau, senpai..."
       "Bagaimana mungkin kamu tidak mengetahuinya?Aku kan sudah sms kamu!"
       "Yabai...hp nya nyemlung lagi!" bisik ku pada diriku sendiri.
       "kamu bicara apa sih?yang jelas dong! satu lagi! tidak sopan bicara tanpa melihat lawan bicara!"
       "ano...keitainya jatuh ke sungai dan rusak, senpai..."
       "kenapa kamu gak bilang???!!!"
       "Ini aku baru bilang...kan jatuhnya kemarin..."
       "Oh....Wakatta..."
       "Sebenarnya kamu telat dan aku hanya bisa mengabari kalau posisimu sebagai manajer untuk sementara ini digantikan oleh Chiinen. Lagipula kamu kan perempuan, dan pengurus lainnya laki-laki." Wajah Nakajima senpai terlihat agak murung namun tetap tersenyum. Dia tahu aku aku menyukai posisi ini.
       "Tapi aku suka ilmu beladiri, senpai..."
       "Itulah sebabnya kami menerimau. Karena kesungguhan itulah." Dia pun mulai tersenyum.
       Aku hanya menunduk.
       "Ohya, kamu suka biologi kan?" Oek?Kok gak nyambung sih???batinku.
       "Adikku, Raiya akan ualangan tapi ada yang tidak Ia mengerti."
       "Biologi kan cuma dibaca, senpai..."
       "Aku tidak bisa mengajarinya karena harus ikut pertandingan sepak bola. Belum lagi tournamnet karate. Kamu nganggur kan?"
       Aku berpikir sejanak. Sementara Nakajima senpai menampakkan wajah penuh harapnya. Lucu juga ya kalo mukanya memelas begitu, batinku.
       "Ayolah..."
       "Baiklah...tapi..."
       "Aku yang akan izin ke orangtuamua langsung deh!"
       He...Nakajima senpia sudah hafal bagaimana karakter orang tuaku. Sebab, sebelum-sebelumnya, orangtua kusering melarangku keluar rumah selain belajar di kamar. Itulah sebabnya aku hampir tidak pernah ikut tanding karate. Padahal menurut Nakajima senpai, aku memiliki peluang untuk menjadi pemenang. Tapi aku lebih memilih orangtua ku walau harus mengorbankan apa yang ku suka. Sebab selain aku, tidak ada lagi yang bisa mereka andalkan. Sekalipun ada mistuko. Ah...dia hanya suka membuat onar di rumah...Huh!

       Teng!

       Bel masuk berbunyi.
       "Yabai! mada tabenai na...." bisikku.
       "Oh?Onaka suita no?" Nakajima senpai mengeluarkan onigiri yang Ia bawa dari rumah. "Kore!"
       "He?arigatou!"
       So sweet amat makan berdua. He...aku yakin kalau ada yang melihat kami, pasti menggemparkan seisi sekolah. Padahal, yang menjadi idola di sekolah adalah Yamada senpai atau Chii senpai. Tapi ternyata Nakajima senpai juga termasuk di dalamnya. Dan mereka itu sebanarnya adalah tiga sekawan. Aku aku masuk dalam kehidupan mereka. Hm...
       "Ya udah yok! Ayo ke kelas!" kata Nakajima senpai dengan mulut yang masih penuh dengan onigiri. Kami pun kembali ke kelas kami masing-masing.
       Keesokan harinya, setelah mendapat kantong perizinan dari orangtuaku, aku dan Nakajima senpai ke sekolahnya Raiya. Sungguh perjalanan yang sangat ku rindukan. Aku benar-benar bersama seorang niichan. Sayangnya dia bukan niichanku dan aku adalah anak pertama. Tidak mungkin anak pertama memiliki kakak. Aku benar-benar iri dengan Raiya.
       "Chizuru?"
       "Ya?"Aku tersadar dari lamunanku.
       "Kelamaan ya nunggunya?"
       "He?iie, zenzen."
       "Hontou?"
       "Oh...Hontou!" Aduh! Aku tidak bisa mengendalikan emosiku! Salah satu mataku menjatuhkan setetesnya. Yabai!
       "Kamu menangis ya?"
       "Tidak!" tegaku sambil mengusap airmataku.
       "Niichan!!!" Ah! suara Raiya!
       "Hey!" Nakajima senpai menyambut adiknya penuh kasih sayang. Tidak seperti adikku yang tidak mau ku sayang-sayang bahkan aku tersenyum pun malah terlihat aneh baginya. Aku sudah berusaha untuk tetap ramah dan bersahabat padanya, mitsuko. Tapi...ah apa yang salah dariku?
       "Eh?ini pacar niichan ya?"
       "Pacar???Hey! Dia ini adik kelasku! Ohya, dia pinter loh! Kamu akan berguru padanya!"
       "Aku maunya sama niichan!"
       "Aku harus tanding, sayang..."
       "Ok deh!"
       Sebenarnya, aku tidak mempermasalahkan Raiya menaganggapku pacar kakaknya atau bukan. Yang menjadi perhatianku, Raiya enggan diajari yang lain selain kakaknya. Sementara mitsuko tidak suka aku ajari bahkan Ia menunjukkan kebenciannya padaku. Apa Ia malu punya kakak sepertiku?Ah...ku buang saja pikiran buruk itu jauh-jauh!
       Aku mencoba memperkenalkan diri. "Hajimemashite, Chizuru desu!"
       "Ohya, biar kalian akrab, kita belajarnya di luar saja. Di dekat sunagi. Kalau perlu kita cari hp mu yang kelelep itu!"
       "Aaa...tidak usah, senpai..."
       "Enggak kok. Kita cuma mau belajar doang kok. Gak ada niat mau nyari hp kamu!"
       Apa-apaan ini???tadi dia ngajak nyari trus sekarang dia bilang, gak ada niat??? Beginilah NAkajima senpai. "Penyakit'nya kumat kalau sudah dekat dengan orang yang dia sayang, Raiya.

No comments:

Post a Comment