Title : XY (2)
Cast : Kurosaki Chizuru, Kurosaki Mistuko, Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Chinen Yuri, Nakajima Yumiko, Ohgo Suzuka dan Shida Mirai.
Genre : IDK
Rating: T
Author: Nadia Rahmandani
Memang, selain Chinen senpai dan Yamada senpai, aku juga termasuk terdekat. Berawal saat Ia melihat ketidakakuran aku dengan mitsuko secara tidak sengaja. Aku tidak mau terbuka karena malu. Tapi Nakajima senpai tidak kehabisan akal. Ia terus mencari tahu, yaitu salah satunya Ia curhat denganku dengan segala keterbukaannya padaku. Dan berharap aku juga bisa terbuka dengannya, pikirnya begitu. Tapi aku tetap menjadi misteri baginya. Walau ku tahu, tidak jarang Ia menemukanku dalam keadaan wajah yang sembab. Sungguh, dia ini kakak yang idaman. Bagiku. "Ikuzo!" Nakajima senpai mulai mengajak aku Raiya ke sungai. Dan aku berusaha untuk tersenyum.
* * * * * * *
"Wakaru ka?"
"Ya ampun...ternyata caranya semudah ini ya???"
"Makanya jangan main sama doggy melulu!"
"Ih! namanya bukan doggy!"
"Yaudah..kalian jangan berantem gitu dong..." Nakajima melerai kami dengan senyuman.
"Kita gak berantem kok. Abis, nggodain Chizuru san enak!"
"Adik kakak sama saja!" Duo Nakajima pun menertawai kejengkelanku.
"Yaudah, niichan. Aku istirahat ya. Pr nya sudah selesai kok!"
"Ok!"
Raiya berlari mendekati pohon besar untuk dipanjatinya. "Eh, katanya mau istirahat?" kata Nakajima senpai mendongak ke atas pohon.
"Makan dulu! Mendadak laper!"
"Adik kakak yang aneh..." bisikku.
"Dari pada kamu, mainya nangis!"
Deg! Aku tidak menyangka Nakajima senpai akan mengeluarkan kata-kata itu. Sejujurnya, aku merasa sakit. Dan hatiku sudah terlanjur sakit. Aku pun beranjak akan pergi. Tapi Nakajima senpai berhasil meraih tanganku. "Chizuru...Aku minta maaf...Aku benar-benar menyesal...Ku mohon..."
"Abis niichan ngomongnya gitu!" Ups! aku keceplosan memanggilnya 'niichan'. "Eh...gomen...maksudku senpai..."
"Daijoubu yo. Kalau kamu lebih suka memanggilku dengan sebutan 'niichan', tidak apa-apa kok."
Aku hanya diam. Aku agak terharu mendengar ucapannya.
"Chizuru...Aku sengaja mempertemukanmu dengan Raiya supaya kamu juga merasakan kalau tidak semua adik itu menyebalkan. Tidak semua adik itu jahat." Spontan aku menatapnya kaget. Kata-kata Nakajima senpai seakan mengetahui apa yang ku sembunyikan selama ini darinya.
"Udahlah...kamu gak usajh nyembunyiin lagi. Aku udah tau kok. Kenapa sih kamu gak terbuka sama aku?! Aku kan abang kamu juga!"
"Abang?"
"Ya iyalah. Kan aku lebih tua darimu!" kali ini Ia mulai bergurau. Mungkin Ia tidak mau melihatku menangis dengan suasana yang terasa mellow ini.
"Bangga amat jadi tua!"
"Ye...dibilangin malah bercanda!"
Perlahan, aku mulai tertawa. Walau hanya tertawa kecil, tapi Nakajima terlihat senang.
"Chizuru...aku minta maaf ya..."
"Udah...lupain aja..."
"Kamu boleh kok manggil aku 'niichan'!"
"Iie, aku gak suka berharap. Senpai itu ya tetap senpai aku!"
"Ya udah..."
"Tapi kok niichan eh senpai kok tau hubunganku dengan mitsuko?"
"Gak usah pura-pura...aku udah tau kok. Tenang, Rahasia dijamin!"
"Hehehe..."
"Gitu dong ketawa!"
"Yaudah...niichan eh senpai..."
"...udah sih...niichan aja...gak usah senpai..."
"Ih, suka-suka!"
"Dasar!"
Raiya pun datang dengan membawa buah-buahan yang sudah dipetiknya. Kami pun makan bersama. Entah mengapa, makan bersama dengan mereka jauh lebih nikmat dari pada makan bersama di rumah.
Ketika langit sudah menjadi jingga, kami pun bergegas. Nakajima senpai dan Raiya mengantarku sampai depan rumah. Tatapan otousan sangat jeli terhadap mereka. Saat mereka pergi setelah pamit pulang, barulah otousan membuka obrolan serius. Kebetulan ada mistuko. Sementara kaachan tidur di kamar.
"Itu adiknya si Nakajima?"
"Iya, otousan..."
"Kelas berapa?"
"baru masuk SMP, otousan..."
"Si Nakajima itu siapanya kamu?"
"Dia ketua karate. Kan aku udah pernah cerita ya sebelumnya..."
"Bukan...mengenai hubunganmu dengan si Nakajima itu. Apa kalian pacaran?"
"He?ya enggaklah, otousan...Otousan kok kayaknya gak percaya amat sih?"
"Temen apa temen???" Mitsuko tiba-tiba nyeletuk sambil pura-pura baca koran.
Otousan menatap mitsuko. Dan langsung menyerangku dengan pertanyaan yang sebanarnya tidak perlu ditanyakan mungkin karena ku bosan mendengarnya. "Apa itu maksud mitsuko?" Aku hanya mendiam. Aku hanya bicara apa adanya. Tapi mistuko seakan mengadu domabakan aku kan otousan.
Uh! Selalu saja otousan curiga pada putri sulungnya ini. Ah..biarlah...Setidaknya aku bisa merasakan punya niichan walau hanya beberapa jam saja.
* * * * * * *
Jam dinding keluarga Nakajima menunjukkan waktu makan malam. Saat itu mereka sedang membicarakan gadis yang dekat dengan putra pertama mereka, Yuto. Sambil menikmati makan malam.
"Oh...jadi kamu sedang dekat dengan seorang gadis?" goda Ny. Nakajima. Namun Ia biasa dipanggil Ny. Yumiko.
"Dia hanya adik kelasku saja. Dan kita cuma pengurus karate biasa kok. Gak ada yang spesial!"Yuto berusaha menjelaskan pada sang kaachan.
"Kenapa kamu malu begitu?Aku tidak akan keberatan kok. Apalagi dia baik sekali mau mengajari Raiya. Besok kamu bawa dia ke sini ya. Kenalkan pada kaachanmu ini." Ny. Yumiko mengedipkan mata genitnya pada Yuto.
"Kaachan..."
"Nakayan...." Ny. Yumiko mulai memanggil Yuto dengan nama kesayangnnya. Yuto pun luluh.
"Baiklah..."
"Sudah...sudah....Ayo habiskan makannya dulu. Baru kita bicarakan pacarnya Nakayan!" kata Tn. Nakajima. Yuto terkejut mendengar ucapan otousannya itu. Tapi Ia hanya menghela nafas. Sementara Raiya hanya senyam senyum melirik niichannya sambil mengunyah makanannya.
* * * * * * *
Wali kelasku mengumumkan bahwa dalam imggu-minggu ini akan ada kompetesi olahraga, oleh karena itu wali kelas kami akan membimbing kami dengan semangatnya pada jam mengajarnya. Kami pun bersorak karena terlepas dari matematika. Sebab wali kelas kami adalah guru matematika. Kami pun dibagi-bagi menjadi beberapa kelompuk, namun ada yang individual. Hanya saja, khusus perempuan, kami hanya dibolehi olahraga yang ringan-ringan. Padahal aku ingin ikut karate, tapi malah disuruh lomba boli voli. Aku hanya melirik teman-teman laki-lakiku dengan tatapan yang iri pada mereka. Ah...
Bel berbunyi. Kami pun sudah selesai menyiapkan konsep dan strategi apa yang akan kami lakukan saat lomba nanti. Tapi, aku masih kesal pada ketetapan ini. Biasanya kalau sudah kesal begini, aku ke doujou untuk latihan karate. Tapi, lebih suka memainkan shinai agar aku bisa terus memenggal angin dan melampiaskan kekesalanku .
"Hey, Chizuru! Nani yatteru no?" ada suara Yamada senpai. Aku benar-benar gugup. Ternyata dia telah memperhatikanku sejak tadi.
Aku berusaha untuk bersikap tenang dan mencoba menjawabnya. "Aku cuma coba main pedang kayu ini..." Dan kata-kata itu spontan keluar dari mulutku. Sungguh, aku tidak bisa mengendalikan emosiku. Entah kenapa tiap aku bertemu Yamada senpai, jantungku berdetak lebih kencang tidak karuan. Terlebih, warna kulitku pasti akan berubah, mungkin pucat atau...merah....saking gugupnya...
"Oh...kau lihat Nakayan?Katanya dia ada di doujou..."
"A...aku bertemu Nakajima senpai hari ini."
"Oh...baiklah. Maaf, telah mengganggumu."
"Ha?Oh...tidak kok...sama sekali tidak..."
"Kau baik-baik saja kan?" Yamada senpai mulai curiga melihat aku yang ya...gugup!
"Oh?I...iya...Aku baik kok. Sangat baik!"
"???" Yamada senpai mengerutkan keningnya. Ia memandangku aneh.
"Baiklah kalau begitu. Jaa." Yamada senpai pun berlalu. Mungkin ada urusan penting. Ah...akhirnya...
Tiba-tiba badanku menjadi lemas begitu Yamada senpai menghilang dari pandangan. Mula-mula aku terduduk, lalu berbaring di tengah arena doujou ini dengan merentangkan kedua kaki dan kedua tanganku. Ah....Yamada senpai...Tidaklah kau tahu kalau sudah lama aku menyimpan perasaanku ini kepadamu, kataku membatin. Benar-benar sakit rasanya memendam cinta ini, yang terlebih hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kadang, hatiku teriris tiap melihatnya ditembak oleh para gadis setiap harinya. Di lemari sepatunya selalu banyak surat cinta yang menanti dibaca olehnya. Ah, tapi tidak ada yang tahu perasaan ini. Di saat seperti ini, pasti Nakajima senpai muncul di pikiranku. Ingin sekali ku curahkan hal ini padanya...niichan...aku sangat berharap kau menjadi niichanku....
* * * * * * *
Pantas saja Nakajima senpai tidak muncul. Dia baru saja tiba di sekolah bersama anggota karate yang lain. Tanpa aku?Menyedihkan sekali. Bel pulang sekolah sudah lama berbunyi. Tanpa pikir panjang, aku segera pulang dari pada melanjutkan hari penuh mengesalkan ini!
"Chizu!" Nakajima senpai tiba-tiba berdiri di hadapanku. Menghalangi jalanku.
"Nande yo?!" Aku sengaja menunjukkan kekesalanku padanya.
"Kamu marah ya?"
"Senpai kok tega sih?Pergi sama anak karate tapi aku gak diajak! Aku kan juga anak karete!"
"Oh..itu..Kita pergi bukan untuk karate. Tapi rapat. anak karate yang kamu lihat itu kan pengurus kesiswaan. Masak kamu lupa?Aku pergi karena perintah dari sekolah. Pihak sekolah nyuruh anak kesiswaan buat milih anak-anak yang bukan dari kesiswaan buat ikut rapat."
Aku hanya diam. Malu. Aku kekanak-kanakan sekali. Jawaban Nakajima senpai cukup jelas bagiku. Entah kenapa aku jadi tidak mau jauh dari Nakajima senpai. Aku benar-benar menyayangi Nakajima senapi sebagai kakakku.

No comments:
Post a Comment