Title : XY (4)
Cast : Kurosaki Chizuru, Kurosaki Mistuko, Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Chinen Yuri, Nakajima Yumiko, Ohgo Suzuka, Shida Mirai.
Genre : IDK
Rating : T
Author: Nadia Rahmandani
Aku hanya diam. Lalu tersenyum. Ya, di rumah hanya kaachan yang tidak pernah kasar padaku. Bahkan Ia mendukung kegiatan karate ku. Beliau juga bilang kalau beliau tidak suka dengan cara mendidik otousan yang otoriter kepada anak-anaknya. Hingga terjadilah perlawanan seperti yang sering Mitsuko lakukan. Karena Mitsuko tidak mau diatur, tapi otousan lebih menotoriterkan didikannya hanya padaku karena aku penurut.
"Kurosaki Chizuru!" Seorang wanita memanggil namaku. Spontan, aku dan kaachan berdiri dan menghampiri wanita itu. Aku pun disuruh berganti pakaian yang telah disiapkannya untuk melakukan rontgen.
"Kaachan...aku deg-degan..."
"Gak apa-apa kok. Gak ada yang perlu ditakutkan." Suara lembut kaachan masuk ke kalbuku. Sebuah energi positif mengalir di tubuhku. Aku pun berusaha untuk berpikir positif.
"Cepat ganti bajumu!" Aku segera mengganti pakaianku dan masuk ke rauangan yang di dalamnya ada sebuah mesin-mesin rumah sakit. Salah satu mesin itu bergerak. Karena gugup dan takut menjadi satu, aku memejamkan mata. Seperti ada sebuah cahaya yang melintas.
Setelah di rontgen, aku kembali mengenakan pakaian semula. Ternyata aku tidak merasakan apa-apa. Tidak ada rasa sakit seperti suntuk menyuntik. Yang ada hanya kegugupan. Ini pertama kali aku di rontgen. Barulah aku dan kaachan pulang ke rumah dan akan kembali beberapa hari lagi untuk melihat hasilnya. Pertanyaan 'sebenarnya aku sakit apa sih?' akan ku samarkan dalam pikiranku. Aku yakin, dengan menyugesti kita sehat, maka kita akan sehat. Yakin!
"Gimana?neechan sakit apa?" tanya Mitsuko dengan nada meledek di balik senyumnya yang terkesan meledek juga. Aku malas melayaninya. Dari pada sakit hati, lebih baik aku tidak menggubrisnya. Aku tidak peduli sekesal apa pun Mitsuko padaku. Aku hanya ingin istirahat untuk menenagkan pikiran.
* * * * * * *
GOOOLLLL!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Semua orang bersorak sorai begitu tim kesayangannya mencetak gol. Hanya aku yang diam gelisah. Tidak memberikan sorakan. Sebenarnya aku sakit apa sih?pikirku. Pertanyaan itu masih saja terngiang-ngiang di pikiranku. Saat ini yang aku butuhkan adalah Yuto nii. Ah, aku juga tidak menghitung ini sudah haru ke berapa Ia pergi ke Okinawa. Har-hariku tanpanya terasa suram. Sepi sekali tanpa Yuto nii.
"Chizuru! Kok ngelamun?" Yoshimi menyenggol sikutku. Aku hanya meliriknya sebentar.
"Aaaa....pasti kamu kangen Nakajima senpai ya..."
"Kok tau?" Kata ku spontan tanpa ekspresi. Tanpa menolehnya sedikit pun.
"Eh?jadi benar kamu dan Nakajima senpai..." Yoshimi mulai berpikir yang tidak-tidak.
".....apa?" Aku segera menantangnya.
"Kamu kenapa sih Chizuru kok jadi sensi gini??!!"
Ah sebenarnya Yuto nii sudah kembali ke sekolah apa belum sih! batinku. Tanpa peduli pada Yoshimi, aku beranjak dari bangku penonton dan keluar dari taiikukan ini. Begitu aku keluar, Yuto nii dan anak karate lainnya datang dengan senyum kemenangan. Terlihat salah satu dari mereka membawa sebuah piala. Tapi aku langsung gugup begitu mereka melihatku. Bukan! Tapi Yuto nii yang melihatku!
"Chizu?"
"Yuto nii..."
"Yuto nii???" Salah satu dari mereka mulai bertanya kenapa aku menyenbut 'Yuto nii'.
Aku tidak peduli. Tapi aku hanya berkata pada mereka, "Omedetou!"
"Hey, sebenarnya kalian ini pacaran atau..." Sebelum salah satu dari mereka melanjutkan pertanyaan mereka, Yuto nii segera memotongnya, "Dia ini imotouchanku..."
"Sejak kapan?"
"Udah ah...kalian banyak pertanyaan! Aku mau main sama imoutoku dulu!"
Yuto nii meninggalkan mereka dan menggandengku masuk ke taiikukan. Kami pun jadi sorotan. Aku tidak peduli, yang penting aku sekarang bersama Yuto nii. Saat-saat yang seperti nilah yang akan ku nikamti dan memang sedang ku nikmati hingga bel pulang sekolah berbunyi.
"Ja!" Yuto nii pamit setelah Ia mengantarku ke rumah.
"Chizuru, ayo kita ke rumah sakit! Lihat hasil rontgennya!"
"Hah?" Baru saja aku bersenang-senang dengan Yuto nii, kenapa kata 'rontgen' itu muncul lagi lagi sih! kata ku membatin. Aku jadi phobia dengan kata 'rontgen'. Namun, aku harus sehera ikut ibu dari pada dihantui pikiran yang tidak-tidak.Saat sedang memberhentikan sebuah bis, aku melihat Yuto nii yang melihatku sedang bersama kaachan. Ia terlihat mengerutkan keningnya. Mungkin Ia hatinya sedang bertanya kenapa aku terlihat buru-buru bahkan masih mengenakan pakaian seragamku.
Aku dan kaachan segera menemui dokter laik-laki yang kemarin begitu sampai di rumah sakit.
"Hmm....Sulit dipercaya..." gumam dokter itu sambil melihat hasil rontgenku.
"Kenapa dok?"Anak saya sakit apa?" Aku tahu kali ini kaachan deg-degan dengan hasilnya.
"Sebenarnya..." Dokter itu membenarkan kacamatanya setelah Ia menjeda apa yang akan Ia jawab. "Sebenarnya, Chizuru chan sehat-sehat saja. Ia tidak mengidap penyakit apa pun. Hanya saja...berdasarkan hasil rontgen, tidak ada rahim di dalam tubuhnya...."
"Maksud dokter?"
"Kami tidak menemukan adanya rahim pada rontgen ini. Begitulah hasil rontgennya..."
Deg! Aku tidak mempunyai rahim?Rahim yang seharusnya dimiliki setiap wanita itu, tidak ku miliki???Yang benar saja....Aku kan perempuan! Tapi...Ah...sungguh...Hancur rasanya hati ini! Lalu, kalau aku tidak mempunyai rahim, bagaimana aku akan memiliki keturunan di kemudian hari? Ya, mungkin terlalu jauh untuk anak seusiaku yang memikirkan keturunan. Tapi, masalahnya aku benar-benar tidak mempunyai rahim. Atau jangan-jangan ini kelainan???
"Masak gak ada sih, dok???" Kaachan terlihat tidak percaya. Wajahnya mulai cemas sekali. "Dokter gak salah???Kalau gitu..."
"Ibu tenang dulu...Mungkin anak Ibu menderita kelainan atau..."
Belum dokter menyelesaikan pembicaraannya, kaachan sudah lemas dan terduduk seperti orang yang mau pingsan. "Maaf, tapi beginilah hasil rontgennya," Dokter pun menyerahkan sebuah amplop yang berisi poto tubuh bagian dalamku alias hasil rontgen. Saat kaachan hendak menerimanya, kaachan malah pingsan! Aku hanya menangis dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Aku pun menunggu kaachan siuman dengan pikiran yang kalut. Setelah beberapa perawat mencoba menyadarkan beliau, barulah Ia sadar. Segar, Ia memelukku erat. Ia pun menangis.
"Kamu yang kuat ya, nak..."
" Aku minta maaf udah bikin kaachan susah..."
"Enggak...Kamu bicara apa sih?Kamu jangan ngomong gitu...Aku yakin kamu normal. Kamu punya rahim!"
"Kaachan..."
"Ayo kita pulang...Pasti otousan dan mitsuko sudah menunggu kita..."
Kaachan terus menguatkan aku. Sementara aku jadi merasa serba salah sebagai anak. Tapi aku berusaha untuk tetap tegar dan mencoba untuk tersenyum karena melihat kaachan yang terus memerikan senyumannya padaku. Tidak pantasa rasanya aku sedih di depan kaachan yang beruasah menghiburku. Di dalam bis, kaachan terus menggenggam tanganku kuat sekana tidak mau lepas. Sesakali Ia memelukku. Aku jadi heran. Seakan-akan, akan pergi selamanya. Pelukannya itu tidak pernah lepas.
"Tadaimaa!!!"
Aku dan kaachan pun sampai di rumah. Tapi ada Yuto nii dan okaasannya juga yang terlihat bicara serius dengan otousan. Saat Yumiko okaasan melihatku, matanya menjadi berkaca-kaca.
"Anakku!" Tiba-tiba Yumiko okaasan memelukku erat. Kaachan pun sontak kaget dan terlihat bertanya-tanya, "Ada apa ini???"
Pelan-pelan otousan mendekati kaachan dan menjelaskan semuanya dengan wajah yang terlihat sedih. "Mereka ini keluarga kandungnya Chizuru..."
Tentu, kaachan menunjukkan ekspresi wajah yang lebih kaget lagi. "Tidak!!! Dia ini anakku! Apa biktinya kalau dia ini anakmu???!!!"
"Tanda lahir di pundaknya!" Yumiko okaasan menunjukkan tanda lahrku yang bersembunti di balik seifuku ku.
"Tidak!"
"Bagaimana mungkin tidak?Aku juag melakukan tes DNA dengan menggunakan rambutnya yang diambil putraku yang tak lain adalah kakak kandungnya!" Yumiko okaasan melirik Yuto nii. Yuto nii hanya duduk dan bingung apa yang harus dilakukannya. "Dan hasilnya, positif! Dai anak kandung saya! Dan adik kandung Yuto, juga kakak kandung Raiya!!"
Kaachan hanya menutup mulutnya dengan ekspresi wajah yang tidak percaya. Ia menggeleng-geleng. Airmatanya pun tumpah. Amplop hasil rontgenku jatuh dari tangan kaachan. Kaachan pun pingsan lagi. Aku panik."Kaachan..."Barulah Yuto nii berdiri dan mulai menenangkan kaaachannya. Untuk sementara ini keluarga Nakajima tidak bisa membawaku pergi. Mitsuko yang sejak dari tadi meningtip hanya melihat kejadian ini dengan wajah yang menunjukkan ketidakpercayaan. Ia tidak menyangka bahwa aku bukanlah kakak kandungnya. Terlebih, aku adalah bagian dari keluarga kaya raya Nakajima.
Selama kaachan belum sadar, otousan menceritakan kejadian yang sebenarnya dan juga menceritakan statusku di keluarga Kurosaki ini. Aku benar-benar shock kalau aku bukanlah keluarga kandung dari Kurosaki. Otousan membiarkanku menangis di kamar dan melarang Mitsuko yang berniat menyusulku. Ah, aku memang pernah mengkhayal menjadi bagian dari keluarga Nakajima. Tapi aku tidak menyangka akan menjadi sesakit ini rasanya. Pantas saja kaachan terus memelukku. Ia memang takut kehilanganku. Entahlah aku benar-benar bingung harus sedih atau senang...
* * * * * * * *
Keadaan kaachan sudah mulai membaik pada keesokan harinya. Bahkan Ia sempat bilang kalau Ia merelakan aku tinggal bersama keluarga Nakajima. Tapi aku masih belum bisa menerimanya begitu saja. Rasa sayangku pada keluarga ini terlalu besar, terutama pada kaachan yang terus mengasihiku. Aku dibesarkan sebagai Kurosaki. Kenapa aku harus meninggalkan mereka dan menyandang 'Nakajima' di depan namaku???
Hari ini hari terakhir kompetesi olahraga di sekolah. Aku akan lomba marathon. Tapi aku tidak bersemangat untuk hari ini. Bertemu Yuto nii pun, aku bingung harus senang atau sedih. Tetapi, dia itu kakakku. Kakak kandungku!
"Kurosaki Chizuru!" Aku segera berbaris bersama para peserta yang lain. Ku lihat Yuto nii yang sedang menontonku. Dia memberiku senyuman. Aku hanya membalasnya dengan senyuman juga. Itu pun tidak dari hati. Aku pun memandang ke depan menunggu aba-aba.
"Ganbatte!!!" teriak Yuto nii. Otomatis, aku menoleh. Aku terharu melihatnya yang sangat bersemangat dalam menyemangatiku.
"Mulai!" Aku dan peserta lain mulai berlari. Tiba-tiba ada semangat yang membakar di hatiku hingga aku lebih unggul dari yang lain. Tidak sengaja ku lihat, Yuto nii terus menyemangatiku sambil berlari juga tapi Ia berlari di area penonton. Aku terharu. Tiba-tiba aku terjatuh, dan berusaha untuk bangkit lagi. Namun, pandanganku menghitam. Dunia seakan gempa. Ku dengar, Yuto nii menyebut-nyebut namaku dengan suara suara yang kedengaran khawatir. Hingga aku pun tak sadarkan diri. Sebelumnya, antara sadar dan tidak sadar, aku merasakan tubuhku dibawa oleh seseorang. Ia juga sempat menyebut namaku. Seperti suara Yuto nii. Dan aku tidak tahu lagi bagaimana setelah itu.
* * * * * * *
"Chizuru?Oh syuukurlah kamu sudah sadar..." Wajah Yuto nii tiba-tiba muncul di hadapanku. Aku merasa lemas. Sepertinya aku berada di UKS.
"Niichan...Gomen, udah buat niichan repot..."
"Eh?nggak kok...Sama sekali enggak. Kamu bicara apa sih???" Wajah Yuto nii terlihat ramah dengan senyumannya itu.
"Niichan..."
"Ya?"
"Aku pasti kalah ya?"
"Sayang, yang penting kamu baik-baik saja. Itu sudah buat aku senang..."
"Niichan..."
"Ya?"
"Apa niichan..."
"???Apa???"
"Iie, nan de mo nai..."
Yuto nii membawaku pulang ke rumah. Rumah Kurosaki. Begitu melihat niichan, orang rumah langsung menyambutnya. Di saat bersamaan, Yumiko okaasan datang berasama Tuan Nakajima dengan mobil mewah mereka. Ah!
Yuto nii terlihat kaget dengan kedatangan orangtuanya yang juga orangtuaku. Sebelum mereka melihatku, aku segera masuk ke kamar. Aku malas melihat keributan yang akan muncul nanti seperti yang terjadi kemarin.
"Kedatangan kami ke sini, hendak menjemput putri kami, Chizuru..." Suara Yumiko okaasan begitu jelas ku dengar dari kamar. Aku segar menutup kedua telingaku dengan kedua bantal yang ada. Aku tidak peduli mereka berkata apa. Andai mereka tahu kalau aku bukanlah anak yang mereka harapkan. Aku benar-benar meresa serba salah. Alangkah malunya diri ini bila aku kembali pada keluargaku dan mereka pun mengetahui keadaanku yang sebenarnya. Tentu, mereka alu punya anak seperti aku yang mengidap kelainan. Tapi, bial aku tetap pada keluarga Kurosaki, aku juga merasa serba salah. Ok, mereka akan menerimaku. Tapi kemungkinan yang lain yang akan muncul adalah bunuh diri. Karena walau mereka menerimaku, pasti tanpa sadar mereka akan meledekku di saat-saat tertentu yang membuat emosi mereka naik. Aku benar-benar bingung!
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu mengagetkanku. Kaachan. Dengan wajah keibuannya, Ia menghiburku. Ia juga meyakinkanku suapa aku kembali pada keluargaku yang sebenarnya. Setelah keadaan mulai tenang, kaachan mmebawa koper dengan segala keperluanku di dalamnya. Aku hanya heran. Mengapa begitu mudah kaachan melepaskanku???
"Bawalah ini. Kamu harus jujur pada mereka. Pasti mereka mau membiayai rumah sakit," kata kaachan sambil menyerahkan amplop yang berisi hasil rontgen.
"Apakah setelah ini aku akan kembali kepada kaachan?"
"Tidak, sayan. Kau tidak boleh kembali. Kau adalah keluarga Nakajima. Ini permintaan kaachan yang terakhir sebelum kau pergi..." Tega sekali kaachan bicara seperti itu. Aku merasa diusir secara halus olehnya.
Ah, pikiran buruk! Mana mungkin kaachan berniat demikian!
"Kaachan..." Aku memeluk kaachan dengan erat.
"Sudah...sudah...jangan perlihatkan sedihmu. Kau harus tersenyum begitu melihat orangtua kandungmu. Ya!" Ah kaachan! bagiku kaachanlah orangtuaku! kataku membatin.
Setelah kaachan memasukkan amplop hasil rontgen ke koperku, Ia pun membawaku ke luar menghadap keluarga Nakajima, keluarga kandungku.
"Terima kasih telah merawat Chizuru dengan penuh kasih sayang," ucap Tuan Nakajima yang mungkin akan ku panggil otousan. Ku lihat, Mitsuko agak sedih begitu ayah kandungku membawaku pergi. Sementara Yuto nii diam mematung. Yumiko okaasan pun membawa Yuto nii ke dalam mobil. Terlalu cepat bagiku untuk meninggalkan tempatku dibesarkan. Kini, aku hanya menghening di dalam mobil bersama Yuto nii.
* * * * * * *
Sudah lebih tiga hari Chizuru terlihat murung. Terlebih kalau sedang sendiri, mata dan pikirannya menerawang kemana-mana. Sedangkan, otousannya yang kini sibuk dngan urusan kantornya. Hanya Yuto nii yang tidak bisa dibohongi melihat Chizuru yang terlihat terpaksa tersenyum. Ia selalu berusaha mengetahui keadaan adik perempuannya itu, tapi Chizuru selalu menghindar. Chizuru hanya terlihat senang saat bersama Raiya. Kini, bukan Mitsuko lagi adiknya.
Tidak hanya di rumah, di sekolah pun Chizuru juga terlihat murung. Hingga suatu waktu, Ia meminta Yoshimi untuk mendengar curahan hatinya untuk pertama kalinya. Dengan penuh isakan airmata, Chizuru pun mengeluarkan seemua yang Ia simpan kepada Yoshimi. Hingga Yoshimi kagt mengenai Chizuru yang tak berrahim. Airmatanya benar-benar tak terbendung lagi. Dipeluklah teman sebangkunya itu.
"Yoshimi, kamu lihat Chizuru?" tanya Yuto di saat waktu istirahat. Selama di sekolah ini, Ia belum juga melihat sosok wanita yang mirip dengannya itu.
"Nakajima Chizuru maksud senpai ya?" Yuto agak kaget mendengar Yoshimi berkata demikian. Pasti semua orang sudah tahu kalau Chizuru adalah adiknya. Adik kandungnya.
"Ya, dimana dia?"
"Senpai, boleh aku mengatakan sesuatu kepada senpai?"
"Nani?"
"Chizuru itu sebenarnya mengalami tekanan batin," Yoshimi berusaha menjelaskan secara perlahan. "Akhir-akhir ini Ia murung. Ia juga malu karena Ia punya kelainan pada tubuhnya."
"Kelainan?"
Cast : Kurosaki Chizuru, Kurosaki Mistuko, Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Chinen Yuri, Nakajima Yumiko, Ohgo Suzuka, Shida Mirai.
Genre : IDK
Rating : T
Author: Nadia Rahmandani
Aku hanya diam. Lalu tersenyum. Ya, di rumah hanya kaachan yang tidak pernah kasar padaku. Bahkan Ia mendukung kegiatan karate ku. Beliau juga bilang kalau beliau tidak suka dengan cara mendidik otousan yang otoriter kepada anak-anaknya. Hingga terjadilah perlawanan seperti yang sering Mitsuko lakukan. Karena Mitsuko tidak mau diatur, tapi otousan lebih menotoriterkan didikannya hanya padaku karena aku penurut.
"Kurosaki Chizuru!" Seorang wanita memanggil namaku. Spontan, aku dan kaachan berdiri dan menghampiri wanita itu. Aku pun disuruh berganti pakaian yang telah disiapkannya untuk melakukan rontgen.
"Kaachan...aku deg-degan..."
"Gak apa-apa kok. Gak ada yang perlu ditakutkan." Suara lembut kaachan masuk ke kalbuku. Sebuah energi positif mengalir di tubuhku. Aku pun berusaha untuk berpikir positif.
"Cepat ganti bajumu!" Aku segera mengganti pakaianku dan masuk ke rauangan yang di dalamnya ada sebuah mesin-mesin rumah sakit. Salah satu mesin itu bergerak. Karena gugup dan takut menjadi satu, aku memejamkan mata. Seperti ada sebuah cahaya yang melintas.
Setelah di rontgen, aku kembali mengenakan pakaian semula. Ternyata aku tidak merasakan apa-apa. Tidak ada rasa sakit seperti suntuk menyuntik. Yang ada hanya kegugupan. Ini pertama kali aku di rontgen. Barulah aku dan kaachan pulang ke rumah dan akan kembali beberapa hari lagi untuk melihat hasilnya. Pertanyaan 'sebenarnya aku sakit apa sih?' akan ku samarkan dalam pikiranku. Aku yakin, dengan menyugesti kita sehat, maka kita akan sehat. Yakin!
"Gimana?neechan sakit apa?" tanya Mitsuko dengan nada meledek di balik senyumnya yang terkesan meledek juga. Aku malas melayaninya. Dari pada sakit hati, lebih baik aku tidak menggubrisnya. Aku tidak peduli sekesal apa pun Mitsuko padaku. Aku hanya ingin istirahat untuk menenagkan pikiran.
* * * * * * *
GOOOLLLL!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Semua orang bersorak sorai begitu tim kesayangannya mencetak gol. Hanya aku yang diam gelisah. Tidak memberikan sorakan. Sebenarnya aku sakit apa sih?pikirku. Pertanyaan itu masih saja terngiang-ngiang di pikiranku. Saat ini yang aku butuhkan adalah Yuto nii. Ah, aku juga tidak menghitung ini sudah haru ke berapa Ia pergi ke Okinawa. Har-hariku tanpanya terasa suram. Sepi sekali tanpa Yuto nii.
"Chizuru! Kok ngelamun?" Yoshimi menyenggol sikutku. Aku hanya meliriknya sebentar.
"Aaaa....pasti kamu kangen Nakajima senpai ya..."
"Kok tau?" Kata ku spontan tanpa ekspresi. Tanpa menolehnya sedikit pun.
"Eh?jadi benar kamu dan Nakajima senpai..." Yoshimi mulai berpikir yang tidak-tidak.
".....apa?" Aku segera menantangnya.
"Kamu kenapa sih Chizuru kok jadi sensi gini??!!"
Ah sebenarnya Yuto nii sudah kembali ke sekolah apa belum sih! batinku. Tanpa peduli pada Yoshimi, aku beranjak dari bangku penonton dan keluar dari taiikukan ini. Begitu aku keluar, Yuto nii dan anak karate lainnya datang dengan senyum kemenangan. Terlihat salah satu dari mereka membawa sebuah piala. Tapi aku langsung gugup begitu mereka melihatku. Bukan! Tapi Yuto nii yang melihatku!
"Chizu?"
"Yuto nii..."
"Yuto nii???" Salah satu dari mereka mulai bertanya kenapa aku menyenbut 'Yuto nii'.
Aku tidak peduli. Tapi aku hanya berkata pada mereka, "Omedetou!"
"Hey, sebenarnya kalian ini pacaran atau..." Sebelum salah satu dari mereka melanjutkan pertanyaan mereka, Yuto nii segera memotongnya, "Dia ini imotouchanku..."
"Sejak kapan?"
"Udah ah...kalian banyak pertanyaan! Aku mau main sama imoutoku dulu!"
Yuto nii meninggalkan mereka dan menggandengku masuk ke taiikukan. Kami pun jadi sorotan. Aku tidak peduli, yang penting aku sekarang bersama Yuto nii. Saat-saat yang seperti nilah yang akan ku nikamti dan memang sedang ku nikmati hingga bel pulang sekolah berbunyi.
"Ja!" Yuto nii pamit setelah Ia mengantarku ke rumah.
"Chizuru, ayo kita ke rumah sakit! Lihat hasil rontgennya!"
"Hah?" Baru saja aku bersenang-senang dengan Yuto nii, kenapa kata 'rontgen' itu muncul lagi lagi sih! kata ku membatin. Aku jadi phobia dengan kata 'rontgen'. Namun, aku harus sehera ikut ibu dari pada dihantui pikiran yang tidak-tidak.Saat sedang memberhentikan sebuah bis, aku melihat Yuto nii yang melihatku sedang bersama kaachan. Ia terlihat mengerutkan keningnya. Mungkin Ia hatinya sedang bertanya kenapa aku terlihat buru-buru bahkan masih mengenakan pakaian seragamku.
Aku dan kaachan segera menemui dokter laik-laki yang kemarin begitu sampai di rumah sakit.
"Hmm....Sulit dipercaya..." gumam dokter itu sambil melihat hasil rontgenku.
"Kenapa dok?"Anak saya sakit apa?" Aku tahu kali ini kaachan deg-degan dengan hasilnya.
"Sebenarnya..." Dokter itu membenarkan kacamatanya setelah Ia menjeda apa yang akan Ia jawab. "Sebenarnya, Chizuru chan sehat-sehat saja. Ia tidak mengidap penyakit apa pun. Hanya saja...berdasarkan hasil rontgen, tidak ada rahim di dalam tubuhnya...."
"Maksud dokter?"
"Kami tidak menemukan adanya rahim pada rontgen ini. Begitulah hasil rontgennya..."
Deg! Aku tidak mempunyai rahim?Rahim yang seharusnya dimiliki setiap wanita itu, tidak ku miliki???Yang benar saja....Aku kan perempuan! Tapi...Ah...sungguh...Hancur rasanya hati ini! Lalu, kalau aku tidak mempunyai rahim, bagaimana aku akan memiliki keturunan di kemudian hari? Ya, mungkin terlalu jauh untuk anak seusiaku yang memikirkan keturunan. Tapi, masalahnya aku benar-benar tidak mempunyai rahim. Atau jangan-jangan ini kelainan???
"Masak gak ada sih, dok???" Kaachan terlihat tidak percaya. Wajahnya mulai cemas sekali. "Dokter gak salah???Kalau gitu..."
"Ibu tenang dulu...Mungkin anak Ibu menderita kelainan atau..."
Belum dokter menyelesaikan pembicaraannya, kaachan sudah lemas dan terduduk seperti orang yang mau pingsan. "Maaf, tapi beginilah hasil rontgennya," Dokter pun menyerahkan sebuah amplop yang berisi poto tubuh bagian dalamku alias hasil rontgen. Saat kaachan hendak menerimanya, kaachan malah pingsan! Aku hanya menangis dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Aku pun menunggu kaachan siuman dengan pikiran yang kalut. Setelah beberapa perawat mencoba menyadarkan beliau, barulah Ia sadar. Segar, Ia memelukku erat. Ia pun menangis.
"Kamu yang kuat ya, nak..."
" Aku minta maaf udah bikin kaachan susah..."
"Enggak...Kamu bicara apa sih?Kamu jangan ngomong gitu...Aku yakin kamu normal. Kamu punya rahim!"
"Kaachan..."
"Ayo kita pulang...Pasti otousan dan mitsuko sudah menunggu kita..."
Kaachan terus menguatkan aku. Sementara aku jadi merasa serba salah sebagai anak. Tapi aku berusaha untuk tetap tegar dan mencoba untuk tersenyum karena melihat kaachan yang terus memerikan senyumannya padaku. Tidak pantasa rasanya aku sedih di depan kaachan yang beruasah menghiburku. Di dalam bis, kaachan terus menggenggam tanganku kuat sekana tidak mau lepas. Sesakali Ia memelukku. Aku jadi heran. Seakan-akan, akan pergi selamanya. Pelukannya itu tidak pernah lepas.
"Tadaimaa!!!"
Aku dan kaachan pun sampai di rumah. Tapi ada Yuto nii dan okaasannya juga yang terlihat bicara serius dengan otousan. Saat Yumiko okaasan melihatku, matanya menjadi berkaca-kaca.
"Anakku!" Tiba-tiba Yumiko okaasan memelukku erat. Kaachan pun sontak kaget dan terlihat bertanya-tanya, "Ada apa ini???"
Pelan-pelan otousan mendekati kaachan dan menjelaskan semuanya dengan wajah yang terlihat sedih. "Mereka ini keluarga kandungnya Chizuru..."
Tentu, kaachan menunjukkan ekspresi wajah yang lebih kaget lagi. "Tidak!!! Dia ini anakku! Apa biktinya kalau dia ini anakmu???!!!"
"Tanda lahir di pundaknya!" Yumiko okaasan menunjukkan tanda lahrku yang bersembunti di balik seifuku ku.
"Tidak!"
"Bagaimana mungkin tidak?Aku juag melakukan tes DNA dengan menggunakan rambutnya yang diambil putraku yang tak lain adalah kakak kandungnya!" Yumiko okaasan melirik Yuto nii. Yuto nii hanya duduk dan bingung apa yang harus dilakukannya. "Dan hasilnya, positif! Dai anak kandung saya! Dan adik kandung Yuto, juga kakak kandung Raiya!!"
Kaachan hanya menutup mulutnya dengan ekspresi wajah yang tidak percaya. Ia menggeleng-geleng. Airmatanya pun tumpah. Amplop hasil rontgenku jatuh dari tangan kaachan. Kaachan pun pingsan lagi. Aku panik."Kaachan..."Barulah Yuto nii berdiri dan mulai menenangkan kaaachannya. Untuk sementara ini keluarga Nakajima tidak bisa membawaku pergi. Mitsuko yang sejak dari tadi meningtip hanya melihat kejadian ini dengan wajah yang menunjukkan ketidakpercayaan. Ia tidak menyangka bahwa aku bukanlah kakak kandungnya. Terlebih, aku adalah bagian dari keluarga kaya raya Nakajima.
Selama kaachan belum sadar, otousan menceritakan kejadian yang sebenarnya dan juga menceritakan statusku di keluarga Kurosaki ini. Aku benar-benar shock kalau aku bukanlah keluarga kandung dari Kurosaki. Otousan membiarkanku menangis di kamar dan melarang Mitsuko yang berniat menyusulku. Ah, aku memang pernah mengkhayal menjadi bagian dari keluarga Nakajima. Tapi aku tidak menyangka akan menjadi sesakit ini rasanya. Pantas saja kaachan terus memelukku. Ia memang takut kehilanganku. Entahlah aku benar-benar bingung harus sedih atau senang...
* * * * * * * *
Keadaan kaachan sudah mulai membaik pada keesokan harinya. Bahkan Ia sempat bilang kalau Ia merelakan aku tinggal bersama keluarga Nakajima. Tapi aku masih belum bisa menerimanya begitu saja. Rasa sayangku pada keluarga ini terlalu besar, terutama pada kaachan yang terus mengasihiku. Aku dibesarkan sebagai Kurosaki. Kenapa aku harus meninggalkan mereka dan menyandang 'Nakajima' di depan namaku???
Hari ini hari terakhir kompetesi olahraga di sekolah. Aku akan lomba marathon. Tapi aku tidak bersemangat untuk hari ini. Bertemu Yuto nii pun, aku bingung harus senang atau sedih. Tetapi, dia itu kakakku. Kakak kandungku!
"Kurosaki Chizuru!" Aku segera berbaris bersama para peserta yang lain. Ku lihat Yuto nii yang sedang menontonku. Dia memberiku senyuman. Aku hanya membalasnya dengan senyuman juga. Itu pun tidak dari hati. Aku pun memandang ke depan menunggu aba-aba.
"Ganbatte!!!" teriak Yuto nii. Otomatis, aku menoleh. Aku terharu melihatnya yang sangat bersemangat dalam menyemangatiku.
"Mulai!" Aku dan peserta lain mulai berlari. Tiba-tiba ada semangat yang membakar di hatiku hingga aku lebih unggul dari yang lain. Tidak sengaja ku lihat, Yuto nii terus menyemangatiku sambil berlari juga tapi Ia berlari di area penonton. Aku terharu. Tiba-tiba aku terjatuh, dan berusaha untuk bangkit lagi. Namun, pandanganku menghitam. Dunia seakan gempa. Ku dengar, Yuto nii menyebut-nyebut namaku dengan suara suara yang kedengaran khawatir. Hingga aku pun tak sadarkan diri. Sebelumnya, antara sadar dan tidak sadar, aku merasakan tubuhku dibawa oleh seseorang. Ia juga sempat menyebut namaku. Seperti suara Yuto nii. Dan aku tidak tahu lagi bagaimana setelah itu.
* * * * * * *
"Chizuru?Oh syuukurlah kamu sudah sadar..." Wajah Yuto nii tiba-tiba muncul di hadapanku. Aku merasa lemas. Sepertinya aku berada di UKS.
"Niichan...Gomen, udah buat niichan repot..."
"Eh?nggak kok...Sama sekali enggak. Kamu bicara apa sih???" Wajah Yuto nii terlihat ramah dengan senyumannya itu.
"Niichan..."
"Ya?"
"Aku pasti kalah ya?"
"Sayang, yang penting kamu baik-baik saja. Itu sudah buat aku senang..."
"Niichan..."
"Ya?"
"Apa niichan..."
"???Apa???"
"Iie, nan de mo nai..."
Yuto nii membawaku pulang ke rumah. Rumah Kurosaki. Begitu melihat niichan, orang rumah langsung menyambutnya. Di saat bersamaan, Yumiko okaasan datang berasama Tuan Nakajima dengan mobil mewah mereka. Ah!
Yuto nii terlihat kaget dengan kedatangan orangtuanya yang juga orangtuaku. Sebelum mereka melihatku, aku segera masuk ke kamar. Aku malas melihat keributan yang akan muncul nanti seperti yang terjadi kemarin.
"Kedatangan kami ke sini, hendak menjemput putri kami, Chizuru..." Suara Yumiko okaasan begitu jelas ku dengar dari kamar. Aku segar menutup kedua telingaku dengan kedua bantal yang ada. Aku tidak peduli mereka berkata apa. Andai mereka tahu kalau aku bukanlah anak yang mereka harapkan. Aku benar-benar meresa serba salah. Alangkah malunya diri ini bila aku kembali pada keluargaku dan mereka pun mengetahui keadaanku yang sebenarnya. Tentu, mereka alu punya anak seperti aku yang mengidap kelainan. Tapi, bial aku tetap pada keluarga Kurosaki, aku juga merasa serba salah. Ok, mereka akan menerimaku. Tapi kemungkinan yang lain yang akan muncul adalah bunuh diri. Karena walau mereka menerimaku, pasti tanpa sadar mereka akan meledekku di saat-saat tertentu yang membuat emosi mereka naik. Aku benar-benar bingung!
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu mengagetkanku. Kaachan. Dengan wajah keibuannya, Ia menghiburku. Ia juga meyakinkanku suapa aku kembali pada keluargaku yang sebenarnya. Setelah keadaan mulai tenang, kaachan mmebawa koper dengan segala keperluanku di dalamnya. Aku hanya heran. Mengapa begitu mudah kaachan melepaskanku???
"Bawalah ini. Kamu harus jujur pada mereka. Pasti mereka mau membiayai rumah sakit," kata kaachan sambil menyerahkan amplop yang berisi hasil rontgen.
"Apakah setelah ini aku akan kembali kepada kaachan?"
"Tidak, sayan. Kau tidak boleh kembali. Kau adalah keluarga Nakajima. Ini permintaan kaachan yang terakhir sebelum kau pergi..." Tega sekali kaachan bicara seperti itu. Aku merasa diusir secara halus olehnya.
Ah, pikiran buruk! Mana mungkin kaachan berniat demikian!
"Kaachan..." Aku memeluk kaachan dengan erat.
"Sudah...sudah...jangan perlihatkan sedihmu. Kau harus tersenyum begitu melihat orangtua kandungmu. Ya!" Ah kaachan! bagiku kaachanlah orangtuaku! kataku membatin.
Setelah kaachan memasukkan amplop hasil rontgen ke koperku, Ia pun membawaku ke luar menghadap keluarga Nakajima, keluarga kandungku.
"Terima kasih telah merawat Chizuru dengan penuh kasih sayang," ucap Tuan Nakajima yang mungkin akan ku panggil otousan. Ku lihat, Mitsuko agak sedih begitu ayah kandungku membawaku pergi. Sementara Yuto nii diam mematung. Yumiko okaasan pun membawa Yuto nii ke dalam mobil. Terlalu cepat bagiku untuk meninggalkan tempatku dibesarkan. Kini, aku hanya menghening di dalam mobil bersama Yuto nii.
* * * * * * *
Sudah lebih tiga hari Chizuru terlihat murung. Terlebih kalau sedang sendiri, mata dan pikirannya menerawang kemana-mana. Sedangkan, otousannya yang kini sibuk dngan urusan kantornya. Hanya Yuto nii yang tidak bisa dibohongi melihat Chizuru yang terlihat terpaksa tersenyum. Ia selalu berusaha mengetahui keadaan adik perempuannya itu, tapi Chizuru selalu menghindar. Chizuru hanya terlihat senang saat bersama Raiya. Kini, bukan Mitsuko lagi adiknya.
Tidak hanya di rumah, di sekolah pun Chizuru juga terlihat murung. Hingga suatu waktu, Ia meminta Yoshimi untuk mendengar curahan hatinya untuk pertama kalinya. Dengan penuh isakan airmata, Chizuru pun mengeluarkan seemua yang Ia simpan kepada Yoshimi. Hingga Yoshimi kagt mengenai Chizuru yang tak berrahim. Airmatanya benar-benar tak terbendung lagi. Dipeluklah teman sebangkunya itu.
"Yoshimi, kamu lihat Chizuru?" tanya Yuto di saat waktu istirahat. Selama di sekolah ini, Ia belum juga melihat sosok wanita yang mirip dengannya itu.
"Nakajima Chizuru maksud senpai ya?" Yuto agak kaget mendengar Yoshimi berkata demikian. Pasti semua orang sudah tahu kalau Chizuru adalah adiknya. Adik kandungnya.
"Ya, dimana dia?"
"Senpai, boleh aku mengatakan sesuatu kepada senpai?"
"Nani?"
"Chizuru itu sebenarnya mengalami tekanan batin," Yoshimi berusaha menjelaskan secara perlahan. "Akhir-akhir ini Ia murung. Ia juga malu karena Ia punya kelainan pada tubuhnya."
"Kelainan?"

No comments:
Post a Comment