Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Friday, August 2, 2013

XY (Finish)

Title   : XY (Finish)
Cast   : Kurosaki Chizuru, Kurosaki Mistuko, Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Chinen Yuri, Nakajima Yumiko, Ohgo Suzuka, Shida Mirai.
Genre : IDK
Rating : T
Author: Nadia Rahmandani

       "Ia tidak memiliki rahim layaknya perempuan..."
       "He?nani?"
       "Sebenarnya Ia ingin mengatakan hal ini ke senpai tapi Ia sudah takut duluan."
       "Kowai?Nande?"
       Yoshimi diam sebentar. "Ia malu. Ia takut senpai tidak mau mengakuinya sebagai adik. Ia takut senpai malu punya adik sepertinya..." Yuto tidak bisa berkata apa-apa selain hampit tidak percaya apa yang diucapkan Yoshimi. Ia hanya benar-benar mendengarkan apa yang akan dikatakan Yoshimi. "Bahkan, Ia ingin kembali saja kepada keluarga Kurosaki, tapi Ibu yang telah merawatnya telah melarangnya. Ia sempat berpikir kalau Ia telah diusir secara halus oleh keluarga Kurosaki...Ia mengira kalau keluraga Kurosaki malu punya anak sepertinya..." Yoshimi terlihat terbawa oleh suasana. Suaranya mulai seperti suara orang menangis.
       "Ya ampun..." Yuto mendesah.
       "Aku harap senpai mau menerima Chizuru apa adanya.  Dia butuh senpai."
       "Sekarang, dimana dia?"
       "Aku tidak tahu. Tapi aku khwatair Ia akan bunuh diri karena berkali-kali Ia bilang padaku kalau Ia ingin mengakhiri hidupnya di aokigahara..."
       "Dame!" kata Yuto spontan. "Baiklah, aku akan mencarinya. Arigatou infonya!" Yuto segera meninggalkan Yoshimi. Tempat pertma ayang menjadi sasaran pencariannya adalah doujou.
       Dari luar, terdengar seperti ada orang yang sedang latihan. Saat Yuto mengintip, Ia melihat dua teman sekelasnya, Shida dan Suzuka. Mareka terlihat sedang mengajari Chizuru cara menggunakan shinai yang baik. Syukurlah Chizuru baik-baik saja, batin Yuto. Tapi wajah Chizuru keliahatan tanpa ekspreesi bahkan cenderung murung. Berkali-kali Ia dimarahi Shida karena teknik Chizuru memainkan shinai salah. Karena bosan dengan amarah Shida, Chizuru pun mengumpulkan emosinya dan tanpa ada perintah apa-apa, Ia menyerang Suzuka hingga darah mulai mengucur di kepalanya. Tidak ada reaksi apa-apa dari Chizuru. Ia seakan mati perasaan. Walau sebenarnya di hati kecilnya Ia bersalah, Chizuru tetap tidak mau menunjukkan empatinya. Malah Ia membelankangi Shida yang semakin marah padanya.
     Ia mendengar suara laki-laki yang jelas bukan suara Shida atau Suzuka. Suara itu menyebut namanya. Walau Ia tahu siapa si pemilik suara, Ia tidak menoleh.  Yuto yang saat itu sedang mengintip, langsung menghampiri Suzuka yang masih mengaduh. Sekali lagi, Yuto memanggil Chizuchannya itu. Barulah, Ia melihat adiknya itu menoleh. Tapi, Ia kembali membelakangi dan melanjutkan langkahnya seperti langkah  orang yang terhipnotis. Lalu, sosok Yoshimi muncul di belakang Yuto.
       "Chizu!! Sudahlah! ceritakan saja semuanya pada niichanmu ini!" seru Yoshimi.
       "Chizu..." Pelan-pelan Yuto mendeekati Chizuru. Tapi langkahnya tertahan saat Chizuru bersuara.
       "untuk apa?kamu pasti udah menceritakannya kan?apalagi yang harus ku ceritakan?"Semua sudah jelas. Aku gak normal!" lirih Chizuru.
       "Tidak!!!" Yuto berusaha mengeluarkan suara.
       "Sudahlah, Yuto nii. Sudah kenyataannya kalau organ tubuhku tidak lengkap! Aku cacat!"
       Pelan-pelan Yuto kembali mendekatinya dan memeluknya dari belakang. "Kita bisa cek lagi kan?" Chizuru hanya menangis.
       "Aku gak punya rahim...aku cacat..."
       "Sudah, kamu tenang dulu. Seharusnya kamu ceritakan dulu dari awal biar bisa diperiksa lebih cepat. Nanti, katakan hal ini ke kaachan...."
       "Kaasan?"
       Yuto menggeleng. "Kaachan."
      Yuto pun  mengusap  airmata Chizuru sambil menyugesti supaya dia mau tersenyum. Lalu, Ia mengajak Chizuru untuk meminta maaf pada Suzuka. Suzuka hanya tersenyum. Ia mengerti Chizuru sedang dalam masalah besar.
     
       Malamnya, Yuto menemani Chizuru ke kamar kaachan dengan membawa amplop berisi hasil rontgen. Akhir-akhir ini Raiya lebih banyak mengalah pada Chizuru sebab kakak perempuannya itu sedang membutuhkan Yuto nii nya itu.
       "Masuk!" Suara kaachan setelah Yuto mengetuk pintu kamarnya. Pelan-pelan, Yuto dan Chizuru mendekati kaachan yang duduk memandang ke luar jendela. Sang kaachan mulai memperhatikan gerak-gerik dua buah hatinya yang sudah remaja itu. Tampak mencurigakan.
       "Ada apa ini?Kok kalian aneh?" tanya kaachan. Mula-mula Chizuru menyatakan permohonan maafnya yang jelas tidak dimengerti sang kaachan. Barulah, Chizuru menceritakan hal yang sebenarnya, dibantu Yuto. Yuto selalu membantunya saat Chizuru kesulitan menemukan kata-kata yang tepat untuk mengutarakan pada kaachan. Ekspresi kaget mulai tampak di wajah kaachan. Antara percaya tidak percaya, kaachan pun menerima amplop hasil rontgen Chizuru. Lama Ia terdiam. Dikeluarkannya isi amplop itu. Ia hanya mengerutkan kening tanda tidak mengerti sambil melihat poto hasil rontgennya. Ia mencoba memejamkan matanya untuk menraik nafas dalam-dalam. Lalu mengeluarkan nafas. Disentuhlah pundak Yuto dan Chizuru. Ia melihat, ada kemiripan yang sangat kental antara Chizuru dan Yuto.
       "Tidak, nak. Kau normal. Aku yakin itu!" Chizuru dan Yuto hanya diam memperhatikan kaachan.
       "Kita coba periksa lagi!" lanjut kaachan. Chizuru hanya mendesah. Dan Yuto hanya mengelus-elus punggung adiknya itu.

       * * * * * * *

       Hasilnya sama. Kedua kalinya aku ke rumah sakit bersama kaasan, maksudku kaachan, tetap saja aku mendapat poto dengan hasil yang sama dengan yang pertama. Aku tidak mempunyai rahim. Tapi, kata dokter, aku bukan memiliki kelainan. San dokter hanya menyarankanku ke laboratorium untuk diperiksa keadaan genetikku. Lagi, aku berpikiran positif.
        Ditemani kaachan, aku pergi ke tempat yang dijanjikan. Di sebuah laboratorium sarangnya para ilmuwan. Di sana aku diperiksa, diminta sampel darahnya dan sampel lain-lain. Yang jelas, pemeriksaan yang dilakukan orang-orang di laboratorium sungguh berbeda dengan yang di rumah sakit. Setelah menjalani seegala 'ritual'nya, aku dan kaachan diperbolehkan pulang. dan akan kembali minggu depan.
       Selama seminggu ini, Yuto nii dan Raiya selalu menghibur dan menyemangatiku. Raiya memang tidak mengertti apa-apa. Tapi, Ia juga ikut Yuto nii menghiburku. Di sekolah pun aku merasa terhibur. Sebab, Yuto nii selalu menjadi teman setiaku. Bahkan Ia mengajakku berkumpul bersama dengan Yamada sepai dan Chiinen senpai. Ah...Yamada senpai...terpikir olehku, apakah Yuto nii telah menceritakan keadaanku padanya?Entahlah, tapi aku yakin, Yuto nii tetaplah kakakku yang terbaik.
       Hingga tibalah pada hari yang dijanjikan, deg-degan itu muncul kembali. Tidak hanya aku dan kaachan, tiga laki-laki di rumah juga harap-harap cemas menanti hasil. Berkali-kali, Yuto nii memberi pesan semangat melalui ponsel baruku dari kaachanku yang dulu. Ah, aku kangen beliau. Tapi, aku harus bersyukur dan menerima keluargaku yang sekarang. Mereka benar-benar meenghibur dan mendukungku. Walau demikian, keluarga Kurosaki tak akan ku lupakan.
       "Ini hasil labolatoriumnya," kata seorang wanita yang berpakaian seperti pakaian dokter. Ia menyerahkan berkas-berkas hasil pemeriksaanku pada kaachan.
       "Apa ini?Jadi, bagaimana hasilnya?"
       "Di situ tertulis kalau Nakajima Chizuru memiliki gen XY." Sang wanita berpakaian dokter itu menunduk. Dan kembali menjelaskan. Sepertinya akan ada berita buruk.
       "Normalnya, perempuan itu gennya XX. Nah, Nakajima Chizuru justru gennya XY, yang jelas gen yang dimilki laki-laki.Itulah sebabnya Ia tidak memilki rahim dan ovarium. Otomatis, Ia tidak akan  mengalami menstruasi,"lanjutnya.
       Aku dan kaachan diam sejanak. Agaknya, kami masih belum mengerti.
       "Jadi?" Kaachan mulai bertanya.
       "Jadi, secara genetik, gennya Chizuru itu XY dan secara genetik pula, Chizuru adalah laki-laki. Bisa dibilang, seharusnya Ia lahir sebagai laki-laki. Tapi, terjadi kesalahan pada kandungan dan jabang bayi, dan berakibat demikian..."
       Jantungku mulai berdetak lebih kencang. Ternyata ini lebih parah dari yang ku duga. Aku benar-benar tidak normal!
       "Maaf, hanya ini yang bisa kami katakan..."
        Kaachan hanya diam menatap ke bawah. Brusaha bertanya dengan pertanyaan yang sebenranya sudah dijawab wanita berpakaian dokter ini. Masih belum yakin dan belum percaya. Tapi, rupanya kaachan harus sabar. Aku hanya menatapnya serba salah. Aku sebanrnya juga memilki perasaan yang dimilki kaachan. Tapi, aku tidak bisa menunjukkan kesedihanku di depan orang kecuali pada orang yang munskin sudah mengenalku dan aku mau jujur padanya. Aku hanya bisa mendesah. Berusaha tegar.
       Pelan-pelan setelah kami mendengar ocehan si wanita berpakaian doketr ini, aku mengajak kaachan untuk pulang. Sepanjang perjalanan, kami tidak berkomunikasi. Aku hanya mendesah dengan semua ini. Bukannya kabar baik, malah kabar buruk yang kami terima. Dan yang lebih menyakitkan, kaachan terus menerus diam hingga sampai di rumah. Mungkin kaachan masih shock. Tanpa senyum, Ia langsung masuk ke kamar. Sementara Yuto nii yang sejak tadi duduk di ruang tamu terus membuntutui kami dengan penasaran. Aku tidak melihat Raiya dan otousan. Sambil menghela nafas, aku pun memberikan berkas-berkas yang tadi diterima kaachan. Aku juga menjelaskan dengan mengulang apa yang dikatakan wanita di labolatorium tadi. Tanpa peduli dengan reaksinya, aku segera masuk kamar dengan perasaan yang entahlah aku tidak tahu. Aku merasa hidupku semakin suram. Tanpa sadar, aku menangis. Bagaimana mungkin aku yang terlahir sebagai perempuan tulen, tiba-tiba divonis kalau secara genetika bahwa aku adalah laki-laki??? Ini tidak masuk akal. Tapi, ya itulah keadaanku. Hanya secuil dari segelintir umat manusia yang mengalami hal seperti ini di dunia. Ah, seterusnya aku tidak akan menjadi lebih baik! kata ku membatin. Aku kesal. entah kesal pada siapa. Kesal pada takdir???Ah...wakarimasen!!!!

       * * * * * * *

       Hampir terhitung satu bulan aku terus berbraing di tempat tidur. Tidak ada semangat hidup. Terkadang aku kesal pada Yuto nii yang selalu menggagalkankan ku untuk kabur. Ia juga menggagalkanku untuk bunuh diri. Aku bingung, kenapa orang itu masih saja menyayangiku. Ya, sepulang dari labolatorium itu, aku langsung jatuh sakit. Tidak mau makan. Ku pikir untuk apa hidup?Hidupku saja tidak jelas, laki-laki apa perempuan! Tapi, orang-orang rumah terus menghiburku. Ya, mereka menghiburku. Bahkan keluarga Kurosaki juga menengokiku. Aku tidak tahu harus menunjukkan ekspresi apa pada mereka. Aku terlalu kalut. Mungkin galau. Aku sempat berharap, kaachan kurosaki mau mengelus rambutku, tapi Ia hanya menatapku iba. Semakin yakinlah aku kalau mereka membuangku karena aku ini aib! Ah!
   
       Ah! ah! ah! Bagaimana sih aku ini????Kenapa hidupku begini???Aku benar-benar tidak mengenal siapa diriku! Tadinya aku ini adalah Kurosaki, lalu sekarang Nakajima. Tadinya aku perempuan. Lalu sekarang???Aku tidak tahu!!! Tapi....bagaimana mungkin???!!!

       Satu per satu dari mereka mulai sibuk dengan urusannya masing-masing. Tapi, masih menyempatkan diri untuk memberiku senyuman. Hanya kaachan. Jangankan tersenyum, menatapku saja enggan. Kaachan sudah kelihatan malu dengan kehadiranku ini. Aku benar-benar aib. Hanya Yuto nii yang menerimaku apa adanya. Hiburan darinya tidak berhenti. Bahkan demi melihatku tersenyum, Ia sampai ketiduran di kamarku. Dan itu sering. Pernah suatu malam, aku bermimpi buruk Sangat buruk Yuto nii selalu ada untukku. Bahkan saat aku mengigau sambil berjalan pun, Yuto nii seakan tidak pernah lelah. Lalu Ia menggendongku ketika mendapati aku berhenti berjalan dalam igauan di dapur, tidur di sana.
       Suatu hari, aku pernah melihatnya menangis sambil mengelus-elus rambutku. Aku tidak tahan melihat airmatanya itu. Melihat airmatanya itu, aku pun langsung bangkit. Hari demi hari kesehatanku mulai membaik walau masih belum diizinkan untuk sekolah. Aku juga sudah bisa tersenyum tanpa dipancing Yuto nii. Dan Yuto nii terlihat senang dan bersemangat. Pada saat keadaanku membaik,teman-teman Yuto nii mulai menengokiku. Ada Yamada senpai. Aku melihat, Yamada senpai sudah tidak berarti lagi bagiku. Dia tidak akan pernah mencintaiku. Aku tahu itu. Namun, perasaan itu masih ada walau sedikit. Mungkin, sudah saatnya Yuto nii tahu. Begitu aku melihat Yamada senpai dan teman-temannya sudah pergi, aku mulai mengutarakan perasaanku ini. Yuto nii hanya tersenyum. Ia justru mendukungku dan akan membantu. Tapi aku tidak yakin, Aku ini tidak normal. Yamada senpai tidak mungkin mencintaiku. Aku sudah meyakininya. Melihat Yuto nii yang sangat bersemangat, aku hanya diam dan tidak bisa mencegahnya.

       Hari pertama sekolah setelah aku aku sakit, pertama yang ku cari adalah Yamada senpai. Entah mengapa aku ingin melihatnya. Hanya melihatnya. Saja. Hari ini juga, Yuto nii mulai melancarkan aksinya sebagai mak comblang. Tapi, sebelum teerjadi yang tidak-tidak, aku harus menemui Yamada senpai dulu dan mengatakan bahwa Yuto nii akan mengerjainya. Namun, gejolak hati ini memaksaku untuk menyatakan perasaan ini. Ah. Hingga pulang sekolah, tidak ada usaha yang berarti yang ku lakukan untuk mendekati Yamada senpai. Rasa malu ini terlalu menguasaiku. Ah!
       Sebuah surat ku temukan di lemari sepatuku. Dari Yuto nii? Mengajak ketemuan di tepi sungai. Kenapa musti melalui surat? Bukankah Ia bisa mengajakku langsung?Ah biarlah. Ku ikuti saja. Tapi, perasaanku kok gak enak ya?Apa jangan-jangan Yuto nii mau mengerjaiku?Aku hanya menggeleng-geleng sendiri.
       Begitu aku sampai di tepi sungai, yang tampak olehku hanya Yamada senpai. Waduh?Jadi ini rencananya?batinku. Benar kan dia memang mengerjaiku....tapi kok tega sekali Ia mempertemukan aku dengan Yamada senpai???Sudah tahu, aku sangat gugup kalau bertemu dengannya! Hah!!!! Yuto nii!!!
       Pelan-pelan, aku menyapanya. Agak kaget saat Yamada senpai menyambut salamku dengan senyumannya itu. Aku sampai bingung harus berkata apa. Tapi, tiba-tiba aku jadi ingat siapa aku. Ya, aku harus mengutarakannya. Aku hanya mengatakan perasaan ini saja. Menyimpan perasaan ini terlalu lama kadang membuatku tersiksa. Tanpa basa-basi, aku langsung mengatakan, "Suki desu!!!!" Dan aku mendengar suaraku yang cempreng ini. Antara malu, gugup dan sedih menjadi satu. Rupanya, Yamada senpai masih tidak mengerti. Baiklah. "Gomen. Aku terlihat buru-buru.Aku juga minta maaf sebelumnya. Tapi aku hanya ingin mengatakan kalau aku....aku suka senpai...Aku yang menderita kelainan ini hanya ingin bilang kalau aku suka senpai!!!" Barulah aku bisa melihat kekagetannya. Ah, merah pasi pasti wajahku ini. Tapi, rasa sedih dan malu lebih menguasai. Ah, senpai...aku benar-benar hanya ingin mengutarakan perasaanku ini saja. Karena aku ingin senpai tahu, aku yang tidak normal ini menyukai senpai. Kalimat itu ingin ku katakan padanya. Tapi yang ada hanya tangisan. Aku tidak tahan dan menangis. Aku sudah tidak tahan lagi berada di dekatnya dan segera berlari menjauh darinya. Menjauh, hingga saat ku menoleh ke belakang, Yamada senpai benar-benar tidak tampak olehku.
Ku dapati, Yuto nii sedang mengintip di balik pohon. Seharusnya aku memarahinya, karena Ia sudah mempertemukanku dengan Yamada senpai. Tapi, aku tidak bisa marah. Airmataku meluap. Aku pun memeluknya dengan isakan yang sangat kuat. Aku merasa tidak punya siapa-siapa lagi selain Yuto nii. Aku akan tetap hidup untuk Yuto nii yang telah berkorban untukku. Yang telah menyayangi sepenuh hatinya. Dan cintaku hanya untuk Yuto nii, kakak ku yang paling baik sedunia....Niichan ni Aishiteimasu!!!!

XY (Part IV)

Title   : XY (4)
Cast   : Kurosaki Chizuru, Kurosaki Mistuko, Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Chinen Yuri, Nakajima Yumiko, Ohgo Suzuka, Shida Mirai.
Genre : IDK
Rating : T
Author: Nadia Rahmandani


      

       Aku hanya diam. Lalu tersenyum. Ya, di rumah hanya kaachan yang tidak pernah kasar padaku. Bahkan Ia mendukung kegiatan karate ku. Beliau juga bilang kalau beliau tidak suka dengan cara mendidik otousan yang otoriter kepada anak-anaknya. Hingga terjadilah perlawanan seperti yang sering Mitsuko lakukan. Karena Mitsuko tidak mau diatur, tapi otousan lebih menotoriterkan didikannya hanya padaku karena aku penurut.
       "Kurosaki Chizuru!" Seorang wanita memanggil namaku. Spontan, aku dan kaachan berdiri dan menghampiri wanita itu. Aku pun disuruh berganti pakaian yang telah disiapkannya untuk melakukan rontgen.
       "Kaachan...aku deg-degan..."
       "Gak apa-apa kok. Gak ada yang perlu ditakutkan." Suara lembut kaachan masuk ke kalbuku. Sebuah energi positif mengalir di tubuhku. Aku pun berusaha untuk berpikir positif.
       "Cepat ganti bajumu!" Aku segera mengganti pakaianku dan masuk ke rauangan yang di dalamnya ada sebuah mesin-mesin rumah sakit. Salah satu mesin itu bergerak. Karena gugup dan takut menjadi satu, aku memejamkan mata. Seperti ada sebuah cahaya yang melintas.
       Setelah di rontgen, aku kembali mengenakan pakaian semula. Ternyata aku tidak merasakan apa-apa. Tidak ada rasa sakit seperti suntuk menyuntik. Yang ada hanya kegugupan. Ini pertama kali aku di rontgen. Barulah aku dan kaachan pulang ke rumah dan akan kembali beberapa hari lagi untuk melihat hasilnya. Pertanyaan 'sebenarnya aku sakit apa sih?' akan ku samarkan dalam pikiranku. Aku yakin, dengan menyugesti kita sehat, maka kita akan sehat. Yakin!
       "Gimana?neechan sakit apa?" tanya Mitsuko dengan nada meledek di balik senyumnya yang terkesan meledek juga. Aku malas melayaninya. Dari pada sakit hati, lebih baik aku tidak menggubrisnya. Aku tidak peduli sekesal apa pun Mitsuko padaku. Aku hanya ingin istirahat untuk menenagkan pikiran.

 * * * * * * *

       GOOOLLLL!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
       Semua orang bersorak sorai begitu tim kesayangannya mencetak gol. Hanya aku yang diam gelisah. Tidak memberikan sorakan. Sebenarnya aku sakit apa sih?pikirku. Pertanyaan itu masih saja terngiang-ngiang di pikiranku. Saat ini yang aku butuhkan adalah Yuto nii. Ah, aku juga tidak menghitung ini sudah haru ke berapa Ia pergi ke Okinawa. Har-hariku tanpanya terasa suram. Sepi sekali tanpa Yuto nii.
       "Chizuru! Kok ngelamun?" Yoshimi menyenggol sikutku. Aku hanya meliriknya sebentar.
       "Aaaa....pasti kamu kangen Nakajima senpai ya..."
       "Kok tau?" Kata ku spontan tanpa ekspresi. Tanpa menolehnya sedikit pun.
       "Eh?jadi benar kamu dan Nakajima senpai..." Yoshimi mulai berpikir yang tidak-tidak.
       ".....apa?" Aku segera menantangnya.
       "Kamu kenapa sih Chizuru kok jadi sensi gini??!!"
       Ah sebenarnya Yuto nii sudah kembali ke sekolah apa belum sih! batinku. Tanpa peduli pada Yoshimi, aku beranjak dari bangku penonton dan keluar dari taiikukan ini. Begitu aku keluar, Yuto nii dan anak karate lainnya datang dengan senyum kemenangan. Terlihat salah satu dari mereka membawa sebuah piala. Tapi aku langsung gugup begitu mereka melihatku. Bukan! Tapi Yuto nii yang melihatku!
       "Chizu?"
       "Yuto nii..."
       "Yuto nii???" Salah satu dari mereka mulai bertanya kenapa aku menyenbut 'Yuto nii'.
       Aku tidak peduli. Tapi aku hanya berkata pada mereka, "Omedetou!"
       "Hey, sebenarnya kalian ini pacaran atau..." Sebelum salah satu dari mereka melanjutkan pertanyaan mereka, Yuto nii segera memotongnya, "Dia ini imotouchanku..."
       "Sejak kapan?"
       "Udah ah...kalian banyak pertanyaan! Aku mau main sama imoutoku dulu!"
       Yuto nii meninggalkan mereka dan menggandengku masuk ke taiikukan. Kami pun jadi sorotan. Aku tidak peduli, yang penting aku sekarang bersama Yuto nii. Saat-saat yang seperti nilah yang akan ku nikamti dan memang sedang ku nikmati hingga bel pulang sekolah berbunyi.
   
       "Ja!" Yuto nii pamit setelah Ia mengantarku ke rumah.
       "Chizuru, ayo kita ke rumah sakit! Lihat hasil rontgennya!"
       "Hah?" Baru saja aku bersenang-senang dengan Yuto nii, kenapa kata 'rontgen' itu muncul lagi lagi sih! kata ku membatin. Aku jadi phobia dengan kata 'rontgen'. Namun, aku harus sehera ikut ibu dari pada dihantui pikiran yang tidak-tidak.Saat sedang memberhentikan sebuah bis, aku melihat Yuto nii yang melihatku sedang bersama kaachan. Ia terlihat mengerutkan keningnya. Mungkin Ia hatinya sedang bertanya kenapa aku terlihat buru-buru bahkan masih mengenakan pakaian seragamku.

       Aku dan kaachan segera menemui dokter laik-laki yang kemarin begitu sampai di rumah sakit.
       "Hmm....Sulit dipercaya..." gumam dokter itu sambil melihat hasil rontgenku.
       "Kenapa dok?"Anak saya sakit apa?" Aku tahu kali ini kaachan deg-degan dengan hasilnya.
       "Sebenarnya..." Dokter itu membenarkan kacamatanya setelah Ia menjeda apa yang akan Ia jawab. "Sebenarnya, Chizuru chan sehat-sehat saja. Ia tidak mengidap penyakit apa pun. Hanya saja...berdasarkan hasil rontgen, tidak ada rahim di dalam tubuhnya...."
       "Maksud dokter?"
       "Kami tidak menemukan adanya rahim pada rontgen ini. Begitulah hasil rontgennya..."
       Deg! Aku tidak mempunyai rahim?Rahim yang seharusnya dimiliki setiap wanita itu, tidak ku miliki???Yang benar saja....Aku kan perempuan! Tapi...Ah...sungguh...Hancur rasanya hati ini! Lalu, kalau aku tidak mempunyai rahim, bagaimana aku akan memiliki keturunan di kemudian hari? Ya, mungkin terlalu jauh untuk anak seusiaku yang memikirkan keturunan. Tapi, masalahnya aku benar-benar tidak mempunyai rahim. Atau jangan-jangan ini kelainan???
       "Masak gak ada sih, dok???" Kaachan terlihat tidak percaya. Wajahnya mulai cemas sekali. "Dokter gak salah???Kalau gitu..."
       "Ibu tenang dulu...Mungkin anak Ibu menderita kelainan atau..."
       Belum dokter menyelesaikan pembicaraannya, kaachan sudah lemas dan terduduk seperti orang yang mau pingsan. "Maaf, tapi beginilah hasil rontgennya," Dokter pun menyerahkan sebuah amplop yang berisi poto tubuh bagian dalamku alias hasil rontgen. Saat kaachan hendak menerimanya, kaachan malah pingsan! Aku hanya menangis dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Aku pun menunggu kaachan siuman dengan pikiran yang kalut. Setelah beberapa perawat mencoba menyadarkan beliau, barulah Ia sadar. Segar, Ia memelukku erat. Ia pun menangis.
       "Kamu yang kuat ya, nak..."
       " Aku minta maaf udah bikin kaachan susah..."
       "Enggak...Kamu bicara apa sih?Kamu jangan ngomong gitu...Aku yakin kamu normal. Kamu punya rahim!"
       "Kaachan..."
       "Ayo kita pulang...Pasti otousan dan mitsuko sudah menunggu kita..."
       Kaachan terus menguatkan aku. Sementara aku jadi merasa serba salah sebagai anak. Tapi aku berusaha untuk tetap tegar dan mencoba untuk tersenyum karena melihat kaachan yang terus memerikan senyumannya padaku. Tidak pantasa rasanya aku sedih di depan kaachan yang beruasah menghiburku. Di dalam bis, kaachan terus menggenggam tanganku kuat sekana tidak mau lepas. Sesakali Ia memelukku. Aku jadi heran. Seakan-akan, akan pergi selamanya. Pelukannya itu tidak pernah lepas.
   
       "Tadaimaa!!!"
       Aku dan kaachan pun sampai di rumah. Tapi ada Yuto nii dan okaasannya juga yang terlihat bicara serius dengan otousan. Saat Yumiko okaasan melihatku, matanya menjadi berkaca-kaca.
       "Anakku!" Tiba-tiba Yumiko okaasan memelukku erat. Kaachan pun sontak kaget dan terlihat bertanya-tanya, "Ada apa ini???"
       Pelan-pelan otousan mendekati kaachan dan menjelaskan semuanya dengan wajah yang terlihat sedih. "Mereka ini keluarga kandungnya Chizuru..."
       Tentu, kaachan menunjukkan ekspresi wajah yang lebih kaget lagi. "Tidak!!! Dia ini anakku! Apa biktinya kalau dia ini anakmu???!!!"
       "Tanda lahir di pundaknya!" Yumiko okaasan menunjukkan tanda lahrku yang bersembunti di balik seifuku ku.
       "Tidak!"
       "Bagaimana mungkin tidak?Aku juag melakukan tes DNA dengan menggunakan rambutnya yang diambil putraku yang tak lain adalah kakak kandungnya!" Yumiko okaasan melirik Yuto nii. Yuto nii hanya duduk dan bingung apa yang harus dilakukannya. "Dan hasilnya, positif! Dai anak kandung saya! Dan adik kandung Yuto, juga kakak kandung Raiya!!"
       Kaachan hanya menutup mulutnya dengan ekspresi wajah yang tidak percaya. Ia menggeleng-geleng. Airmatanya pun tumpah. Amplop hasil rontgenku jatuh dari tangan kaachan. Kaachan pun pingsan lagi. Aku panik."Kaachan..."Barulah Yuto nii berdiri dan mulai menenangkan kaaachannya. Untuk sementara ini keluarga Nakajima tidak bisa membawaku pergi. Mitsuko yang sejak dari tadi meningtip hanya melihat kejadian ini dengan wajah yang menunjukkan ketidakpercayaan. Ia tidak menyangka bahwa aku bukanlah kakak kandungnya. Terlebih, aku adalah bagian dari keluarga kaya raya Nakajima.
       Selama kaachan belum sadar, otousan menceritakan kejadian yang sebenarnya dan juga menceritakan statusku di keluarga Kurosaki ini. Aku benar-benar shock kalau aku bukanlah keluarga kandung dari Kurosaki. Otousan membiarkanku menangis di kamar dan melarang Mitsuko yang berniat menyusulku. Ah, aku memang pernah mengkhayal menjadi bagian dari keluarga Nakajima. Tapi aku tidak menyangka akan menjadi sesakit ini rasanya. Pantas saja kaachan terus memelukku. Ia memang takut kehilanganku. Entahlah aku benar-benar bingung harus sedih atau senang...
   
       * * * * * * * *

       Keadaan kaachan sudah mulai membaik pada keesokan harinya. Bahkan Ia sempat bilang kalau Ia merelakan aku tinggal bersama keluarga Nakajima. Tapi aku masih belum bisa menerimanya begitu saja. Rasa sayangku pada keluarga ini terlalu besar, terutama pada kaachan yang terus mengasihiku. Aku dibesarkan sebagai Kurosaki. Kenapa aku harus meninggalkan mereka dan menyandang 'Nakajima' di depan namaku???
   
       Hari ini hari terakhir kompetesi olahraga di sekolah. Aku akan lomba marathon. Tapi aku tidak bersemangat untuk hari ini. Bertemu Yuto nii pun, aku bingung harus senang atau sedih. Tetapi, dia itu kakakku. Kakak kandungku!
       "Kurosaki Chizuru!" Aku segera berbaris bersama para peserta yang lain. Ku lihat Yuto nii yang sedang menontonku. Dia memberiku senyuman. Aku hanya membalasnya dengan senyuman juga. Itu pun tidak dari hati. Aku pun memandang ke depan menunggu aba-aba.
       "Ganbatte!!!" teriak Yuto nii. Otomatis, aku menoleh. Aku terharu melihatnya yang sangat bersemangat dalam menyemangatiku.
       "Mulai!" Aku dan peserta lain mulai berlari. Tiba-tiba ada semangat yang membakar di hatiku hingga aku lebih unggul dari yang lain. Tidak sengaja ku lihat, Yuto nii terus menyemangatiku sambil berlari juga tapi Ia berlari di area penonton. Aku terharu. Tiba-tiba aku terjatuh, dan berusaha untuk bangkit lagi. Namun, pandanganku menghitam. Dunia seakan gempa. Ku dengar, Yuto nii menyebut-nyebut namaku dengan suara suara yang kedengaran khawatir. Hingga aku pun tak sadarkan diri. Sebelumnya, antara sadar dan tidak sadar, aku merasakan tubuhku dibawa oleh seseorang. Ia juga sempat menyebut namaku. Seperti suara Yuto nii. Dan aku tidak tahu lagi bagaimana setelah itu.

       * * * * * * *

       "Chizuru?Oh syuukurlah kamu sudah sadar..." Wajah Yuto nii tiba-tiba muncul di hadapanku. Aku merasa lemas. Sepertinya aku berada di UKS.
       "Niichan...Gomen, udah buat niichan repot..."
       "Eh?nggak kok...Sama sekali enggak. Kamu bicara apa sih???" Wajah Yuto nii terlihat ramah dengan senyumannya itu.
       "Niichan..."
       "Ya?"
       "Aku pasti kalah ya?"
       "Sayang, yang penting kamu baik-baik saja. Itu sudah buat aku senang..."
       "Niichan..."
       "Ya?"
       "Apa niichan..."
       "???Apa???"
       "Iie, nan de mo nai..."

       Yuto nii membawaku pulang ke rumah. Rumah Kurosaki. Begitu melihat niichan, orang rumah langsung menyambutnya. Di saat bersamaan, Yumiko okaasan datang berasama Tuan Nakajima dengan mobil mewah mereka. Ah!
       Yuto nii terlihat kaget dengan kedatangan orangtuanya yang juga orangtuaku. Sebelum mereka melihatku, aku segera masuk ke kamar. Aku malas melihat keributan yang akan muncul nanti seperti yang terjadi kemarin.
       "Kedatangan kami ke sini, hendak menjemput putri kami, Chizuru..." Suara Yumiko okaasan begitu jelas ku dengar dari kamar. Aku segar menutup kedua telingaku dengan kedua bantal yang ada. Aku tidak peduli mereka berkata apa. Andai mereka tahu kalau aku bukanlah anak yang mereka harapkan. Aku benar-benar meresa serba salah. Alangkah malunya diri ini bila aku kembali pada keluargaku dan mereka pun mengetahui keadaanku yang sebenarnya. Tentu, mereka alu punya anak seperti aku yang mengidap kelainan. Tapi, bial aku tetap pada keluarga Kurosaki, aku juga merasa serba salah. Ok, mereka akan menerimaku. Tapi kemungkinan yang lain yang akan muncul adalah bunuh diri. Karena walau mereka menerimaku, pasti tanpa sadar mereka akan meledekku di saat-saat tertentu yang membuat emosi mereka naik. Aku benar-benar bingung!
       Tok tok tok!
       Suara ketukan pintu mengagetkanku. Kaachan. Dengan wajah keibuannya, Ia menghiburku. Ia juga meyakinkanku suapa aku kembali pada keluargaku yang sebenarnya. Setelah keadaan mulai tenang, kaachan mmebawa koper dengan segala keperluanku di dalamnya. Aku hanya heran. Mengapa begitu mudah kaachan melepaskanku???
       "Bawalah ini. Kamu harus jujur pada mereka. Pasti mereka mau membiayai rumah sakit," kata kaachan sambil menyerahkan amplop yang berisi hasil rontgen.
      "Apakah setelah ini aku akan kembali kepada kaachan?"
       "Tidak, sayan. Kau tidak boleh kembali. Kau adalah keluarga Nakajima. Ini permintaan kaachan yang terakhir sebelum kau pergi..." Tega sekali kaachan bicara seperti itu. Aku merasa diusir secara halus olehnya.
Ah, pikiran buruk! Mana mungkin kaachan berniat demikian!
       "Kaachan..." Aku memeluk kaachan dengan erat.
       "Sudah...sudah...jangan perlihatkan sedihmu. Kau harus tersenyum begitu melihat orangtua kandungmu. Ya!" Ah kaachan! bagiku kaachanlah orangtuaku! kataku membatin.
       Setelah kaachan memasukkan amplop hasil rontgen ke koperku, Ia pun membawaku ke luar menghadap keluarga Nakajima, keluarga kandungku.
       "Terima kasih telah merawat Chizuru dengan penuh kasih sayang," ucap Tuan Nakajima yang mungkin akan ku panggil otousan. Ku lihat, Mitsuko agak sedih begitu ayah kandungku membawaku pergi. Sementara Yuto nii diam mematung. Yumiko okaasan pun membawa Yuto nii ke dalam mobil. Terlalu cepat bagiku untuk meninggalkan tempatku dibesarkan. Kini, aku hanya menghening di dalam mobil bersama Yuto nii.

       * * * * * * *

       Sudah lebih tiga hari Chizuru terlihat murung. Terlebih kalau sedang sendiri, mata dan pikirannya menerawang kemana-mana. Sedangkan, otousannya yang kini sibuk dngan urusan kantornya. Hanya Yuto nii yang tidak bisa dibohongi melihat Chizuru yang terlihat terpaksa tersenyum. Ia selalu berusaha mengetahui keadaan adik perempuannya itu, tapi Chizuru selalu menghindar. Chizuru hanya terlihat senang saat bersama Raiya. Kini, bukan Mitsuko lagi adiknya.
      Tidak hanya di rumah, di sekolah pun Chizuru juga terlihat murung. Hingga suatu waktu, Ia meminta Yoshimi untuk mendengar curahan hatinya untuk pertama kalinya. Dengan penuh isakan airmata, Chizuru pun mengeluarkan seemua yang Ia simpan kepada Yoshimi. Hingga Yoshimi kagt mengenai Chizuru yang tak berrahim. Airmatanya benar-benar tak terbendung lagi. Dipeluklah teman sebangkunya itu.
     
       "Yoshimi, kamu lihat Chizuru?" tanya Yuto di saat waktu istirahat. Selama di sekolah ini, Ia belum juga melihat sosok wanita yang mirip dengannya itu.
       "Nakajima Chizuru maksud senpai ya?" Yuto agak kaget mendengar Yoshimi berkata demikian. Pasti semua orang sudah tahu kalau Chizuru adalah adiknya. Adik kandungnya.
       "Ya, dimana dia?"
       "Senpai, boleh aku mengatakan sesuatu kepada senpai?"
       "Nani?"
       "Chizuru itu sebenarnya mengalami tekanan batin," Yoshimi berusaha menjelaskan secara perlahan. "Akhir-akhir ini Ia murung. Ia juga malu karena Ia punya kelainan pada tubuhnya."
       "Kelainan?"

XY (Part III)

Title   : XY (3)
Cast   : Kurosaki Chizuru, Kurosaki Mistuko, Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Chinen Yuri, Nakajima Yumiko, Ohgo Suzuka, Shida Mirai.
Genre : IDK
Rating : T
Author: Nadia Rahmandani

      
       "Kurochan..."Nakajima senpai menyebut nama itu yang sudah menjadi nama panggilan kesayangannya padaku. Tapi aku risih mendengar nama itu.       "Namaku Chizuru! Bukan Kurochan!"
       "Kurosaki Chizuru, bisa dong ku panggil Kurochan!"
       "Dasar bakajima!" bisikku. Aku jadi ketular Chinen senpai yang iseng menyebut bakajima pada Nakajima senpai.
       "Apa kamu bilang?"Ah, ternyata dia mendengarku!
       "Iie, nan de mo nai!"
       Nakajima senpai terus menatapku seram hingga aku merasa takut. "Senpai, jangan melihatku seperti itu sih!"
       "Hahahaha...makanya jangan songong jadi kouhai!" Aku hanya cemberut.
       "Ohya, kaachan pengen ketemu kamu."
       "Untuk apa?"
       "Shiranai. Ikut yuk ke rumahku. Udah lama gak ke rumahku kan???" goda Nakajima senpai.
       Aku hanya tersenyum dan berbisik di dalam hati, "Dasar bakajima, mana pernah aku ke rumahnya. Dasar kakek-kakek pikun!"
       Setelah Nakajima senpai pamit dengan teman-temannya, kami segera pergi ke rumahnya yang terkenal megahnya itu. Namun, aku belum izin dengan orangtuaku. Mungkin lebih baik aku tidak membicarakannya pada Nakajima senpai.
       "Ohya, maaf ya. Kita belum izin orangtuamu. Abis kaachanku kebelet banget pengen ketemu kamu,"kata Nakajima senpai seakan mengetahui apa yang ada di pikiranku. Tapi aku agak kaget plus heran juga, emang sampai segitunya ya kaachannya pengen ketemu aku?Emang aku mau diapain???Tapi kenapa aku melihat kalau ini adalah serius ya...Hm...pikir positif saja.

       Di rumah keluarga Nakajima, aku disambut oleh Raiya. Ini pertama kalinya aku menginjakkan rumah yang sungguh waw. Serasa di istana, pikirku. Tapi aku tidak menunjukkan kekagumanku akan rumah besar ini. Aku terus mengikuti kemana Raiya melangkah, sementara aku jalan beriringan dengan Nakajima senpai
       Makanan sudah terhidang di meja makan yang memanjang. Ada apa ini?kataku membatin. Oleh Nakajima bersaudara, aku dipersilahkan duduk. Sama sekali aku tidak merasa bahwa aku adalah tuan putri. Sebab mereka memperlakukanku dengan senyuman yang menahan tawa. Aku harap aku tidak dikerjai. Di meja makan inilah, aku melihat seorang perempuan yang seumuran kaachanku di rumah. Mungkin dia ini Nakajima Yumiko yang sering ku dengar namanya dan Ia lebih sering dipanggil Ny. Yumiko. Selain putranya, Nakajima Yumiko juga terkenal di sekolahku tapi aku tidak pernah mau tahu untuk apa dan kenapa dia terkenal padahal dia hanya wali murid dan yang jelas, dia bukan siswi di sekolahku.
       "Chizuru desu,"Aku berojigi saat Nakajima senpai memperkenalkan sang kaachan. Yumiko okaasan yang tadinya tersenyum ramah tiba-tiba ekpresi wajahnya berubah. Tatapannya fokus pada pundakku.
       "Ini...tanda lahirmu?" tanya Yumiko okaasan sambil menunjuk tanda lahirku yang mengintip di balik kerah seifuku ku.
       "eh?I...iya.." jawabku terbata-bata.
       "doushita no, kaachan?" tanya Nakajima senpai. Yuniko okaasan hanya menatap putra sulungnya itu dalam diam. Lalu Ia berusaha kembali seperti semula, berwajah ramah. Namun, ramah yang terlihat adalah ramah yang dipaksakan. Tiba-tiba beberapa orang berseragam datang melayani dan membawa kami makanan. Mungkin mereka pelayan di rumah ini. Saat mereka sibuk dengan tugas mereka, aku melihat Raiya yang senang dengan kedatanganku ini, begitu pula Nakajima senpai. Hanya Okaasan saja yang terlihat menyembunyikan sesuatu di balik senyum yang dipaksakannya itu.
       "Itadakimasu!" Kami pun makan bersama. Selesai makan, Nakajima senpai memulai guyonanya.Aku merasa aku bagian dari keluarga Nakajima. Apa jadinya ya kalau namaku menjadi Nakajima Chizuru?He....aku mulai berandai-andai.
       "Kurosaki chan,"Yumiko okaasan membuatku tersadar plus gugup. Tiba-tiba aku membayangkan kalau dialah ibu kandungku. Andai kehidupanku seperti yang ada di TV, tentang kisah anak yang diasuh oleh bukan orangtua kandungnya yang entah sejak bayi tertukar atau apapun caranya. Kisah anak hilang. Dan akulah anak hilang itu, keluarga Nakajima adalah keluarga kandungku. He....
       "Kamu berapa bersaudara?"
       "Aku?Dua. Aku anak pertama."
       "Perempuan dua-duanya?"
       "Ya."
       "Chizuru chan..." Tiba-tiba Yumiko okaasan menganti sebutannya untukku. Wajahnya penuh mengiba, lalu memegang tanganku. "Kalau kau tidak keberatan, panggilah aku kaachan..."
      Tidak hanya aku, Duo Nakajima pun kaget. Seharusnya aku sudah menduga hal ini. Dari awal kejadian tanda lahirku tadi. Yumiko okaasan menunjukka keanehannya. Aku deg-degan dan agak bingung.
      "Kaachan..doushita no?" tanya Nakajima senpai.
       Seakan tersadar dari lamunannya, Yumiko okaasan terlihat gelagapan namun Ia cepat-cepat pandai mengontrol emosinya. "Iie, betsu ni." Lalu Ia menanyakan keluargaku dengan ramah.
       Setelah melewati percakapan ringan disertai guyonan sulung Nakajima, aku pun pamit pulang.

       * * * * * * *

       "Masuklah, Yuto!" Yuto ketahuan mengintip kaachannya yang sedang duduk di kamarnya. Begitu Chizuru pergi, Yuto membuntuti kaachannya dan mengintip kaachannya yang sedang menangis di kamar.
       "Kaachan...sebenarnya ada apa?Dari tadi memperhatikan tanda lahirnya Chizu chan terus sejak dia datang...Kaachan jadi aneh..."
       "Chizuru tiu adikmu!"
       "Adik?"
       "Sebenarnya kamu punya adik selain Raiya."
       Yuto terlihat mengeritkan keningnya dan Ia semakin tidak mengerti.
       "Perlu kau ketahui. Bahwa selama ini aku sering keluar rumah karena aku masih penasaran dengan kehilangan putriku yang hilang di rumah sakit setelah aku melahirkannya. Waktu itu umurmu masih satu tahun. Jadi kamu belum mengenal adikmu."
       Yuto semakin bingung. Ia membiarkan ibunya bercerita dengan tangisnya. Lalu, muncul pertanyaan di kepalanya. "A...aku punya adik?perempuan?" Sang kaachan hanya mengangguk.
       "Aku yakin, dia adalah adikmu. Adik kandungmu. Aku belum sempat menamainya."lanjut kaachannya itu. Tapi Yuto malah teringat oleh kata-kata kaachannya bahwa Ia ingin memiliki anak perempuan. Saat mengatakan itu, wajahnya terlihat sedih. Yuto mengira itu hanya harapan atau canda biasa. Sebab Ia biasa bercanda dengan kaachannya. Tapi ternyata tidak. Justru, Ia memang beradik perempaun tanpa Ia sadari. Tapi kenapa orangtuanya tidak pernah memberi tahu?
       "Yuto...kenapa kau diam saja????"
       "A...aku punya imouto?"
       "Iya. Aku tidak sedang berbohong!"
       "Tapi, bukannya kaachan emang pengen punya anak perempaun ya?"
       "Aku memang pernah bilang begitu. Hal itu sengaja ku katakan agar kau dan Raiya tidak perlu ikut pusing seperti kami, orangtuamu. Biar kami yang mencarinya..."
       "Kaachan..."
       "Maaf, Yuto..." Buru-buru Yuto memeluk kaachannya dari belakang.
       "Lalu, apa yang harus ku lakukan???Apa..."
       "...yang jelas, aku harus melakukan tes DNA, kalau-kalau orangtua angkatnya tidak merelakan Chizuru untuk kita. Aku harus mengabari ini pada otousanmu."
       Yuto hanya diam dan masih belum percaya apa yang kaachannya lakukan kalau Ia mempunyai adik perempuan sebelum Raiya, yang lebih parahnya lagi ternyata adik yang dicari kaachannya ternyata dekat dengannya. Ia pun membayangkan keluarga Nakajima ini yang akan kedatangan orang baru yang sebenarnya adalah keluarga lama. Kembali lagi, Ia memeluk kaachannya dengan erat dan membiarkan sang kaachan menangis.

       * * * * * * *
 
       Keesokan harinya, Yuto akan melancarkan aksinya. Ia terlihat serius. Namun, Ia berusaha seramah mungkin bila ditegur teman-temannya. Pernyataan kaachan semalam masih terngiang-ngiang di telinganya. Entah kenapa tiba-tiba Ia ingin menangis, tapi segera Ia tahan. Terbayang olehnya adik kandungnya yang perempuan, Chizuru. Sebuah Tepukan di punggung membuyarkan lamunanya hingga Ia agak kaget dan segera menoleh. Ternyata Ryosuke, dengan Chinen. Chinen heran melihat sahabat 177 cm nya itu yang rupanya melamun.
       "Hey, Nakayan!Kau kenapa?Sakit?" tanya Ryo perhatian.
       "Tidak," Yuto segera menyembunyikan apa yang tersirat di wajahnya.
       "Heh, selama ini kamu yang selalu kepo ya. Kamu yang selalu pengen tau aja apa yang kami alami. Sampe si Chizuru masih aja kamu kepoin sampe kalian digosipin!" gurau Ryo. "Sekarang, giliran kami yang kepoin kamu! Itu risiko!"
       "Un! Sudah hukum alam!" Chinen mengiyakan. "Curang kamu kalau tidak mau berbagi dengan kami!"
       Yuto hanya tersenyum melihat keperhatiannya kedua sahabatnya itu. Tiba-tiba sauar Chizuru menarik perhatian mereka bertiga. "Nakajima senpai!" Tapi yang ada di dalam bayangan Yuto adalah Chizuru memanggilnya, "niichan!"
       "Ryo menghela nafas saat Chizuru melangkah cepat ke arah mereka. "Yayangnya udah datang tuh. Yuk, Chii. Kita come on!"
       "Yuk, biarkan mereka memadu kasih. Biarkan mereka pacaran!"
       Yuto membelalak mendengar ucapan Chinen, "pacaran????"
       Ryo dan Chii pun segera melesat ke kelas.
       "Ohayou, senpai!"
       "niichan?" Lagi-lagi yang terdengar oleh Yuto adalah 'niichan'.
       Chizuru tentu mengerutkan keningnya karena senpai kesayangannya yang aneh. "Hah?niichan?"
       "Eh, Chizuru. Ohayou. Kayaknya happy aja," segera Ia bersikap normla yang dipaksakan.
       "Iya?Ah, enggak kok. Aku kayak gini pengen nghibur diri aja."
       Menghibur diri?bisik Yuto di dalam hati. Ia yakin Chizuru sedang dalam masalah terutama dengan mitsuko. Dan Ia tahu, Chizuru tidak akan jujur padanya. Padahal, Ia berharap Chizuru curhat dengannya, terlebih mereka bersaudara.
       "Ohya, Yamada senpai dan Chinen senpai mau kemana tuh?kok kabur liat aku???" tanya Chizuru. Tapi Ia tidak mendapat jawaban sama sekali. Yang ada, adalah Yuto sedang memandangnya tidak fokus. "Senpai ngelamun?"
       "Hah?" Seakan sebuah air baru saja disemburkan ke wajah Yuto hingga Ia tersadar.
       "Ya udah yuk. Sebentar lagi bel. Ayo masuk!" ajak Chizuru dan tidak mau mencampuri urusan Nakajima senpainya itu.
       Tiba-tiba saja Yuto mencabut sehelai rambut Chizuru. Dan, "Au!"
       "Senpai kok cabut rambutku sih?" Yuto hanya menggeleng dengan tatapan kosong, lalu pergi begitu saja. Menyebalkan!batin Chizuru.
     
       Pada jam isitirahat, Chizuru sengaja mengikuti Yuto ke doujou. Ia masih penasaran kenapa Yuto tega mencabut sehelai rambutnya ya walaupun Ia thu itu sepele. Seperti biasa, Yuto menjadikan doujou sebagai kantinnya. Karena ketauan mengintip, Yuto pun memanggil Chizuru. Tentu, Chizuru agak ketakutan, sebab sikapnya yang dingin dan aneh.
 "Ada apa kamu ke sini?" Chizuru tidak menyahut karena saking takutnya. Lalu, Yuto menoleh. Mula-mula senyum ramahnya muncul. "Maaf ya yang tadi...." Yuto kembali menyuruh Chizuru masuk dan akhirnya Chizuru mau.
       "Senpai...kok senpai cabut rambutku sih?Itai yo!" Yuto hanya menambah senyumnya lagi melihat Chizuru yang agak cemberut, dan Ia membelai rambut Chizuru. Tentu, Yuto yang tidak pernah melakukannya sebelumnya, merasa aneh dengan sikap Yuto itu. Tersadar oleh tatapan Chizuru yang curiga, Ia menghentikan belaiannnya itu. 
       "Ohya, senpai ikut lomba apa?" tanya Chizuru. Ia memang tidak mau menanyakan kenapa Ia dibelai.
       "Aku?Aku kan tournament karate. Jadi gak bisa ikut kompetesei olahraga."
       "Sokaa na...Hufff...aku kesal. Aku ditunjuk buat ikut lomba voli sama sensei...mana gak ada yang ngedukung aku lagi!"
       "Tenang, Aku yang akan jadi pendukungmu."
       "Udah telat. Lombanya tadi. "
       "Trus?"
       "LOSE!"
       Yuto hanya ternganga.
       "Lah?"
       "Aku tuh nungguin senpai dari tadi tapi senpai gak muncul-muncul!"
       "Eh?Trus?"
       "Kan udah ku bilang, aku kalah. LOSE!!!"
       "Chizu..." Yuto mulai tampak menyesal.
       "Aku pengen banget senpai ngeliat aku lomba..."
       "Maafin aku ya..."
       "Hya....Gak apa-apa kok. Gak seharusnya aku berharap kayak gini."
       "Chizu, kalau kamu butuh aku, bilang aja..."
       Chizuru hanya diam beberapa detik setelah menghela nafas. "Senpai, aku boleh jujur gak?"
       "Ya?"
       "Aku...aku pengen banget senpai jadi niichanku. Aku..." Chizuru mulai menahan emosi airmatanya. "Aku tertekan di rumah. Gak ada yang ngertiin aku selain senpai. Aku sayang banget sama senpai. Aku mau senpai jadi niichanku!" Airmatanya pun sudah tak tertahan lagi. Ia pun terisak sejadinya di depan Yuto. Yuto iba tapi bingung apa yang harus dilakukannya. 
       "Aku tertekan, niichan...aku ini dianggap apa sih?! Sama mistuko aja aku udah kayak budak pribadinya dia! Otousan juga gitu. Aku gak boleh diizinin keluar rumah selain sekolah, sekolah dan sekolah. Belum lagi dia bilang aku gak becus jadi kakak. Aku selalu dituntut! Padahal Mitsuko....Ah!Aku capek! Aku kan bukan robot yang bisanya diperintah, senpai....Aku juga butuh kasih sayang....Mereka bilang, bilang mereka sayang aku, tapi...."
       "Chizu....kan demi kebaikanmu juga..."
       "Tapi aku tertekan!!! Aku selalu salah di mata mereka! Mereka ngelarang tapi mereka malah ngelakuin apa yang mereka larang. Tadi aja, aku dibentak. Lebih tepatnya diusir karena aku dianggap gak ngerti orangtua. Padahal aku cuma pengen ngasih kekuatan ke otousan biar sabar soalnya otousan lagi ada masalah. Dikiranya aku taunya cuma senang-senang...Gak pernah mau tau masalah orangtua...Aku....gak kuat...." Chizuru tidak mampu melanjtkan kata-katanya. Ia tidak tahu harus cerita apa lagi. Hatinya terlalu sakit mengingat kekerasan yang Ia terima selama di rumah. Baik kekerasan fisik maupun psikis. Tapi, seakan belum plong hatinya itu, Ia terus bercerita tak peduli walau aib. Namun, Yuto yang tidak tahan mendengarnya, melarang Chizuru melanjutkan. 
       "Sudahlah....sudah...jangan dilanjutkan..." Yuto pun memeluk Chizunya itu. "Akan semakin sakit hatimu itu bila kau teruskan..."
       Yuto membiarkan jas seragamnya dibasahi airmata Chizuru yang teggelam dalam pelukannya. Chizuru seakan lupa diri dalam tangisnya. Tapi, satu yang Ia sadar, Ia seakan mendapatkan sebuah kasih sayang yang telah lama hilang. Pelukan Yuto begitu hangat baginya. Tidak ada yang pernah memeluknya sejak Ia remaja. Ia tahu Ia bukan anak-anak lagi. Tapi setidaknya, Ia bisa merasakan pelukan orangtuanya. Hanya Yuto yang saat ini yang juga ikut tenggelam dalam tangis, memeluk dengan erat bahkan rambutnya pun diciumi oleh senpai yang sangat disayanginya itu.
       "Menangislah sepuasmu jika itu membuatmu tenang...jika itu membuatmu lebih baik...Dan mulai sekarang, panggilah aku niichan jika kau menginginkan seorang kakak..."
       Semakin terisaklah Chizuru mendengarnya. "Aku sayang niichan..."
       "Aku juga, Aku sayang imoutochanku...."

* * * * * * *

       Biasanya aku pulang bersama Mitsuko, sebab otousan melarangku pulang sendiri tanpanya. Tapi, mitsuko terlihat lebih suka pulang bersama teman-temannya. Bel pulang sekolah sudah lama berbunyi. Aku bermaksud ingin membodyguardkan diri untuk mitsuko walau ku tahu kalau aku jauh lebih lemah dari mistuko. Sangat jelas kalau Mistuko menolakku dengan membentakku didepan teman-temanku. Bahkan Ia hampir menamparku. Tapi Aku segera mengelak dangan mata yang masih metapa ke bawah. Barulah Ia pergi setelah teman-temannya memanggil. Aku segara melupakannya degan melihat siswa-siswi yang berhamburan keluar kelas mereka masing-masing. Dan diantara mereka, aku melihat Nakajima senpai yang terlihat mencari seseorang. Begitu Ia melihatku, Ia langsung memanggilku. Seperti Ia sengaja mencariku. Mulai sekarang dia adalah Yuto-nii ku.
       "Chizuchan, ayo kamu aku antar pulang!" orang-orang mengira pasti kami pacaran.
       "Un!" Aku mengangguk.
       Para gadis mulai terlihat cemburu saat kami berpegangan tangan melangkah keluar sekolah. Ah, tidak ada yang perlu mereka cemburukan sebenarnya. Lagipula kan masih ada Yamada senpai dan Chinen  senpai, bisikku dalam hati dan mungkin juga tertawa di dalam hati karena melihat kepolosan mereka. Tapi, bicara Yamada senpai, aku tidak rela bila...ah...mungkin aku harus curhat ke Yuto nii.
       "Chizu chan?Daijoubu ka?" Yuto nii menyadari kebisuanku.
       "Ee."
       "Yokatta!"
       "Ohya, niichan, okaasan wa genki ka?" kata ku basa-basi mengusir lamunan.
       "Genki da yo!"
       Tiba-tiba aku teringat malan malam bersama keluarga Nakajima. "Yuto nii..."
       "Ya?"
       "Okaasan kok ngeliat aku kayak gitu ya?"
       Tak ada jawaban. Yuto nii malah membisu. Tapi matanya seakan mencari sesuatu di dalam otaknya.
       "Tau gak apa yang ada dalam pikiranku?" Aku mulai agak gila.
       "Enggak."
       "Aku ngebayangin kalau tanda lahirku ini sebagai bukti!"
       "Bukti?"
       "Ya. Kayak di TV-TV, Yuto nii. Kisah anak hilang. Anak yang ketukar."
       "Maksudmu kita ketukar?"
       "Gak tau juga sih. Tapi lewat tanda lahir ini, aku bisa menemukan kelaurga kandungku. Ya, pikiran gilaku sih gitu..."
       Yuto nii hanya tertawa kecil "Emang yang sekarang itu keluarga tiri ya?"
       "Ih bukan gitu!"
       "Yaudah, mengenai hasilnya nanti, kita liat aja ntar ya..."
       "Hasil?"
       "Eh?Emang aku ngomong apa ya?"
       "Yuto nii udah ada ubannya ya?Masak baru diucapin aja lupa?!"
       "He...kamu lucu deh kalo mukanya gitu."
        Yuto nii terlihat menyembunyikan sesuatu. Aku tidak mau bertanya lagi dan lebih baik ku telusuri sendiri.
   
       Tidak terasa sudah sampai di rumah. Obrolan antara aku dan Yuto nii membuat jarak antara rumah dan sekolah terasa dekat.
       "Yaudah ya. Aku pamit dulu. Mata Raishu!"
       "Mata Raishu?"
       "Ohya lupa! Kamu belum ku kasih tau ya. Besok aku akan ke Okinawa. Tournament karatenya di sana. Doakan aku ya. Dan jaga dirimu baik-baik."
       Aku agak sedih karena tentu selama beberapa hari, aku tidak akan bertemu Yuto nii. Tapi, aku senang karena memang ini sudah jadi impiannya dan aku harus mendukung. "Un. Ganbatte!"
       "Ja!"
       Masih ada satu lomba lagi yang harus ku ikuti. Aku sempat bingung kenapa sensei menunjukku lagi. Hh...aku berharap Yuto nii bisa melihatku sedang lomba. Kira-kira dia akan datang tidak ya...

* * * * * * *

       Hari ini hari libur. Kaachan membawaku ke dokter kandungan. Emang aku hamil apa?!kata ku membatin. Ini semua karena aku belum juga mendapati haidku. Hingga kaachan dan otousan mulai mencemaskanku, takut aku terlahir tidak normal. Tapi, lain Mitsuko. Tiada hari tanpa meledekku. Biarlah, yang penting otousan akhirnya menunjukkan keperhatiannya pada gadis sulungnya ini.
       Aku harap-harap cemas saat di rumah sakit. Tanganku menjadi dingin karena takut dan gugup menjadi satu. Segala macam penyakit yang timbul menghantu pikiranku. Aku berusaha rileks dan bersandar di kursi bersama kaachan hingga namaku terpanggil.
       "Kurosaki Chizuru!" Spontan, aku memegang erat tangan kaachan. Kaachan berusaha membuatku tenang dan kami pun masuk ke ruang dokter. Dokternya laki-laki. Aku malu bila ditanya'apa keluhannya' Tapi, ya sudahlah.
       "Apa keluhannya?" Tepat. Pertanyaan yang sudah ku duga sebelumnya. Dan karena malu, aku tidak menjawab. Malah melirik kaachan.
       "Anak saya, dok. Dia belum haid sampai sekarang." Rupanya kaachan mengerti maksudku.
       Dokter berkacamata itu hanya mengerutkan keningnya dan menatapku setelah Ia memperhatikan kaachan yang sedang menjawab.
       "Umurmu, tujuh belas tahun ya..." Dokter itu mulai membaca kertas-kertas yang berisi riwayat penyakitku. "Mungkin kamu telat saja mendapatkan haidnya."
       "Tapi, apa tidak ada obat atau..."
       "Sebaiknya dia di rotgen saja." kata dokter, mantap. Sambil menyerahkan beberapa lembar surat kepada kaachan. "Kita akan tahu hasilnya dari rontgen. Tapi saya yakin, Chizuru chan ini hanya telat saja." Dokter ini pun memberikan senyuman yang ramah kepadaku.
       Kaachan mengangguk-angguk sembail melihat surat-suratyang sudah di tangannya. "Baiklah. Terima kasih, dok." Aku dan kaachan pun pamit ke lantai atas.
       Begitu di lantai atas, kaachan langsung menunjukkan surat-surat dari dokter pada seseorang yang juga pegawai rumah rumah sakit. Barulah, kaachan terlihat cemas saat kami menunggu namaku dipanggil untuk kedua kalinya. Aku berusaha untuk berpikir positif.
       "Ohya, kaachan membelikan hp baru loh untuk kamu. Hp kamu hilang di sungai kan?" kata kaachan mencairkan suasana. "Tapi kamu jangan bilang-bilang Mitsuko ya."
       Aku merasa ini kejutan. Tapi aku harus merahasiakan hal ini dari Mitsuko.
       "Jahat sekali dia. Maksudnya apa coba nyeburin hp kamu ke sungai?!"
       "Kok kaachan tahu?"
       "Aku melihatnya. Tapi kamu tidak pernah cerita, Kamu terlihat tertekan. Kamu diancam ya sama dia?"

XY (Part II)

Title : XY (2)
Cast : Kurosaki Chizuru, Kurosaki Mistuko, Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Chinen Yuri, Nakajima Yumiko, Ohgo Suzuka dan Shida Mirai.
Genre : IDK
Rating: T
Author: Nadia Rahmandani

        Memang, selain Chinen senpai dan Yamada senpai, aku juga termasuk terdekat. Berawal saat Ia melihat ketidakakuran aku dengan mitsuko secara tidak sengaja. Aku tidak mau terbuka karena malu. Tapi Nakajima senpai tidak kehabisan akal. Ia terus mencari tahu, yaitu salah satunya Ia curhat denganku dengan segala keterbukaannya padaku. Dan berharap aku juga bisa terbuka dengannya, pikirnya begitu. Tapi aku tetap menjadi misteri baginya. Walau ku tahu, tidak jarang Ia menemukanku dalam keadaan wajah yang sembab. Sungguh, dia ini kakak yang idaman. Bagiku.       "Ikuzo!" Nakajima senpai mulai mengajak aku Raiya ke sungai. Dan aku berusaha untuk tersenyum.

* * * * * * *

       "Wakaru ka?"
       "Ya ampun...ternyata caranya semudah ini ya???"
       "Makanya jangan main sama doggy melulu!"
       "Ih! namanya bukan doggy!"
       "Yaudah..kalian jangan berantem gitu dong..." Nakajima melerai kami dengan senyuman.
       "Kita gak berantem kok. Abis, nggodain Chizuru san enak!"
       "Adik kakak sama saja!" Duo Nakajima pun menertawai kejengkelanku.
       "Yaudah, niichan. Aku istirahat ya. Pr nya sudah selesai kok!"
       "Ok!"
       Raiya berlari mendekati pohon besar untuk dipanjatinya. "Eh, katanya mau istirahat?" kata Nakajima senpai mendongak ke atas pohon.
       "Makan dulu! Mendadak laper!"
       "Adik kakak yang aneh..." bisikku.
       "Dari pada kamu, mainya nangis!"

       Deg! Aku tidak menyangka Nakajima senpai akan mengeluarkan kata-kata itu. Sejujurnya, aku merasa sakit. Dan hatiku sudah terlanjur sakit. Aku pun beranjak akan pergi. Tapi Nakajima senpai berhasil meraih tanganku. "Chizuru...Aku minta maaf...Aku benar-benar menyesal...Ku mohon..."
       "Abis niichan ngomongnya gitu!" Ups! aku keceplosan memanggilnya 'niichan'. "Eh...gomen...maksudku senpai..."
       "Daijoubu yo. Kalau kamu lebih suka memanggilku dengan sebutan 'niichan', tidak apa-apa kok."
       Aku hanya diam. Aku agak terharu mendengar ucapannya.
       "Chizuru...Aku sengaja mempertemukanmu dengan Raiya supaya kamu juga merasakan kalau tidak semua adik itu menyebalkan. Tidak semua adik itu jahat." Spontan aku menatapnya kaget. Kata-kata Nakajima senpai seakan mengetahui apa yang ku sembunyikan selama ini darinya.
       "Udahlah...kamu gak usajh nyembunyiin lagi. Aku udah tau kok. Kenapa sih kamu gak terbuka sama aku?! Aku kan abang kamu juga!"
       "Abang?"
       "Ya iyalah. Kan aku lebih tua darimu!" kali ini Ia mulai bergurau. Mungkin Ia tidak mau melihatku menangis dengan suasana yang terasa mellow ini.
        "Bangga amat jadi tua!"
        "Ye...dibilangin malah bercanda!"
        Perlahan, aku mulai tertawa. Walau hanya tertawa kecil, tapi Nakajima terlihat senang.
        "Chizuru...aku minta maaf ya..."
        "Udah...lupain aja..."
        "Kamu boleh kok manggil aku 'niichan'!"
        "Iie, aku gak suka berharap. Senpai itu ya tetap senpai aku!"
        "Ya udah..."
        "Tapi kok niichan eh senpai kok tau hubunganku dengan mitsuko?"
        "Gak usah pura-pura...aku udah tau kok. Tenang, Rahasia dijamin!"
        "Hehehe..."
        "Gitu dong ketawa!"
        "Yaudah...niichan eh senpai..."
        "...udah sih...niichan aja...gak usah senpai..."
        "Ih, suka-suka!"
        "Dasar!"
        Raiya pun datang dengan membawa buah-buahan yang sudah dipetiknya. Kami pun makan bersama. Entah mengapa, makan bersama dengan mereka jauh lebih nikmat dari pada makan bersama di rumah.
   
        Ketika langit sudah menjadi jingga, kami pun bergegas. Nakajima senpai dan Raiya mengantarku sampai depan rumah. Tatapan otousan sangat jeli terhadap mereka. Saat mereka pergi setelah pamit pulang, barulah otousan membuka obrolan serius. Kebetulan ada mistuko. Sementara kaachan tidur di kamar.
       "Itu adiknya si Nakajima?"
       "Iya, otousan..."
       "Kelas berapa?"
       "baru masuk SMP, otousan..."
       "Si Nakajima itu siapanya kamu?"
       "Dia ketua karate. Kan aku udah pernah cerita ya sebelumnya..."
       "Bukan...mengenai hubunganmu dengan si Nakajima itu. Apa kalian pacaran?"
       "He?ya enggaklah, otousan...Otousan kok kayaknya gak percaya amat sih?"
       "Temen apa temen???" Mitsuko tiba-tiba nyeletuk sambil pura-pura baca koran.
       Otousan menatap mitsuko. Dan langsung menyerangku dengan pertanyaan yang sebanarnya tidak perlu ditanyakan mungkin karena ku bosan mendengarnya. "Apa itu maksud mitsuko?" Aku hanya mendiam. Aku hanya bicara apa adanya. Tapi mistuko seakan mengadu domabakan aku kan otousan.
       Uh! Selalu saja otousan  curiga pada putri sulungnya ini. Ah..biarlah...Setidaknya aku bisa merasakan punya niichan walau hanya beberapa jam saja.

* * * * * * *

       Jam dinding keluarga Nakajima menunjukkan waktu makan malam. Saat itu mereka sedang membicarakan gadis yang dekat dengan putra pertama mereka, Yuto. Sambil menikmati makan malam.
       "Oh...jadi kamu sedang dekat dengan seorang gadis?" goda Ny. Nakajima. Namun Ia biasa dipanggil Ny. Yumiko.
       "Dia hanya adik kelasku saja. Dan kita cuma pengurus karate biasa kok. Gak ada yang spesial!"Yuto berusaha menjelaskan pada sang kaachan.
       "Kenapa kamu malu begitu?Aku tidak akan keberatan kok. Apalagi dia baik sekali mau mengajari Raiya. Besok kamu bawa dia ke sini ya. Kenalkan pada kaachanmu ini." Ny. Yumiko mengedipkan mata genitnya pada Yuto.
       "Kaachan..."
       "Nakayan...." Ny. Yumiko mulai memanggil Yuto dengan nama kesayangnnya. Yuto pun luluh.
       "Baiklah..."
       "Sudah...sudah....Ayo habiskan makannya dulu. Baru kita bicarakan pacarnya Nakayan!" kata Tn. Nakajima. Yuto terkejut mendengar ucapan otousannya itu.  Tapi Ia hanya menghela nafas. Sementara Raiya hanya senyam senyum melirik niichannya sambil mengunyah makanannya.

 * * * * * * *
       Wali kelasku mengumumkan bahwa dalam imggu-minggu ini akan ada kompetesi olahraga, oleh karena itu wali kelas kami akan membimbing kami dengan semangatnya pada jam mengajarnya. Kami pun bersorak karena terlepas dari matematika. Sebab wali kelas kami adalah guru matematika. Kami pun dibagi-bagi menjadi beberapa kelompuk, namun ada yang individual. Hanya saja, khusus perempuan, kami hanya dibolehi olahraga yang ringan-ringan. Padahal aku ingin ikut karate, tapi malah disuruh lomba boli voli. Aku hanya melirik teman-teman laki-lakiku dengan tatapan yang iri pada mereka. Ah...
       Bel berbunyi. Kami pun sudah selesai menyiapkan konsep dan strategi apa yang akan kami lakukan saat lomba nanti. Tapi, aku masih kesal pada ketetapan ini. Biasanya kalau sudah kesal begini, aku ke doujou untuk latihan karate. Tapi, lebih suka memainkan shinai agar aku bisa terus memenggal angin dan melampiaskan kekesalanku .
       "Hey, Chizuru! Nani yatteru no?" ada suara Yamada senpai. Aku benar-benar gugup. Ternyata dia telah memperhatikanku sejak tadi.
       Aku berusaha untuk bersikap tenang dan mencoba menjawabnya. "Aku cuma coba main pedang kayu ini..." Dan kata-kata itu spontan keluar dari mulutku. Sungguh, aku tidak bisa mengendalikan emosiku. Entah kenapa tiap aku bertemu Yamada senpai, jantungku berdetak lebih kencang tidak karuan. Terlebih, warna kulitku pasti akan berubah, mungkin pucat atau...merah....saking gugupnya...
       "Oh...kau lihat Nakayan?Katanya dia ada di doujou..."
       "A...aku bertemu Nakajima senpai hari ini."
       "Oh...baiklah. Maaf, telah mengganggumu."
       "Ha?Oh...tidak kok...sama sekali tidak..."
       "Kau baik-baik saja kan?" Yamada senpai mulai curiga melihat aku yang ya...gugup!
       "Oh?I...iya...Aku baik kok. Sangat baik!"
       "???" Yamada senpai mengerutkan keningnya. Ia memandangku aneh.
       "Baiklah kalau begitu. Jaa." Yamada senpai pun berlalu. Mungkin ada urusan penting. Ah...akhirnya...
       Tiba-tiba badanku menjadi lemas begitu Yamada senpai menghilang dari pandangan. Mula-mula aku terduduk, lalu berbaring di tengah arena doujou ini dengan merentangkan kedua kaki dan kedua tanganku. Ah....Yamada senpai...Tidaklah kau tahu kalau sudah lama aku menyimpan perasaanku ini kepadamu, kataku membatin. Benar-benar sakit rasanya memendam cinta ini, yang terlebih hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kadang, hatiku teriris tiap melihatnya ditembak oleh para gadis setiap harinya. Di lemari sepatunya selalu banyak surat cinta yang menanti dibaca olehnya. Ah, tapi tidak ada yang tahu perasaan ini. Di saat seperti ini, pasti Nakajima senpai muncul di pikiranku. Ingin sekali ku curahkan hal ini padanya...niichan...aku sangat berharap kau menjadi niichanku....

* * * * * * *

       Pantas saja Nakajima senpai tidak muncul. Dia baru saja tiba di sekolah bersama anggota karate yang lain. Tanpa aku?Menyedihkan sekali. Bel pulang sekolah sudah lama berbunyi. Tanpa pikir panjang, aku segera pulang dari pada melanjutkan hari penuh mengesalkan ini!
       "Chizu!" Nakajima senpai tiba-tiba berdiri di hadapanku. Menghalangi jalanku.
       "Nande yo?!" Aku sengaja menunjukkan kekesalanku padanya.
       "Kamu marah ya?"
       "Senpai kok tega sih?Pergi sama anak karate tapi aku gak diajak! Aku kan juga anak karete!"
       "Oh..itu..Kita pergi bukan untuk karate. Tapi rapat. anak karate yang kamu lihat itu kan pengurus kesiswaan. Masak kamu lupa?Aku pergi karena perintah dari sekolah. Pihak sekolah nyuruh anak kesiswaan buat milih anak-anak yang bukan dari kesiswaan buat ikut rapat."
       Aku hanya diam. Malu. Aku kekanak-kanakan sekali. Jawaban Nakajima senpai cukup jelas bagiku. Entah kenapa aku jadi tidak mau jauh dari Nakajima senpai. Aku benar-benar menyayangi Nakajima senapi sebagai kakakku.

XY

Title   : XY
Cast   : Kurosaki Chizuru, Kurosaki Mistuko, Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Chinen Yuri, Nakajima Yumiko, Ohgo Suzuka dan Shida Mirai.
Genre : IDK
Rating : T

Author: Nadia Rahmandani


       Sudah hampir satu jam aku menahannya di atasa bangku ini. Kaki ku pun tidak juga ku lilitkan. Yoshimi, teman sebangku ku hanya menatapku aneh. Dan kaki kun semakin lama semakin berpelukan. Lidahku sudah mendesisi. Ah aku sudah tidak tahan lagi.
      " Sensei! Saya izin ke toilet!" tanpa memedulikan sekitar, aku langsungmelesat ke toilet. Aku tahu mereka sedang menertawaiku di kelas. Sama sekali aku tidak menggubrisnya.
      Di depan toilet, aku berebut dengan adik kelas yang juga adikku, mistuko. Karena kebelet, aku tidak bisa mengalah. Aku hanya pasrah dengan apa yang akan mistuko lakukan kepadaku nanti.  Begitu aku buka pintu setelah pipis, sebuah ember mememuntahkan isinya ke wajahku hingga menjalar ke pakaianku. Ingin marah, tapi mistuko menarik tanganku keluar dan mendorogku dan kepalaku hampir terhantam tembok. Dia benar-benar tidak memedulikanku dan langsung membanting pintu toiletnya dari dalam untutk bereksresi.
       Sama sekali aku tidak mau membalasnya. Aku malas menghadapinya walau badanku sudah sakit-sakit olehnya.  Bisa memar badan ini kalau aku melawannya. Aku tidak pernah menyangka akan memiliki adik sepertinya. Memang kami dari kecil sering berkelahi. Tapi semakin aku bertambah umur, aku mencoba untuk mengerti. Sementara dia terus menjadi-jadi dan semena-mena terhadapku. Lagipula Ia pasti akan berkata, "neechan juga begitu. Ya pasti aku juga lah!" Hal itu Ia katakan kalau aku menegurnya. Ah!
Sejujurnya, aku bosan hisup dengannya. Tiada hari tanpa bertengkar!Masalah sepele pun menjadi besar. Aku malu. Malu karena merasa gagal menjadi kakak!
       "Hah?haid?"neechan!!!beliin aku..." Aku langsung ngacir sebelum mendengar perintahnya. Aku hanya n nyengir-nyengir sendiri karena mitsuko ngomel-ngomel sendiri. Sementara itu, aku tidak sadar orang-orang sedang melihatku yang basah kuyup. Waduh!
       "Chizuru! nani yattenda?" deg! Yamada senpai!!!
       "udah bel?" aku berusaha mengalihkan topik. Aku terlalu gugup bicara dengannya. Jujur, dia ini orang yang ku suka. Dia juga yang menjadi incaran para gadis di sekolah. Tanpa basa-basi, aku langsung melesat ke kelas. Aku tidak mampu menatapnya terlalu lama. Aku khawatir wajahku akan memerah.
       "Chizuru!kok basah?"
       "Chizuru! kamu mandi pake baju ya?"
       Ah, masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang dilontarkan teman-teman saat aku masuk ke kelas. Baru aku akan menjawabnya, salah seorang temanku malah meledekku. Agak kesal sih, tapi seharusnya aku sudah biasa menghadapi ini. Sebab sejak aku dekat dengan Nakajima senpai, ketua karate di sekolah, banyak teman-teman perempuanku yang menunjukkan ketidaksenangannya padaku. Padahal aku dan Nakajima senapi tidak ada hunbungan apa-apa selain hubungan antar anggota karate.
       Tiba-tiba Yoshimi memintaku untuk menemainya ke UKS. Ia terlihat kesakitan dengan tangan yang terus menekan perutnya. Pasti dia sedang haid, pikirku. Ah aku iri. Aku sudah lebih tujuh belas tahun, tapi belum juga mengetahui seperti apa rasanya haid itu. Akibatnya orang tua dan adikku sering meledekku bahkan menjadikanku bahan guyonan mereka hingga aku enggan bergaul karena merasa tidak normal. Tapi walaupun demikian, aku berusaha menjadi teman Yoshimi.
           Di UKS, aku hanya mengantarkan Yohimi saja dan membiarkannya istirahat. Tomomi Sensei, perawat yang bekerja di UKS, melihatku aneh dan menyuruhku mengganti pakaianku. Karena aku tidak membawa pakaian ganti, Ia pun meminjamkan seragam punya seorang siswi yang tertinggal di UKS. Aku pun diizinkan keluar dan melangkah ke shokudou.

          "Kurosaki!" terdengar suara orang yang memanggilku. Seperti suara Chinen senpai. Aku pun menoleh. "He?senpai?"
       "Darimana saja kamu?Nakayan sudah mencarimu dari tadi!"
       "Nakayan?"
       "Eh, maksudku Nakajima!"
       "Sudah, kamu samperin dia! Dia ada di doujou!"
      "Un!" Aku mengangguk den segera ke doujou karate. Sekolahku bisa terbilang cukup besar hingga ada doujou di dalamnya.
      Ku lihat, Nakajima senpai sedang latihan. Aku hanya mengintipnya. Tapi Nakajima senpai mengetahui keberadaanku. "Chizuru! Haire!"
      Aku dan Nakajima senpai duduk berhadapan. Hanya berdua di doujou ini. Kata para gadis di sekolahku, Nakajima senpai itu kakkoi sugite. Dia terkenal tanggung jawabnya dan dia juga sangat menyayangi adiknya, Raiya. Mungkin diantara para gadis, hanya aku yang malah menginginkannya menjadi kakak ku. Kemesraan antara dirinya dan si Raiya sudah merebak di lingkungan sekolah kami. Dan aku iri pada Raiya yang memiliki kakak yang penyayang.
       "Ada apa kamu melihatku sperti itu?" kata Nakajima senpai yang mengetahui kalau aku tidak berkedip memandangnya. Aku gugup dan mendadak mengalihkan pandangan.
      "Hey! Aku bicara denganmu!" suara Nakajima senpai terdengar tegas dan serius hingga membuatku harus melihatnya lagi. Ih, kalau dia sedang serius, serem banget! andai para gadis itu tahu kalau Nakajima senpai itu menyeramkan. Eh, tapi kalau dilihat-lihat Nakajima senpai itu mirip aku ya?pikirku yang mulai tidak karuan. Tapi itu kata temanku loh. Hehehehe
       "kenapa nyengir-nyengir?"
       "Gomen," aku menunduk.
       "Baiklah, kalau tidak ada yang mau dibicarakan, " suaranya pun mulai merendah.

       "Chizuru, kemarin kami mengadakan rapat. Kemamana saja kamu?"
       "Hah?Aku tidak tau, senpai..."
       "Bagaimana mungkin kamu tidak mengetahuinya?Aku kan sudah sms kamu!"
       "Yabai...hp nya nyemlung lagi!" bisik ku pada diriku sendiri.
       "kamu bicara apa sih?yang jelas dong! satu lagi! tidak sopan bicara tanpa melihat lawan bicara!"
       "ano...keitainya jatuh ke sungai dan rusak, senpai..."
       "kenapa kamu gak bilang???!!!"
       "Ini aku baru bilang...kan jatuhnya kemarin..."
       "Oh....Wakatta..."
       "Sebenarnya kamu telat dan aku hanya bisa mengabari kalau posisimu sebagai manajer untuk sementara ini digantikan oleh Chiinen. Lagipula kamu kan perempuan, dan pengurus lainnya laki-laki." Wajah Nakajima senpai terlihat agak murung namun tetap tersenyum. Dia tahu aku aku menyukai posisi ini.
       "Tapi aku suka ilmu beladiri, senpai..."
       "Itulah sebabnya kami menerimau. Karena kesungguhan itulah." Dia pun mulai tersenyum.
       Aku hanya menunduk.
       "Ohya, kamu suka biologi kan?" Oek?Kok gak nyambung sih???batinku.
       "Adikku, Raiya akan ualangan tapi ada yang tidak Ia mengerti."
       "Biologi kan cuma dibaca, senpai..."
       "Aku tidak bisa mengajarinya karena harus ikut pertandingan sepak bola. Belum lagi tournamnet karate. Kamu nganggur kan?"
       Aku berpikir sejanak. Sementara Nakajima senpai menampakkan wajah penuh harapnya. Lucu juga ya kalo mukanya memelas begitu, batinku.
       "Ayolah..."
       "Baiklah...tapi..."
       "Aku yang akan izin ke orangtuamua langsung deh!"
       He...Nakajima senpia sudah hafal bagaimana karakter orang tuaku. Sebab, sebelum-sebelumnya, orangtua kusering melarangku keluar rumah selain belajar di kamar. Itulah sebabnya aku hampir tidak pernah ikut tanding karate. Padahal menurut Nakajima senpai, aku memiliki peluang untuk menjadi pemenang. Tapi aku lebih memilih orangtua ku walau harus mengorbankan apa yang ku suka. Sebab selain aku, tidak ada lagi yang bisa mereka andalkan. Sekalipun ada mistuko. Ah...dia hanya suka membuat onar di rumah...Huh!

       Teng!

       Bel masuk berbunyi.
       "Yabai! mada tabenai na...." bisikku.
       "Oh?Onaka suita no?" Nakajima senpai mengeluarkan onigiri yang Ia bawa dari rumah. "Kore!"
       "He?arigatou!"
       So sweet amat makan berdua. He...aku yakin kalau ada yang melihat kami, pasti menggemparkan seisi sekolah. Padahal, yang menjadi idola di sekolah adalah Yamada senpai atau Chii senpai. Tapi ternyata Nakajima senpai juga termasuk di dalamnya. Dan mereka itu sebanarnya adalah tiga sekawan. Aku aku masuk dalam kehidupan mereka. Hm...
       "Ya udah yok! Ayo ke kelas!" kata Nakajima senpai dengan mulut yang masih penuh dengan onigiri. Kami pun kembali ke kelas kami masing-masing.
       Keesokan harinya, setelah mendapat kantong perizinan dari orangtuaku, aku dan Nakajima senpai ke sekolahnya Raiya. Sungguh perjalanan yang sangat ku rindukan. Aku benar-benar bersama seorang niichan. Sayangnya dia bukan niichanku dan aku adalah anak pertama. Tidak mungkin anak pertama memiliki kakak. Aku benar-benar iri dengan Raiya.
       "Chizuru?"
       "Ya?"Aku tersadar dari lamunanku.
       "Kelamaan ya nunggunya?"
       "He?iie, zenzen."
       "Hontou?"
       "Oh...Hontou!" Aduh! Aku tidak bisa mengendalikan emosiku! Salah satu mataku menjatuhkan setetesnya. Yabai!
       "Kamu menangis ya?"
       "Tidak!" tegaku sambil mengusap airmataku.
       "Niichan!!!" Ah! suara Raiya!
       "Hey!" Nakajima senpai menyambut adiknya penuh kasih sayang. Tidak seperti adikku yang tidak mau ku sayang-sayang bahkan aku tersenyum pun malah terlihat aneh baginya. Aku sudah berusaha untuk tetap ramah dan bersahabat padanya, mitsuko. Tapi...ah apa yang salah dariku?
       "Eh?ini pacar niichan ya?"
       "Pacar???Hey! Dia ini adik kelasku! Ohya, dia pinter loh! Kamu akan berguru padanya!"
       "Aku maunya sama niichan!"
       "Aku harus tanding, sayang..."
       "Ok deh!"
       Sebenarnya, aku tidak mempermasalahkan Raiya menaganggapku pacar kakaknya atau bukan. Yang menjadi perhatianku, Raiya enggan diajari yang lain selain kakaknya. Sementara mitsuko tidak suka aku ajari bahkan Ia menunjukkan kebenciannya padaku. Apa Ia malu punya kakak sepertiku?Ah...ku buang saja pikiran buruk itu jauh-jauh!
       Aku mencoba memperkenalkan diri. "Hajimemashite, Chizuru desu!"
       "Ohya, biar kalian akrab, kita belajarnya di luar saja. Di dekat sunagi. Kalau perlu kita cari hp mu yang kelelep itu!"
       "Aaa...tidak usah, senpai..."
       "Enggak kok. Kita cuma mau belajar doang kok. Gak ada niat mau nyari hp kamu!"
       Apa-apaan ini???tadi dia ngajak nyari trus sekarang dia bilang, gak ada niat??? Beginilah NAkajima senpai. "Penyakit'nya kumat kalau sudah dekat dengan orang yang dia sayang, Raiya.