Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Friday, August 19, 2016

Part 4 : Menanti Itu Menyakitkan (That's What Make You Beautiful)

Yamada Ryosuke dan Okamoto Keito adalah dua nama sebelum Nakajima Yuto. Keduanya telah menjadi korban atas paras dan tampilan luar Sayumi.
Yamada Ryosuke, dia adalah dinta pertama Nozomi waktu SD. Dia anak baru di kelas 5. Sama seperti Nakajima Yuto, sebelumnya mereka merajut pertemanan yang dekat seperti Nozomi dengan Yuto. Tetapi tidak sedekat Yamada. Dan diantara yang lain, hanya Yamada yang menunjukkan sikap lain pada Nozomi. Nozomi tidak pernah menyadari itu. Seorang temannya yang mencurigai Yamada menyukai Nozomi. Nozomi tidak bisa langsung percaya, sebab ia belum pernah menemukan orang yang menyukainya. Belum lagi, Nozomi tidak pernah meras cantik, jadi berfikir apa yang Yamada sukai dari diri Nozomi.
Akan tetapi temannya itu terus menguatkan. Saat Nozomi melihat arah lain, Yamada sedang memandangi Nozomi. Namun saat Nozomi memandangnya, Yamada pura-pura melihat arah lain. Bahkan saat disengaja Nozomi melihatnya demi membuktikan ucapan temannya, Yamada ternyata meliriknya tetapi kembali melihat yang lain. Yamada telah tertangkap basah oleh pandangan Nozomi. Tetapi Nozomi tidak bisa percaya begitu saja bahwa benar cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Hingga saat kelas enam, Yamada datang memberinya bunga sebagai ucapan selamat ulangtahun. Nozomi polos menerima saja. Ia berterima kasih selayaknya teman. Ia masih belum mempercayai bahwa Yamada memang benar menaruh hti padanya.
Lalu Nozomi jatuh sakit. Yamada datang ke rumah bersama yang lain untuk menengok. Saat itulah teman-teman yang datang menengok, melihat Sayumi. Sayumi dan Nozomi tidak satu sekolah satu SD, jadi mereka baru tau kalau Nozomi memiliki adik. Bahkan adik yang cantik. Sejak itu, kecantikan Sayumi menjadi obrolan di kelas.
Bahkan Yamada, telah beralih obrolan mengenai Sayumi degan Nozomi. Sejak itu, teman dekat Nozomi tidak lagi melapor bahwaYamada sering memandang Nozomi diam-diam. Sampai saat pulang sekolah di suatu hari yang lain, Sayumi melapor bahwa ia baru saja menolak teman Nozomi.
Nozomi terkejut. Rupanya sejak melihat Sayumi, Yamada sering ke sekolah Sayumi. Melakukan pendekatan sampai Yamada menyatakan cintanya. Tetapi Sayumi menolaknya.
Bukan senang Nozomi mendengarnya, malah sedih. Ia sedih karena apa yang dikhawatirkannya menjadi nyata. Setiap orang yang melihat Sayumi, pasti akan jatuh hati bahkan melupakan diri Nozomi. Hal itu dialami sejak kecil. Saat ia jalan bertiga dengan ibu dan Sayumi, hanya Sayumi yang menjadi pujian oleh para orangtua dan anak-anak. Nozomi seolah tidak dianggap.
Itu pertama kalinya Nozomi mengenal patah hati. rasanya terlalu dini untuk mengatakan bahwa Nozomi telah patah hati. Tetapi memang itu kenyataannya.
Setelah Yamada, lalu Okamoto Keito. Kakak kelas yang menjadi ketua OSIS. Nozomi satu SMP dengan adiknya. Diam-diam, Nozomi mengkhawatirkan apa yang pernah terjadi sebelumnya. Sama seperti Yamada dan Yuto, Nozomi dan Okamoto menjalin hubungan pertemanan. Pertemanan atas dasar kesamaan hobi.
Nozomi menyukai karakter Okamoto, terlebih memiliki hobi yang sama yaitu komputer. Tetapi saat naik kelas, Nozomi dan Sayumi satu sekolah. Sama seperti yang sudah terjadi, kecantikan Sayumi tersebar hingga diketahui kakak kelas.
Okamoto menyukainya. Sayumi yang mengatakannya karena Okamoto berbicara dengan gugup. Kabar Okamoto menyuka Sayumi pun tersebar. Nozomi hanya bisa diam. Sejak mengetahui kabar itu, Nozomi menjaga jarak dengan Okamoto. Ia tidak mau terlihat cemburu. Dan Okamoto, tidak mempermasalahkan Nozomi yang tidak disadainya telah menjauh.
Namun sampai saat itu, Sayumi kembali menolak tawaran Okamoto untuk dijadikan pacar. Katanya, ia masih ingin belajar, padahal ia takut dimarahi ayah ibu yang melarang pacaran. Nozomi dan Sayumi sangat menuruti hal itu. Tetapi entah bagaimana, kini Sayumi melanggar itu.
Nozomi paham, bahwa memang jiwa pubernya begitu. Nozomi tidak bisa menyalahi. Tapi yang menjadi masalah, kenapa harus orang yang disuka Nozomi yang menjadi pacar pertama Sayumi? Pacar pertama tentu akan berkesan.
Sama sekali ia tidak merasa iri melihat adiknya lebih dulu pacaran. Tetapi sekali lagi, kenapa harus orang yang disuka Nozomi yang menjadi pacar Sayumi. Mengingat itu semua, rasa-rasanya Nozomi enggan jatuh cinta kalau nantinya orang yang dicinta malah kepincut oleh kecantikan lain, sementara orang yang memincut itu ternyata memiliki sifat yang tidak sama cantik dengan parasnya. Sayumi hanya menjaga kecantikan fisik semata.
“No-chan!” tiba-tiba sebuah rangkulan mendarat di bahunya.
Nozomi terkejut. Rupaya Morikawa. Morikawa tertawa melihat wajah terkejut itu.
“Hey, kau kenapa? Kasian deh jomblo. Mau kucarika, tidak?” Morikawa bertanya jahil.
“Kamu ngapain sih ikut-ikut panggil aku No-chan?” Nozomi melepas rangkulan itu. Meski tida dekat, tapi Nozomi tau bahwa Morikawa memiliki rasa perhatian yang baik pada temannya.
“Yuto-chan kan panggil kamu begitu.”
“Ng? Yuto-chan?”
“Ih, kamu gak tau? Mulai sekarang, aku akan memanggil kalian semua dengan menambahkan ‘chan’ di belakang. Biar berasa temen, gitu!” Morikawa lalu mencubit pipi Nozomi. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia lalu berlalu keluar kelas. Memang begitu, ia senang hinggap di teman satu ke teman yang lain. Maka tidak jarang pula banyak yang menyukainya karena ia mudah bergaul dengan siapa pun.
Nozomi mendesah setelah Morikawa pergi. Ia tidak menyangka kisah cinta akan seperti lagu-lagu patah hati. Hanya saja kini ia tidak serapuh waktu dengan Yamada. Meski sesak, tetapi airmata itu tidak lagi manja meminta keluar dari persembunyian. Ingat pesan ayah ibu, ia tidak akan menceritakan keburukan Sayumi apa pun yang terjadi, bahkan meski Sayumi telah mengumbar keburukan tentang Nozomi yang sebenarnya tidak dipahami Sayumi dan berakibat dipandang buruk oleh Sayumi.
>>>のぞみ<<<
Ini sudah hari ke sekian Nozomi dan Sayumi tidak lagi pulang bersama. Bahkan Nozomi demi supaya tidak ketahuan ayah ibu, ia sengaja menunggu Sayumi di tempat yang sudah dijanjikan supaya nanti bisa pulang bersama setelah Sayumi dan Yuto pacaran, untuk memberi kesan bahwa Sayumi dan Nozomi memang pulang bersama dari sekolah.
Namun, menunggu adalah perkara yang menyakitkan. Sebab menunggu bukan lagi perkara yang membosankan. Nozomi bukan lagi seperti kebanyakan orang yang bosan dan sebal karena menjadi orang yang akan menunggu apalagi menunggu orang yang menganut jam karet. Akan tetapi, pengertian menunggu yang dialaminya kini telah berubah dari kata membosankan menjadi kata menyakitkan. Betapa tidak? Nozomi menunggu sang adik yang berpacaran dengan orang yang disukainya.
Entah, Nozomi tidak bisa menyalahi diri karena tidak bisa berterus terang. Nozomi tidak pernah bisa bila yag satu akan merasa sakit. Nozomi mengira, bahwa lebih baik dirinya saja yang sakit. Apalagi kalau berterus terang pada Yuto. Nozomi tidak bisa membayangkan jawaban Yuto. Meski mungkin saja Yuto menyukainya, rasa suka itu akan beralih bila melihat Sayumi. Sayumi selalu terlihat anggun di luar rumah. Tetapi menyakitkan di dalam rumah. Membabukan seisi ruma, meng-hak-milik semua barang. Semula bertengkar, tetapi Nozomi memilih mengalah demi bisa berbicara baik-baik dengan adik kandung sendiri. Nozomi lelah bertengkar sejak kecil.
“Apakah aman membiarkan dia berduaan sementara dia tidak tau bagaimana karakter adikmu yang sebenarnya?” sebuah suara mengejutkan Nozomi dalam penantian Sayumi.
Nozomi tersentak. Ia yang semula menangkupkan wajah ke kedua telapak tangan segera mengangkat wajah. “Nakaken!”
Nakaken menyengir. “Mizutani-san ngapain di sini?” tanya Nakaken. Nakaken, ia memiliki nama panjang Nakajima Kento¾tapi tidak memiliki hubungan darah dengan Yuto. Ia sudah dikenal dengan sebutan Nakaken yang merupakan dingkatan dari nama lengkapnya. Sama seperti Yuto, Nakaken sempat mendekati Sayumi demi mengetahui bagaimana Sayumi. Tetapi Nozomi terus menghindar, tidak mau berterus terang mengenai Sayumi.
“Kamu sendiri? Kayaknya senang banget ngikutin orang!”
“Kok tau?”
Nozomi membuang muka, ia hanya asal bunyi.
“Hey, aku memang membuntuimu. Habis, aku heran mengenai hubunganmu dengan Sayu-chan. Kamu ini curang. Tidak mau berterus terang mengenai adikmu. Tau-tau dia sudah pacaran dengan Yuto. Apa ini rencanamu?”
Nozomi berdecak tidak suka. “Rencana apaan sih? Mereka saling suka, ya begitulah jadinya!”
“Apa kamu bilang mengenai diri Sayumi yang sebenarnya?”
“Eh? Maksud kamu?”
“Pasti sebenarnya hubungan kamu dengan Sayumi itu tidak baik kan?”
Nozomi tidak bisa menjawab. Ia hanya menurunkan pandangannya. Nakaken mengangguk-angguk melihat reaksi itu. Ia tidak akan menagih macam-macam. “Kau memang kakak yang baik. Menyembunyikan aib adikmu. Tapi jujur, aku tidak terima dia bersenang-senang sekarang, sementara kau menunggu dengan muka suram. Tapi kamu jangan salah sangka, aku tidak cemburu pada hubungan mereka, aku hanya kasian denganmu…”
“Aku gak butuh dikasihani!” Nozomi segera melenggang, ia tidak mau berlama-lama dekat dengan Nakaken, takut mulutnya terlepas berbicara mengenai siapa Sayumi.
Persis saat itu, Yuto dan Sayumi tiba. Bersamaan memanggil Nozomi. Keduanya lalu menghampiri Nozomi. melihat Nakaken, Yuto tersenyum-senyum jahil. Ia berbisik pada pacarnya, bahwa Nozomi sedang melakukan pendekatan dengan Nakaken.
“Kalian jangan sebar gossip. Aku ada di sini karena kasian liat dia di sini nunggu kalian. Kalian enak-enak pacaran, tapi Mizutani nunggu sampai lumutan!” Nakaken tidak terima bila ia digosipkan dengan Nozomi.
“Ah, awalnya kasian. Lalu perhatian, kemudian…?” Yuto menatap pacarnya, lalu tertawa bersama. Hanya Nakaken yang geram. Nozomi tetap diam dengan wajah lelah¾lelah hati.
“Ok. darling, aku pulang dulu ya,” kata Sayumi.
Yuto mengangguk. Ia lalu memberi kiss bye. Sayumi membalasnya segera bergerak mundur mendekati Nozomi. Tiba-tiba Yuto mendekat, mengecup kening Sayumi.
Nakaken dan Nozomi kaget dalam diam. Tetapi tidak seperti Nakaken yang ternyata masih memiliki rasa dengan Sayumi, Nozomi malah menarik kedua ujung bibirnya. PUra-pura tersenyum senang melihat kemesraan mereka. Airmata yang mulai terasa, segera dikendalikan untuk tidak keluar.
“Sudah, dilanjutkan besok saja!” Nozomi mengingatkan.
“Ok. Kalian hati-hati ya!” Yuto melambai-lambaikan tangannya.
Nozomi hanya tersenyum sewajarnya. Sementara Sayumi masih melambai-lambai tetapi kakinya tidak mau beranjak. Nozomi harus menariknya supaya pandangan Sayumi ke depan.
Nakaken yang masih kaget dengan tadi, memandang Yuto. Lalu menepuk bahu Yuto tanpa berkata apa-apa lagi. Yuto yang heran, menghampirinya. Tetapi Nakaken malah memasang wajah sebal. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Yuto mengenai kenapa dirinya. Malah mengusir pulang ke rumah.
Yuto melongo, diam tidak mengerti. Tetapi karena masih berbunga-bunga karena berpacaran dengan Sayumi tadi, ia kembali tersenyum.
Senyum yang sama dengan Sayumi saat satu bis dengan Nozomi. Kembali duduk berdua. Nozomi hanya diam, enggan melihat Sayumi yang tengah bermerah muda. Baru saat tiba di rumah dan masuk kamar, Sayumi bercerita mengenai apa yang telah dilakukannya dengan Yuto.

Sekali lagi, Nozomi hanya memasang wajah ‘penipu’. Ia tidak mau terlihat tidak senang di depan adiknya meski di dalam hati ia menangis. Hanya saat sendirian, airmata itu menetes.

Part 3 : Di Belakang Sekolah (That's What Make You Beautiful)

                Bel istirahat berbunyi. Semua anak-anak di kelas berhamburan keluar kelas. Beberapa ada yang tetap di kelas karena membawa bekal. Termasuk Nozomi. Ia mengeluarkan kotak makanannya, dan menaruh botol minum di sampingnya. Tetapi saat akan membuka, si tiang di kelasnya menghampirinya.
“Nozomi-chan? Lagi makan? Sendiri?”
“Iya. Ada apa?” Nozomi menjawab sewajarnya. Sejak mengetahui bahwa Nakajima dan Sayumi saling menyukai, perasaan Nozomi selalu tersayat setiap berbicara dengan Nakajima. Tetapi perasaan itu tidak pernah ditampilkan karena termanipulasi oleh wajah datar itu.
“Bisa makan berdua? Aku mau bicara. Di taiikukan. Bisa?” Nakajima memohon. Ini permohoannya yang ke sekian.
Nozomi menarik sebelah bibirnya. Ia ingin menolak, sebab ia sudah apa mau Nakajima darinya. Seperti kisah di buku atau film yang bergenre romans, bahwa ada sebuah kisah romans tentang seseorang yang apabila menyukai seorang yang disukai, maka seseorang itu akan mendekati orang terdekat orang yang disukai demi ingin tau seputar orang yang disukai. Nakajima tengah melakukan itu pada Nozomi. Tidak kali ini, tetapi juga kali sebelumnya, sejak kabar dirinya yang menyukai Sayumi menyebar.
Ingin Nozomi menolak karena ia sudah berulang kali berbohong mengenai Sayumi yang dikenal berhati emas itu. Aka tetapi, ia tidak akan membiarkan Nakajima dan Sayumi pacaran tanpa melibatkan dirinya. Nozomi penasaran, maka ia menjawab ‘iya’ seraya mengangguk.
Nakajima terlihat lega. Kemudian ia berkata, “Ohya mulai sekarang jangan panggil aku Nakajima-san. Panggillah Yuto. Kita sudah teman kan?”
“Ah, baik.” Nozomi mengangguk sewajarnya. Teman?
Tidak ada waktu lagi untuk berdiskusi dengan diri, Nozomi segera berkemas membawa bekalnya. Ke taiikukan dengan Yuto yang juga membawa bekal. Gadis-gadis di kelasnya menatap cemburu berupa mulut-mulut yang manyun. Nozomi tidak pernah memusingkan itu.
Di taiikukan.
Memang hanya ada mereka berdua. Sengaja dipilih Yuto supaya tidak ada yang melihat aneh-aneh karena ia berbicara dengan Nozomi. Begitu katanya. Tetapi menurut Nozomi, justru pure hanya berdua inilah yang menimbulkan masalah. Namun hal itu tidak pernah diungkapkan Nozomi. Ia hanya mengikuti. Makan berdua dengan perasaan khawatir.
“Sayumi itu benar adikmu ya?” tanyanya setelah mencicipi bekal Nozomi, begitu juga sebaliknya. Itu bukan lagi pertanyaan pertama.
“Iya.” Nozomi sebal di dalam hati. Sebab semua orang mempertanyakan itu. Wajah yang tidak mirip membuat orang tidak percaya bahwa ia dan Sayumi beradikkakak.
“Kandung? Ayah ibu sama?”
Nozomi berdecak. “Yuto-san gak percaya? Ayo tes DNA!”
Yuto tertawa melihat Nozomi yang sebal. Memang itu yang diinginkannya, melihat ekspresi lain Nozomi. Nozomi hanya diam, tidak mengerti kenapa Yuto tertawa terlihat sebegitu bahagianya. Tetapi ia memilih tidak ambil pusing.
“Hey, jangan ada kata ‘san’ di belakang namaku. Kan sudah kubilang, kita teman.”
“Baik. Yuto-kun. Bagaimana?”
“Kamu ini…” Yuto semakin tertawa melihat
“Apa ada yang lucu?” Nozomi tersenyum, menahan tawa.
“Coba kau lihat adikmu, dia mudah tersenyum. Seharusnya adik mengikuti kakak!”
Senyum Nozomi yang semula tulus menjadi palsu. Ia hanya bisa mengalihkan perasaan ibanya itu dengan merasakan makanannya yang masih tersisa. Melihat Nozomi asyik dengan makanan, Yuto ikut menikmati bekalnya. Sampai bekal itu selesai, baru mereka mengobrol lagi.
“Mengenai Sayumi, apakah dia sudah ada yang memiliki?”
“Tidak. Dia sedang kosong.”
“Bisa saja kau, No-chan!”
“Memangnya kenapa sih kamu tanya-tanya mulu ke aku? Kan kita udah sering bahas begini. Kenapa tidak langsung temui, tembak dia!” Nozomi gerget, ia lepas begitu saja lidahnya.
“Eh? Benar? Tidak apa?” Yuto terlihat terkejut, tetapi senang.
“Apa yang ‘tidak apa’?”
“Aku tidak enak denganmu. Kamu masih sendiri. Apa aku bantu carikan untukmu?” Yuto menatap jahil.
Nozomi hanya tersenyum. Di dalam hati ia miris, dan ingin menangis.
“Baiklah kalau begitu. Aku sudah mendapat restu kakaknya, maka aku akan tancap gas!”
Nozomi membuka matanya lebar-lebar, kaget. Tidak, ia segera menyembunyikan kagetnya. “Lalu kapan kamu menembaknya?” tagih Nozomi, pura-pura menggoda jahil.
“Pulang sekolah. Aku sudah menetapkan ini.”
Nozomi ingin menggigit bibir bawahnya untuk menenangkan dirinya. Tetapi ia tidak mampu melakukannya, takut bahas tubuhnya itu bisa dibaca Yuto. “Semoga berhasil.”
“No-chan tenang saja, aku akan carikan juga untuk No-chan. No-chan mau yang seperti apa? Tampan? Kaya?”
“Apa sih… aku sedang tidak mencari jodoh…”
Yuto tertawa kecil. “Jadi, seperti apa tipe No-chan? Ayo cerita. Aku tidak berduaan, sementara kamu sendiri…”
“Sudahlah. Aku tidak memiliki waktu untuk pacaran…” Nozomi terlepas membawa raut wajah yang muram. Yuto bisa melihat bahasa wajah itu.
“No-chan kau tidak apa? Kau tidak sedang patah hati kan? Apa kau punya trauma percintaan?”
Nozomi tersenyum getir. “Kau menuduhku seolah-olah aku ini baru saja dicerai…”
Yuto tergelak mendengar tuturan Nozomi.
“Kalau mau nembak, nembak sana! Aku mau pergi!” Nozomi memasang wajah pura-pura ngambek. Yuto segera menyusul, tangannya jahil menekan pipi Nozomi yang menggembung.
Gadis-gadis penggemar Yuto yang melihat itu hanya bisa meredam api cemburu melihat mereka. Kalau tidak ingat ucapan Morikawa, Nozomi sudah diinterogasi. Sempat berpikir-pikir, sebenarnya Yuto menyukai Nozomi atau Sayumi. Hingga Sayumi yang melihat keakraban mereka juga berfikir demikian. Cemburu itu mengepalkan tangannya.
Beberapa anak cowok yang jahil di kelas, mengatai Yuto playboy. Diikuti anak-anak perempuan. Tetapi mereka akan bungkam pada kejadian pulang sekolah.
Di belakang sekolah.
Nozomi diam-diam mengikuti Yuto. Siswa tiang itu menemui Sayumi lebih dulu ke kelas. Terlihat berbicara sebentar, lalu keduanya turun, berjalan menuju belakang sekolah. Siswi-siswi penggemar Yuto tang bersorak cemburu, tidak lagi menjadi perhatian Nozomi. Itu sudah menjadi pemandagan biasa di sekolah. Sekarang, ia harus memastikan mengenai Yuto dan Sayumi. Ia telah menyingkirkan segala pikiran dan perasaannya demi melihat Yuto dan Sayumi.
Nozomi mengamatinya diantara pepohonan. Ia tidak menyadari bahwa ada pasang mata yang juga tengah mengamati. Laki-laki, perempuan, semua harap-harap cemas dengan apa yang akan diutarakan Yuto. Namun karena jarak yang tidak memungkinkan, Nozomi tidak bisa mendengar apa yang Yuto katakan. Yang bisa ia tangkap, Yuto mengatakan sesuatu dengan senyum-senyum. Ekspresi itu tidak jauh berbeda dengan ekspresi Sayum yang juga tengah bersemu merah. Keduanya tengah dirundung bunga-bunga cinta.
Entah apa yang dikatakan, Yuto lalu membunyikan siulan. Seorang temannya yang juga sekelas dengan Nozomi kini, datang membawa setangkai bunga. Dengan pandangan mata yang tetap pada Sayumi, Yuto lalu meraih setangkai bunga itu.
Nozomi sudah bisa merasakan hati yang rapuh melihat itu. Yuto menyerahkan bunga itu pada Sayumi seraya mengatakan sesuatu lagi. Dengan malu-malu, Sayumi menerima bunga itu. Sayumi mengangguk, Yuto membulatkan mata senang, memeluk temannya yang membawa bunga tadi. Temannya itu sempat memarahi karena pelukan Yuto yang erat. Yuto tertawa, lalu mengajak pulang bersama. Berpegangan tangan, keduanya jala pergi.
Nozomi tertunduk. Ia berusaha mengendalikan dirinya supaya tidak begitu saja membulirkan airmata untuk kedua ketiga kalinya. Mungkin hatinya sesak, tetapi ia tidak akan biarkan airmatanya jatuh sia-sia.
Saat mencoba menarik nafas panjang untuk merasakan rileks, para mata-mata yang melihat Yuto dan Sayumi tadi langsung keluar mengerubungi temannya Yuto untuk diinterogasi. Para mata-mata itu menunjukkan wajah kecewa setelah mendengar cerita temannya Yuto itu.

Seharusnya itu hal yang lucu. Tetapi Nozomi tidak bisa tersenyum. Dengan perasaan kelabu, ia berbalik menuju jalan pulang.

Part 2 : Mizutani Sayumi (That's What Make You Beaitiful)

Mizutani Sayumi. Gadis itu adik kandung Nozomi. Masuk SMA tahun ini di SMA yang sama dengan saudara satu-satunya itu. Mizutani berbeda dengan Mizutani Sayumi. Ia anak yang tumbuh ceria, walau kadang-kadang ia menjadi kalem. Parasnya jauh lebih cantik dari Nozomi. Memiliki mata yang bulat, alismata yang tebal dan bulumata yang lentik. Bibirnya selalu merah. Rambutnya selalu tergerai panjang. Pandangan pertama orang melihatnya, maka pandangan itu akan sulit dilepaskan. Meski dinilai cantik, tidak sedikit mengatakanya imut. Wajah baby face.
Sayumi duduk di bangku SMA kelas 1A. Ia menjadi kebanggaan kelasnya karena paras indahnya itu. Senyumnya itu membuat orang tidak berhenti memandangnya. Anak-anak cowok di kelasnya sempat bersatu, mengadakan loma untuk merebut hatinya. Tapi sampai tiga bulan sejak hari pertama sekolah, Sayumi masih jalan sendiri. Tanpa ada gandengan saat pulang sekolah. Ia sama seperti kakaknya yang tidak mempermasalahkan diri sebagai seorang sendiri, meski ia teringin pula memiliki gandengan.
Akan tetapi siapa pun, hampir tidak percaya bahwa dia adalah adik kandung Nozomi. Wajah keduanya memang berbeda. Sayumi dan Nozomi berbeda seratus delapan puluh derajat¾ apalagi mereka jarang jalan bersama. Sayumi murah senyum dan ringan tangan membantu, sementara Nozomi pendiam akut kalau tidak ada yang perlu dibicarakan. Sorot mata Nozomi pun lebih terlihat seperti bicah polos. Sayumi sangat perempuan, Nozomi sangat misterius. Tidak jarang anak yang penasaran dengan Nozomi, bertanya pada Sayumi mengenai Nozomi. Tapi Sayumi mengatakan bahwa memang begitu kakaknya.
Jarang bersama dan terlihat biasa saja, banyak yang mengira bahwa adik kakak itu baik-baik saja. Tetapi sebenarnya, keduanya menyimpan sesuatu yang telah diminta orangtua mereka. Sebab bila tersebar maka akan menjadi aib. Nozomi, sangat memegang benar sesuatu yang disimpan itu, dan Sayumi selalu berusaha tampil dicintai banyak orang. Hingga kabar tentang dirinya tertangkap mata dan telinga oleh anak cowok yang menjadi incaran para gadis.
Nakajima Yuto, ia telah menaruh hati pada Sayumi.
>>>のぞみ<<<
 “Kakak sekelas sama dia?” Sayumi berbisik seraya membungkuk ke telinga kakaknya.
Nozomi mengangkat pandangannya sejenak, ia tengah memasang sepatu. Mulutnya masih penuh dengan makanan. Ia tidak bisa menjawab, takut bibir atau lidahnya tergigit tidak disengaja.
“Kakak!”
“Di bis saja!” seru Nozomi setelah sepatunya terpasang. Ia segera menenggak air minum di meja. Lalu mencari ayah ibu untuk pergi pamit.
Sayumi mengejar. Ia dan kakaknya selalu pergi ke sekolah bersama. Hanya pergi dan pulang, mereka bersama. Banyak yang mengagumi keakraban keduanya yang selalu bersama.
Sayumi dna Nozomi sudah smapai di halte persis bis tiba. Mereka duduk berdua. Kalau tidak ada keperluan, Sayumi tidak akan duduk dekat dengan kakaknya itu. Itu yang tidak diketahui banyak orang. Kembali lagi, Sayumi mengajukan pertama yang sama seperti tadi waktu usai sarapan.
“Iya. Ada apa?” Nozomi bertanya balik. Ia terlihat biasa saja.
“Hm, kakak masih suka dia?” Sayumi menanyakan sesuatu yang menyakitkan. Ia dan kakaknya itu memang sering cocok kalau sedang curhat, terutama tentang orang yang disuka. Dan Sayumi, adalah orang pertama yang menjadi teman curhat Nozomi. Selain membahas itu, biasanya mereka berkelahi, berkelahi hal apa pun.
Nozomi menghela nafas panjang mendengarnya. “Dulu.” Nozomi berbohong. Rupanya ia penasaran dengan reaksi Sayumi bilamana ia berbohong bahwa sebenarnya ia sudah tidak lagi memiliki hati untuk Nakajima.
Sayumi mengangguk-angguk, terlihat wajar. Tapi Nozomi bisa melihat kalau adiknya bersorak girang di dalam hati. Terlebih saat Nozomi terus memandangi adiknya, Sayumi senyum-senyum sendiri. Meski menyakitkan, Nozomi tetap berlaku bahwa ia sudah tidak lagi suka. “Cie…” Nozomi menggodai adik cantiknya itu.
“Menurut kakak kalau aku sama dia, apa kakak gak cemburu?”
Nozomi tersenyum bijak, dan sekali lagi senyum bijaknya itu sebenarnya adalah bohong. Ia melakukan itu karena tidak berterus terang bahwa ia sebenarnya ia memang cemburu. Bahkan teramat sangat. Tetapi demi melihat adiknya tersenyum dan demi hubungannya dengan sayumi membaik, Nozomi berbohong. Membelai rambut adiknya dengan sayang. Namun berat.
“Mau kakak suka apa enggak. Cinta tetap tidak bisa dipaksakan. Aku tidak mungkin meminta dan memaksa Nakajima-san mencintaiku. Kalau dia mencintaimu dan kau mencintainya? Kenapa tidak? Aku yakin, dia pasti juga akan mencintaimu. Kau itu cantik. Bukankah banyak testimonialnya bahwa kau memang banyak penggemar?”
Sayumi tergelak malu-malu, wajahnya bersemu merah. Sementara Nozomi menahan sesak dalam diam. Nozomi telah bermuka dua terhadap adiknya.
“Jadi kakak gak apa-apa kalau aku pacaran dengannya?”
“Sanalah. Aku bukan ibunya yang tidak akan merestui hubungan kalian.” Nozomi selalu pandai menyusun kata supaya adiknya tidak lagi bertanya mengenai perasaannya.
Dan Sayumi, percaya begitu saja oleh gurauan kakaknya itu. Tetapi ia bisa membaca wajah kosong kakaknya. “Kak, kakak beneran tidak apa-apa? Kakak kayak sedih gitu…”
Nozomi menelan air ludah. “Nanti ada Yabu-sensei. Tau sendiri, kalau dia kasih pr. Kakak wanti-wanti nih. Kakak tidak mau lengah!” Sekali lagi, Nozomi berbohong.
Sayumi tersenyum. “Emang sampai sebegitunya?”
“Emang kamu gak pernah diajarin?”
“Enggak.” Sayumi menggeleng.
Nozomi tersenyum masam. Ia lalu tertawa karena telah berhasil membawa obrolan tetap terjaga, Sayumi tidak lagi menanyakan mengenai perasaannya. Tetapi Nozomi tidak bisa membayangkan hal-hal tentang Sayumi. Ini sudah ke sekian ada orang yang disukanya menyukai Sayumi, begitu juga sebaliknya.
Ya, Nozomi sudah mengetahui bahwa Nakajima menaruh hati. Anak-anak cowok berandal yang duduk di sekitarnya memiliki mulut ember. Nozomi menangis pilu dalam hati.
Tidak lama, bis yang ditumpangi berhenti di jalan menuju sekolah. Nozomi dan Sayumi berjalan ke sana. Sempat Nozomi ingin merangkul adiknya, tetapi adiknya itu menepis kasar. Nozomi terkejut. Tidak, itu bukan kali pertama. Hanya saja, sampai saat ini ia tidak mengetahui kenapa sebegitu kasarnya adiknya bila bahunya dirangkul. Pegangan tangan saja enggan. Sudah lama Nozomi meragukan hati Sayumi terhadap dirinya. Apakah ia masih menganggapku kakak?
Saat Nozomi terpaku diam melihat adiknya berjalan lebih dulu, seseorang menegurnya. Nozomi menoleh. Rupanya Nakaken sang ketua OSIS, ternganga dengan Sayumi tadi.
“Itu Sayu-chan?”
Nozomi menggeleng samar, segera ia berlari, menghindar sebelum Nakaken akan bertanya lebih lanjut kenapa Sayumi berlaku demikian.




Part 1: Bangku Incaran (That's What Make You Beautiful)

Tahun ajaran baru. Mencari kelas, lalu mencari bangku. Jadwal pelajaran sudah terpajang di mading. Tidak ada yang baru, semua masuk seperti biasa. Hanya naik kelas 2. Melewati hari seperti pelajar pada umumnya. Telah ditetapkan dimana akan duduk, tetapi bangkunya telah memiliki tuan. Sebuah tas telah tertaruh di sana.
Gadis itu memanyunkan bibirnya. Tidak ia pedulikan teman-teman perempuan sekelasnya yang asyik bercuat-cuit dengan gossip mereka. Ia tidak begitu menyukai gossip. Bahkan meski ia baru sadar bahwa apa yang ia keluhkan mengenai bangku yang memiliki tuan itu adalah apa yang dibicarakan para gadis-gadis gatal itu.
“Nozomi, kau tidak apa duduk di belakangnya?” salah seorang teman menegurnya saat bel masuk sudah berbunyi dan semua sudah duduk di bangku masing-masing.
“Hey, Nozomi, apa kau akan terus menjadi pendiam terus seperti itu? Naik kelas, naik pamor juga dong! Bersuara! Hahahaa…” seorang teman lain yang merupakan teman sekelas gadis yang bernama Nozomi dari kelas 1 itu memang senang memancing Nozomi supaya mau berbicara. Ia lalu memanggil siswa yang duduk di depan bangku Nozomi.. “Nakajima-kun, kau harus tukar posisi dengannya! Sadar diri kek! Tiang juga!”
“Oh?” siswa itu menoleh, lalu mengalihkan pandangan ke teman sekelas yang duduk di belakangnya. “Maaf. Apa kau mau bertukar tempat duduk?”
Untuk pertama kalinya, Nozomi baru sadar bahwa anak itu memang memiliki senyum yang manis, dengan gingsul tersembul di kanan. Pangling, itu kata yang tepat untuk Nozomi waktu itu. Tetapi tetap saja, wajah itu selalu terlihat polos.
>>>のぞみ<<<
Gadis yang rambutnya selalu dikuncir itu menyahut saat Ninomiya-sensei mengabsen namanya. Beberapa anak yang pernah sekelas dengannya bersorak tepuk tangan karena Nozomi menyahut. Ninomiya-sensei tentu bingung, kenapa semua bertepuk tangan seolah-olah Nozomi orang yang dibanggakan.
“Suaranya langka, sensei!” seorang siswi bermata bulat menjawab. Namanya Morikawa Aoi. Ia yang menjadi biang heboh di kelas bagi para putri di kelas itu. Ia pernah sekelas dengan Nozomi.
Ninomiya-sensei menggeleng-geleng dengan jawaban siswinya itu. Ia lalu kembali melanjutkan. Saat akan mengajar, ia mengedarkan pandangan dulu ke sekitar, lalu pandangan terlama adalah pada Nozomi. Ia mengerutkan kening seraya menahan senyum.
“Morikawa benar, Mizutani-san. Kelas ini kelas heboh, terhebih dari yang lain, tapi kenapa kamu yang menjadi pendiam? Apa kamu ingin berbeda?”
Kelas digetarkan oleh suara tawa. Ketika suara tawa terhenti, Ninomiya-sensei kembali berbicara seraya memperhatikan Nozomi yang sudah duduk di depan. “Ah, bagus kau duduk di depan. Kan tadinya Nakajima duduk di sini. Sekarang dimana dia?”
“Saya di sini?” anak yang bernama Nakajima mengangkat tangan, suaranya terdengar jenaka. Ia langsung dilempar gumpalan kertas oleh anak-anak cowok. Kelas itu memang selalu rusuh, dari laki-laki maupun perempuan.
“Nah, iya. Kamu itu tiang. Jangan duduk di depan.” Ninomiya-sensei setuju dengan Nakajima duduk di bangku paling belakang, tetapi di dekat dinding. Diam-diam Ninomiya-sensei khawatir Nakajima yang merupakan salah satu siswa terpintar itu akan tergerus berandal karena duduk bersama anak-anak berandal.
“Baiklah, kita mulai pelajaran sekarang.” Ninomiya-sensei membalikkan badan menghadap papan tulis. Ia mulai mengajar.
Semua memperhatikan. Kecuali Nozomi. Sesuatu telah terjadi dengan hatinya yang sedang bermerah muda. Ia tidak menyangka, bahwa ini kedua kalinya ia menyukai seorang yang banyak disukai. Padahal sebelumnya ia tidak mau, setelah sebelumnya ia pernah mengalaminya dan mengecup kepahitan karena cintanya tidak pernah bertemu dengan cinta orang yang pernah disukainya pada beberapa waktu lalu.
Tidak, Nozomi tidak sedang trauma. Ia hanya berusaha bersikap wajar dan terutama hati-hati. Ia juga bahkan tidak seperti gadis lain yang resah bila tidak memiliki pacar. Morikawa, ia pernah menawari pacar untuk Nozomi supaya Nozomi ‘gaul’, waktu kelas 1. Tetapi Nozomi selalu menolak, karena tidak mau bermain-main. Sebab ia tidak bisa memandang pacaran itu sebagai bagian dari masa muda. Pacaran adalah main-main.
Namun, anak yang dijuluki tiang itu telah menggetarkan hatinya.
Tiga bulan sedang berlangsung. Selama tiga bulan itu Nozomi duduk di bangku pertamanya, tidak seperti kini yang sudah duduk di tempat Nakajima duduk. Tiga bulan itu, Nozomi merasa terganggu karena anak jangkung bernama Nakajima Yuto itu duduk di depannya. Nozomi jarang berbicara, ia hanya berbicara seperlunya. Saat Nakajima mengganggu pandangannya, maka Nozomi memintanya supaya menunduk.
Wajah Nozomi datar-datar saja saat berbicara itu. Membuat gadis-gadis lain yang cemburu, tidak bisa memarahinya karena mengira mencari celah supaya bisa berbicara dengan Nakajima yang dikenal tampan oleh banyak gadis di sekolah itu. Morikawa Aoi, ialah yang memberitau bahwa tidak mungkin Nozomi gatal. Nozomi itu gadis yang lugu. Ucapan itu dipercaya gadis-gadis gatal lain, sebab memang Nozomi tidak gatal. Tetapi wajah datarnya itu selalu mengundang penasaran. Termasuk Nakajima Yuto sendiri.
Nakajima Yuto, salah satu siswa yang paling banyak disukai tidak hanya karena fisik yang proporsional dengan tinggi menjulang dan memiliki garis wajah yang tegas, tetapi juga karena kepintarannya. Ia peraih peringkat kelima di sekolah. Nozomi yang ketiga.
Nakajima dan Nozomi hanya mengenal wajah saat kelas 1. Awal-awal bahwa ternyata Nozomi tidak gatal, Nakajima menyimpan ketertarikannya. Memancing Nozomi berbicara, mengatakan bahwa menjadi pintar tidak harus berwajah datar. Nozomi berhasil tersenyum karenanya. Mengingat Nakajima sering mengganggu pandangan Nozomi selama tiga bulan, maka selama tiga bulan itu, Nakajima membantu Nozomi belajar. Wajah datar itu dipancing Nakajima menjadi senyum, Nakajima memanggilnya ‘Nozomi-chan’, tidak lagi ‘Mizutani-san’.
Kedekatan mereka membuat semua cemburu. Tetapi tidak ada yang berani mendatangi Nozomi, karena wajah yang tidak terbaca itu. Namun wajah itu selalu mengesalkan bilamana berbicara dengan Nakajima, karena Nakajima selalu berhasil memancing senyum dan tawa.
Diawali karena sering belajar dan pancingan untuk senyum dan tawa itulah, ia sadar.
Sebuah rasa yang muram di hati. Ia tidak bisa lagi memandang Nakajima setelah Nozomi selalu protes karena tinggi badannya itu. Sudah seminggu berlangsung sejak tiga bulan itu, Nakajima bertukar duduk dengan Nozomi, lalu pindah ke belakang karena tukar tempat duduk lagi dengan tempat yang lain.
Ada yang hilang saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Ia sudah tidak lagi belajar bersama, tidak ada lagi yang memancing tawa dan senyumnya. Nakajima asyik dengan teman yang lain meski panggilan ‘Nozomi-chan’ tidak pernah lepas. Namun, ternyata tidak hanya itu saja. Seseorang telah menarik perhatiannya di luar jendela, itu sebabnya ia duduk di dekat tembok.
Nakajima telah jatuh cinta dengan seorang yang lain. Orang kedua yang pernah tinggal di rahim yang sama tempat Nozomi sebelumnya. Satu tingkat lebih muda.

Namun sekali lagi, Nozomi tetap bersikap biasa saja. Siapa pun tidak bisa menebak apa ia sedang jatuh cinta atau patah hati. Nozomi pandai menipu semua orang dengan wajah datarnya, meski hatinya tersedu-sedu dalam isak tangis.

Sinopsis That’s What Make You Beautiful

Title                 : That’s What Make You Beautiful
Genre              : Romance
Rate                 : Teen
Cast             : Mizutani Nozomi dan Nakajima Yuto. Mizutani Sayumi, Morikawa Aoi, Yamada Ryosuke, Okamoto Keito, Nakajima Kento, Chinen Yuri, Ninomiya Kazunari dan Yabu Kouta.


Hubungan Nozomi dan Yuto sebagai teman menjadi retak, setelah Yuto kecewa karena Nozomi tidak berterus terang mengenai sifat adik Nozomi yang bernama Sayumi yang merupakan pacar Yuto. Bersamaan dengan hubungan rumit antara Yuto dan Sayumi yang menggantung, Nozomi mengalihkan perasaannya dengan bernyanyi hingga kabar suara merdunya tersebar ke seantero sekolah.
Sebuah tulisan telah membuat Yuto sadar bahwa Nozomi telah lama menyukai dirinya tetapi tidak pernah mau berterus terang. Perasaan yang tidak bisa dimengerti, Yuto pun sering gonta-ganti pacar setelah putus dari Sayumi. Selama itu, ia selalu merasa bersalah karena telah menyakiti Nozomi. Sampai akhirnya ia bertemu seorang teman yang memiliki indera keenam. Rasa bersalah itu semakin dirasa hingga ia memberanikan diri menemui Nozomi.
Akankah hubungan Nozomi dan Yuto kembali membaik?

Saturday, December 7, 2013

Katanya 'BestFriend is Power" (bab[1])_6

                Mereka pun berpisah dan ke kelas masing-masing. Saat masuk kelas, Mutia melihat sosok oriental yang jangkungnya melebihi Yudist. “Yuto…” tanpa sadar Mutia menyebut nama itu berupa bisikan. Seperti ada sesuatu yang menarik dari Yuto, segera Mutia mengingat hal – hal yang buruk saja tentang masa lalunya waktu SMP dan Ia mulai kembali menjadi cuek.
                Mutia pun duduk di bangkunya. Dan Yuto melangkah keluar kelas menuju kelasnya setelah berbincang serius dengan Azril. Detik – detik Yuto akan ke keluar kelas, Mutia terus melihat Yuto. Seperti ada yang janggal tiap melihat si kuning langsat itu. Ia seperti memandang Aida – teman sekelas Mutia yang menjadi pacar Azril. Aida ini memiliki ciri wajah yang unik tidak seperti wajah Indonesia pada umumnya. Dari pergaulannya, Ia terlihat nakal tapi setelah Mutia melakukan pendekatan, ternyata Aida lain dari yang lain. Ia tidak memilih – milih teman dan sangat ramah walau Ia sangat cantik. Tidak seperti Hana yang terkesan mengumbar dan glamor. Selain karena keramahannya, Aida ini keturunan jepang asli dari neneknya. Bahkan tiap mereka berdua, Aida selalu menceritakan tentang kehidupannya waktu di jepang.
                “Tunggu sebentar…” tiba –tiba Mutia tersadar. Ia tersadar kalau Aida itu jepang dan Yuto juga jepang. Lalu ekspresinya berganti lagi jadi bingung. “Trus kalau mereka jepang?kenapa?” Mutia bingung sendiri dengan pertanyaan yang Ia buat untuk dirinya sendiri.
                “Assalamualaikum,” Endah datangdan duduk di sebelah Mutia yang teman sebangkunya. Satu per satu penghuni XII IPS 3 mulai ngumpul di kelas dan lama – lama semuanya jadi hadir tanpa tersisa dan sambil menunggu bel, mereka bergosip-ria.  Sementara Mutia hanya mengulang – ulang lagu yang dikarangnya dengan suara yang rendah.  Tanpa disadari, Adi diam – diam mendekati Mutia dari belakang dan Ia teriak tepat di telinga Mutia. Biasa, cari sensasi. Mutia yang kaget jantungan, terbelalak dan spontan meninju perut Adi. Mutia menyesali kehadiran Adi yang amat menyebalkan dan suka mengganggu orang yang sedang tenang. Ia tidak peduli Adi kesakitan dan jatuh pingsan. Satu kelas melihat Adi yang terkapar. Mutia sudah mencium akal – akalan Adi yang pura – pura pingsan. Tiba –tiba Adi bangun dan menggerak – gerakkan kakii kiri Mutia sambil berteriak dengan sangat cemprengnya mengalahkan Hana. Sedangkan Mutia meneriaki nama Adi sambil menarik – narik rambutnya. Teman –teman yang lain malah menertawakan mereka. Karena kesal yang sudah membuncah, Mutia melepaskan gespernya dan segera mencambuk Adi. Buru – buru Adi bangun dan berlari mencari persembunyian. Fitri dan Nurumi segera melindungi Adi. Mutia yang sudah sesak nafas karena kesalnya hanya mencoba menghela nafas. Ia tidak mungkin ke area Fitri.
                “Gak ada yang boleh masuk ke area gua!” kata – kata itu Fitri lontarkan pada Mutia. Fitri memang tidak menyukai Mutia hanya karena Mutia sangat pendiam di kelas dan cenderung jarang bergaul. Dan Mutia memahami itu dan makanya Ia tidak ke area Fitri yang di pojok dekat jendela. Mutia sadar diri. Ia segera lupakan kekesalannya pada Adi.
                “Assalamualaikum, minna san…konnichiwa!” suara Niki sensei membuat satu kelas yang sibuk ‘menonton’ Mutia VS Adi menjadi bingung.
                “Sensei! Kan belum bel!” Adi baru berani menampakkan diri dengan melompat dari jongkoknya. Tingkahnya itu membuat beberapa teman yang lain hanya senyam – senyum.
                “Iya sekarang buka halaman tujuh di buku paket, “ Sensei seakan tidak mempedulikan kata –kata Adi dan hanya menampakkan tersenyum dengan ramahnya sekaligus menutup ritual tertawanya XII IPS 3.
                “Ih! Sensei! Belum bel!” rupanya Adi dongkol juga karena dicuekin.
                “Apa sih! Telinga lu tuh periksa!” sambar Adisya dengan senyum tipisnya.
                “Tau tuh!Periksa temen lu! Eh salah maksudnya telinga lu! Orang suara bel jelas gitu!” Azril ikut – ikutan.
                “Kalimat lu benerin! Telinga kok jadi temen!” Adi mulai kelihatan macho.
                Azril yang merasa tertantang, berdiri. “Lu berani sama gua?”
                “Eh…ampun…ampun..gua lupa…” Adi kembali jadi lekong lagi hingga yang lain jadi tertawa.
                “Udah..udah…emang kenapa sih kok gak pada ngedengerin semua?” tanya sensei.
                “Itu sensei. Tadi ada atraksi Adi sama Mutia,” Hana menjawab dengan cemprengnya.
                “Atraksi? Atraksi apaan?” tanya sensei lagi sambil menahan tawa.
                “Ada lah sensei…ini urusan anak muda!” gurau Adi dengan sangat kemayu.  Sensei hanya tersenyum. Sensei pun kembali mengajak siswa/siswinya kembali serius belajar dan memperhatikan pola kalimat baru dari bahasa jepang  di papan tulis.
                ***
                Pada jam isitirahat, Mutia terlihat agak berlari keluar kelas menuju taman sambil membawa lirik lagunya. Saat Eri menyapanya, Mutia hanya menoleh, senyum sesaat dan kembali berjalan cepat setengah berlari. Ia pun menuruni tangga untuk ke lantai dasar. Taman pun tampak. Saat Mutia melihat lapangan futsal, cahaya matahari menmancarkan cahanya ke anak – anak yang main bola. Rupanya cuaca hari ini lumayan panas. Tiba – tiba bolanya menggelinding ke arah Mutia. Spontan, Mutia mengangkat rok abu – abunya hingga tampak celana treningnya, bola itu pun ditendang. Beberapa anak yang melihat terkesima dibuatnya termasuk anak yang main bola. Mutia tidak mau mempedulikannya.
                Mutia memberikan senyumnya ada anak Interest band yang sedang ngumpul di taman. Langsung, Mutia duduk bareng mereka dan meletakkan lirik lagunya di tengah meja permanen. Kertas lirik lagu itu diambil langsung Joko. Sedangkan Mutia bersandar di bangku permanen. Nafasnya terdengar tersengal – sengal.

               



Monday, December 2, 2013

Cara Membuat Menubar pada Blog

Supaya blog memilki menubar, maka ikuti langkah-langkah di bawah ini.
- Login ke blogger.com dan klik Layout
- Klik Add a Gadget lalu pilih HTML/JavaScript lalu copas dari http://ipoelgokil.blogspot.com/2012/10/cara-membuat-menu-pada-blog.html
<ul id='menubar'>
<li><a href='link/URL homepage blog disini'>Home</a></li>
<li><a href='link 1'>judul link 1</a></li>
<li><a href='link 2'>judul link 2</a></li>
<li><a href='link 3'>judul link 3</a></li>
<li><a href='link 4'>judul link 4</a></li>
<li><a href='link 5'>judul link 5</a></li>
<li><a href='link 6'>judul link 6</a></li>
</ul>
dan klik Save
- Barulah drag gadget yang berisi syntax untuk di drop ke header blog. Coba klik view blog yang ada di paling atas maka akan tampak ada menubar di atas postingan-postingan blog.
Namun masing-masing menubar tersebut belum terisi, maka marilah kita isi dulu.
- Kembali ke Layout dan pilih gadget yang berisi syntax di atas. Sebelumnya kita membuat label supaya mudah dikelompokkan. Misal label yang ada di blog saya ada Cerpen, Fan Fiction, Novel dan Puisi.
- Asumsikan masing-masing blog yang kita buat ini adalah Home, Novel Bersambung dan Tugas Kak Ipul (sebab ini tigas Kak Ipul). Kembali kunjungi blog kita. Klik label Cerpen, lalu copas yang ada di address bar untuk di copas ke 
<ul id='menubar'>
<li><a href='link/URL homepage blog disini'>Home</a></li>
<li><a href='link 1'>judul link 1</a></li>
<li><a href='link 2'>judul link 2</a></li>
<li><a href='link 3'>judul link 3</a></li>
<li><a href='link 4'>judul link 4</a></li>
<li><a href='link 5'>judul link 5</a></li>
<li><a href='link 6'>judul link 6</a></li>
</ul>

Cari 'link 1', hapus karena di sanalah tempat untuk mengcopas. Begitu juga seterusnya.
Misal 
<ul id='menubar'>
<li><a href='http://sushipadang.blogspot.com'>Home</a></li>
<li><a href='http://sushipadang.blogspot.com/2013/12/koneksi-penulis.html'>NadiaR</a></li>
<li><a href='http://sushipadang.blogspot.com/search/label/Novel%20Nadia'>Novel Bersambung</a></li>
<li><a href='http://sushipadang.blogspot.com/search/label/Cerpen%20Nadia'>Cerpen</a></li>
<li><a href='http://sushipadang.blogspot.com/search/label/Fan%20Fiction%20Nadia'>Fan Fiction</a></li>
<li><a href='link 5'>Tugas Kak Ipul</a></li>
</ul>