Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Tuesday, October 18, 2016

Imouto_Part 2 (Vonis Dokter)

Genre : Dewasa, Thriller
Penulis : Andeke Parsi
Tokoh : Araki Chisato, Nakajima yuto, Ino Kei, Yabu Kouta.
Menderita penyakit modern, membuat Chisato mencari-cari dokter untuk mengetahui apa obat penyakit yang dideritanya. Ia tidak mengungkapkan hal itu pada Nakajima Yuto temannya semasa SMA, sebab Nakajima Yuto yang dipanggil Yuto adalah dokter anak, bukan dokter penyakit dalam yang diharapkan Chisato. Lalu, Chisato menemukan satu kontak, bernama Ino Kei yang merupakan seorang duda beranak satu. Namun, bukan kesembuhan yang didapat, Chisato malah menjadi korban malpraktik Ino Kei.


Pertemuan kami kedua saat di rumah sakit, dia telah menjadi dokter anak.
Aku ke rumah sakit untuk kontrol penyakit yang lama kuidap sejak aku kuliah. Tidak ada yang tahu itu kecuali keluargaku. Aku mengidap penyakit yang maish terbilang baru di dunia medis. Hipokalemia, suatu kondisi tubuh yang kekurangan zat kalium dalam tubuh. Aku menderita penyakit itu saat kuliah. Awalnya pincang berkali-kali di waktu yang tidak menentu. Dan sembuh saat aku bangun. Namun pada akhirnya aku dirawat dengan lumpuh di sekujur tubuh. banyak yang mengira flu tulang, cikungunya. Tetapi setelah diperiksa, aku menderita hipokalemia. Obatnya hanya infus bila sedang kumat, obat minum bila sedang baik-baik saja. Selama hidupku, aku akan minum obat terus menerus supaya aku bisa bertahan hidup.
Penyakit itu masih belum terungkap penyebabnya secara pasti. Tiga kali dirawat, tiga kali mendapat mendengar hipotesa dokter mengenai penyebab penyakit itu. Pertama, karena aku kelainan gen; dokter kedua mengatakan karena zat imunku mengalami trauma hingga tidak mengenal lawan dan kawan, maka menyerang ginjal yang terus mengeluarkan kalium dari dalam tubuh; tetapi dokter ketiga mengatakan karena ada kesalahan dari ginjalku. Aku bersyukur, obatnya tidak dengan cuci darah. Sejak itu, aku jadi rajin mencari hal-hal seputar kesehatan terutama tentang penyakitku.
Penyakit ini terbilang baru dan sedang dicari penyebab dan obat yang sebenarnya supaya bisa sembuh total. Aku pun sering kontrol setelah tiga kali dirawat. Tetapi pada satu sesi aku kontrol, seorang dokter bertanya padaku apakah aku sudah menikah apa belum. Pertanyaan itu biasanya diutarakan pada penderita kanker. Sebab bibiku menderita kanker payudara, apakah sudah punya anak apa belum. Fisik si penderita bisa berpengaruh pada anaknya nanti atau malah tidak bisa punya anak. Aku yang saat itu ‘takut’ dengan pernikahan karena melihat pernikahan ayah ibu, menjadi menangis setelah mendengar vonis dokter akan penyakitku terhadap anakku kelak. Dan aku, tidak pernah bercerita pada siapa pun tentang efek ke keturunanku nanti sampai akhirnya ibu meninggal karena sakit jantung oleh tindakan ayah yang senang main perempuan.
Sejak ibu meninggallah, aku mulai memperempuankan diri. Tetapi lagi, aku bertemu dengan Yutti pada satu sesi kontrol dari rumah sakit. Yutti tidak tahu tentang penyakitku. Dan ia selalu ceria bertemu denganku. Kami memang tidak pernah bertengkar sejak saling mengenal.
“Eh? Kamu kerja di sini?” Aku mengamati pakaian Yutti.
“Latihan aja, jadi dokter kecil. Hahaha. Kamu di sini? Duh, ketemu mulu kita!”
“Anu…” aku tidak bisa mengungkapkan mengenai penyakitku. “Emang kamu mau jadi dokter apa sih?”
“Dokter anak!”
Mendengar kata ‘anak’, aku terdiam. Tidak, aku harus mengontrol diriku. “Lama kamu di sini?”
“Beberapa bulan lagi aku akan kerja di sini. Nah, kamu?”
“Oh, aku masih bekerja di perusahaan lama kok.”
“Bukan. Kamu di sini ngapain? Saki tapa? Kok gak bilang? Sini biar kuobati. Hahaha…”
Aku hanya tersenyum kecil, menundukkan wajah. Dia memang senang menggodaiku seolah-olah kami pasangan kekasih. Tetapi, karena kebodohanku yang berwajah muram, ia kembali mengamati wajahku dengan muram.
“Chisato-kun? Eh? Baik, aku hapus ‘kun’-nya ya. Kamu jadi ‘chan’ aja. Udah cantik soalnya. Hehehehe…” Yutti menyengir, tetapi cengirannya memudar karena aku.
“Pasti anak-anak akan suka dengan dokter seperti dirimu. Ceria.”
“Iya dong. Masak aku pasang muka killer ke anak-anak…??? Hahaha…”
“Emang kamu suka anak-anak ya?”
“Banget. Aku kecewa, Raiya tumbuh besar. Padahal dulu dia lucu sekali. Tetapi selalu tidak mau kucubit pipinya… hehehehe…”
Aku hanya mengangguk-angguk untuk menanggapinya berceloteh. Dengan perasaan yang tidak baik ini, aku merasa harus segera pulang. Aku tidak mau bercerita apa-apa dulu. “Aku mau pulang. Kamu, selamat bekerja ya.”
“Eh, tunggu. Kamu kenapa dulu, Chisato-chan? Kok di rumah sakit?”
“Ya, aku salah masuk. Aturan aku ke rumah sehat.”
“Apa sih, mana ada itu… hahaha… kamu ini pandai melucu meski mukamu begitu…”
Yutti mengamatiku, ia benar-benar tahu bagaimana aku. Aku menundukkan wajah saat ia memandangku dengan tangannya menepuk bahuku. “Baiklah. Aku juga harus kembali kerja. Hm, aku bagi nomor hp-mu dong! Aku lupa minta waktu itu!”
Aku memberi nomorku padanya. Lalu dia misscall, aku menyimpan nomornya. Kami pun berpisah. Dia kembali bekerja, aku ke luar. Lagi, ke bioskop untuk menipu dirinya yang selalu muram karena untuk ke sesi sekian ini, aku mendapat jawaban yang sama dari dokter yang berbeda mengenai penyakitku. Memang, setiap kontrol, dokternya berbeda-beda.
Dan muram itu kubawa ke rumah, aku tidak merasakan sakit saat ibu tiriku menyuruhku mengerjakan berbagai hal. Rasa-rasanya aku rela dia menyuruhku apa saja asal aku bisa melupakan apa yang dikatakan dokter. Saat ibu tiriku mengambil uang dari dompetku, aku hanya diam. Lalu Yui yang terus menagih diriku supaya segera menikah, karena ia yang memiliki pacar ingin menunaikan amanah ibu supaya dia tidak menikah mendahuluiku.
Pertanyaan itu terdengar menyakitkan bagiku. Aku tidak memiliki niatan menikah setelah mendengar vonis dokter, tetapi hal itu malah membuatku rindu akan sosok pendamping hidup. Aku tentu akan tua nantinya, itu artinya aku butuh pendamping hidup. Tetapi, hal itu semakin membuatku sakit hati. Dan saat ibu tiriku menyuruhku tidur di luar karena kerja di rumah buruk, aku terima saja. Berjalan-jalan keluar, mencari tempat yang baik untuk menangis. Meminta maaf pada ibu di pemakaman sana karena aku ragu akan diriku yang akan menikah. Mengingat ibu, aku segera ke pemakaman. Tidak peduli dengan nuansa horror, aku tidur di dekat makamnya setelah aku puas meminta maaf dengan berurai airmata.
>><< 
Nada dering ponsel membangunkanku. Dari Yutti. Tetapi panggilan masuk itu tidak kuterima. Lalu sms, aku tidak pernah membalasnya. Aku tidak memiliki waktu untuk bermain ponsel. Aku segera pulang dan bergegas untuk bekerja.
Sampai hari berlalu begitu cepat. Aku menikmati harinya dengan perasaan hambar. Berpura-pura pada orang-orang kantor dengan dirinya yang ceria. Semua orang di kantor menyukaiku karena aku humoris. Tetapi saat tidak ada orang, aku kembali muram. Namun, aku harus tetap semangat. Aku mencari kontak dokter dengan bartanya pada rekan kerja, teman lama, dan dunia maya. dokter penyakit dalam, aku mencarinya untuk mencari tahu lebih banyak tentang penyakitku.
Aku lalu menemukan buku kedokteran dengan mencari kontak penulisnya. Melakukan komunikasi di dunia maya, sampai di ponsel. Hanya satu yang melayani komunikasi denganku, Ino Kei. Maka pada pulang bekerja pada satu hari itu, aku terus berkomunikasi pada dokter yang mencantumkan status bercerai di media sosial itu. Dokter lelaki, aku agak takut sebenarnya, sebab aku pernah disuruh melepas pakaian saat kontrol. Aku harap Ino Kei adalah dokter yang professional, meski aku agak ngeri melihat ada banyak foto Ino Kei yang banyak menampilkan fisik dari bahu sampai pusar, memperlihatkan ototnya yang kekar.
Ada ya dokter begitu?





Imouto_Part 1 (Pertemuan)

Genre : Dewasa, Thriller
Penulis : Andeke Parsi
Tokoh : Araki Chisato, Nakajima yuto, Ino Kei, Yabu Kouta.
Menderita penyakit modern, membuat Chisato mencari-cari dokter untuk mengetahui apa obat penyakit yang dideritanya. Ia tidak mengungkapkan hal itu pada Nakajima Yuto temannya semasa SMA, sebab Nakajima Yuto yang dipanggil Yuto adalah dokter anak, bukan dokter penyakit dalam yang diharapkan Chisato. Lalu, Chisato menemukan satu kontak, bernama Ino Kei yang merupakan seorang duda beranak satu. Namun, bukan kesembuhan yang didapat, Chisato malah menjadi korban malpraktik Ino Kei.


Mungkin sudah kejutan dari semesta alam.
Berhari-hari aku gelisah karena dompetku hilang. KTP, headset¾yang dirusak Yui adik perempuanku, dan flashdisk hilang. Ini peringatan. Jelas peringatan. Isi flashdisk itu yang lebih penting. Dia ibarat pacar keduaku setelah laptop. Haha, aku memang sudah melamar laptopku menjadi istriku¾hey, tapi aku perempuan. Ada isi-isi penting di dalam flashdisk itu. Bahkan lebih penting daripada KTP¾yang bisa saja aku dicap warga Negara gelap karena tidak mempunya KTP. Baiklah, supaya adil, maka aku menggelisahkan keduanya.
Aku meninggalkan dompetku yang sebenarnya dompet kosmetikku di perpustakaan. Aku gelisah karena hari libur berturut-turu membuat perpustakaan itu tutup. Karena sebal, aku memutuskan menikmati ramen pedas usai bekerja pada sore hari. Ramen miso pedas selalu membuat mood ku lebih baik. Rasanya yang nimat membuatku bisa merasa nyaman dengan semua yang menyebalkan, terutama menyebalkan pada diriku yang kadang mudah bosa. Tetapi untuk pertama kalinya, aku tidak bisa melenyapkan kegelisahanku. Mana ada cerita, kalau aku beli ramen, KTP dan flashdisk ku kembali?
Maka, usai itu, aku pergi ke bioskop. Sendirian. Karena aku memang butuh sendirian dulu. Berkali-kali aku merutuk, menyumpah serapah di dalam hati atas kecerobohanku karena  lupa pada dompet sendiri. Dan hanya dua jam saat aku lupa pada permasalan itu saat aku sudah duduk menonton film genre laga di bioskop. Aku tidak pernah pergi ke bioskop sendirian, setelah sebelumnya aku pergi bersama keluarga.
Kegelisahan kembali muncul usai aku keluar dari bioskop. Aku kembali muram. Berjalan tidak bersemangat. Langkahnya terhenti saat aku melihat jajanan. Tetapi tidak, aku tidak berselera makan. Aku takut kurus kalau begini. Sebab aku sudah berusaha menambah berat badanku supaya tidak terlalu kurus, tetapi kini aku akan frustasi karena flashdiskku hilang. Sampai saat aku kembali melanjutkan langkahku, aku berhenti karena ada yang memanggilku. Tetapi aku tidak menoleh, kembali berjalan. Kupikir, ada banyak orang yang memiliki nama seperti namaku. Namun nama itu disebut dua kali, aku berhenti, dan menoleh ragu-ragu.
“Chisato-kun!!!” seorang pria jangkung berlari kecil ke arahku. Terlihat senang sekali bisa bertemu denganku. Mengamati dari atas sampai bawah. Lalu mencubit pipiku. Tetapi aku tetap datar menatapnya. Dia teman lamaku di SMA, Nakajima Yuto.
“Oh, Yutti. Apa kabar? Lama tidak jumpa,” kataku dengan muka dan suara datar. Aku memanggilnya Yutti, dan dia memanggilku dengan tambahan –kun di belakang. Itu panggilan akrab kami. Kami berteman lama dan dekat karena kami sama-sama gokil dulunya. Namun aku tidak menyangka akan mendapat hiburan dari semesta alam, yaitu dengan bertemu dengannya. Selama ini kami hanya berkomunikasi lewat media sosial, itu pun sudah jarang karena aku minder dengan dirinya yang merupakan mahasiswa kedokteran.
Aku hanya mengamatinya. Memuji di dalam hati dirinya yang sudah semakin dewasa dan tampan¾meski kulihat wajahnya seperti selalu mirip denganku. Tetapi aku agak kecewa dia memendekkan rambut, sebab dulu rambutnya menyentuh tengkuk, aku suka laki-laku berambut panjang. Keren saja. Tetapi tetap, kami hanya berteman. Dan aku baru merasakan rindu saat bertemu dengannya kini setelah lama tidak bertemu karena kesibukan kami sejak lulus SMA.
“Wah… kamu cantik sekali. Tumben. Biasanya ganteng.”  Yutti masih mengamati penampilanku, menepuk-nepuk bahuku. Tersenyum lebar, terlihat begitu rindu padaku. Tetapi senyumnya memudar setelah melihat raut wajahku. “Hey, kau tidak senang bertemu denganku?”
“Senanglah!” Aku pura-pura senang, karena masih kepikir dompet hilangku. Aku menepuk bahunya. “Kamu juga, ganteng. Beli dimana mukanya?”
“Apa sih… hahaha… eh tapi, serius, ini kamu? Chisato-kun? Cantik loh! Kamu udah berubah ya jadi perempuan beneran? Abis darimana? Kerja?”
“Ya, kan kalau kerja, aku gak mungkin pakai jas. Pakaian laki-laki dan perempuan kan beda. Udah kayak sekolah.”
“Ouh, jangan-jangan, kalau di luar kerja, kamu tomboy lagi? Tapi, kamu masih make up-an… ???” Yutti secara tidak sopan mengamati wajahku dari dekat. Hal itu membuatku mendorong wajahnya.
Beberapa anak muda yang seusia kami mengamati. Memanggil Yutti, melambaikan tangan akan pergi lebih dulu. Rupanya, Yutti telah pamit lebih dulu pergi sendiri sebelum ia bertemu denganku secara tidak sengaja.
“Teman kuliah?”
“Iya. Kamu abis darimana? Dari kantor langsung ke sini? Abis nonton apa?”
“Biasa. Berantem-berantem,” aku membalikkan badan, melanjutkan langkah. Yutti pun menyejajari langkahku. Kami kembali bernostalgia masa SMA. Tetapi tetap aku tidak bisa seperti Yutti yang ceria. Masih terbayang flashdisk sang kekasih.
“Hey, kamu kenapa sih? Lapar? Makan yuk! Udah lama kita gak makan bareng loh! Aku jadi kangen waktu kita lomba makan…”
“Hey!” Aku menepuk keras-keras punggung Yutti. “Kok kamu yang ceria sih? Nih ya, dalam sejarah, yang ada laki-laki yang dingin, bukan sebaliknya! Kamu kayak perempuan tahu gak! Cerewet!”
Yutti sebal, tetapi ia kemudia tersenyum penuh isyarat. “Kamu gak buka facebook ya? Aku hubungin kamu susah banget!”
“Buat apa? Ada hal penting? Reuni SMA?”
Yutti tidak menjawab. Menarik tanganku, mengajak duduk di sebuah tempat makan. Hubungan kami memang cenderung dekat, benar-benar seperti teman, kadang-kadang seperti adik kakak, yaitu dia yang dingin dan aku yang cerewet. Sempat kena gossip saat SMA, tetapi kami tetap berteman, sampai Yui adikku yang satu sekolah denganku iri denganku, bahkan sempat mencuri-curi perhatian dengan Yutti. Tetapi tetap, Yutti lebih senang denganku katanya, sebab aku apa adanya dan memang bisa diajak untuk berteman.
“Kamu kemarin ke perpustakaan Yoyogi ya?” tanyanya memancing penasaran.
Aku mengangguk dengan jantung berdebar-debar. Aku harap-harap cemas akan apa yang Yutti katakan. “Kenapa?”
Yutti mengembuskan nafas, mengambil sesuatu dari tasnya. “Kemarin aku lihat kamu di sana. Aku panggil, kamu udah masuk bis.” Ia menyerahkan sesuatu yang kunanti. “Kamu teledor lagi…”
Mataku membulat ceria. Di dalam hati bersorak kegirangan. Yutti mengembalikan dompetku. “Bagaimana…???”
“Aku sering lihat kamu di sana. Aku juga sering ke sana. Tapi aku gak sempat sapa kamu, soalnya bareng-bareng teman. Hehehe, sombong ya. Tapi maaf, aku sibuk. Asli, bukan sok sibuk. Nah, aku nemu dompet itu di rak. Kulihat isinya, itu identitas kamu. Mau aku balikin ke orang perpus, bodoh. Soalnya aku kan kenal kamu. Nah aku mau minta ketemu aja sama kamu buat balikin. Tapi kamu kayaknya gak buka facebook ya?”
“Ya. Ya ampun… jadi sama kamu…” aku menangis haru memeluk dompetku.
“Lebay. Gitu aja pake nangis.”
“Ini barang berhargaku, Yutti! Kamu kan tahu, aku saat ini masih menjalin cinta dengan laptop, dan aku sedang berselingkuh dengan flashdisk…
Yutti memandangku datar, ia tahu akan diriku yang suka aneh-aneh. “Emang gak ada pacar yang lebih hidup apa?”
“Udah. Makasih ya. Kamu emang yang paling………”
“Lebay. Ohya, bagaimana kabar orang-orang rumah? Aku udah lama ke rumahmu.”
“Penting banget gitu kamu ke rumahku?”
“Kamu gak ke rumahku mah ku maklumi. Ibu marah mulu ada kamu. Jahil sih!”
Tawa kami berderai. Sore itu bersyukur, alam mempertemukan kami, lebih tepatnya aku dan dompetku dengan isinya yang lengkap. Aku dan Yutti kembali bercerita. Mengenai pertemanan kami yang seperti anak-anak yang masih suka menggila. Dan aku tidak menyangka, Yutti yang kukenal masih Yutti yang dulu, tidak berubah meski kami tidak bertemu, tidak berubah meski dia orang berada dan menjadi mahasiswa kedokteran.
Namun obrolan kami menjadi muram saat aku bercerita mengenai keluargaku. Aku dan dua adikku, tidak lagi tinggal bersama ayah ibu. Setahun lalu ibu meninggal, kami tinggal dengan ibu tiri dengan ayah yang tidak lagi kembali setelah menemukan perempuan lain. Kami tinggal dengan ibu tiri yang tidak pernah berlembut-lembut pada kami. Selalu menagih uang untuk kecantikannya demi memikat pria lain sebagai balas dendam atas suaminya.

Yutti tercenung mendengarnya. Dan ini menjadi awal pertemuan kami kembali.

Friday, August 19, 2016

Part 8 : Buaya Darat (That's What Make You Beautiful)

Kertas itu ditulis pada hari senin. Senin yang mendung. Hari setelah semalam ayah mengizinkan putri-putrinya pacaran. Kertas yang diambilnya dari robekan kertas di buku tulis, sebelum Yuto melihat airmata itu.
Kini Nozomi mengkhawatirkan kertas itu. Pada hari bunkasai itu, ia dalam keadaan tersenyum memandang kertas yang sengaja disimpannya itu. Perasaannya yang sudah membaik sejak bersama Aoi, membuatnya tidak lagi memusingkan Yuto dan Sayumi meski ia tidak membohongi diri bahwa ia memang masih suka. Ia mengira ia sudah baik-baik saja. Saat semua anak-anak membuang-buang potongan kertas yang disobek ke bawah, Nozomi tidak melakukannya. Nozomi hanya membuang kertas yang disimpannya itu bersamaan dengan semua potongan kertas dilempar ke bawah.
Tetapi kini ia takut. Ia baru menyadari kebodohannya. Seharusnya ia robek kecil-kecil kertas itu, tetapi malah membuangnya dengan utuh. Ia khawatir, kertas itu ada yang menemukannya. Bagaimana kalau Yuto? Lalu bila Yuto menemukannya, bagaimana Yuto hafal tulisan Nozomi?
Meski tidak tertulis ada tulisan ‘Nozomi 2B menyukai Yuto 2B’, tetapi Nozomi khawatir juga. Tapi segera Nozomi memilih pikiran lain bahwa kemungkinan Yuto yang menemukan adalah kecil. Sebab ada banyak kertas, kecil kemungkinan bahwa Yuto akan menemukannya.
Dua pikiran berlomba-lomba, yang satu menakuti-nakuti Nozomi, yang satu menghibur Nozomi bahwa kertas itu tidak akan mungkin ditemukan Yuto. Tidak, Nozomi tidak bisa lagi mengkompromi lagi, hanya bernyanyi menjadi pengalihanya. Saat ia dan Aoi di atap lagi, Nozomi bernyanyi dengan lagu biasa. Ia yang biasanya duduk, kini malah berdiri dan menyertai joget seusai lagunya yang heboh. Aoi yang menyukai ‘kegilaan’ Nozomi, ikut berdiri, berjoget bersama sambil memainkan gitar.
Suara merdu Nozomi tidak lagi hanya diketahui anak-anak kelas 2B. Perlahan-lahan, anak-anak kelas lain mulai mengetahuinya. Untuk kali pertama, Nozomi memberanikan diri bernyanyi di kelas, tentu saat Yuto tidak ada. Demi mengelabui perasaannya, ia bertindak seperti bukan Nozomi.
Nozomi tidak lagi pendiam, ia menjadi gadis yang ceria dan suka menyapa teman di sekolah. Luwes dan supel. Berteman dengan Aoi, membuat Nozomi tertular disukai teman-teman lainnya. Sampai pada akhirnya Nozomi menikmati dan menyukai dirinya yang baru itu, ia sudah berani bernyanyi meski ada Yuto. Anak perempuan, laki-laki menyukainya.
>>>のぞみ<<<
Yuto melihat, Nozomi sudah ‘lebih baik’. Nozomi tidak lagi menjadi pendiam. Kadang-kadang kata-kata luzu keluar drai mulut gadis yang memiliki tulisan indah itu. Ya, Yuto menyimpan kertas itu. Entah untuk apa dan entah sampai kapan. Ia merasa semua belum selesai. Ia tidak menyangka, ia putus dengan Sayumi, tetapi juga putus dengan Nozomi.
Meski Nozomi sudah disukai banyak teman, Yuto melihat Nozomi kini bukan lagi Nozomi-nya lagi. Entah kenapa, semua terasa garing dan hambar. Tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa selain bersyukur karena Nozomi sudah bisa memancing senyumnya meski senyum itu bisa saja kepalsuan.
Resah memikirkan semua, membuat teman-teman terdekatnya heran. Sampai Yuto yang tidak terbiasa bergaul dengan anak-anak berandal¾kecuali saat jam pelajaran berlangsung karena duduk di sekitar anak-anak berandal¾Yuto mencoba bergaul dengan mereka, ingin tau dunia mereka.
Pertemanan itu terlihat biasa saja oleh teman-teman yang lain. Bahkan sampai Yuto sudah menggaet pacar baru, ia tetap terlihat biasa. Namun, yang keheranan diantara teman-teman lain timbul karena tersebar bahwa pacar Yuto tidak hanya satu. Salah seorang teman yang telah menjadi saksi mengatakan bahwa Yuto yang bersama pacarnya dihampiri seorang gadis lain dengan berurai airmata. Gadis yang baru datang itu mengucap sesuatu panjang lebar, hingga keluar kata ‘putus’. Kabar bahwa Yuto playboy pun tersebar. Yuto telah menyandang status buaya darat. Beberapa penggemar perempuan di sekolahnya kecewa dan mulai berkurang. Sementara beberapa lainnya tetap mengincar Yuto bahkan ada yang rela dijadikan pacar ke sekian.

Nozomi sangat menyayangkan hal itu. Ia tidak mengerti apa yang telah membuat Yuto menjadi berubah menjadi demikian. Apakah karena Sayumi? Apakah sampai sebegitunyakah pengaruh Sayumi terhadapnya? Begitu pikir Nozomi.
Nozomi, ia baru tau bahwa Yuto dan Sayumi sudah putus dari kabar playboy-nya Yuto. Sayumi tidak pernah cerita apa-apa lagi. Sejak kejadian di taiikukan, Nozomi dan Sayumi sudah jarang berbicara. Dan Nozomi masih tidur dengan ibu. Sayumi terang-terangan memberi jarak permusuhan, tidak peduli dengan ayah ibu. Tetapi di depan umum, tetap Sayumi bermuka manis mesk bersama Nozomi.
Sempat terpikir untuk menghampiri Yuto, ingin mendekati dan menjalin pertemanan seperti sedia kala, tetapi ia takut akan menyesal. Ia lalu tetap seperti ini, bersama Aoi. Bernyanyi di atap, bahkan anak-anak lain meski dari luar kelas, Nozomi sudah berani memamerkan suaranya.

Kepura-puraan terhadap perasaannya itu terus dilakukannya sampai tiba masa ujian. Libur kenaikan kelas pun memisahkanya dengan Aoi dan teman-teman, termasuk dengan Yuto. Menunggu tanggal yang ditentukan sekolah, baru mereka kembali masuk sekolah.

Part 8 : Tulisan Nozomi (That's What Make You Beautiful)

Keributan kembali terjadi. Tetapi ayah dengan Sayumi. Masih bersitegang karena barang-barang Nozomi tidak juga dimasuki ke kamar. Sayumi mengusir Nozomi dari kamar. Terpaksa, ayah menyuruh Nozomi tidur bersama ibu. Dan ayah sendiri, tidur di luar.
Tidak ada obrolan antara ibu dan Nozomi saat tidur berdua. Keduanya masih tidak habis pikir dengan Sayumi yang keterlauan. Sifat dan karakter buruknya tidak didapat dari ayah ibu. Ayah dan ibu mengira bahwa sifat diturunkan dari geng, berarti bisa saja dari semisal kakek, nenek atau paman dan bibi.
Nozomi memiliki bibi yang merupakan kakaknya ibu, karakternya persis seperti Sayumi, tetapi Sayumi lebih parah. Ibu akhirnya membicarakan itu sebelum menjelang tidur. Nozomi yang malas membicarakan keburukan orang, meminta ibu supaya tidak perlu membahas hal buruk menjelang tidur. Namun permintaannya itu malah dibalas jahil ibu. Nozomi dijahili kembali ibu, menggodai Nozomi yang telah kalah dari Sayumi yang telah memiliki pacar.
Nozomi pun memilih tidur dengan perasaan yang ‘baik-baik’ saja. Sebab ia tidak mau terbawa perasaan mengenai Sayumi yang sudah pacar dan pacarnya itu orang yang disuka Nozomi. Nozomi mengontrol otaknya supaya lebih fokus pada tawa ibu. Tidur bersama ibu menjadi menyenangkan. Tersenyum, meski senyum itu hanya untuk menipu diri supaya menerima kenyataan Yuto dan Sayumi.
>>>のぞみ<<<
Keesokannya, senyum itu terus dibawanya. Senyum itu tidak akan dirusaknya. Ia pergi sekolah pagi-pagi sekali, ia tidak mau matanya bertemu dengan mata sinis Sayumi. Headset di telinga yang terhubung dengan mp3 yang dibawanya menambah suasana hatinya menjadi lebih cerah, meski sekali lagi itu hanya untuk menipu perasaannya. Semua lagu yang diputar adalah lagu barat dengan nuansa ceria bahkan memancing siapa pun yang mendegarnya untuk berjoget.
Nozomi, ia tipikal yang tidak bisa diam kalau mendengar musik. Untuk itu ia langsung melepaskan suaranya begitu tiba di kelas. Bernyanyi adalah pilihannya dalam pengalihan perasaannya. Kala sedih, ia akan memutar lagu semangat dan lagu ceria. Sangat dihindarkan lagu cinta-cintaan meski itu lagu barat. Nozomi memiliki kemampuan bahasa inggris yang baik, jadi ia paham. Tetapi menyanyi-nyanyi itu hanya dilakukannya di rumah, sebab ia masih begitu sangat malu untuk memamerkan suaranya.
Sembari menyapu, sesekali ia berjoget sesuai lagu yang dibawa, berlagak seolah-olah seorang artis yang sedang di atas panggung. Kegiatan bersih-bersih kelas seorang diri itu terasa begitu menyenangkan dirasainya.
Siapa pun akan terkejut bila melihat sisi lain Nozomi itu. Nozomi sang pendiam bahkan bisa dibilang ratu pendiam di kelas, ternyata memiliki kemampuan untuk bernyanyi. Apes, saat lagu terganti otomatis, ia menangis karena terbawa perasaan. Lagu itu tentang kisah cintanya. Tidak mau semakin terbawa suasana hati, ia langsung menggantinya. Lagu rock. Saat tidak sengaja berjoget, ia melihat seorang teman sekelas yang menganga melihatnya.
Morikawa Aoi. Dia menjadi anak kedua yang datang ke kelas. Terlihat, tangannya membawa sebuah gitar. Nozomi langsung bersikap normal setelah dipandang Morikawa. Malu. Dimatikannya music di mp3nya. Lalu ia bersikap biasa saja, menyapu.
Morikawa tertawa melihat reaksi Nozomi yang ketahuan bersuara indah itu. Morikawa mendekati Nozomi, merebut sapu itu, meminta Nozomi bernyanyi kembali. Tetapi Nozomi menggeleng enggan, ia masih sangat malu. Morikawa mengangguk-angguk, paham dengan malunya Nozomi.
Sebuah ide muncul, Morikawa merebut sapu dari tangan Nozomi dan meletakkan sapu itu di sudut ruangan. Saat banyak anak-anak sekelas baru datang, Morikawa menarik tangan Nozomi setelah melempar tas ke bangkunya. Morikawa hanya membalas sapaan teman-temannya yang menyapa, sekilas. Tangannya masih memegang gitar. Morikawa hanya tersenyum saat ditanya teman-teman untuk apa ia membawa gitar.
“Kita mau kemana?” tanya Nozomi saat Morikawa mengajaknya berjalan cepat ke atas.
“Bantu aku!” begitu jawab Morikawa, membingungkan bagi Nozomi. Tetapi Nozomi tidak lagi bertanya karena pensaran. Sampai mereka tiba di atap sekolah.
“Kenapa kita di sini? Aku harus bantu apa untuk Aoi?”
“Ayo, duduk!” Morikawa mengajaknya duduk. Nozomi mengikuti.
“Lalu?” Nozomi sudah duduk.
“Ayo bernyanyi, aku bawa gitar. Kamu malu kan?”
“Eh?”
“Aku bisa liat kamu punya bakat yang terpendam! Tidak disangka, kamu sependiam ini memiliki suara emas!” Morikawa terlihat antusias. “Kebetulan sekali, aku bawa gitar!”
“Nah, kamu kenapa bawa gitar?”
“Tadinya mau ajak anak-anak sekelas nyanyi kalau bosen. Tapi, aku udah kepincut suaramu. Ayo, bernyanyi. Kalau aku mendengarnya tidak apa kan? Kau hanya malu dengan banyak orang kan?”
Nozomi menurunkan pandangannya. Ia bernyanyi tadi bukan untuk kesenangan. Tapi untuk mengalihkan perasaannya. Tentu tidak mungkin ia menerangkan demikian, itu masalah pribadi. Melihat wajah Aoi kembali, Nozomi mencoba mengikuti senyum itu. Kali ini ia tidak akan berpura-pura pada dirinya, ia akan bernyanyi, melepas semuanya.
“Kamu bisa mainkan gitar untuk lagu apa?” Nozomi bertanya dengan senyum yang tulus, karena bersyukur Aoi telah tanpa sadar sedang menghiburnya.
“Kamu bisa apa?”
Nozomi mengangguk-angguk, ia lalu memasangkan headset ke telinga Aoi. Sebuah lagu dari mp3 disetelnya. Itu lagi yang ceria. Aoi menyanggupinya. Mulailah ia memainkan gitar.
Nozomi malu-malu, memancing dirinya bernyanyi. Disingkirkanya pikirannya bahwa ia sednag bersama orang selain orang rumah, yang ada di pikirannya adalah bagaimana hatinya merasa bahagia kini. Ia bernyanyi, dan Aoi bermain gitar.
Begitu seterusnya berganti-ganti lagu sampai Nozomi bisa menikmatinya dan Aoi juga menikmati kehangatan ini. Baru sadar bahwa Nozomi si pendiam itu teman yang menyenangkan.
Saat bel masuk berbunyi, lagu dan gitar dihentikan. Mereka segera turun sambil tersenyum dan tertawa. Mengetahui Aoi ini bisa nempel ke siapa pun, mudah dekat dengan siapa pun, Nozomi meminta supaya Aoi jangan beritau dulu mengenai diri Nozomi yang suka bernyanyi. Aoi pun menepati janji itu.
Waktu itu, hati Nozomi sudah bisa mengenal rasa senang meski ia masih bisa melihat Yuto di kelas. Kedekatan Nozomi dan Aoi membuat anak-anak sekelas penasaran, termasuk Yuto yang mengetahui kemarin Nozomi menangis.
>>>のぞみ<<<
Berawal dari keisengan. Lama-lama bernyanyi dan bergitar bersama terus dilakukan Nozomi dan Aoi setiap jam istirahat setelah sebelumnya mereka menikmati bekal mereka. Teman-teman yang penasaran dengan mereka, ada yang mengikuti ke atas. Suara Nozomi ketahuan. Nozomi pun ditagih bernyanyi di kelas karena mata-mata yang penasaran dengan Nozomi dan Aoi yang selalu berdua itu menyebarkan tentang suara merdu Nozomi.
Tetapi Nozomi tidak pernah mau memperdengarkan suaranya. Ia malah sedang mengkondisikan dirinya karena itu artinya Yuto akan mendengarnya. Sementara, ingat Yuto maka ia perasaannya akan kelabu. Terlebih belakangan ini, ia dan Sayumi sudah tidak lagi bicara sejak Nozomi tidur dengan ibu. Nozomi sudah tidak lagi tau perkembangan kisah cinta Yuto dan Sayumi. Begitu juga Yuto yang ternyata tidak lagi berbicara dengannya, seperti menjauhi.
Melihat Nozomi yang tertekan itu, Aoi meminta supaya tidak memaksa Nozomi. Nozomi hanya bisa bernyanyi bila bersama Aoi. Karena Nozomi pemalu akut, maka temanteman sekelas yang mengikuti Nozomi dan Aoi tiap ke atap, hanya bisa mengintip seraya merekam video kegiatan mereka. Aoi yang mengetahui itu, meminta untuk tidak menyebarkannya karena Nozomi masih belum bisa siap terbuka perihal suara emasnya. Akhirnya video itu hanya untuk kesenangan pemiliknya saja dan beberapa temannya saja.

Ketika Nozomi dan Aoi sedang dekat-dekatnya, Yuto dan Sayumi malah sedang menjalani hubungan yang rumit sebagai orang yang berpacaran.
Sayumi tidak pernah bercerita mengenai dirinya yang ternyata memang tidak sebaik fisiknya. Ia malah mengatakan hal-hal buruk mengenai Nozomi. Membuat Yuto semakin tidak senang, dan yakin bahwa hubungan adik kakak Nozomi dna Sayumi memang tidak baik. Hubungan baik yang selama dikenal banyak anak-anak di sekolah itu ternyata hanya tipuan. Tapi untuk apa? begitu pikir Yuto.
Merasa tidak ada keterbukaan, belum lagi Nozomi juga tidak mau terbuka, Yuto memutuskan untuk memutus hubungan dengan Sayumi. Meski tidak tega dengan airmata Sayumi, tetapi kata-kata putus itu telah keluar. Yuto butuh keterbukaan, tetapi yang didapatkan adalah keabu-abuan. Kecewa, pada Sayumi sebagai sang pacar dan kecewa pada Nozomi yang merupakan kakak sang pacar yang juga temannya.
Kabar putus itu tidak pernah terungkap sampai Sayumi kedapatan jalan dengan anak cowok lain. Barulah anak-anak di sekolah baru tau bahwa Yuto dan Sayumi sudah putus. Para gadis gatal langsung berlomba merebut Yuto untuk menjadi pacar mereka. Tetapi Yuto tidak bisa lekas membuka hati untuk gadis lain sampai ia mendapat penjelasan atas hubungan Nozomi dan Sayumi. Parahnya, Yuto juga tidak bisa mendekati Nozomi karena Nozomi selalu bersama Aoi dan selalu terlihat ceria.
Hingga sekolah mengadakan bunkasai, kerjasama seluruh anak-anak di sekolah bahkan guru-guru sangat mendukung berhasilnya bunkasai itu. Saat menyiapkan bunkasai untuk kelas masing-masing itulah, Yuto menemui Nozomi, berbasa-basi menanyai kabar sampai menanyai Sayumi, lalu hubungan sebenarnya Nozomi dengan Sayumi.
Wajah Nozomi langsung berubah dari biasa saja menjadi muram saat membahas Sayumi. Ia langsung menghindar, berpura-pura misalnya ingin ke toilet atau mencari sesuatu untuk bunkasai. Dugaan Yuto semakin bula akan hubungan buruk kakak adik itu, bila melihat wajah muram Nozomi.
Dan bunkasai berlangsung. Semua pengunjung adalah para siswa-siswi dari sekolah lain yang diundang. Berbagai pertunjukkan, lomba, dagangan, parody, drama, rumah hantu, band dan lainnya. Anak-anak di kelas atas mulai membuang-buang kertas saat menonton pertunjukkan lawak di lapangan tengah. Sampah berserakan.
Yuto berada di lapangan menonton aksi lawakan yang sebenarnya telah memancing senyumnya tetapi hatinya tetap  resah. Lalu ia merasa bosan, dan akan ke gedung sekolah. Saat para anak-anak di lantai atas yang membuang-buang kertas-kertas yang sudah disobek itulah, Yuto menemukan satu kertas kecil mirip tanabata. Yuto menjumputnya.
Maaf, rasa ini masih ada. Aku ternyata masih menyukaimu. Tetapi aku ingin melihat adikku berbicara denganku. Ah, memang adikku itu sangat cantik sekali, jadi tidak salah kalau kau mencintainya…
Hari ini, senin telah memendungkan hatiku. Hahahaha… berlebihan! Hiperbola!
Yuto membaca tulisan itu. Ia membulatkan matanya. Ia mengenal tulisan itu. Di awal-awal menjadi teman di kelas 2, ia sering belajar bersama dengan pemilik tulisan itu. Seorang gadis yang selalu protes karena diri Yuto yang tinggi duduk di depan gadis itu saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, menghalangi pandangan. Gadis itu memiliki tulisan yang indah hingga Yuto tertarik dengan gadis itu karena tulisan indahnya itu, di samping karena kepediamnya gadis itu. Tapi rasa tertarik itu tidak pernah menggetarkan hati Yuto sampai Yuto melihat bahwa adik gadis itu jauh lebih cantik.
Nozomi…???
Yuto meremas kertas itu, tidak menyangka bahwa permasalahan Nozomi dan Sayumi karena diri Yuto. Cinta segitiga oleh dua orang bersaudara.
Naik turun nafas Yuto, ia merasa telah memecah keakraban hubungan adik kakak itu.

Tetapi pada kenyataannya, hubungan yang sebenarnya adik kakak itu memang tidak baik meski Yuto tidak hadir. Yuto hanya tidak tau saja sisi lain Sayumi yang sengaja disembunyikannya demi mendapat perhatian orang. Rasa sombong akan kecantikannya itulah yang membuat Sayumi buta hati.

Part 7 :Tawa Ibu (That's What Make You Beautiful)

Adik kakak itu memasang wajah ‘baik-baik’ saja saat tiba di rumah. Ibu dan ayah senang karena belakangan putri-putri mereka sudah semakin akur. Tetapi, saat-saat mereka sedang senang itulah, sebenarnya mereka sedang ditipu oleh anak-anak mereka sendiri.
Di kamar, Sayumi melempar sembarang tasnya. Ia memandang sengit kakaknya. Menghampiri, lalu menarik bahu pakaian kakaknya itu. Matanya melotot. Ia masih gergetan karena Nozomi tadi tidak menjawab pertanyaannya tadi di taiikukan kenapa kakaknya itu menangis. Jawaban yang tidak didapat, membuat Sayumi hilang akal. Mencubit dan melukai, malah itu yang membuat kakaknya keras kepala tidak berterus terang karena sebal di hati berbuah diam.
Memang begitu, Nozomi marah hanya bisa diam. Kalau bicara, biasanya akan menangis. Tetapi diamnya kini mengandung banyak alasan. Alasan sakit karena dicubit sampai berdarah dan dipukul hingga lebam adalah alasan ke dua. Alasan terutamanya, adalah tidak mungkin ia berterus terang dan tidak akan pernah berterus terang bahwa sebenarnya ia masih menyukai Yuto. Parahnya, Yuto malah melihat airmatanya tadi sebelum Nozomi ke taiikukan dan Yuto ‘mengadu’ ke Sayumi. Yuto tidak tau hubungan adik kakak itu.
“Sekali lagi gua bilang, lu kenapa? Jangan diam aja dong!” Sayumi gerget. “Pake sok-sok nangis. Mau cari perhatian?”
Nozomi memandang sengit adiknya. Semakin dipaksa, apalagi dengan cara kekerasan, membuat Nozomi semakin keras untuk tutup mulut. Masa bodoh, ia menepis tangan Sayumi yang masih bersarang di bahunya. Tetapi Sayumi tetap bergeming. Nozomi merasa aneh dengan tatapan itu. Tidak biasanya Sayumi sebegini memaksanya. Biasanya kalau sudah mencubit dan memukul, Sayumi akan berhenti sendiri setelah marah-marah.
Tetapi kini, ia melihat mata lain di mata Sayumi. Nozomi merasa seolah-olah tatapan adiknya itu bertanya apakah Nozomi masih menyukai Yuto atau tidak.
“Aku lapar! Aku tidak bisa berbicara kalau hati dongkol.”
“Dongkol? Yang dongkol itu gua!”  Sayumi menendang Nozomi.
Nozomi reflek berdiri, akan menantang adiknya berkelahi. Tetapi lama matanya dan mata adiknya bersitatap, Nozomi memilih menurunkan pandangannya. Berganti pakaian, lalu keluar menuju dapur, membantu ibu untuk menyiapkan makan malam. Tetapi ia lupa untuk menyingkirkan wajahnya yang ditekuk itu. Hingga ibu menegurnya.
“Kenapa? Abis berantem?”
“Adik kakak gak berantem gak afdol, bu!” Nozomi menjawab asal.
Ibu tersenyum bijak. Ia lalu diam, meneruskan memotong sayur-mayur, meminta Nozomi membantu pekerjaan dapur yang lain. Tiba-tiba terdengar suara bedebam dari kamar putri, kamar Nozomi dan Sayumi. Tidak lama, terdengar suara ayah marah-marah karena Sayumi mengeluarkan semua milik Nozomi di kamar.
“Kau tidak bisa menguasai kamar itu, Sayu! Kamar itu ayah buat untuk kalian berdua!”
Mendengar itu, Nozomi dan ibu saling berpandangan sebelum akhirnya mereka meninggalkan pekerjaan dapur, keluar. Mata mereka membulat melihat semua barang-barang Nozomi sudah dikeluarkan.
“Sayu!” ibu ikut marah. “Apa maksudmu!?”
“Ibu tanya sama anak kesayangan ibu itu!” teriak Sayumi di dalam kamar.
“Eh?” Ibu lalu memandang Nozomi. Pun ayah.
Sialan! Nozomi merutuk di dalam hati. Ayah ibu memandangnya seraya bertanya ada apa. Sialan, karena tidak mungkin Nozomi berterus terang. Masak karena urusan cowok, sampai sebegininya? Ini berlebihan!
“Nozomi gak tau, bu. Ini salah paham. Tadi itu Nozomi kelilipan, eh pacarnya Sayumi liat dan ngadu ke Sayumi. Sayumi nyamperin Nozomi. Nozomi gak bisa jawab kalau lagi lapar. Ibu tau sendiri Nozomi gak konsentrasi ngapa-ngapain kalau udah lapar. Tapi dia terus maksa Nozomi jawab. Nozomi udah pusing karena kelaparan tadi.” Nozomi terpaksa berbohong.
Ayah menganga, jawaban Nozomi konyol.
“Hanya itu?” Ibu tidak percaya. “Kalian ini! Bikin ibu pusing tau gak! Masalahnya apaan, marahnya udah kayak godzila ngamuk!” Ibu mendecis, lalu melenggang ke dapur. Tidak habis pikir bahwa permasalahannya sepele. “Kamu lebih baik bantu ibu. Biarin anak itu ngamuk!”
“Ok, bu.” Nozomi mengangguk, menyusul. Di dalam hati ia bersorak bisa meyakinkan ibu dan ayah.
Sementara ayah, memberitau Sayumi mengenai alasan diam Nozomi, tetapi tetap saja kamar tidak dibuka. Ayah lalu masa bodo karena Sayumi berteriak ‘diam’. Nozomi dan ibu yang mendengarnya hanya diam, fokus ke pekerjaan di dapur.
“Anak itu… siapa sih pacarnya? Kok ada yang mau?” Ibu membuka obrolan.
Nozomi tersenyum bijak mendengarnya. “Kok ibu bicara begitu sih? Dia anak ibu.”
“Tapi ibu marah gak kayak gitu. Coba ibu tanya, siapa pacarnya? Ibu takut, malah pacarnya yang buat dia begitu!”
“Pacarnya anak baik kok, bu. Teman Nozomi.”
“Kenapa mereka bisa jadian? Ibu mikir, anak itu gak akan ada banyak yang suka!”
“Tapi pacarnya suka,” Nozomi senang menggodai ibunya meski ia tidak suka topik ini.
“Ya, paling hanya karena cantik doang. Cantik doang, buat apa? Kalau benar katamu, kalau pacarnya itu anak baik, itu artinya pacarnya itu telah ketipu! Karena gak tau siapa Sayu sebenarnya! Mau secantik apa, kalau akhlaknya jelek, gak akan ada yang suka!”
Nozomi hanya menghela nafas. Ia tidak bisa berkomentar lebih jauh. Ibunya memang begitu, gerget dengan Sayumi yang hanya cantik fisik. Kecantikan itu turun dari ibu, tetapi Sayumi tidak mengikuti sifat ibu yang memiliki kepribadian dan karakter yang baik. Tidak bermuka dua.
“Memangnya bagaimana orangnya? Pacarnya Sayu itu?” Rupanya ibu penasaran.
Hampir Nozomi berdecak, tidak suka dengan pertanyaan itu. Tapi ia harus menahan supaya tidak terlihat bahwa sebenarnya ia menyukai pacar adiknya itu. “Dia baik, pintar. Orangnya tinggi. Banyak yang naksir karena gantengnya itu.”
“Iya? Keren dong Sayu bisa pacaran dengan anak kayak gitu?” ibu membayangkan menantu idaman. “Kamu sendiri, apa sudah ada yang punya?”
“Nozomi gak ngerti pacaran buat apaan, bu. Sudahlah, bu. Jangan bahas pacaran kalau itu tentang Nozomi.”
“Cie… cemburu… adiknya udah duluan punya…”
“Nozomi gak cemburu…”
“Tapi masak kamu mau kalah sih sama Sayu? Apa tidak ada yang kamu suka?”
Nozomi mendecis pelan. Ia mencari topik lain untuk membanting setir. “Bu, Nozomi takut kalau masih bahas pacaran tentang Nozomi, makanan ini tidak akan enak…”
“Hahaha… baper…” ibu tertawa.

Nozomi tidak bisa menyembunyikan senyumnya karena tawa ibu. Tawa ibu, hanya itu yang bisa membuat hatinya hangat. Perlahab, ibu tidak lagi membahas tentang pacaran. Ia mencoba menenggang perasaan putri pertamanya. Tetapi selama memasak, ibu terus berbicara bagaimana menjadi istri yang baik. Nozomi hanya diam, masa bodoh meski ia ingin berkomentar bahwa pikiran ibu tentang menantu terlalu cepat untuk saat ini.

Part 6 : Wajah memendam Amarah (That's What Make You Beautiful)

Rasa kecewa teramat dalam terhadap sang pacar bahwa ternyata sang pacar bermuka dua. Sayumi, ia pandai memoles diri dan menampilkan diri terlihat sempurna di mata umum. Tetapi hal itu telah luput oleh pengamatan Nakaken sebagai penggemar misterius, yang kini telah menanggalkan statusnya sebagai penggemar misterius. Keterkejutannya akan wajah lain Sayumi membuat Nakaken mencari tau bagaimana sebenarnya hubungan beradik kakak Nozomi dan Sayumi. Pengamatan demi pengamatan tidak pernah ketahuan, baru di taiikukan ia ketahuan.
Yuto terkejut bukan main mendengarnya. Nafanya terlihat naik turun karena saking tidak menyangkanya. Wajah itu menunjukkan ekspresi tidak menyangka. Baru pertama kali ini ia bertemu seorang gadis cantik, tetapi menyimpan bau busuk di belakangnya. Tetapi anehnya, mengapa Nozomi hanya diam saja diperlakukan buruk?
Rasa kecewa yang bercampur aduk dengan ketekejutan. Yuto berusaha mengendalikan diri. Mengingat Nozomi menangis sebelum Yuto menemui Sayumi tadi, membuat Yuto urung sejenak menghampiri Nozomi. Ia mengira, pasti ada yang tidak beres antara Nozomi dengan Sayumi. Tapi sekali lagi, kenapa Nozomi diam saja? Dia itu kakak. Seharusnya bisa lebih tegas!
Yuto berdecak sebal memikirkannya. Hanya saat jam belajar mengajar berlangsung, perhatiannya teralihkan. Sesekali memandang Nozomi yang duduk jauh di depannya. Jam pulang sekolah, ia akan menemui Nozomi.
Bermaksud ingin berbicara berdua saat anak-anak sekelas telah keluar, tetapi Nozomi malah masuk ke kerumunan anak-anak sekelas untuk keluar kelas. Mau tidak mau, Yuto harus mengikutinya hingga ia berhasil meraih pergelangan tangan Nozomi sebelum Nozomi benr-benar melangkah jauh dari kelas.
“Aku mau bicara.” Singkat dan padat, Yuto berkata demikian dengan raut wajah serius. Itu ekspresi yang menyeramkan bagi Nozomi karena Nozomi tidak pernah melihat wajah seserius itu, ekspresi wajah yang lebih pada menyimpan amarah.
Nozomi menundukkan wajah, tidak berani melihat ekspresi wajah itu. Ia juga tidak mau mata bekas menangisnya masih bisa terlihat. Ia tidak memiliki luang untuk berbohong demi memanipulasi apa yang dirasakannya.
“No-chan!” Yuto mengangkat dagu itu, meminta supaya Nozomi menatapnya.
Kedua mata mereka bertemu. Nozomi menatap takut-takut, berusaha mengendalikan diri supaya tidak terlihat memang takut-takut. Tetapi jemari Yuto lama bersarang di dagunya. Tiba-tiba, Yuto merasakan debar jantungnya yang meningkat saat melakukan itu pada Nozomi. Wajah seriusnya berubah menjadi gugup.
“Maaf!” Yuto segera menurunkan tangannya, membuang muka.
“Maaf juga.” Nozomi akan membalikkan badan, ia tidak mau berbicara banyak dengan Yuto. Tetapi sekali lagi, pergelangan tangannya diraih Yuto.
“Maaf untuk apa? Aku memanggil No-chan karena aku ingin nanya kenapa kamu nangis.” Yuto telah melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Nozomi.
“Eh? Untuk apa? Aku tidak bisa cerita. Meski kau orangtuaku, aku tidak akan bercerita.”
“Hah? Apa hubungannya dengan orangtuamu?”
“Hubungannya karena biasanya seorang anak akan butuh orangtua saat bermasalah. Maka, aku tidak melakukan itu. Kekhawatiran mereka malah membuatku tidak tenang.”
Yuto tertegun mendengarnya. Tetapi kembali lagi, ia berkata, “Baiklah. Aku tidak akan ikut campur. Tapi masalahnya, tadi aku liat kamu dan Sayu-chan. Kenapa dia melukaimu? Kenapa kamu diam saja? Ada apa dengan kalian?”
“Seperti yang kubilang. Aku tidak akan bercerita, meski orang itu memaksa. Sakit fisik tidak apa-apanya dengan sakit hati!” Nozomi menahan hati saat mengatakannya. Tidak mau ia berdua dengan Yuto, ia kembali membalikkan badan. Tetapi lagi-lagi pergelangan tangan itu kembali diraih si tiang.
“Kamu belum menjelaskan semuanya.” Yuto menghela nafas saat mengatakannya.
“Maksud kamu?”
“Tentang Sayu-chan. Selama ini aku tanya-tanya kamu, kamu menceritakan yang baik-baiknya. Kenapa kamu gak cerita dia punya sisi buruk kayak tadi?”
“Setiap orang punya keburukan. Masak iya aku menceritakan sisi buruk saudaraku? Aku ini kakaknya. Dia akan mencontohku. Aku harus melindunginya.”
“Apa? Melindungi? Kau bahkan dilukainya!”
“Kau tidak tau apa-apa, Yuto-kun.”
“Maka dari itu karena aku tidak tau apa-apa, beritau aku! Kenapa kamu sembunyika hal lain tentang Sayumi? Aku tau tiap orang punya keburukan. Tetapi keburukan yang seperti apa dulu? Keburukan bila memang namanya keburukan, bukan untuk dipelihara, tetapi untuk dikurangi. Kecuali kalau orang bersangkutan memang berhati batu karena tidak mau mendengar nasihat orang lain!”
Nozomi menelan air ludah mendengarnya. Ia memandang Yuto dengan wajah ke bawah tetapi pandangan ke atas. Ia tidak bisa membalas ucapab Yuto karena memang apa yang diucapkan Yuto adalah Sayumi yang sebenarnya, gadis berhati batu.
Nozomi tertunduk.
“Kenapa kamu diam saja?” Yuto menunggu Nozomi menyahut.
“Sudah kubilang, aku ini kakaknya! Kamu gak tau apa-apa!” Nozomi mengangkat wajahnya, hampir memaki saat mengatakan itu. Airmatanya meluap.
“No-chan…???” Yuto terkejut dengan Nozomi yang marah tetapi terlihat seperti menahan sesuatu dari dalam hati. Sesuatu yang menyesakkan.
“Maaf, sekali lagi aku minta maaf! Aku mau pulang!” Nozomi mendesis. Ia tidak bisa lagi menahan, dan membalikkan badan menuju jalan pulang.
Yuto terpaku diam di tempat. Memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan Nozomi. Padahal ia ingin mengonfirmasi apa yang diucapkan Nakaken, tetapi yang didapatnya malah Nozomi yang menangis, kembali.

Dugaan-dugaan buruk muncul di kepalanya. Mengingat kejadian Sayumi yang memukul Nozomi tadi, ia harus mengusutnya besok. Sebab Sayumi sudah terlihat pulang lebih dulu setelah memandang Yuto dengan wajah takut. Takut karena sisi lainnya terbongkar.

Part 5 : Izin Pacaran (That's What Make You Beautiful)

Ayah ibu mengetahui putri keduanya pacaran. Saat di mall saat sedang melihat diskon besar-besaran hingga masuk mall dan melihat Sayumi sedang bergandengan tangan dengan seorang pemuda jangkung. Keduanya terlihat mesra, saling memegangi pinggang sembari melihat-lihat sekitar. Sesekali si pemuda mengusap wajah Sayumi, memainkan bibir Sayumi seperti memanyunkan lalu tersenyum masam, begitu seterusnya. Dua anak muda itu terlihat sedang dimabuk asmara. Satu kali, si jangkung itu mengecup rambut Sayumi.
Ayah tidak bisa menghampirinya, hanya bisa membuntuti dan lalu memilih pulang. Hatinya kecewa telah ditipu, karena Sayumi mengatakan bahwa hari itu ia akan belajar di rumah teman. Tetapi apa yang dikatakan tidak sesuai apa yang dilihat. Sepulang ke rumah, ayah menghampiri Nozomi dan meminta pertanggungjawaban sebagai kakak.
Nozomi terkejut mendengarnya. Jantungnya seperti disambar petir. Tetapi ia berusaha ‘memaklumi’, karena Sayumi dan Yuto memang sedang berbunga-bunganya. Namun rasa cemburu membuatnya tidak bisa berfikir jernih untuk mencari kebohongan demi melindungi sang adik. Terpaksa, ia berterus terang. Nozomi menjadi makian ayah karena tidak bisa menjaga adiknya. Mendengar makian ayah, ditambah rasa sakit karena mendengar apa yang telah dilihat ayah, Nozomi tidak bisa lagi menahan tangis. Segera ibu melerai, merengkuh Nozomi.
 Di dalam kamar, ibu meminta penjelasan Nozomi secara baik-baik mengenai Sayumi. Dengan bersikap seolah-olah masih membela Sayumi¾padahal airmatanya adalah karena Yuto dan Sayumi¾Nozomi meminta supaya ibu jangan mengekangnya dan adiknya.
“Mungkin memang sudah waktunya, bu. Sayumi sudah besar…”
Ibu tersenyum bijak. “Sudah besar? Apa itu tandanya kau juga sudah ada yang punya?” tanyanya seraya tersenyum jahil.
Nozomi menurunkan pandangannya. “Nozomi tidak memikirkan hal itu dulu…”
“Ayo, nak. Tidak apa. Jujur saja. Ibu janji tidak akan cerita pada ayah. Ayahmu itu berlebihan. Ibumu ini juga pernah pacaran. Maklum, ayahmu itu belum pernah pacaran kecuali dijodohin ibu untuk menikah oleh orangtua kamu.”
“Oh? Jadi ibu…” Nozomi tertarik dengan kisah cinta ibunya.
“Iya, nak. Kalau memang kamu memiliki seseorang yang spesial, tidak apa kau menjalin hubungan dengannya. Asal, kau jaga diri. Jangan pernah mencoba seks bebas.”
Nozomi tersenyum mendengarnya karena ibunya bisa diajak berbicara, tetapi juga membenci mendengarnya karena setiap orang yang disuka selalu direbut Sayumi. Ingin ia utarakan itu, tetapi itu terlalu kekanak-kanakkan. Ia pun memilih pertanyaan lain demi mengalihkan apa yang dirasakannya. “Lalu bagaimana dengan apa yang dilihat ayah?”
“Baik kamu bicara dengan Sayumi. Ibu khawatir Sayumi akan melewati batas. Kamu bisa kan bicara padanya? Kau tua dia susah diatur. Kalian lagi gak bermasalah kan?”
“Nozomi akan bicara pada Sayumi.”
Ibu mengangguk, ia mengecup sayang kening putri pertamanya.
Saat Sayumi pulang, ayah marah-marah tentang apa yang dilihatnya. Dan ibu segera melerai, meminta supaya mengizinkan saja Sayumi pacaran asal tidak mengenal seks bebas. Ayah pun terdiam, mencoba memahami darah anak muda dari anak-anaknya. Kalau sudah ibu yang bicara, maka ayah akan menurut. Hanya ibu yang bisa meredam amarah ayah.
>>>のぞみ<<<
Esoknya, Sayumi menceritakan hal itu pada Yuto. Mengatakan amarah ayah, sampai ayah akhirnya memberi izin untuk pacaran. Mendengar itu, Yuto tidak bisa menahan diri untuk memeluk pacaranya itu dengan gembira. Saat itu di jalan menuju sekolah. Nozomi dan Sayumi yang jalan berdua, bertemu Yuto di tengah jalan. Nozomi menurunkan pandangannya saat Sayumi dan Yuto berpelukan.
Melihat Nozomi terlihat murung, Yuto bertanya, “ No-chan? Kau tidak apa-apa?”
“Eh?” Sayumi melepas pelukannya. Ia memandang kakaknya dan pacarnya bergantian. Ia lalu kembali menceriakan wajahnya dan mengatakan bahwa kata izin dari ayah tidak akan keluar dari mulut ayah kalau Nozomi tidak berbicara pada ibu.
“Oh? Iya?” Yuto kembali memasang wajah senangnya. “Terima kasih, No-chan!”
Nozomi mengangguk senyum. Senyum itu terlihat hambar. Mata itu juga terus menunduk. Dengan suara datar, ia mengajak sepasang kekasih itu kembai jalan ke sekolah. Selama jalan bertiga itu, diam-diam Yuto curiga kenapa Nozomi terus terlihat muram.
Kemuraman yang terus terlihat meski sudah di kelas. Meski Ninomiya-sensei sudah bekerja sama menjahilinya supaya tertawa, bahkan meski Yabu-sensei memelototinya karena ia tertarik juga memancing tawa Nozomi. Tetapi Nozomi hanya tersenyum demi menghargai guru-guru itu. Hatinya, tetap berderai tidak terbentuk. Ia tidak berselera belajar. Diam-diam di sela-sela tugasnya telah selesai ia menulis sesuatu di secarik kertas yang dirobeknya. Menulis sesuatu yang juga sama muramnya dengan dirinya kini.
Kemuraman itu tidak bisa dilihat Yuto karena ia duduk di belakang sekali. Malah, saat jam istirahat akan melewati Nozomi untuk keluar kelas, ia menegur dengan senyum, meminta supaya Nozomi jangan memasang wajah muram. Tetapi langkah Yuto terhenti karena ia melihat airmata Nozomi.
“No-chan?” Rasa khawatir Yuto tidak palsu.
Nozomi yang sudah ketahuan menangis, segera keluar kelas. Ia tidak mau Yuto melihat airmatanya yang akan menderas. Dicarinya tempat sepi, ia akan menangis di sana. Lepas.
>>>のぞみ<<<
Itu airmata pertama yang Yuto lihat dari Nozomi. Ia merasa bahwa memang ada yang tidak beres dengan temannya itu. Khawatir, ia lalu menceritakanya pada Sayumi. Meminta supaya Sayumi berbicara pada Nozomi.
Kecurigaan muncul dari diri Sayumi setelah sang pacar mengutarakan itu. Ia bukan tipikal yang perhatian dengan kesedihan kakaknya. Tetapi ia tidak bisa menolak. Demi sang pacar, ia memenuhi permintaan itu. Jam istirahat itu, Sayumi diminta mencari Nozomi dan makan bersama Nozomi. Sementara Yuto, ia akan diam-diam mengikuti. Tanpa disadarinya, Nakaken juga mengikuti.

Nozomi berada di taiikukan. Yuto seharusnya sudah menduga demikian. Ia mengamati dari jauh, mengintip. Sayumi mendekati Nozomi. Duduk berdua berhadapan. Terlihat Nozomi sedang makan denga wajah murung seorang diri.
Sayumi mulai bertanya kenapa kakaknya itu. Tetapi tidak terlihat bahwa Nozomi menjawab selain menunduk. Sayumi pun ikut diam, mengikuti sang kakak. Lama-lama, Sayumi berkacak pinggang, mendekati kakaknya, menepuk pelan kepala kakaknya dengan songong. Nozomi tetap diam. Sampai Sayumi sebal, ia mendekati kakaknya sekali lagi, mengambil kotak makanan dan minuman kakaknya, menagih jawaban seperti preman menagih hutang. Nozomi yang semakin sebal, mencubit lengan kakaknya kuat-kuat sampai wajah kakaknya berekspresi kesakitan.
Yuto terkejut bukan main. Ia membelalakkan mata. Inilah sisi sebenarnya kehidupan Nozomi dan Sayumi yang sebenarnya? pikirnya.
Tidak hanya sampai di situ, Sayumi lalu menampar kakaknya. Kakaknya hanya memandang sengit Sayumi. Sampai Sayumi berdiri, membawa bekal yang tidak jadi dibukanya. Ketika itulah, Nozomi yang bermaksud ingin meraih tangan Sayumi, malah kena kotak bekal makanan Sayumi sampai jatuh dan isinya jatuh berserakan. Reflek, Sayumi memukul kepala kakaknya dengan kotak makanan. Keras-keras.
Pemandangan itu tidak bisa ditolerir, Yuto segera masuk. Kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah nama sang pacar.
Sayumi menoleh, kaget. Tidak sengaja ia melihat Nakaken yang juga akan masuk, tetapi kembali keluar lagi setelah melihat Sayumi melihatnya.
“Apa yang kamu lakukan ke kakak kamu?!” Yuto menarik tangan Sayumi, menatap kecewa. Yang ditatap, menghindar dari pandangan.
Melihat dua sejoli itu bertengkar, Nozomi segera bergegas mengemas bekalnya. Ia berlari keluar taiikukan. Ia tidak mau ikut campur. Ia berbuat masa bodoh saat Yuto memanggilnya. Ia tidak mau menjadi pemecah belah hubungan Yuto dan Sayumi.
Nozomi hilang dari pandangan, Yuto heran. Tidak sengaja, ia melihat seseorang yang diduga sedang mengintip. Dengan tangan yang masih memegang lengan Sayumi, Yuto berjalan mendekati si pengintip. Dengan sebuah ide jahil, ia kejutkan si pengintip yang ternyata Nakaken itu. Yuto dan Sayumi tergelaj melihat reaksi kaget Nakaken.
“Ngapaian lu di sini?” tanya Yuto dengan galak-galak jenaka.
Nakaken terlihat gelagapan, karena ia tertangkap basah. Saat itulah, perlahan Yuto memandag Sayumi. Tatapan Yuto menagih jawaban Sayumi atas apa yang dilihatnya tadi. Kenapa Sayumi memukul Nozomi.
Yuto melontarkan pertanyaan yang sama. Menunggu. Bahkan Nakaken pun. Tetapi Sayumi meminta supaya tangannya dilepas dulu. Namun saat dilepas itulah, ia kabur. Yuto mengejar, Nakaken mencegah. Sebuah isyarat mata dari Nakaken pada Yuto.
“Lu udah ketipu sama cewek itu!”
“Apa lu bilang?”
Nakaken tidak segera menjawab. Ia menarik nafas panjang. Ia lalu mengaku bahwa ia sempat menyukai Sayumi. Tapi semuanya berubah sejak Nakaken memutuskan menjadi penggemar misterius bagi Sayumi, dan mendapat sesuatu yang mengejutkan dari hasil mata-matanya sebagai penggemar misterius, bukan kini ia sudah menjadi mantan penggemar.

Dengan perasaan dirundung kekecewaan teramat sangat, Nakaken menceritakan hasil pengamatannya terhadap Sayumi, bahkan hubungan Sayumi dengan Nozomi sebagai kakak beradik. Topeng mereka terutama topeng Sayumi segera dibongkar.