Genre : Dewasa, Thriller
Penulis : Andeke Parsi
Tokoh : Araki Chisato, Nakajima yuto, Ino Kei, Yabu Kouta.
Penulis : Andeke Parsi
Tokoh : Araki Chisato, Nakajima yuto, Ino Kei, Yabu Kouta.
Menderita penyakit modern, membuat Chisato mencari-cari dokter untuk mengetahui apa obat penyakit yang dideritanya. Ia tidak mengungkapkan hal itu pada Nakajima Yuto temannya semasa SMA, sebab Nakajima Yuto yang dipanggil Yuto adalah dokter anak, bukan dokter penyakit dalam yang diharapkan Chisato. Lalu, Chisato menemukan satu kontak, bernama Ino Kei yang merupakan seorang duda beranak satu. Namun, bukan kesembuhan yang didapat, Chisato malah menjadi korban malpraktik Ino Kei.
Pertemuan
kami kedua saat di rumah sakit, dia telah menjadi dokter anak.
Aku
ke rumah sakit untuk kontrol penyakit yang lama kuidap sejak aku kuliah. Tidak
ada yang tahu itu kecuali keluargaku. Aku mengidap penyakit yang maish
terbilang baru di dunia medis. Hipokalemia, suatu kondisi tubuh yang kekurangan
zat kalium dalam tubuh. Aku menderita penyakit itu saat kuliah. Awalnya pincang
berkali-kali di waktu yang tidak menentu. Dan sembuh saat aku bangun. Namun
pada akhirnya aku dirawat dengan lumpuh di sekujur tubuh. banyak yang mengira
flu tulang, cikungunya. Tetapi setelah diperiksa, aku menderita hipokalemia.
Obatnya hanya infus bila sedang kumat, obat minum bila sedang baik-baik saja.
Selama hidupku, aku akan minum obat terus menerus supaya aku bisa bertahan
hidup.
Penyakit
itu masih belum terungkap penyebabnya secara pasti. Tiga kali dirawat, tiga
kali mendapat mendengar hipotesa dokter mengenai penyebab penyakit itu.
Pertama, karena aku kelainan gen; dokter kedua mengatakan karena zat imunku
mengalami trauma hingga tidak mengenal lawan dan kawan, maka menyerang ginjal
yang terus mengeluarkan kalium dari dalam tubuh; tetapi dokter ketiga
mengatakan karena ada kesalahan dari ginjalku. Aku bersyukur, obatnya tidak
dengan cuci darah. Sejak itu, aku jadi rajin mencari hal-hal seputar kesehatan
terutama tentang penyakitku.
Penyakit
ini terbilang baru dan sedang dicari penyebab dan obat yang sebenarnya supaya
bisa sembuh total. Aku pun sering kontrol setelah tiga kali dirawat. Tetapi
pada satu sesi aku kontrol, seorang dokter bertanya padaku apakah aku sudah
menikah apa belum. Pertanyaan itu biasanya diutarakan pada penderita kanker.
Sebab bibiku menderita kanker payudara, apakah sudah punya anak apa belum.
Fisik si penderita bisa berpengaruh pada anaknya nanti atau malah tidak bisa
punya anak. Aku yang saat itu ‘takut’ dengan pernikahan karena melihat
pernikahan ayah ibu, menjadi menangis setelah mendengar vonis dokter akan
penyakitku terhadap anakku kelak. Dan aku, tidak pernah bercerita pada siapa
pun tentang efek ke keturunanku nanti sampai akhirnya ibu meninggal karena
sakit jantung oleh tindakan ayah yang senang main perempuan.
Sejak
ibu meninggallah, aku mulai memperempuankan diri. Tetapi lagi, aku bertemu
dengan Yutti pada satu sesi kontrol dari rumah sakit. Yutti tidak tahu tentang
penyakitku. Dan ia selalu ceria bertemu denganku. Kami memang tidak pernah
bertengkar sejak saling mengenal.
“Eh?
Kamu kerja di sini?” Aku mengamati pakaian Yutti.
“Latihan
aja, jadi dokter kecil. Hahaha. Kamu di sini? Duh, ketemu mulu kita!”
“Anu…”
aku tidak bisa mengungkapkan mengenai penyakitku. “Emang kamu mau jadi dokter
apa sih?”
“Dokter
anak!”
Mendengar
kata ‘anak’, aku terdiam. Tidak, aku harus mengontrol diriku. “Lama kamu di
sini?”
“Beberapa
bulan lagi aku akan kerja di sini. Nah, kamu?”
“Oh,
aku masih bekerja di perusahaan lama kok.”
“Bukan.
Kamu di sini ngapain? Saki tapa? Kok gak bilang? Sini biar kuobati. Hahaha…”
Aku
hanya tersenyum kecil, menundukkan wajah. Dia memang senang menggodaiku
seolah-olah kami pasangan kekasih. Tetapi, karena kebodohanku yang berwajah
muram, ia kembali mengamati wajahku dengan muram.
“Chisato-kun?
Eh? Baik, aku hapus ‘kun’-nya ya. Kamu jadi ‘chan’ aja. Udah cantik soalnya.
Hehehehe…” Yutti menyengir, tetapi cengirannya memudar karena aku.
“Pasti
anak-anak akan suka dengan dokter seperti dirimu. Ceria.”
“Iya
dong. Masak aku pasang muka killer ke anak-anak…??? Hahaha…”
“Emang
kamu suka anak-anak ya?”
“Banget.
Aku kecewa, Raiya tumbuh besar. Padahal dulu dia lucu sekali. Tetapi selalu
tidak mau kucubit pipinya… hehehehe…”
Aku
hanya mengangguk-angguk untuk menanggapinya berceloteh. Dengan perasaan yang
tidak baik ini, aku merasa harus segera pulang. Aku tidak mau bercerita apa-apa
dulu. “Aku mau pulang. Kamu, selamat bekerja ya.”
“Eh,
tunggu. Kamu kenapa dulu, Chisato-chan? Kok di rumah sakit?”
“Ya,
aku salah masuk. Aturan aku ke rumah sehat.”
“Apa
sih, mana ada itu… hahaha… kamu ini pandai melucu meski mukamu begitu…”
Yutti
mengamatiku, ia benar-benar tahu bagaimana aku. Aku menundukkan wajah saat ia
memandangku dengan tangannya menepuk bahuku. “Baiklah. Aku juga harus kembali
kerja. Hm, aku bagi nomor hp-mu dong! Aku lupa minta waktu itu!”
Aku
memberi nomorku padanya. Lalu dia misscall,
aku menyimpan nomornya. Kami pun berpisah. Dia kembali bekerja, aku ke luar.
Lagi, ke bioskop untuk menipu dirinya yang selalu muram karena untuk ke sesi
sekian ini, aku mendapat jawaban yang sama dari dokter yang berbeda mengenai
penyakitku. Memang, setiap kontrol, dokternya berbeda-beda.
Dan
muram itu kubawa ke rumah, aku tidak merasakan sakit saat ibu tiriku menyuruhku
mengerjakan berbagai hal. Rasa-rasanya aku rela dia menyuruhku apa saja asal
aku bisa melupakan apa yang dikatakan dokter. Saat ibu tiriku mengambil uang
dari dompetku, aku hanya diam. Lalu Yui yang terus menagih diriku supaya segera
menikah, karena ia yang memiliki pacar ingin menunaikan amanah ibu supaya dia
tidak menikah mendahuluiku.
Pertanyaan
itu terdengar menyakitkan bagiku. Aku tidak memiliki niatan menikah setelah
mendengar vonis dokter, tetapi hal itu malah membuatku rindu akan sosok
pendamping hidup. Aku tentu akan tua nantinya, itu artinya aku butuh pendamping
hidup. Tetapi, hal itu semakin membuatku sakit hati. Dan saat ibu tiriku
menyuruhku tidur di luar karena kerja di rumah buruk, aku terima saja.
Berjalan-jalan keluar, mencari tempat yang baik untuk menangis. Meminta maaf
pada ibu di pemakaman sana karena aku ragu akan diriku yang akan menikah.
Mengingat ibu, aku segera ke pemakaman. Tidak peduli dengan nuansa horror, aku
tidur di dekat makamnya setelah aku puas meminta maaf dengan berurai airmata.
>><<
Nada
dering ponsel membangunkanku. Dari Yutti. Tetapi panggilan masuk itu tidak kuterima.
Lalu sms, aku tidak pernah membalasnya. Aku tidak memiliki waktu untuk bermain
ponsel. Aku segera pulang dan bergegas untuk bekerja.
Sampai
hari berlalu begitu cepat. Aku menikmati harinya dengan perasaan hambar.
Berpura-pura pada orang-orang kantor dengan dirinya yang ceria. Semua orang di
kantor menyukaiku karena aku humoris. Tetapi saat tidak ada orang, aku kembali
muram. Namun, aku harus tetap semangat. Aku mencari kontak dokter dengan
bartanya pada rekan kerja, teman lama, dan dunia maya. dokter penyakit dalam, aku
mencarinya untuk mencari tahu lebih banyak tentang penyakitku.
Aku
lalu menemukan buku kedokteran dengan mencari kontak penulisnya. Melakukan
komunikasi di dunia maya, sampai di ponsel. Hanya satu yang melayani komunikasi
denganku, Ino Kei. Maka pada pulang bekerja pada satu hari itu, aku terus
berkomunikasi pada dokter yang mencantumkan status bercerai di media sosial
itu. Dokter lelaki, aku agak takut sebenarnya, sebab aku pernah disuruh melepas
pakaian saat kontrol. Aku harap Ino Kei adalah dokter yang professional, meski aku
agak ngeri melihat ada banyak foto Ino Kei yang banyak menampilkan fisik dari
bahu sampai pusar, memperlihatkan ototnya yang kekar.
Ada ya dokter begitu?