Lanjutan (1)
Pak Ijo datang. Suasana kelas hening. Ketika masuk ke kelas, Pak Ijo melihat serpihan kertas yang berserakan. Wajahnya tampak diam. Beberapa anak ada yang salah tingkah. "Eh! Itu sampahnya..." terdengar salah seorang. Itulah Pak Ijo. Nama lengkapnya Sanjoyo. Entah darimana datangnya nama 'Ijo' hingga Ia dipanggil dengan sebutan itu. Tatapan matanya sulit ditebak. Antara jutek, sinis, atau memang sudah matanya begitu sejak lahir.
"Iya, anak-anak..." Pak Ijo membuka suara di depan kelas. Beberapa anak, tepatnya lima orang anak, masuk kelas. Disusul dua orang lagi. Wajah-wajah orang sibuk. "Iya..ini..." Pak Ijo mulai memberitahukan bahwa lima anak yang berdiri di depan kelas adalah para calon ketua OSIS yang datang untuk memungut suara siswa-siswi. Sementara dua orang yang merupakan bakal pensiunan OSIS, mengarahkan siswa-siswi cara untuk memilih yang baik dan benar. Dibagikannya kertas-kertas kecil yang sudah disiapkan untuk pemilihan. "Kalian cukup menulis nomor urutan..." kata Febri, ketua OSIS sambil meneneteng sebuah kotak yang seperti amal yang isinya adalah kumpulan kertas-kertas kecil. Sebuah angka telah ditulis dulu oleh Fitri sebelum calon-calon ketua diizinkan untuk berkampanye. Ia terlihat setengah melamun. "Eh?" Fitri terkejut. Ia baru tersadar dari lamunannya. "Eh...itu...Ketua OSIS!" panggilan dari Fitri sambil menunjuk-nunjuk Febri. "Siapa sih itu namanya?!" gerget Fitri dangan suara yang lantang. Satu kelas menoleh ke arah Fitri. Ada yang mengerutkan dahi. Mutia hanya menatap kosong.
"Lu kenapa, pit?" tanya Jaka. Fitri hanya menggaruk kepalanya. "Febri!" barulah tersebut nama orang yang dimaksudkan. Febri pun menghampiri Fitri. Fitri meminta kertas lagi. Sayangnya persediaan kertas Febri sudah habis. Mulut Fitri menjadi mancung karena kecewa. Febri pun menghampiri rekan OSIS nya, Johanes, untuk meminta kertas kecil yang ada di kotaknya Johanes. Mereka terlihat berbisik. Tiba-tiba ekspresi wajah Febri berubah. Seperti teringat sesuatu. Ia lupa, seharusnya Ia biarkan para calon ketua OSIS untuk mempromosikan diri saru per satu. Barulah Febri mengisayaratkan Johanes untuk memberikan kertasnya pada Fitri.
"Jak, Fitri dapet suara cinta..." bisik Joko pada Jaka. Jaka ikut bergurau. "Cie...Fitri dapat surat cinta!" teriak Joko yang ngeceng-cengin Fitri. Johanes hanya menggeleng. Nah, saat-saat itulah calon ketua OSIS nomor urut tiga dang mencari kesempatan. Mangambil secarik kertas di kantong celananya. Lalu Ia baca. Rupanya Ia lupa demo 'caketos' nya. Caketos=> Calon Ketua Osis. He...
"weh...weh...weh...! baca tes, weh!" Jaka menunjuk-nunjuk. Satu kelas menertawai si nomor urut tiga. Segera disembunyikan kertas itu di belakang tubuhnya. Senyum-senyum. Kelas menjadi hening saat demonya dilanjutkan oleh kandidat nomor empat hingga diteruskan ke nomor terakhir. Setelah itu, barulah pemilihan dimulai. Beberapa diantara mereka ada yang memilih demi teman. "Eh, lu pilih mana?" tanya Hana pada Meisi.
"Gua pilih Musa," jawab Meisi.
"Ih...bagusan Harun tau..." tegas Hana.
Heru, caketos nomor urut satu, mendengar mereka. "Sekalian aja Zulkifli! Kalau perlu Yahya sekalian!"
Satu kelas menatapnya heran. Bingung. Lola, Loading lama. Meraka mulai tertawa. Barulah meraka mengerti yang dimaksud Heru. Heru hanya menggaruk kepala.
"Iya...teman-teman," Febri memberi tahu bahwa waktu pemilihan sudah habis. "Terima kasih teman-teman atas partisipasinya. Selamat Belajar," lanjut Febri sambil mengelilingi kelas untuk memungut kertas suaranya. Johanes juga melakukan yang dilakukan Febri. Barulah mereka keluar kelas bersama lima caketos, Pak Ijo pun menyusul. Beberapa detik setelah mereka berlalu, Bu Melati, Guru Bahasa Indonesia masuk ke kelas. Azril sang ketua kelas, memukul meja tanda seluruh muris di kelas itu untuk berdiri. Memimpin Doa. Beberapa diantara mereka memasang wajah bingung. Ada yang saling menatap. "Lah?kok Ibu?" kata salah seorang murid yang bernama Jayabaya.
"Bukannya ini jam Ibu?" Bu Melati malah ikut bingung.
>>>Berlanjut....

No comments:
Post a Comment