Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Monday, February 25, 2013

Katanya "BestFriend is Power"

  "Ih...si Mutia betah ya sendiri mulu!" gerutu Fitri. Memandang Mutia dari atas bersama teman-teman segengnya. "Ih!" Fitri pun masuk ke kelas. Entah apa yang dikesalkannya. Teman-teman yang lain ada yang menatap kasian pada Mutia. Namun ada pula yang menatapnya heran.
       Panas-panas di pagi hari. Mutia malah melangkah tak peduli menuju masjid sekolah. Sendiri. Beberapa orang menyapanya untuk tersenyum. Mutia hanya memakluminya. Mereka tidak tahu bahwa memang wajahnya sudah seperti itu. Terlahir dengan wajah yang jutek. Sambil mengerutkan keningnya, Ia menggeleng. Apakah Ia harus tersenyum terus?Pegel bo, bibirnya !
       "Mutia!" suara yang dikenal Mutia. Ia menoleh. Dengan senyum yang dipaksakan pada Eri. Eri yang nama aslinya Juwairiyah, dipanggil Airi, lama-lama menjadi Airi.
       "Maksa amat!" gurau Eri mengomentari senyum Mutia. Mutia hanya senyum jutek. Eri sudah memahami sifat Mutia sehingga tidak ada kejanggalan berarti pada temannya itu. Sesudah itu suasana menjadi hening. Hanya suara angin. Mutia dan Eri berjalan bersama menuju masjid sekolah untuk solat Duha. Begitu menginjakkan kaki di batas suci, angin langsung membelai mereka. Ada anak-anak IPA di masjid yang tengah melipat mukenah. Dengan ramah, Eri menyapa mereka. Melihat Eri yang disambut baik, Mutia ikut-ikut menyapa dengan senyuman lebar. Barulah terlihat keceriaan hatinya. Keceriaan itu terus terasa hingga Ia solat Duha. Keceriaan yang belum pernah Ia rasakan di kelasnya sendiri. 
       Bel berbunyi. Tanda sudah waktunya masuk ke kelas. Di pertengahan jalan, Eri dan Mutia melambaikan tangan tanda berpisah dan masuk ke kelas masing-masing. Ketika Mutia masuk ke kelas, serpihan kertas jatuh dari ventilasi atas pintu. Beserta ember yang jatuh hingga menutup pandangan. Seperti helm yang hitam pekat dan tidak tembus pandang. Suara yang membahak terdengar. Tanpa ekspresi, Mutia melepas embernya dan menjatuhkannya ke lantai. Hanya tersenyum kecil begitu Mutia melihat teman-temannya tertawa sambil menunjuk-nunjuk. Ia merasa telah berpahala karena membuat orang tertidur. Dengan cuek, Ia duduk di bangkunya. Yang lebih bahagia adalah Fitri. Endah, teman sebangkunya, hanya memendam kasihan pada gadis berjilbab yang duduk disampingnya. Dibersihkannya sisa-sisa serpuhan kertas tadi di kerudung sahabatnya itu. Mutia semakin ditertawakan karena tidak ada ekspresi. "Eh...udah sih!" mohon Endah. Mutia hanya menganggap tertawaan mereka sebagai angin lalu. "Eh, ada Pak Ijo!"seru Jono yang terburu-buru masuk kelas hingga terpeleset sisa-sisa serpihan kertas di lantai. Satu kelas menertawainya. Mutia hanya miris.


>>>Berlanjut....

No comments:

Post a Comment