Thursday, December 22, 2011
Saturday, November 12, 2011
Saturday, October 15, 2011
Wednesday, September 14, 2011
Bungkam
Mereka bisa melihat raga ini
Namun aku merasa sudah tak ada
Aku sudah mati dalam khayalanku
Namun nafas ini masih terasa
Angin enggan mengelusku
Bangunan di sekitarku mengejekkku
Bisikan bumi yang membantu, sulit ku mengerti
Matahari hanya iba padaku
Setetespun tak ada yang menolongku
Aku merasa aku hanya makhluk yang terpencil di dunia ini
Dimanapun tak ada yang tahu aku
Aku hanya tulisan pensil yang mudah dihapus
Hingga keinginanku yang sebenarnya, tak mau orang lain tahu
Hati ini selalu berucap
Namun ada yang menahan suara
Aku seperti makhluk yang ditakdirkan
untuk bungkam
Aku hilang, nyawaku telah mati
Tidak ada yang bungkamkan aku
Tapi aku merasa itu harus,
entah apa itu
dan aku begitu galau
di usiaku yang masih sejengkal
untuk apa aku di dunia ini
dan siapakah aku...
Namun aku merasa sudah tak ada
Aku sudah mati dalam khayalanku
Namun nafas ini masih terasa
Angin enggan mengelusku
Bangunan di sekitarku mengejekkku
Bisikan bumi yang membantu, sulit ku mengerti
Matahari hanya iba padaku
Setetespun tak ada yang menolongku
Aku merasa aku hanya makhluk yang terpencil di dunia ini
Dimanapun tak ada yang tahu aku
Aku hanya tulisan pensil yang mudah dihapus
Hingga keinginanku yang sebenarnya, tak mau orang lain tahu
Hati ini selalu berucap
Namun ada yang menahan suara
Aku seperti makhluk yang ditakdirkan
untuk bungkam
Aku hilang, nyawaku telah mati
Tidak ada yang bungkamkan aku
Tapi aku merasa itu harus,
entah apa itu
dan aku begitu galau
di usiaku yang masih sejengkal
untuk apa aku di dunia ini
dan siapakah aku...
Monday, August 1, 2011
Wednesday, June 15, 2011
Samurai NR
Saturday, May 21, 2011
Tuesday, May 17, 2011
Inilah Indonesiaku
Laksana surga yang tidak pernah tandus
Dengan air bening yang tidak pernah mengeruh
Semua bangsa iri akan kekayaanmu
Indonesia yang selalu hijau dengan zamrudnya
Surga ini selalu jadi rebutan
Rebutan dari tangan-tangan asing
Namun yang bernafas didalamnya
Selalu akan menggegammu
Walau badai pernah menerpamu
Hidup mati para pendekar bangsa
Akan mempersembahkan darah ini untukmu
Agar mereka tahu, inilah Indonesia
Dengan air bening yang tidak pernah mengeruh
Semua bangsa iri akan kekayaanmu
Indonesia yang selalu hijau dengan zamrudnya
Surga ini selalu jadi rebutan
Rebutan dari tangan-tangan asing
Namun yang bernafas didalamnya
Selalu akan menggegammu
Walau badai pernah menerpamu
Hidup mati para pendekar bangsa
Akan mempersembahkan darah ini untukmu
Agar mereka tahu, inilah Indonesia
Monday, April 25, 2011
Wednesday, March 16, 2011
Manga Ke -2
manga di samping terlihat berantakan ya?Tapi aku tidak menyangka loh bakal masuk juara 3 besar waktu aku masih kelas dua SMA.
Aku sengaja memasukkan manga di samping ke blog bukan karena sombong. Tapi aku hanya ingin buktikan ke orang-orang kalau aku suka menggambar manga Apalagi manga Kenshin. Kan aku Kenshin Fanatik!
Rencananya sih aku mau bikin komik dan manga ke blog ini Karena selain menulis aku juga suka nge-manga He...Semoga kalian suka.
Saturday, March 5, 2011
14th
Hari sudah semakin siang & mendekati sore. Kala itu aku berada di sekolah. Kalender sekolahku menunjukkan bahwa sekarang hari Rabu, tanggal 5 maret 2007. Aku pikir suatu yang kejadian yang kuharapkan akan terjadi besok, hari ulang tahunku.
Waktu itu aku tidak melihat pohon yang melambaikan daun-daunnya didekat lapangan sekolahku. Hari itu aku sedang istirahat di sekolah setelah 3 jam belajar dikelas. Tak beberapa kemudian bel masuk kelas berbunyi. Ketika itu Indah dan Syifa mengajakku shalat. Aku menyimpan buku pr yang berbentuk folio di tas dan aku segera mengikuti Syifa, Indah dan Samsidar ke mushalah. Kami pun turun karena mushalah berada dilantai dasar.
Ketika itu Syifa dan Aku jalan dibelakang Samsidar dan Indah. Saat berada di tangga yang paling akhir, aku melihat Samsidar dan Indah berbicara dengan Bu Masni, guru keterampilan jasa kami. Sebab kini adalah jam pelajarannya. Ketika aku dan Syifa melihat Bu Masni yang sedang berbicara dengan Samsidar dan Indah, aku mengajak Syifa kembali ke kelas. Aku pikir Bu Masni tidak mengizinkan kami untuk shalat ashar. Dan kami kembali ke tempat duduk.
Aku mengambil buku pr dari tas. Saat itu Bu Masni masuk kelas. Dan Didit sang ketua kelas memberi salam pada Bu Masni.
Gleggeek !
Aku menelan air ludah. Wajahku pucat, detak jantungku mulai cepat, aku cemas. Aku tidak menemukan buku pr didalam tas, tetapi aku berusaha tenang. Aku bertanya pada Agung, Herdiansyah, Yunisa dan Amel, “dimana bukuku? Apakah kalian meminjamnya?”. Mereka hanya menggeleng-geleng dan berkata “tidak!”. Aku terduduk lesu dibangkuku.
“Siapa yang tidak mengerjakan pr?”, tanya Bu Masni. Mendengar ucapan itu, aku kembali bersemangat mencari buku ku. Sementara yang lain sudah pasrah. Satu-persatu dari mereka maju untuk mendapat “permen”nya dari Bu Masni.
Permen yang dimaksud adalah cubitan Bu Masni adalah cubitannya yang membuat kulit yang dicubit menjadi berwarna. Sehingga aku tak mau merasakan permennya itu.
Aku terus mencari buku itu. Karena buku itu adalah bukti bahwa aku telah mengerjakan pr. Namun, buku itu tak juga dapat kutemukan. Akhirnya aku panik dan cemas. “bukuku mana?” kataku sambil berjalan bolak-balik. Lalu aku melangkahkan kaki ku ke meja Samsidar dan Indah. “PR-ku! Kalian melihat bukuku tidak?” tanyaku yang cemas sambil memukul meja mereka. Mereka menggelengkan kepala. Aku semakin panik. Badanku terus bolak-balik berjalan, berharap supaya bukunya ketemu. Namun, Bu Masni belum juga memulai ‘pertunjukan’ nya itu. “udah?udah?udah gak ada lagi?” kata Bu Masni pada aku dan teman-temanku yang duduk dibangkunya. “Buku saya hilang, bu!” kata ku pada Bu Masni. Namun rasanya keberuntungan tak berpihak padaku. Bu Masni tidak percaya atas kejujuranku. Bu Masni menyuruhku maju ke depan kelas untuk mendapat giliran. “Tapi saya mengerjakannya, bu. Tapi hilang!!” kata ku. “tidak ada alasan! Kamu maju!” seru Bu Masni.
Hufff!!!Hari ini benar-benar hari yang merugikan bagiku. Aku merasa ada yang memfitnahku. Terpaksa aku maju ke depan tanpa ada salah. “Hari sial apa ini?kenapa aku harus membuat kesalahan di jelang hari ulang tahunku? Aku yakin buku pr ku tadi kusimpan di tasku. Tapi kenapa tidak ada, mungkinkah keselip? Itu tidak mungkin. ‘kan itu buku yanmg paling besar. Sia-sia sudah aku mengerjakan pr, tetapi hasilnya, aku tetap dihukum,” kata ku didalam hati.Aku pun ditanya Bu Masni kenapa aku tidak mengerjakan pr. Aku berusaha untuk berkata apa adanya. Namun, aku berusaha sabar, karena Bu Masni tidak mempercayaiku. Lalu satu persatu teman-temanku yang maju didepan kelas, kena cubitannnya Bu Masni.
Cubitannya sungguh menggugah selera. Karena beraneka rasa. Rasa stoberi, anggur, coklat, & apel. Sampai-sampai aku tidak mau merasakan permennya itu, karena lebih manis dari permen yang biasa ku beli. Aku hanya melihat teman-temanku yang menahan sakit manisnya permen.
Setelah teman-temanku yang kebanyakan laki-laki itu dihukum, sekarang giliranku. Aku pasrah. Aku deg-degan. Rasanya ingin pingsan.“Ada apa Nadia?Pr mana yang belum selesai?” tanya Bu Masni dengan tegas.“ Saya sudah mengerjakannya Bu, Ta..tapi hilang”, ratapku.“ Tidak mungkin hilang, kamu bohong. Berarti kamu menuduh diantara teman-temanmu mencuri. Kamu yakin bukunya hilang?“, ucap Bu Masni.“Iya Bu, saya yakin.”
“ Nadia, Ibu mengenal kamu dari kelas satu sebagai orang yang rajin dan jujur. Tetapi mengapa sekarang kamu berbohong? Waktu kelas satu Ibu mengajar kamu kan?”
“ Iya Bu.”‘ Ibu tidak mau tau. Sekarang kamu jujur, ada apa dengan kamu? Kok kamu berbohong !”Aku telah meyakinkan Bu Masni untuk percaya padaku. Aku memilih untuk diam. Saat itu semua teman sekelas menatapku dengan tajam. Itu pertama kalinya aku ditatap tajam oleh mereka.“Tak ada yang mau membelaku? Semua hanya diam seperti menyaksikan sebuah pertunjukkan. Ternyata mereka sama. Mereka jahat ! Mereka penghianat!” Pikirku.
“Yunisa coba kamu cari buku pr nya di tasku!”, ucapku.Yunisa menggeleng-geleng dan mengatakan tidak ada. Saat itu tanpa kusadari air mata mengalir dipipiku. Aku mencoba menghapusnya dengan jilbab yang ku kenakan. Namun mereka semua melihat aku menangis. Malulah aku dibuatnya.
“Huh! Bukannya diperiksa dulu tas seluruh murid di kelas!!” kata ku didalam hati. Rasanya air mata tidak henti mengalir. Sementara waktu terus berjalan. Akankah aku kan berdiri disini selamanya didepan kelas?” kata ku lagi didalam hati. “Bagaimana, Nadia? “ tanya Bu Masni.“Cubit sajalah, bu!” jawab ku pada Bu Masni “Ibu tidak mau kalau untuk pembohong. Kalau tidak, kamu menangis saja, atau nyanyi, teriak atau gak, menangis sepuasmu!“
Aku pikir lebih baik aku teriak, ‘ bukuku hilang!’Tapi rasanya itu tak mungkin kulakukan karena itu akan mengganggu kegiatan belajar dikelas lain. “ Kok diam? Ayo! Nanti akan ibu siapkan ember untuk kamu menangis.” “ Udah, bu. Saya udah nangis.”“ Mana air matanya?”“ Saya hapus.”“ Ulangi lagi!”“ Saya sudah menangis, bu. Apa ibu tidak melihat saya yang cegukan ? ” kata ku di dalam hati. “ Kalau gak, teriak deh sepuasmu!”Rasa kesal pun timbul di hatiku saat teman-teman ku menyuruhku untuk berteriak. Rasanya mereka tidak iba padaku. Aku pasrah. Air mataku terus mengalir walaupun aku telah berusaha untuk jangan sampai menangis didepan teman- temanku.
Tiba-tiba Bu Masni memegang tanganku dengan halus. Perlahan-lahan aku mendekati Bu Masni. Bu Masni menyuruh teman-temanku untuk diam. Lalu Bu Masni hendak mengatakan sesuatu dengan lembut pada ku. “Nad, Ibu sengaja membuatmu menangis karena sekarang kamu ulang tahun...” belum Bu Masni melanjutkan ucapannya, aku langsung kaget. Aku tidak pernah mengira ternyata masih ada orang yang mau membuat kejutan di hari ulang tahunku. Dan ini terjadi sehari sabelum hari ulang tahunku. “…Selamat ulang tahun ya, Nad...“ kata Bu Masni pada ku. Lalu beliau menyuruh teman-temanku untuk menyanyikan lagu ulang tahun. Tangisku pun semakin menjadi-jadi. Aku dan Bu Masni pun berpelukan. Teman-temanku berhenti menyanyikan lagu ulang tahunnya.
“ Udah dong, Nad. Jangan nangis lagi.“ kata Bu Masni.
“Sekarang kamu ulang tahun yang ke berapa?“ lanjut Bu Masni.
“Besok, bu ulang tahunnya.”
“ Oh.. ya udah. Jangan nangis lagi, ya Nad.” Kata Bu Masni.
“Sekarang kamu duduk.”
Lalu Bu Masni mengucapkan salam pada murid-muridnya. Ia pun ke luar dari kelas ku. Karena jam pelajarannya di kelas sudah habis hanya untuk mengerjaiku. Ketika ku kembali ke bangkuku, teman-temanku segera menghampiriku untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Aku terus menangis terisak-isak. Aku berterima kasih pada mereka karena mereka ingat hari ulang tahunku. Tidak berapa lama kemudian, teman-temanku mengembalikan buku pr ku.
Ini merupakan pengalaman hidupku yang pertama di hari ulang tahunku yang ke 14 tahun.
Waktu itu aku tidak melihat pohon yang melambaikan daun-daunnya didekat lapangan sekolahku. Hari itu aku sedang istirahat di sekolah setelah 3 jam belajar dikelas. Tak beberapa kemudian bel masuk kelas berbunyi. Ketika itu Indah dan Syifa mengajakku shalat. Aku menyimpan buku pr yang berbentuk folio di tas dan aku segera mengikuti Syifa, Indah dan Samsidar ke mushalah. Kami pun turun karena mushalah berada dilantai dasar.
Ketika itu Syifa dan Aku jalan dibelakang Samsidar dan Indah. Saat berada di tangga yang paling akhir, aku melihat Samsidar dan Indah berbicara dengan Bu Masni, guru keterampilan jasa kami. Sebab kini adalah jam pelajarannya. Ketika aku dan Syifa melihat Bu Masni yang sedang berbicara dengan Samsidar dan Indah, aku mengajak Syifa kembali ke kelas. Aku pikir Bu Masni tidak mengizinkan kami untuk shalat ashar. Dan kami kembali ke tempat duduk.
Aku mengambil buku pr dari tas. Saat itu Bu Masni masuk kelas. Dan Didit sang ketua kelas memberi salam pada Bu Masni.
Gleggeek !
Aku menelan air ludah. Wajahku pucat, detak jantungku mulai cepat, aku cemas. Aku tidak menemukan buku pr didalam tas, tetapi aku berusaha tenang. Aku bertanya pada Agung, Herdiansyah, Yunisa dan Amel, “dimana bukuku? Apakah kalian meminjamnya?”. Mereka hanya menggeleng-geleng dan berkata “tidak!”. Aku terduduk lesu dibangkuku.
“Siapa yang tidak mengerjakan pr?”, tanya Bu Masni. Mendengar ucapan itu, aku kembali bersemangat mencari buku ku. Sementara yang lain sudah pasrah. Satu-persatu dari mereka maju untuk mendapat “permen”nya dari Bu Masni.
Permen yang dimaksud adalah cubitan Bu Masni adalah cubitannya yang membuat kulit yang dicubit menjadi berwarna. Sehingga aku tak mau merasakan permennya itu.
Aku terus mencari buku itu. Karena buku itu adalah bukti bahwa aku telah mengerjakan pr. Namun, buku itu tak juga dapat kutemukan. Akhirnya aku panik dan cemas. “bukuku mana?” kataku sambil berjalan bolak-balik. Lalu aku melangkahkan kaki ku ke meja Samsidar dan Indah. “PR-ku! Kalian melihat bukuku tidak?” tanyaku yang cemas sambil memukul meja mereka. Mereka menggelengkan kepala. Aku semakin panik. Badanku terus bolak-balik berjalan, berharap supaya bukunya ketemu. Namun, Bu Masni belum juga memulai ‘pertunjukan’ nya itu. “udah?udah?udah gak ada lagi?” kata Bu Masni pada aku dan teman-temanku yang duduk dibangkunya. “Buku saya hilang, bu!” kata ku pada Bu Masni. Namun rasanya keberuntungan tak berpihak padaku. Bu Masni tidak percaya atas kejujuranku. Bu Masni menyuruhku maju ke depan kelas untuk mendapat giliran. “Tapi saya mengerjakannya, bu. Tapi hilang!!” kata ku. “tidak ada alasan! Kamu maju!” seru Bu Masni.
Hufff!!!Hari ini benar-benar hari yang merugikan bagiku. Aku merasa ada yang memfitnahku. Terpaksa aku maju ke depan tanpa ada salah. “Hari sial apa ini?kenapa aku harus membuat kesalahan di jelang hari ulang tahunku? Aku yakin buku pr ku tadi kusimpan di tasku. Tapi kenapa tidak ada, mungkinkah keselip? Itu tidak mungkin. ‘kan itu buku yanmg paling besar. Sia-sia sudah aku mengerjakan pr, tetapi hasilnya, aku tetap dihukum,” kata ku didalam hati.Aku pun ditanya Bu Masni kenapa aku tidak mengerjakan pr. Aku berusaha untuk berkata apa adanya. Namun, aku berusaha sabar, karena Bu Masni tidak mempercayaiku. Lalu satu persatu teman-temanku yang maju didepan kelas, kena cubitannnya Bu Masni.
Cubitannya sungguh menggugah selera. Karena beraneka rasa. Rasa stoberi, anggur, coklat, & apel. Sampai-sampai aku tidak mau merasakan permennya itu, karena lebih manis dari permen yang biasa ku beli. Aku hanya melihat teman-temanku yang menahan sakit manisnya permen.
Setelah teman-temanku yang kebanyakan laki-laki itu dihukum, sekarang giliranku. Aku pasrah. Aku deg-degan. Rasanya ingin pingsan.“Ada apa Nadia?Pr mana yang belum selesai?” tanya Bu Masni dengan tegas.“ Saya sudah mengerjakannya Bu, Ta..tapi hilang”, ratapku.“ Tidak mungkin hilang, kamu bohong. Berarti kamu menuduh diantara teman-temanmu mencuri. Kamu yakin bukunya hilang?“, ucap Bu Masni.“Iya Bu, saya yakin.”
“ Nadia, Ibu mengenal kamu dari kelas satu sebagai orang yang rajin dan jujur. Tetapi mengapa sekarang kamu berbohong? Waktu kelas satu Ibu mengajar kamu kan?”
“ Iya Bu.”‘ Ibu tidak mau tau. Sekarang kamu jujur, ada apa dengan kamu? Kok kamu berbohong !”Aku telah meyakinkan Bu Masni untuk percaya padaku. Aku memilih untuk diam. Saat itu semua teman sekelas menatapku dengan tajam. Itu pertama kalinya aku ditatap tajam oleh mereka.“Tak ada yang mau membelaku? Semua hanya diam seperti menyaksikan sebuah pertunjukkan. Ternyata mereka sama. Mereka jahat ! Mereka penghianat!” Pikirku.
“Yunisa coba kamu cari buku pr nya di tasku!”, ucapku.Yunisa menggeleng-geleng dan mengatakan tidak ada. Saat itu tanpa kusadari air mata mengalir dipipiku. Aku mencoba menghapusnya dengan jilbab yang ku kenakan. Namun mereka semua melihat aku menangis. Malulah aku dibuatnya.
“Huh! Bukannya diperiksa dulu tas seluruh murid di kelas!!” kata ku didalam hati. Rasanya air mata tidak henti mengalir. Sementara waktu terus berjalan. Akankah aku kan berdiri disini selamanya didepan kelas?” kata ku lagi didalam hati. “Bagaimana, Nadia? “ tanya Bu Masni.“Cubit sajalah, bu!” jawab ku pada Bu Masni “Ibu tidak mau kalau untuk pembohong. Kalau tidak, kamu menangis saja, atau nyanyi, teriak atau gak, menangis sepuasmu!“
Aku pikir lebih baik aku teriak, ‘ bukuku hilang!’Tapi rasanya itu tak mungkin kulakukan karena itu akan mengganggu kegiatan belajar dikelas lain. “ Kok diam? Ayo! Nanti akan ibu siapkan ember untuk kamu menangis.” “ Udah, bu. Saya udah nangis.”“ Mana air matanya?”“ Saya hapus.”“ Ulangi lagi!”“ Saya sudah menangis, bu. Apa ibu tidak melihat saya yang cegukan ? ” kata ku di dalam hati. “ Kalau gak, teriak deh sepuasmu!”Rasa kesal pun timbul di hatiku saat teman-teman ku menyuruhku untuk berteriak. Rasanya mereka tidak iba padaku. Aku pasrah. Air mataku terus mengalir walaupun aku telah berusaha untuk jangan sampai menangis didepan teman- temanku.
Tiba-tiba Bu Masni memegang tanganku dengan halus. Perlahan-lahan aku mendekati Bu Masni. Bu Masni menyuruh teman-temanku untuk diam. Lalu Bu Masni hendak mengatakan sesuatu dengan lembut pada ku. “Nad, Ibu sengaja membuatmu menangis karena sekarang kamu ulang tahun...” belum Bu Masni melanjutkan ucapannya, aku langsung kaget. Aku tidak pernah mengira ternyata masih ada orang yang mau membuat kejutan di hari ulang tahunku. Dan ini terjadi sehari sabelum hari ulang tahunku. “…Selamat ulang tahun ya, Nad...“ kata Bu Masni pada ku. Lalu beliau menyuruh teman-temanku untuk menyanyikan lagu ulang tahun. Tangisku pun semakin menjadi-jadi. Aku dan Bu Masni pun berpelukan. Teman-temanku berhenti menyanyikan lagu ulang tahunnya.
“ Udah dong, Nad. Jangan nangis lagi.“ kata Bu Masni.
“Sekarang kamu ulang tahun yang ke berapa?“ lanjut Bu Masni.
“Besok, bu ulang tahunnya.”
“ Oh.. ya udah. Jangan nangis lagi, ya Nad.” Kata Bu Masni.
“Sekarang kamu duduk.”
Lalu Bu Masni mengucapkan salam pada murid-muridnya. Ia pun ke luar dari kelas ku. Karena jam pelajarannya di kelas sudah habis hanya untuk mengerjaiku. Ketika ku kembali ke bangkuku, teman-temanku segera menghampiriku untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Aku terus menangis terisak-isak. Aku berterima kasih pada mereka karena mereka ingat hari ulang tahunku. Tidak berapa lama kemudian, teman-temanku mengembalikan buku pr ku.
Ini merupakan pengalaman hidupku yang pertama di hari ulang tahunku yang ke 14 tahun.
Sang Juli
Juli dan teman laki-laki yang menamakan 4A memperhatikan gerak-gerik Amel. Sesaat Amel menoleh ke belakang. Juli segera menampar pipi Amar seraya berkata, “Nyamuk!” Amar pun kaget. Wajahnya meringis kesakitan sambil mengelus pipinya yang ditampar. Sementara itu Juli meniup sesuatu di atas telapak tangannya. Dan si Agus tampak mencari sesuatu di rambut Alan, seperti mencari kutu. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, “Ini kutu terbesar yang pernah ku lihat.” Padahal tidak ada kutu di tangannya. Lain halnya si Agung. Ia berpura-pura mencari sesuatu di rerumputan. Lalu si Amar mendekati Agung. Kala itu, Juli masih tampak ‘mencari’ nyamuk di kulit Amar. Sehingga terlihat kalau Juli sedang mengikuti kemanapun langkah Amar.
“Cari apaan, gung?” tanya Alan.
“Anu, bibirku jatuh. Kira-kira di rerumputan ini jatuhnya,”Jawab Agung sembari terus mencari sesuatu di rerumputan.
“Aku tahu dimana bibirmu.”
“Dimana?”
Lagi-lagi Juli memukul Amar. Kali ini ia memukul betisnya seraya berkata, “ Nyamuk!” amar kaget lagi. Ia mengerutkan keningnya pada Juli. Dan memukul tangan Juli dengan canda. Juli hanya nyengir.
Melihat tingkah Juli dan 4A seperti itu, Amel mengerutkan keningnya. Menggelengkan kepala. Lalu ia pergi. Saat Amel berlalu, Juli dan 4A ngakak massal. Mereka juga tidak melakukan tindakan aneh tadi. Tiba-tiba Amar menampar Juli sambil berteriak, “Nyamuk!”
“Ha…”Mereka pun tertawa mangap.
Sore itu mereka memang tampak gokil. Mereka bahagia sekali. Karena tadi mereka baru saja mengerjai guru terkiller di sekolah mereka. Hingga pulang sekolah pun, mereka masih tampak ‘ceria’.
“Yuk pulang!”seru Juli.
“Yuk”respon Amar.
“Tapi, sebelum kita pulang, kita harus ke rumah kita masing-masing dulu,”gurau Alan.
“Emang begitu kale!”sorak yang lain ke telinga Alan.
“Udah lah pulang aja, yuk. Main gokil-gokilannya besok lagi aja,”kata Agung. “Emang belum puas ya?”
“Iya, pak guru” gurau Alan sambil nyengir.
Sepanjang perjalanan, mereka nyengir. Membayangkan nasib Bu Risa. Saat itu Bu Risa akan masuk ke kelas mereka. Bu Risa tidak menyadari bahwa bangku yang di dudukinya ada telur busuk. Mulutnya pun heboh. Bu Risa pun marah-marah pada murid-murid. Serentak, satu kelas menyanyikan lagu ulang tahun untuk Bu Risa. Memang, Hari ini Bu Risa sedang berulang tahun. Wajah Bu Risa masih panik melihat roknya yang telah dibubuhi telur busuk. Hampir menangis. Belum lagi saat akan keluar dari kelas, Bu Risa berhenti melangkah. Ia seperti merasa ada sesuatu yang jatuh di kepalanya. Saat dipegang ubun-ubunnya, ternyata permen karet. Bu Risa melihat ke atas. Sebuah kreatifitas membentuk hati dari koloni permen karet diantara poto presiden dan wakil presiden. Tiba-tiba beberapa koloni permen karet itu berguguran dan mendarat di wajah Bu Risa. Bu Risa berteriak. Lalu berlari keluar kelas. Satu kelas pun tertawa. Bel pulang sekolah pun berbunyi.
Tiba-tiba saja Juli ngakak bebas. 4A hanya menatapnya heran. Lalu mereka ikut tertawa sambil menunjuk Juli dengan tangan kanan mereka. Tawa mereka pun terhenti saat mereka akan melewati rumah Juli. “Yaudah aku udah nyampe, nih. Assalamualaikum,”kata Juli. Teman-temannya membalas salam Juli
Itulah ‘homepage’ dari kisah Sang Juli. Juli adalah gadis tomboy yang bersahabat dengan Agung, Agus, Alan, Amar atau biasa disebut 4A oleh-oleh teman-temannya. Seharusnya di kelas 1 SMP ini, mereka jaim. Tapi mereka malah mencari gara-gara atau lebih tepatnya membuat usil pada guru-guru mereka terutama pada guru killer. Tingkah mereka yang selalu unik, membuat satu kelas terkadang kompak kalau dalam hal mengerjai guru. Hanya kelas VII 3 yang tergokil dan teraneh diantara semua kelas di sekolah itu.
Pukul 04.30 WIB.
Suara azan subuh sedang berkumandang.
Cahaya matahari belum begitu tampak. Sementara itu ‘ocehan’ si jam weker mulai terdengar di luar kamar Juli. Ia merasa terganggu dengan suara yang itu. Ia memulai membuka matanya. Segera disipitkan matanya lalu menggosok matanya dengan telunjuk kanannya. Cahaya di kamarnya masih benderang. Rupanya ia lupa mematikan lampu saat tertidur semalam.
Ia pun melihat-lihat benda di sekitar kamarnya, seperti mencari sesuatu. Ia mengacak-acak kasurnya. Bibirnya miring ke kiri setelah melihat jam wekernya di bawah bantal. Lalu ia mengambil jam itu dan hendak meng-off-kan wekernya. Bibirnya menjadi manyun. Keningnya mengerut. Wekernya kan udah off, kok masih bunyi?pikir Juli.
Juli meletakkan jam wekernya di atas bantalnya. Lalu Ia menlangkah ke luar kamarnya dan menuju kamara Farid, kakak satu-satunya di rumah itu. Ia melangkah dengan mata yang masih sayu sambil membawa selimut dan bantal guling.
Di depan pintu kamar Farid, Ia meletakkan bantal guling dan selimutnya di lantai. Ia pun berbaring di atas selimut dan memeluk bantal gulingnya. Sambil berbaring, Ia mengetok pintu kamar Farid sambil berteriak tapi pelan, ‘matiin wekernya, woi…’ setelah berulang kali Ia melakaukan hal itu, namun tidak ada jawaban dari dalam kamar kakak laki-lakinya itu. Hanya selimut dan bantal guling yang menemaninya pada subuh itu. Akhirnya Ia lelah. Rasa kantuknya memaksanya untuk tidak membuka kelopak matanya dan kembali ke alam mimpi. Zzz…zzz…zzz…
Jam dinding menunjukkan pukul 06.45.
Juli merasa kalau tubuhnya gioyang-goyang sendiri. Ia pun membuka jendela matanya. ‘woi, bangun’ kedengaran seperti suara ibu. Ternyata sejak tadi Ibu terus membangunkannya. Sang Juli mengucek-kucek matanya. Ia berusaha untuk duduk. Saat ditanya kenapa ia tidur didepan kamar kakaknya, Juli hanya memasang wajah bingung pada Ibunya yang telah bertanya padanya. Lalu Sang Ibu menyuruhnya mandi. Namun Juli tampak malas. Ia pergi saja ke kamar. Tapi tidak untuk masuk ke kamar. Ia duduk di depan pintu kamarnya, memperhatikan kakaknya nanti yang akan keluar dari kamar.
Ibu terus mengetuk pinu kamar Farid. Namun tampak seperti tidak-ada tanda-tanda. Juli pun memeluk guling dan selimutnya sambil melihat aksi kakaknya.
Saat Ibu masuk ke kamar Farid, Farid masih tampak nyenyak tidur. Ibu menampakkan keterkejutannya. Pasalnya Ia sudah terlambat.Ibu segera membangunkannya. Tubuh Farid pun digoyang-goyangkan.
Terdengar suara mengigau dari Sang Farid. Akhir Farid benar-benar bangun. Ia segera duduk. Terdiam. Sambil menatap Ibunya dengan tajam tapi sayu. Ia bingung. “se…sekolah…?” asap kantuk masih menyelimuti matanya. “emang kamu gak sekolah sekarang ini?” Tanya Ibu. Dengan nada mengigau, “weker..”
Ibu bingung.”weker?”
“sekarang jam berapa sih, bu?” Tanya Farid sambil menggaruk-garuk bibirnya. Lalu Ibu bilang kalau sekarang sudah hamper jam 7. Farid tentu terperanjat dari tempat tidur. Ia segera masuk ke kamar mandi. Sementara Ibunya hanya menggeleng-geleng. Tempat tidur Farid pun dirapikan Ibu. Setelah itu, Ibu pergi ke dapur. Saat keluar dari kamar Farid, Ibu melihat wajah Juli yang yang tampak penasaran. “ngapain kamu duduk disitu?” Tanya Ibu. Juli hanya diam sambil menatap ibunya dengan tatapan penuh. Ibu hanya menggeleng-geleng.
Sementara itu, Farid sedang mandi. Tanpa disadarinya, Ia mandi dengan pakaian yang masih menempel di badannya. Ia kaget saat Ia akan mengguanakan sabun. Akhirnya Ia menyadarinya. Lalu Ia keluar dari kamara mandi dengan basah-basahan. Ia tidak peduli. Ia segera melepaskan pakaiannya. Ia tidak kembali ke kamar mandi. Langsung Ia kenakan pakaian putih abu-abunya. Tidak peduli walaupun badan sedang basah.
Lagi-lagi Ia tidak sadar. Bukannya sepatu yang diapakinya, Ia malah kembali ke kamar mandi dan segere mengambil gayung. Ia pun menjadi bingung. “eh?aku ngapain disini?”tanyanya sendiri. Ia pun melempar gayungnya ke dalam bak. Ia tidak peduli bajunya terciprat air baknya. Dengan segera Ia keluar dari kamar mandi.
Sementara itu, aroma masakan Ibu tercium di indera penciumannya.Juli melempar selimut dan bantal gulingnya ke kamarnya. ia tersenyum. Karena Ia tahu bahwa Ibu sedang memasak masakan kesukaannya. Saat keluar dari kamarnya, Juli melihat Sang Kakak yang baru keluar dari kamarnya. Aura kesal terpancar di wajah Farid. Pakaiannya bersimbah air bak. Juli agak senyum. Ia tidak berani berkata-kata. Ia hanya menatap kakaknya dengan wajah ketakutan plus ingin ketawa.
Farid segera enyah dari hadapan adiknya. Ia pun pamit dengan kedua orang tuanya. “Nak, kamu tidak sarapan dulu?” Tanya Ibu. “Di sekolah aja,”jawab Farid. Lalu dengan segera, Farid pergi ke sekolah dengan motornya. Farid pun berlalu. Sementara itu, mata Farid tidak berkedip saat melihat nasi goring diatas meja di ruang keluarga. Ayah dan Ibu masuk ke dalam rumah setelah melihat putra mereka tancap gas.
Ayah dan Ibu menggeleng saat melihat tingkah Juli yang tengah makan sendirian tanpa menunggu dan basa basi mengajak mereka. “Jul, kok makan sendirian?”sindir ayah. Mata Juli pun sipit karena nyengir. “Eh…ayah…ibu…”gumam Juli yang hamper memasukkan suapannya ke mulutnya. Ia pun menjadi agak malu.”Abis…ini nasi goring buatan Ibu, sih. Mana pernah Ibu mengalamai yang tidak enak terhadap nasi gorengnya?He…”gurau sang Juli. Ibu dan ayah hanya tersenyum sambil menggeleng-geleng lagi. Ayah dan Ibu pun ikut sarapan bersama Juli.
Jam tangan berwarna biru tampak melekat di tangan kanan Juli. Jarum pendek di jamnya menunjuk ke angka sebelas dan jarum panjangnya menunjuk ke angka sembilan.
Juli agak terkejut saat melihat aktifitas jarum jam tangnnya. Waktu tinggal menunggu bel masuk terdengar.
Rok biru span dan baju putih dengan bet kuningnya sedang dipakainya.
Dengan segera Ia mengambil tas sekolahnya yang duduk manis diatas tempat tidurnya. Sepasang sepatu bermerk NB yang diletakkannya sejak kemarin di depan pintu, menantinya untuk dipakai. Dengan segera, Juli mengeluarkan salah satu kaus kaki yang ada di dalam sepatu itu. Ia agak cemberut saat melihat ujung telunjuk kaus kakinya bolong. Gak ada waktu lagi buat ganti kaus kaki, udah terlambat, ujarnya di dalam hati.
Setelah itu, Ia pun berdiri dan segera menutup pintu kamarnya. Lalu Ia melangkahkan kakinya untuk berpamit dengan orang tuanya.
Saat Ia tiba di sekolah,(Bersambung ke postingan Juli yang ke-2...)
Subscribe to:
Comments (Atom)




























