Banner Berjalan

404971_345096865504973_71222061_n" />" />" /> 1486731_771977172816938_752997885_n" />" />" /> 1385824_718599168154739_53178612_n" />" />" /> 1374918_717877041560285_1336157337_n" />" />" />

Tuesday, October 18, 2016

Imouto_Part 2 (Vonis Dokter)

Genre : Dewasa, Thriller
Penulis : Andeke Parsi
Tokoh : Araki Chisato, Nakajima yuto, Ino Kei, Yabu Kouta.
Menderita penyakit modern, membuat Chisato mencari-cari dokter untuk mengetahui apa obat penyakit yang dideritanya. Ia tidak mengungkapkan hal itu pada Nakajima Yuto temannya semasa SMA, sebab Nakajima Yuto yang dipanggil Yuto adalah dokter anak, bukan dokter penyakit dalam yang diharapkan Chisato. Lalu, Chisato menemukan satu kontak, bernama Ino Kei yang merupakan seorang duda beranak satu. Namun, bukan kesembuhan yang didapat, Chisato malah menjadi korban malpraktik Ino Kei.


Pertemuan kami kedua saat di rumah sakit, dia telah menjadi dokter anak.
Aku ke rumah sakit untuk kontrol penyakit yang lama kuidap sejak aku kuliah. Tidak ada yang tahu itu kecuali keluargaku. Aku mengidap penyakit yang maish terbilang baru di dunia medis. Hipokalemia, suatu kondisi tubuh yang kekurangan zat kalium dalam tubuh. Aku menderita penyakit itu saat kuliah. Awalnya pincang berkali-kali di waktu yang tidak menentu. Dan sembuh saat aku bangun. Namun pada akhirnya aku dirawat dengan lumpuh di sekujur tubuh. banyak yang mengira flu tulang, cikungunya. Tetapi setelah diperiksa, aku menderita hipokalemia. Obatnya hanya infus bila sedang kumat, obat minum bila sedang baik-baik saja. Selama hidupku, aku akan minum obat terus menerus supaya aku bisa bertahan hidup.
Penyakit itu masih belum terungkap penyebabnya secara pasti. Tiga kali dirawat, tiga kali mendapat mendengar hipotesa dokter mengenai penyebab penyakit itu. Pertama, karena aku kelainan gen; dokter kedua mengatakan karena zat imunku mengalami trauma hingga tidak mengenal lawan dan kawan, maka menyerang ginjal yang terus mengeluarkan kalium dari dalam tubuh; tetapi dokter ketiga mengatakan karena ada kesalahan dari ginjalku. Aku bersyukur, obatnya tidak dengan cuci darah. Sejak itu, aku jadi rajin mencari hal-hal seputar kesehatan terutama tentang penyakitku.
Penyakit ini terbilang baru dan sedang dicari penyebab dan obat yang sebenarnya supaya bisa sembuh total. Aku pun sering kontrol setelah tiga kali dirawat. Tetapi pada satu sesi aku kontrol, seorang dokter bertanya padaku apakah aku sudah menikah apa belum. Pertanyaan itu biasanya diutarakan pada penderita kanker. Sebab bibiku menderita kanker payudara, apakah sudah punya anak apa belum. Fisik si penderita bisa berpengaruh pada anaknya nanti atau malah tidak bisa punya anak. Aku yang saat itu ‘takut’ dengan pernikahan karena melihat pernikahan ayah ibu, menjadi menangis setelah mendengar vonis dokter akan penyakitku terhadap anakku kelak. Dan aku, tidak pernah bercerita pada siapa pun tentang efek ke keturunanku nanti sampai akhirnya ibu meninggal karena sakit jantung oleh tindakan ayah yang senang main perempuan.
Sejak ibu meninggallah, aku mulai memperempuankan diri. Tetapi lagi, aku bertemu dengan Yutti pada satu sesi kontrol dari rumah sakit. Yutti tidak tahu tentang penyakitku. Dan ia selalu ceria bertemu denganku. Kami memang tidak pernah bertengkar sejak saling mengenal.
“Eh? Kamu kerja di sini?” Aku mengamati pakaian Yutti.
“Latihan aja, jadi dokter kecil. Hahaha. Kamu di sini? Duh, ketemu mulu kita!”
“Anu…” aku tidak bisa mengungkapkan mengenai penyakitku. “Emang kamu mau jadi dokter apa sih?”
“Dokter anak!”
Mendengar kata ‘anak’, aku terdiam. Tidak, aku harus mengontrol diriku. “Lama kamu di sini?”
“Beberapa bulan lagi aku akan kerja di sini. Nah, kamu?”
“Oh, aku masih bekerja di perusahaan lama kok.”
“Bukan. Kamu di sini ngapain? Saki tapa? Kok gak bilang? Sini biar kuobati. Hahaha…”
Aku hanya tersenyum kecil, menundukkan wajah. Dia memang senang menggodaiku seolah-olah kami pasangan kekasih. Tetapi, karena kebodohanku yang berwajah muram, ia kembali mengamati wajahku dengan muram.
“Chisato-kun? Eh? Baik, aku hapus ‘kun’-nya ya. Kamu jadi ‘chan’ aja. Udah cantik soalnya. Hehehehe…” Yutti menyengir, tetapi cengirannya memudar karena aku.
“Pasti anak-anak akan suka dengan dokter seperti dirimu. Ceria.”
“Iya dong. Masak aku pasang muka killer ke anak-anak…??? Hahaha…”
“Emang kamu suka anak-anak ya?”
“Banget. Aku kecewa, Raiya tumbuh besar. Padahal dulu dia lucu sekali. Tetapi selalu tidak mau kucubit pipinya… hehehehe…”
Aku hanya mengangguk-angguk untuk menanggapinya berceloteh. Dengan perasaan yang tidak baik ini, aku merasa harus segera pulang. Aku tidak mau bercerita apa-apa dulu. “Aku mau pulang. Kamu, selamat bekerja ya.”
“Eh, tunggu. Kamu kenapa dulu, Chisato-chan? Kok di rumah sakit?”
“Ya, aku salah masuk. Aturan aku ke rumah sehat.”
“Apa sih, mana ada itu… hahaha… kamu ini pandai melucu meski mukamu begitu…”
Yutti mengamatiku, ia benar-benar tahu bagaimana aku. Aku menundukkan wajah saat ia memandangku dengan tangannya menepuk bahuku. “Baiklah. Aku juga harus kembali kerja. Hm, aku bagi nomor hp-mu dong! Aku lupa minta waktu itu!”
Aku memberi nomorku padanya. Lalu dia misscall, aku menyimpan nomornya. Kami pun berpisah. Dia kembali bekerja, aku ke luar. Lagi, ke bioskop untuk menipu dirinya yang selalu muram karena untuk ke sesi sekian ini, aku mendapat jawaban yang sama dari dokter yang berbeda mengenai penyakitku. Memang, setiap kontrol, dokternya berbeda-beda.
Dan muram itu kubawa ke rumah, aku tidak merasakan sakit saat ibu tiriku menyuruhku mengerjakan berbagai hal. Rasa-rasanya aku rela dia menyuruhku apa saja asal aku bisa melupakan apa yang dikatakan dokter. Saat ibu tiriku mengambil uang dari dompetku, aku hanya diam. Lalu Yui yang terus menagih diriku supaya segera menikah, karena ia yang memiliki pacar ingin menunaikan amanah ibu supaya dia tidak menikah mendahuluiku.
Pertanyaan itu terdengar menyakitkan bagiku. Aku tidak memiliki niatan menikah setelah mendengar vonis dokter, tetapi hal itu malah membuatku rindu akan sosok pendamping hidup. Aku tentu akan tua nantinya, itu artinya aku butuh pendamping hidup. Tetapi, hal itu semakin membuatku sakit hati. Dan saat ibu tiriku menyuruhku tidur di luar karena kerja di rumah buruk, aku terima saja. Berjalan-jalan keluar, mencari tempat yang baik untuk menangis. Meminta maaf pada ibu di pemakaman sana karena aku ragu akan diriku yang akan menikah. Mengingat ibu, aku segera ke pemakaman. Tidak peduli dengan nuansa horror, aku tidur di dekat makamnya setelah aku puas meminta maaf dengan berurai airmata.
>><< 
Nada dering ponsel membangunkanku. Dari Yutti. Tetapi panggilan masuk itu tidak kuterima. Lalu sms, aku tidak pernah membalasnya. Aku tidak memiliki waktu untuk bermain ponsel. Aku segera pulang dan bergegas untuk bekerja.
Sampai hari berlalu begitu cepat. Aku menikmati harinya dengan perasaan hambar. Berpura-pura pada orang-orang kantor dengan dirinya yang ceria. Semua orang di kantor menyukaiku karena aku humoris. Tetapi saat tidak ada orang, aku kembali muram. Namun, aku harus tetap semangat. Aku mencari kontak dokter dengan bartanya pada rekan kerja, teman lama, dan dunia maya. dokter penyakit dalam, aku mencarinya untuk mencari tahu lebih banyak tentang penyakitku.
Aku lalu menemukan buku kedokteran dengan mencari kontak penulisnya. Melakukan komunikasi di dunia maya, sampai di ponsel. Hanya satu yang melayani komunikasi denganku, Ino Kei. Maka pada pulang bekerja pada satu hari itu, aku terus berkomunikasi pada dokter yang mencantumkan status bercerai di media sosial itu. Dokter lelaki, aku agak takut sebenarnya, sebab aku pernah disuruh melepas pakaian saat kontrol. Aku harap Ino Kei adalah dokter yang professional, meski aku agak ngeri melihat ada banyak foto Ino Kei yang banyak menampilkan fisik dari bahu sampai pusar, memperlihatkan ototnya yang kekar.
Ada ya dokter begitu?





Imouto_Part 1 (Pertemuan)

Genre : Dewasa, Thriller
Penulis : Andeke Parsi
Tokoh : Araki Chisato, Nakajima yuto, Ino Kei, Yabu Kouta.
Menderita penyakit modern, membuat Chisato mencari-cari dokter untuk mengetahui apa obat penyakit yang dideritanya. Ia tidak mengungkapkan hal itu pada Nakajima Yuto temannya semasa SMA, sebab Nakajima Yuto yang dipanggil Yuto adalah dokter anak, bukan dokter penyakit dalam yang diharapkan Chisato. Lalu, Chisato menemukan satu kontak, bernama Ino Kei yang merupakan seorang duda beranak satu. Namun, bukan kesembuhan yang didapat, Chisato malah menjadi korban malpraktik Ino Kei.


Mungkin sudah kejutan dari semesta alam.
Berhari-hari aku gelisah karena dompetku hilang. KTP, headset¾yang dirusak Yui adik perempuanku, dan flashdisk hilang. Ini peringatan. Jelas peringatan. Isi flashdisk itu yang lebih penting. Dia ibarat pacar keduaku setelah laptop. Haha, aku memang sudah melamar laptopku menjadi istriku¾hey, tapi aku perempuan. Ada isi-isi penting di dalam flashdisk itu. Bahkan lebih penting daripada KTP¾yang bisa saja aku dicap warga Negara gelap karena tidak mempunya KTP. Baiklah, supaya adil, maka aku menggelisahkan keduanya.
Aku meninggalkan dompetku yang sebenarnya dompet kosmetikku di perpustakaan. Aku gelisah karena hari libur berturut-turu membuat perpustakaan itu tutup. Karena sebal, aku memutuskan menikmati ramen pedas usai bekerja pada sore hari. Ramen miso pedas selalu membuat mood ku lebih baik. Rasanya yang nimat membuatku bisa merasa nyaman dengan semua yang menyebalkan, terutama menyebalkan pada diriku yang kadang mudah bosa. Tetapi untuk pertama kalinya, aku tidak bisa melenyapkan kegelisahanku. Mana ada cerita, kalau aku beli ramen, KTP dan flashdisk ku kembali?
Maka, usai itu, aku pergi ke bioskop. Sendirian. Karena aku memang butuh sendirian dulu. Berkali-kali aku merutuk, menyumpah serapah di dalam hati atas kecerobohanku karena  lupa pada dompet sendiri. Dan hanya dua jam saat aku lupa pada permasalan itu saat aku sudah duduk menonton film genre laga di bioskop. Aku tidak pernah pergi ke bioskop sendirian, setelah sebelumnya aku pergi bersama keluarga.
Kegelisahan kembali muncul usai aku keluar dari bioskop. Aku kembali muram. Berjalan tidak bersemangat. Langkahnya terhenti saat aku melihat jajanan. Tetapi tidak, aku tidak berselera makan. Aku takut kurus kalau begini. Sebab aku sudah berusaha menambah berat badanku supaya tidak terlalu kurus, tetapi kini aku akan frustasi karena flashdiskku hilang. Sampai saat aku kembali melanjutkan langkahku, aku berhenti karena ada yang memanggilku. Tetapi aku tidak menoleh, kembali berjalan. Kupikir, ada banyak orang yang memiliki nama seperti namaku. Namun nama itu disebut dua kali, aku berhenti, dan menoleh ragu-ragu.
“Chisato-kun!!!” seorang pria jangkung berlari kecil ke arahku. Terlihat senang sekali bisa bertemu denganku. Mengamati dari atas sampai bawah. Lalu mencubit pipiku. Tetapi aku tetap datar menatapnya. Dia teman lamaku di SMA, Nakajima Yuto.
“Oh, Yutti. Apa kabar? Lama tidak jumpa,” kataku dengan muka dan suara datar. Aku memanggilnya Yutti, dan dia memanggilku dengan tambahan –kun di belakang. Itu panggilan akrab kami. Kami berteman lama dan dekat karena kami sama-sama gokil dulunya. Namun aku tidak menyangka akan mendapat hiburan dari semesta alam, yaitu dengan bertemu dengannya. Selama ini kami hanya berkomunikasi lewat media sosial, itu pun sudah jarang karena aku minder dengan dirinya yang merupakan mahasiswa kedokteran.
Aku hanya mengamatinya. Memuji di dalam hati dirinya yang sudah semakin dewasa dan tampan¾meski kulihat wajahnya seperti selalu mirip denganku. Tetapi aku agak kecewa dia memendekkan rambut, sebab dulu rambutnya menyentuh tengkuk, aku suka laki-laku berambut panjang. Keren saja. Tetapi tetap, kami hanya berteman. Dan aku baru merasakan rindu saat bertemu dengannya kini setelah lama tidak bertemu karena kesibukan kami sejak lulus SMA.
“Wah… kamu cantik sekali. Tumben. Biasanya ganteng.”  Yutti masih mengamati penampilanku, menepuk-nepuk bahuku. Tersenyum lebar, terlihat begitu rindu padaku. Tetapi senyumnya memudar setelah melihat raut wajahku. “Hey, kau tidak senang bertemu denganku?”
“Senanglah!” Aku pura-pura senang, karena masih kepikir dompet hilangku. Aku menepuk bahunya. “Kamu juga, ganteng. Beli dimana mukanya?”
“Apa sih… hahaha… eh tapi, serius, ini kamu? Chisato-kun? Cantik loh! Kamu udah berubah ya jadi perempuan beneran? Abis darimana? Kerja?”
“Ya, kan kalau kerja, aku gak mungkin pakai jas. Pakaian laki-laki dan perempuan kan beda. Udah kayak sekolah.”
“Ouh, jangan-jangan, kalau di luar kerja, kamu tomboy lagi? Tapi, kamu masih make up-an… ???” Yutti secara tidak sopan mengamati wajahku dari dekat. Hal itu membuatku mendorong wajahnya.
Beberapa anak muda yang seusia kami mengamati. Memanggil Yutti, melambaikan tangan akan pergi lebih dulu. Rupanya, Yutti telah pamit lebih dulu pergi sendiri sebelum ia bertemu denganku secara tidak sengaja.
“Teman kuliah?”
“Iya. Kamu abis darimana? Dari kantor langsung ke sini? Abis nonton apa?”
“Biasa. Berantem-berantem,” aku membalikkan badan, melanjutkan langkah. Yutti pun menyejajari langkahku. Kami kembali bernostalgia masa SMA. Tetapi tetap aku tidak bisa seperti Yutti yang ceria. Masih terbayang flashdisk sang kekasih.
“Hey, kamu kenapa sih? Lapar? Makan yuk! Udah lama kita gak makan bareng loh! Aku jadi kangen waktu kita lomba makan…”
“Hey!” Aku menepuk keras-keras punggung Yutti. “Kok kamu yang ceria sih? Nih ya, dalam sejarah, yang ada laki-laki yang dingin, bukan sebaliknya! Kamu kayak perempuan tahu gak! Cerewet!”
Yutti sebal, tetapi ia kemudia tersenyum penuh isyarat. “Kamu gak buka facebook ya? Aku hubungin kamu susah banget!”
“Buat apa? Ada hal penting? Reuni SMA?”
Yutti tidak menjawab. Menarik tanganku, mengajak duduk di sebuah tempat makan. Hubungan kami memang cenderung dekat, benar-benar seperti teman, kadang-kadang seperti adik kakak, yaitu dia yang dingin dan aku yang cerewet. Sempat kena gossip saat SMA, tetapi kami tetap berteman, sampai Yui adikku yang satu sekolah denganku iri denganku, bahkan sempat mencuri-curi perhatian dengan Yutti. Tetapi tetap, Yutti lebih senang denganku katanya, sebab aku apa adanya dan memang bisa diajak untuk berteman.
“Kamu kemarin ke perpustakaan Yoyogi ya?” tanyanya memancing penasaran.
Aku mengangguk dengan jantung berdebar-debar. Aku harap-harap cemas akan apa yang Yutti katakan. “Kenapa?”
Yutti mengembuskan nafas, mengambil sesuatu dari tasnya. “Kemarin aku lihat kamu di sana. Aku panggil, kamu udah masuk bis.” Ia menyerahkan sesuatu yang kunanti. “Kamu teledor lagi…”
Mataku membulat ceria. Di dalam hati bersorak kegirangan. Yutti mengembalikan dompetku. “Bagaimana…???”
“Aku sering lihat kamu di sana. Aku juga sering ke sana. Tapi aku gak sempat sapa kamu, soalnya bareng-bareng teman. Hehehe, sombong ya. Tapi maaf, aku sibuk. Asli, bukan sok sibuk. Nah, aku nemu dompet itu di rak. Kulihat isinya, itu identitas kamu. Mau aku balikin ke orang perpus, bodoh. Soalnya aku kan kenal kamu. Nah aku mau minta ketemu aja sama kamu buat balikin. Tapi kamu kayaknya gak buka facebook ya?”
“Ya. Ya ampun… jadi sama kamu…” aku menangis haru memeluk dompetku.
“Lebay. Gitu aja pake nangis.”
“Ini barang berhargaku, Yutti! Kamu kan tahu, aku saat ini masih menjalin cinta dengan laptop, dan aku sedang berselingkuh dengan flashdisk…
Yutti memandangku datar, ia tahu akan diriku yang suka aneh-aneh. “Emang gak ada pacar yang lebih hidup apa?”
“Udah. Makasih ya. Kamu emang yang paling………”
“Lebay. Ohya, bagaimana kabar orang-orang rumah? Aku udah lama ke rumahmu.”
“Penting banget gitu kamu ke rumahku?”
“Kamu gak ke rumahku mah ku maklumi. Ibu marah mulu ada kamu. Jahil sih!”
Tawa kami berderai. Sore itu bersyukur, alam mempertemukan kami, lebih tepatnya aku dan dompetku dengan isinya yang lengkap. Aku dan Yutti kembali bercerita. Mengenai pertemanan kami yang seperti anak-anak yang masih suka menggila. Dan aku tidak menyangka, Yutti yang kukenal masih Yutti yang dulu, tidak berubah meski kami tidak bertemu, tidak berubah meski dia orang berada dan menjadi mahasiswa kedokteran.
Namun obrolan kami menjadi muram saat aku bercerita mengenai keluargaku. Aku dan dua adikku, tidak lagi tinggal bersama ayah ibu. Setahun lalu ibu meninggal, kami tinggal dengan ibu tiri dengan ayah yang tidak lagi kembali setelah menemukan perempuan lain. Kami tinggal dengan ibu tiri yang tidak pernah berlembut-lembut pada kami. Selalu menagih uang untuk kecantikannya demi memikat pria lain sebagai balas dendam atas suaminya.

Yutti tercenung mendengarnya. Dan ini menjadi awal pertemuan kami kembali.