Kapal-kapal jepang berhenti di pelabuhan sunda kelapa. Aku hanya bisa mengintipnya dari kejauhan. Ku lihat, Sato menyambut dua orang yang keluar dari kapal itu dengan beberapa orang di belakang mereka yang berbeda pakaian dengan mereka. Tiba-tiba seseorang mengagetkanku dari belakang. Sumpah serapah dari mulutnya mulai meluncur dari mulutnya. Untungnya aku tidsak mengeryi bahasa jepang yang dipakainya. Dari bahasa tubuhnya, Ia menyuruhku untuk kembali ke ber-romusha. Terpaksa aku kembali me-romusha setelah digeplak keras-keras olehnya.
Sore itu aku ketemu Om Daniel. Untuk kesekian kalinya Ia terkejut melihatku yang kembali me-romusha setelah sebelumnya Ia melarangku dan Aku mengiyakannya. Ia pun mendekatiku yang kusam dan cemong ini dengan ekspresi tidak percaya dan kecewa. Rambut bondolku yang mulai memanjang, mulai dipeganginya.
“Kamu kok pake baju ini sih?!” Om Daniel mulai gerget. Dia memang tidak tahu kalau aku itu harus kembali menjadi romusha. Dikarenakan aku yang perempuan. Memang, romusha itu harus laki-laki. Oleh karena itu aku memendekkan rambutku dan selalu berpakaian laki-laki dengan gelagat yang dibuat selaki-laki mungkin. Supaya para jepang culas itu tidak mengetahui identitasku yang sebenarnya.
Namun, setahun yang lalu pun terjadi. Sato, seorang jepang yang sangat disegani, lebih tepatnya ditakuti oleh ‘anak buah’nya mengetahui keperempuananku. Kakak dan orangtua ku yang yang telah mendahuluiku, membuatku ingin menjadi romusha karena mereka mati oelah tangan-tangan jepang. Para tentara jepang yang haus akan perempuan pun mulai membuatku mengalami sedikit trauma. Ya, hanya sedikit. Karena dendam ini jauh lebih besar dari pada trauma itu. Sembilan bulan kemudian, aku melahirkan SatoJunior. Padahal aku masih 16 tahun. Teman-temanku sudah banyak menjadi korban. Tapi aku tidak pernah menyangka akan mengalami hal ini juga setelah penyamaran yang ku lakukan ini. Ingin ku habisi saja nyawa nyawa manusia yang menumpang di rahimku ini. Tapi, ternyata aku tidak kuasa melakukannya. Aku pun memutuskan untuk membiarkannya lahir. Hanya saja, aku tidak mau Ia menyebutku dengan sebutan ‘Ibu’. Barulah setelah keadaanku pulih, diam-diam aku kembali menjadi romusha. Dengan destinasi yang kuat, yaitu membunuh Sato dan antek-anteknya. Tapi, lagi-lagi usahaku diketahui oleh Om Daniel. Tentu Ia tidak akan diam. Saat Ia melontarkan banayk pertanyaan, aku hanya diam. Buru-buru Ia membawaku pulang.
Saat aku dan Om Daniel sampai di rumah, Madam Amanda terkejut melihat penampilanku yang kucel seperti seorang kuli. Aku tahu Madam akan bersikap sama seperti Om Daniel. Hanya saja Ia jauh lebih lembut dan sangat keibuan. Aku tidak peduli apa katanya. Aku hanya melihat-lihat makhluk mungil yang digendongnya. Ku pegang tangannya yang sangat lunak itu. Aku merasa begitu gemas dengannya. Akan tetapi tiap melihat bayi ini, aku selalu sedih. Aku belum siap menjadi seorang Ibu.
“Nina, kamu dengar tidak?!” Suara kebelandaan Madam menyadarkanku.
“Madam, aku tidak bias berhenti begitu saja. Namaku sudah terdaftar dalam daftar nama romusha. Dan aku tidak akan berhenti sampai aku bias menggenggam leher keparat sato itu!”
“Tapi, Nina…”
“Madam, tolong mengertilah aku ini!”
Aku tidak peduli apa jawabannya dan langsung ke kamar dan membantinng pintu yang sudah reot. Kami hanya tinggal di sebuah gubuk yang masih layak. Hanya ada tiga ruangan di dalamnya. Dua kamar dan dapur. Kamar yang ku masuki ini khusus untuk aku dan madam. Rumah ini sendiri dibangun oleh para belanda yang sudah tobat Om Daniel dan Om Rafael. Tapi karena Om Rafael pernah melawan jepang dan dicurigai sebagai mata-mata belanda, Ia bunting kaki dan hampir dibunuh. Karena ada anggota baru, kini aku dan madam tidur bareng makhluk mungil yang masih seperti kertas putih belum ternoda. Dan tiap melihatnya, aku hanya bias menahan sakit. Rasanya tidak mungkin aku membalaskan dendamku padanya. Padfa ayah dan bangsa ayahnyalah yang harus ku tikam. Dan aku benar-benar sangat berharap akan kemerdekaan atas penjajahan yang diderita bansaku ini. Aku sangat berharap…
***
Seperti biasa, dini hari ini aku tidak bisa tidur kalau aku terjaga malam-malam. Aku penasaran apa yang dilakukan oleh para jepang. Aku ingin melihat para belia jelita yang dikirim jepang untuk menjadi jugun ianfu. Kemarin aku mendengar berita itu bahwa para remaja putri akan dikirim ke Kalimantan untuk menjadi jugun ianfu. Namun, langkahku terhenti saat sebuah suara jepang memanggilku. Ah, aku ingin sekali menggagalkan rencana itu. Tapi mungkinkah hal ini akan ketahuan?
“Matte!”
Eh? Suaranya terdengar ramah. Dan aku tidak meragu untuk menoleh ke belakang.
Sesosok pria. Tapi kelihatannya seumuran denganku. Ia mendekatiku dengan memberi jarak padaku. Dari bawah sampai atas, Ia memperhatikanku. “Nani Yattenda?” katanya ramah. Tapi aku hanya bias mengerutkan kening. Aku tidak mengerti bahasa jeoang yang digunakannya.
Ia pun mendehem. “Apa yang kamu lakukan malam-malam begini?” katanya lagi. Aku hanya bias menyembunyikan senyumku. Sepertinya Ia mengerti aku tidak bisa berbahasa jepang dan berusaha menggunakan bahasa yang ku mengerti.
”Suke-suke gue dong! Ini kampong gue! Eh, kok muka lu enak banget ya buat diusir?” bisikku pada pundak. Dari tadi aku gerget sekali ingin ku apakan si jepang ini. Apalagi keliatannya dia tidakl segalak Sato, pasti bisa dihabisi. Hihihi…
“Nantte itta no?”
Aku tidak peduli Ia bicara apa dan pakai bahasa apa. Aku sudah gerget ingin meremukkannya. Tapi aku rasa ini belum tepat. Aku lebih suka pergi saja dcari sini dari pada setan mulai menguasai hati. Tapi Ia cepat meraih tanganku. “Kamu perempuan, deshou?” Aku memang tidak mengerti ujungnya. Tapi tetap saja aku kaget dan panik, Ia mengetahui kalau aku memang perempuan. Sebelum Ia berbuat yang lebih jauh, mungkin aku harus menyerangnya dulu.
Sebuah tinju melayang ke ulu hatinya. Dan begitu Ia melepas pegangannya, segera aku lari sekencang-kencangnya. Anehnya, orang itu hanya diam sambil melihatku, sementara tangan kanannya memegang daerah ulu hatinya yang sakit. Mungkin sebentar lagi Ia akan pingsan. Ah ah ah! Aku tidak peduli. Aku harus meningkatkan kecepatan lariku. Harus sampai rumah!
***
Plak!!!
“Bakayaro!”
Hasegawa tidak henti-hentinya menamparku karena aku terlambat. Aku hanya diam menunduk. Seorang tinggi mendekati kami. Antara Ia dan Hasegawa terlibat percakapan yang sesekali melirikku. Tanpa bicara apa-apa, Hasegawa meninggalkanku dan pria jangkung itu. Dari wajahnya ketahuan kalau Ia masih sangat muda. Tapi aku tidak suka senyuman sinisnya padaku.
“Oi, para romusha!!! Mulai sekarang, aku akan menggantikan posisi Hasegawa. Namaku Nakajima Yuta. Sudah! Ayo kembali bekerja!” Nakajima mulai member senyuman sinis pada tiap romusha yang dilihatnya. Sangat jelas, gigi gingsulnya itu menampakkan diri. Aku gerget ingin mencabut giginya satu persatu, tapi mungkin harus memilih kembali me-romusha. Tiba-tiba Nakajima memutar badanku menghadapnya. Matanya tertuju pada dadaku. Aku mulai khawatir. Tangannya mulai mendarat. Untungnya seseorang memanggilnya dan Nakajima tidak jadi melakukannya. Dan aku mengenal orang yang memanggil Nakajima. Dia adalah orang yang ku temui dini hari.
“Cepat kerja!” bentak Nakajima pada ku. Telingaku langsung sakit mendengarnya. Diam-diam aku membetulkan pakaianku supaya keperempuananku tidak mudah diketahui. Saat aku sedang bekerja, seorang romusha, rekanku, mengajakku ngobrol. Dia memanggilku ‘rif’, asal kata dari Arif. Aku memang menggunakan nama Arif, untuk menyembunyikan identitasku. Arif adalah adalah nama kakak ku yang ditembak mati para tentara jepang.
“Rif, kamu tau gak si Nakajima itu pergi kemana?”
“ngapain lagi selain main perempuan!”
“Eh?Bukan. Sepertinya dia akan menyundut romusha pembangkang. Lihat tuh!”
Aku memperhatikan Nakajima yang mulai melangkah sambil membawa sebuah besi yang baru dipanaskan ke arah romusha yang mulai memberontak karena tangannya dipegang oleh anak buah Nakajima. Aku dan rekanku itu diam-diam membuntutinya. Para romusha lain hanya menatap kami was-was karena takut kami juga akan dihabisi, tapi hal itu mungkin tergubris oleh kami.
Langkah kami terhenti pada kerumunan orang dari kejauhann dan Kami mengintip di bawah pohon. Dari kerumunan orang itu, Nakajima keluar dengan wajah antagonisnya, sambil menyeret pemuda yang badannya sudah berdarah-darah. Ia pun melepas paksa pakaian pemuda itu dan menyundut punggungnya dengan besi panas tadi. Ia benar-benar melakukannya tanpa iba sedikit pun. Aku hanya bisa menutup mulut karena tidak kuasa melihatnya. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku, padahal aku akan menghampiri Nakajima sialan itu. Untungnya yang menepuk pundakku adalah seoarng romusha muda. Ia mengajakku untuk kembali bekerja. Sayangnya, apa yang kami lakukan ini diketahui seorang jepang yang di belakang si romusha muda. Romusha muda itu berbalik badan saat si jepang ini bicara.
“Sedang apa kalian di sini? Bukankah seharusnya kalian bekerja?” kata si jepang ini dengan tenang. Dia orang yang memanggil Nakajima tadi, juga orang yang ku temui dini hari.
“Selain Nakajima, Aku Yamada Ryusuke juga bertugas untuk mengawasi kalian. Aku harap kalian mengerti karena aku tidak suka bertingkah kasar sekalipun pada para pekerja seperti kalian.”
Kami terdiam. Bawaannya memang tenang. Tapi tetap saja, dia tidak sopan. Dia menganggap kami ini pekerja. Seharusnya dia yang kami perlakukan seperti pekerja. Tapi, aku sedang tidak mau berurusan pada Yamada. Aku bersama dua rekanku kembali ke tempat. Sesekali, kami mendengar suara jeritannya korban Nakajima. Akun hanya ngilu mendengarnya. Dan lagi, Yamada kembali mengingatkan kami saat kami menoleh ke belakang. Sikapnya seperti yang tadi, tenang. Suaranya yang tenang membuatku tidak dongkol padanya seperti Nakajima, Hasegawa, Sato dan para jepang lainnya. Mungkin Ia orang baik. Tapi aku meragukannya. Kalau orang baik, tidak mungkin Ia menerima pekerjaan yang dilakukannya sekarang. Dan biar bagaimana pun, dia adalah jepang, jepang yang kejam.
Saat kami di lokasi romusha, aku melihat Sato. Aku benar-benar geram melihat sosoknya. Tapi aku harus menahan emosi ini. Dia terlihat memanggil salah seoarang romusha dari kami dan sesekali Ia melirikku dengan senyuman sinis. Tapi aku merasa ada yang aneh denagannya. Dia yang mengetahui kepermpuananku, tapi dia tidak bicara apa-apa tentangku. Dan Ia pergi bersama romusha yang dipanggilnya itu. Sepertinya Ia sedang merencanakan sesuatu.
***
Siang itu Joko berlari ke rumah Nina setelah Sato membisik sesuatu padanya. Gerak-geriknya mencurigakan. Ia pun berhenti di depan rumahnya dan mengetuk pintu sambil melihat kiri kanan seperti seorang yang mengendap-endap. Seorang gadis seusia Nina membukakan pintu untuk masnya itu, Citra namanya yang tak lain adalah teman baik Nina. Buru-buru Ia menyuruh adiknya masuk bersamanya dan mengunci pintu rumah. Tentu, Citra merasa ada hal aneh dari masnya itu. Joko menyuruh adiknya itu untuk membawa bayi Nina kepadanya setelah Sato mengimingi jabatan tinggi padanya.
“Mas mau jadi pengkhianat?!” sebuah kalimat berbunyi penolakan dari Citra tentu keluar setelah Masnya itu membisikinya.
“Dik, Kita akan dibebaskan! Setelah ini tidak akan ditindas lagi! Dan kita harus merampas apa yang seharusnya menjadi milik kita selama ini yang ibu dan bapak wariskan pada kita! Dan kamu tidak perlu takut akan menjadi budak seksnya mereka! Karena mereka akan menghormatimu!”
“Begitukah?”
“Sudahlah, lakukan saja bila kau ingin selamat!”
Lama Citra berpikir merenungi apa yang dijanjikan masnya itu. Ia pun berusaha melihat kesungguhan masnya itu dari sepasang matanya. Pelan-pelan Citra mengangguk walau tampak sangat jelas ada keraguan di wajah Citra. Wajah sumringah pun mewarnai raut muka Joko.
“Ya sudah, cepat! Jangan sampai ketahuan jepang! Ohya, jangan lupa. Kau harus menyamar! Tidak ada yang tahu kalau aku punya adik perempuan seepertimu kecuali Nina dan keluarganya!”
Citra hanya bisa mengangguk. Memang tidak ada yang tahu terutama pihak jepang kalau Ia memiliki adik yang cantik. Selain karena Joko yang pandai berbohong, juga karena Citra tidak pernah menampakkan diri di dunia luar. Ia tahu bahwa nasibnya akan buruk bila keluar rumah. Sudah banyak teman perempuannya yang diajak jepang dengan iming-iming menjadi penyanyi, pemain teater, dan lain lain tapi sampai sekarang tidak ada yang kembali bahkan kenyataannya mereka itu dijadikan budak seksnya jepang alias jugun ianfu.
Dan Joko tentu tidak mau hal itu terjadi pada adik semata wayangnya itu. Ia menyuruh adiknya untuk mengganti pakaiannnya dengan pakaian laki-laki sekaligus blangkon untuk menutupi rambut panjang Citra. Setelah mereka sama-sama yakin, Citra pun memulai aksinya. Ia mengendap-endap ke rumah Nina. Ia meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukannya tidaklah salah. Karena Ia yakin kalau Nina tidak menyayangi bayinya itu. Nina selalu mengucap kalimat penyesalan tiap menceritakan si bayi. Hal itu membuat Citra semakin yakin kalau Nina memang tidak mengharapkan bayi itu saama sekali.
Di saat yang sama, Hasegawa sedang mengelilingi daerah-daerah sekitar. Tampaknya Ia mulai bosan dengan pekerjaannya. Tak sengaja ia melihat Citra. Ia mengira bahwa apa yang dilihatnya adalah seorang romusha yang akan kabur. Hal itu dapat diketahuinya dari gerak-gerik Citra yang mencurigakan seperti maling yang sedang beraksi.
“Oi!!! Romusha!” teriak Hasegawa. Citra langsung kaget dan lari terbirit-birit. Tapi, kecepatan lari Hasegawa sebagai laki-laki jauh lebih unggul ketimbang Citra hingga Ia mampu meraih pundak Citra dan tanpa piker panjang, sebuah tamparan memecah udara. Hasegawa terkejut begitu blagkon yang dipakai Citra terlepas dan rambut panjang Citra pun tergerai. Terlebih suara jeritannya sangat meyakinkan Hasegawa kalau yang ditamparnya adalah Citra. Hasegawa pun menarik rambut Citra untuk melihat wajah Citra. Dan memang perempuan. Lidahnya pun membasahi bibirnya begitu tahu Ia mendapat perempuan. Tanpa ampun, Hasegawa menarik rambut panjang Citra dan menyeretnya jauh ke tempat sepi hingga Citra berteriak kesakitan sejadi-jadinya. Suaranya melengking tinggi hingga sampai ke telinga para romusha dan dua pengawasnya, Nakajima dan Yamada.
Beberapa romusha serentak berhenti bekerja beberepa detik setelah mendengar jeritan perempuan. Yamada pun menyuruh mereka untuk kembali bekerja. Sedangkan Nakajima mulai menggunakan bahasa jepangnya pada Yamada. Yamada hanya menggunakan bahasa isyarat pada Nakajima hingga Nakajima hanya mengangguk dan kembali mengawasai para romusha.
“Biar aku yang ke sana,”bisik Yamada pada dirinya sendiri. Lalu Ia melangkah ke sumber suara tadi.
“Kamu kok pake baju ini sih?!” Om Daniel mulai gerget. Dia memang tidak tahu kalau aku itu harus kembali menjadi romusha. Dikarenakan aku yang perempuan. Memang, romusha itu harus laki-laki. Oleh karena itu aku memendekkan rambutku dan selalu berpakaian laki-laki dengan gelagat yang dibuat selaki-laki mungkin. Supaya para jepang culas itu tidak mengetahui identitasku yang sebenarnya.
Namun, setahun yang lalu pun terjadi. Sato, seorang jepang yang sangat disegani, lebih tepatnya ditakuti oleh ‘anak buah’nya mengetahui keperempuananku. Kakak dan orangtua ku yang yang telah mendahuluiku, membuatku ingin menjadi romusha karena mereka mati oelah tangan-tangan jepang. Para tentara jepang yang haus akan perempuan pun mulai membuatku mengalami sedikit trauma. Ya, hanya sedikit. Karena dendam ini jauh lebih besar dari pada trauma itu. Sembilan bulan kemudian, aku melahirkan SatoJunior. Padahal aku masih 16 tahun. Teman-temanku sudah banyak menjadi korban. Tapi aku tidak pernah menyangka akan mengalami hal ini juga setelah penyamaran yang ku lakukan ini. Ingin ku habisi saja nyawa nyawa manusia yang menumpang di rahimku ini. Tapi, ternyata aku tidak kuasa melakukannya. Aku pun memutuskan untuk membiarkannya lahir. Hanya saja, aku tidak mau Ia menyebutku dengan sebutan ‘Ibu’. Barulah setelah keadaanku pulih, diam-diam aku kembali menjadi romusha. Dengan destinasi yang kuat, yaitu membunuh Sato dan antek-anteknya. Tapi, lagi-lagi usahaku diketahui oleh Om Daniel. Tentu Ia tidak akan diam. Saat Ia melontarkan banayk pertanyaan, aku hanya diam. Buru-buru Ia membawaku pulang.
Saat aku dan Om Daniel sampai di rumah, Madam Amanda terkejut melihat penampilanku yang kucel seperti seorang kuli. Aku tahu Madam akan bersikap sama seperti Om Daniel. Hanya saja Ia jauh lebih lembut dan sangat keibuan. Aku tidak peduli apa katanya. Aku hanya melihat-lihat makhluk mungil yang digendongnya. Ku pegang tangannya yang sangat lunak itu. Aku merasa begitu gemas dengannya. Akan tetapi tiap melihat bayi ini, aku selalu sedih. Aku belum siap menjadi seorang Ibu.
“Nina, kamu dengar tidak?!” Suara kebelandaan Madam menyadarkanku.
“Madam, aku tidak bias berhenti begitu saja. Namaku sudah terdaftar dalam daftar nama romusha. Dan aku tidak akan berhenti sampai aku bias menggenggam leher keparat sato itu!”
“Tapi, Nina…”
“Madam, tolong mengertilah aku ini!”
Aku tidak peduli apa jawabannya dan langsung ke kamar dan membantinng pintu yang sudah reot. Kami hanya tinggal di sebuah gubuk yang masih layak. Hanya ada tiga ruangan di dalamnya. Dua kamar dan dapur. Kamar yang ku masuki ini khusus untuk aku dan madam. Rumah ini sendiri dibangun oleh para belanda yang sudah tobat Om Daniel dan Om Rafael. Tapi karena Om Rafael pernah melawan jepang dan dicurigai sebagai mata-mata belanda, Ia bunting kaki dan hampir dibunuh. Karena ada anggota baru, kini aku dan madam tidur bareng makhluk mungil yang masih seperti kertas putih belum ternoda. Dan tiap melihatnya, aku hanya bias menahan sakit. Rasanya tidak mungkin aku membalaskan dendamku padanya. Padfa ayah dan bangsa ayahnyalah yang harus ku tikam. Dan aku benar-benar sangat berharap akan kemerdekaan atas penjajahan yang diderita bansaku ini. Aku sangat berharap…
***
Seperti biasa, dini hari ini aku tidak bisa tidur kalau aku terjaga malam-malam. Aku penasaran apa yang dilakukan oleh para jepang. Aku ingin melihat para belia jelita yang dikirim jepang untuk menjadi jugun ianfu. Kemarin aku mendengar berita itu bahwa para remaja putri akan dikirim ke Kalimantan untuk menjadi jugun ianfu. Namun, langkahku terhenti saat sebuah suara jepang memanggilku. Ah, aku ingin sekali menggagalkan rencana itu. Tapi mungkinkah hal ini akan ketahuan?
“Matte!”
Eh? Suaranya terdengar ramah. Dan aku tidak meragu untuk menoleh ke belakang.
Sesosok pria. Tapi kelihatannya seumuran denganku. Ia mendekatiku dengan memberi jarak padaku. Dari bawah sampai atas, Ia memperhatikanku. “Nani Yattenda?” katanya ramah. Tapi aku hanya bias mengerutkan kening. Aku tidak mengerti bahasa jeoang yang digunakannya.
Ia pun mendehem. “Apa yang kamu lakukan malam-malam begini?” katanya lagi. Aku hanya bias menyembunyikan senyumku. Sepertinya Ia mengerti aku tidak bisa berbahasa jepang dan berusaha menggunakan bahasa yang ku mengerti.
”Suke-suke gue dong! Ini kampong gue! Eh, kok muka lu enak banget ya buat diusir?” bisikku pada pundak. Dari tadi aku gerget sekali ingin ku apakan si jepang ini. Apalagi keliatannya dia tidakl segalak Sato, pasti bisa dihabisi. Hihihi…
“Nantte itta no?”
Aku tidak peduli Ia bicara apa dan pakai bahasa apa. Aku sudah gerget ingin meremukkannya. Tapi aku rasa ini belum tepat. Aku lebih suka pergi saja dcari sini dari pada setan mulai menguasai hati. Tapi Ia cepat meraih tanganku. “Kamu perempuan, deshou?” Aku memang tidak mengerti ujungnya. Tapi tetap saja aku kaget dan panik, Ia mengetahui kalau aku memang perempuan. Sebelum Ia berbuat yang lebih jauh, mungkin aku harus menyerangnya dulu.
Sebuah tinju melayang ke ulu hatinya. Dan begitu Ia melepas pegangannya, segera aku lari sekencang-kencangnya. Anehnya, orang itu hanya diam sambil melihatku, sementara tangan kanannya memegang daerah ulu hatinya yang sakit. Mungkin sebentar lagi Ia akan pingsan. Ah ah ah! Aku tidak peduli. Aku harus meningkatkan kecepatan lariku. Harus sampai rumah!
***
Plak!!!
“Bakayaro!”
Hasegawa tidak henti-hentinya menamparku karena aku terlambat. Aku hanya diam menunduk. Seorang tinggi mendekati kami. Antara Ia dan Hasegawa terlibat percakapan yang sesekali melirikku. Tanpa bicara apa-apa, Hasegawa meninggalkanku dan pria jangkung itu. Dari wajahnya ketahuan kalau Ia masih sangat muda. Tapi aku tidak suka senyuman sinisnya padaku.
“Oi, para romusha!!! Mulai sekarang, aku akan menggantikan posisi Hasegawa. Namaku Nakajima Yuta. Sudah! Ayo kembali bekerja!” Nakajima mulai member senyuman sinis pada tiap romusha yang dilihatnya. Sangat jelas, gigi gingsulnya itu menampakkan diri. Aku gerget ingin mencabut giginya satu persatu, tapi mungkin harus memilih kembali me-romusha. Tiba-tiba Nakajima memutar badanku menghadapnya. Matanya tertuju pada dadaku. Aku mulai khawatir. Tangannya mulai mendarat. Untungnya seseorang memanggilnya dan Nakajima tidak jadi melakukannya. Dan aku mengenal orang yang memanggil Nakajima. Dia adalah orang yang ku temui dini hari.
“Cepat kerja!” bentak Nakajima pada ku. Telingaku langsung sakit mendengarnya. Diam-diam aku membetulkan pakaianku supaya keperempuananku tidak mudah diketahui. Saat aku sedang bekerja, seorang romusha, rekanku, mengajakku ngobrol. Dia memanggilku ‘rif’, asal kata dari Arif. Aku memang menggunakan nama Arif, untuk menyembunyikan identitasku. Arif adalah adalah nama kakak ku yang ditembak mati para tentara jepang.
“Rif, kamu tau gak si Nakajima itu pergi kemana?”
“ngapain lagi selain main perempuan!”
“Eh?Bukan. Sepertinya dia akan menyundut romusha pembangkang. Lihat tuh!”
Aku memperhatikan Nakajima yang mulai melangkah sambil membawa sebuah besi yang baru dipanaskan ke arah romusha yang mulai memberontak karena tangannya dipegang oleh anak buah Nakajima. Aku dan rekanku itu diam-diam membuntutinya. Para romusha lain hanya menatap kami was-was karena takut kami juga akan dihabisi, tapi hal itu mungkin tergubris oleh kami.
Langkah kami terhenti pada kerumunan orang dari kejauhann dan Kami mengintip di bawah pohon. Dari kerumunan orang itu, Nakajima keluar dengan wajah antagonisnya, sambil menyeret pemuda yang badannya sudah berdarah-darah. Ia pun melepas paksa pakaian pemuda itu dan menyundut punggungnya dengan besi panas tadi. Ia benar-benar melakukannya tanpa iba sedikit pun. Aku hanya bisa menutup mulut karena tidak kuasa melihatnya. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku, padahal aku akan menghampiri Nakajima sialan itu. Untungnya yang menepuk pundakku adalah seoarng romusha muda. Ia mengajakku untuk kembali bekerja. Sayangnya, apa yang kami lakukan ini diketahui seorang jepang yang di belakang si romusha muda. Romusha muda itu berbalik badan saat si jepang ini bicara.
“Sedang apa kalian di sini? Bukankah seharusnya kalian bekerja?” kata si jepang ini dengan tenang. Dia orang yang memanggil Nakajima tadi, juga orang yang ku temui dini hari.
“Selain Nakajima, Aku Yamada Ryusuke juga bertugas untuk mengawasi kalian. Aku harap kalian mengerti karena aku tidak suka bertingkah kasar sekalipun pada para pekerja seperti kalian.”
Kami terdiam. Bawaannya memang tenang. Tapi tetap saja, dia tidak sopan. Dia menganggap kami ini pekerja. Seharusnya dia yang kami perlakukan seperti pekerja. Tapi, aku sedang tidak mau berurusan pada Yamada. Aku bersama dua rekanku kembali ke tempat. Sesekali, kami mendengar suara jeritannya korban Nakajima. Akun hanya ngilu mendengarnya. Dan lagi, Yamada kembali mengingatkan kami saat kami menoleh ke belakang. Sikapnya seperti yang tadi, tenang. Suaranya yang tenang membuatku tidak dongkol padanya seperti Nakajima, Hasegawa, Sato dan para jepang lainnya. Mungkin Ia orang baik. Tapi aku meragukannya. Kalau orang baik, tidak mungkin Ia menerima pekerjaan yang dilakukannya sekarang. Dan biar bagaimana pun, dia adalah jepang, jepang yang kejam.
Saat kami di lokasi romusha, aku melihat Sato. Aku benar-benar geram melihat sosoknya. Tapi aku harus menahan emosi ini. Dia terlihat memanggil salah seoarang romusha dari kami dan sesekali Ia melirikku dengan senyuman sinis. Tapi aku merasa ada yang aneh denagannya. Dia yang mengetahui kepermpuananku, tapi dia tidak bicara apa-apa tentangku. Dan Ia pergi bersama romusha yang dipanggilnya itu. Sepertinya Ia sedang merencanakan sesuatu.
***
Siang itu Joko berlari ke rumah Nina setelah Sato membisik sesuatu padanya. Gerak-geriknya mencurigakan. Ia pun berhenti di depan rumahnya dan mengetuk pintu sambil melihat kiri kanan seperti seorang yang mengendap-endap. Seorang gadis seusia Nina membukakan pintu untuk masnya itu, Citra namanya yang tak lain adalah teman baik Nina. Buru-buru Ia menyuruh adiknya masuk bersamanya dan mengunci pintu rumah. Tentu, Citra merasa ada hal aneh dari masnya itu. Joko menyuruh adiknya itu untuk membawa bayi Nina kepadanya setelah Sato mengimingi jabatan tinggi padanya.
“Mas mau jadi pengkhianat?!” sebuah kalimat berbunyi penolakan dari Citra tentu keluar setelah Masnya itu membisikinya.
“Dik, Kita akan dibebaskan! Setelah ini tidak akan ditindas lagi! Dan kita harus merampas apa yang seharusnya menjadi milik kita selama ini yang ibu dan bapak wariskan pada kita! Dan kamu tidak perlu takut akan menjadi budak seksnya mereka! Karena mereka akan menghormatimu!”
“Begitukah?”
“Sudahlah, lakukan saja bila kau ingin selamat!”
Lama Citra berpikir merenungi apa yang dijanjikan masnya itu. Ia pun berusaha melihat kesungguhan masnya itu dari sepasang matanya. Pelan-pelan Citra mengangguk walau tampak sangat jelas ada keraguan di wajah Citra. Wajah sumringah pun mewarnai raut muka Joko.
“Ya sudah, cepat! Jangan sampai ketahuan jepang! Ohya, jangan lupa. Kau harus menyamar! Tidak ada yang tahu kalau aku punya adik perempuan seepertimu kecuali Nina dan keluarganya!”
Citra hanya bisa mengangguk. Memang tidak ada yang tahu terutama pihak jepang kalau Ia memiliki adik yang cantik. Selain karena Joko yang pandai berbohong, juga karena Citra tidak pernah menampakkan diri di dunia luar. Ia tahu bahwa nasibnya akan buruk bila keluar rumah. Sudah banyak teman perempuannya yang diajak jepang dengan iming-iming menjadi penyanyi, pemain teater, dan lain lain tapi sampai sekarang tidak ada yang kembali bahkan kenyataannya mereka itu dijadikan budak seksnya jepang alias jugun ianfu.
Dan Joko tentu tidak mau hal itu terjadi pada adik semata wayangnya itu. Ia menyuruh adiknya untuk mengganti pakaiannnya dengan pakaian laki-laki sekaligus blangkon untuk menutupi rambut panjang Citra. Setelah mereka sama-sama yakin, Citra pun memulai aksinya. Ia mengendap-endap ke rumah Nina. Ia meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukannya tidaklah salah. Karena Ia yakin kalau Nina tidak menyayangi bayinya itu. Nina selalu mengucap kalimat penyesalan tiap menceritakan si bayi. Hal itu membuat Citra semakin yakin kalau Nina memang tidak mengharapkan bayi itu saama sekali.
Di saat yang sama, Hasegawa sedang mengelilingi daerah-daerah sekitar. Tampaknya Ia mulai bosan dengan pekerjaannya. Tak sengaja ia melihat Citra. Ia mengira bahwa apa yang dilihatnya adalah seorang romusha yang akan kabur. Hal itu dapat diketahuinya dari gerak-gerik Citra yang mencurigakan seperti maling yang sedang beraksi.
“Oi!!! Romusha!” teriak Hasegawa. Citra langsung kaget dan lari terbirit-birit. Tapi, kecepatan lari Hasegawa sebagai laki-laki jauh lebih unggul ketimbang Citra hingga Ia mampu meraih pundak Citra dan tanpa piker panjang, sebuah tamparan memecah udara. Hasegawa terkejut begitu blagkon yang dipakai Citra terlepas dan rambut panjang Citra pun tergerai. Terlebih suara jeritannya sangat meyakinkan Hasegawa kalau yang ditamparnya adalah Citra. Hasegawa pun menarik rambut Citra untuk melihat wajah Citra. Dan memang perempuan. Lidahnya pun membasahi bibirnya begitu tahu Ia mendapat perempuan. Tanpa ampun, Hasegawa menarik rambut panjang Citra dan menyeretnya jauh ke tempat sepi hingga Citra berteriak kesakitan sejadi-jadinya. Suaranya melengking tinggi hingga sampai ke telinga para romusha dan dua pengawasnya, Nakajima dan Yamada.
Beberapa romusha serentak berhenti bekerja beberepa detik setelah mendengar jeritan perempuan. Yamada pun menyuruh mereka untuk kembali bekerja. Sedangkan Nakajima mulai menggunakan bahasa jepangnya pada Yamada. Yamada hanya menggunakan bahasa isyarat pada Nakajima hingga Nakajima hanya mengangguk dan kembali mengawasai para romusha.
“Biar aku yang ke sana,”bisik Yamada pada dirinya sendiri. Lalu Ia melangkah ke sumber suara tadi.